Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 77


__ADS_3

Rey kembali mengemudikan mobilnya. Dia hendak pulang kerumah. Sampai di rumah,ada istri dan anaknya sedang berkumpul di ruang keluarga di temani mama dan papanya sambil nonton tv.


Mengetahui kedatangannya,Siti langsung menoleh dan mendekatinya.


"Mas?" Sapanya.


"Mas mandi dulu ya!" Ucap Rey sambil mengusap wajah istrinya kemudian naik ke atas.


Siti kembali duduk di ruang keluarga bercengkrama dengan anak dan mertuanya.


"Kamu harus banyak-banyak ngemil juga,Siti. Ucap mama. "Nih buahnya di habisin." Titahnya.


"Iya ma." Jawab Siti. "Cinta lagi buahnya nak!" Siti menyuapi Cinta buah dan langsung membuka mulutnya.


"Ma,besok Cinta pulang ke rumah ayah ya! Cinta sudah lama tidur di rumah papa." Ucap Cinta.


"Loh,kenapa mau pulang nak,kan mau temani mama jagain dede Putri?" Tanya Siti.


"Iya,Cinta lama-lama di sini ya,bantu jagain dede Putri." Mama ikut menimpali.


"Hmm,Cinta bilang bunda dulu ya oma." Ucapnya.


"Iya sayang,Cinta ijin bunda dulu ya nak!"


Rey terlihat turun dari tangga lalu ikut bergabung di ruang keluarga.


"Bagaimana urusan pekerjaan kamu,Rey?" Tanya papa.


"Seno yang handel pa. Insya Allah dia sudah mulai bisa di andalkan." Jawab Rey.


"Loh mas,kalau urusan penting jangan Seno nanti dia belum paham." Ucap Siti.


"Seno sudah paham kok yank,kan pernah ikut mas juga." Jawab Rey. "Pekerjaan mas jadi lebih ringan sejak di bantu Seno. Dia cepat belajarnya!"


"Syukurlah Rey,jadi papa bisa santai istirahat di rumah." Ucap papa.


"Hmm,mas sudah ke kantor polisi?" Tanya Siti.


"Loh kamu ke kantor polisi,Rey?" Papa ikut bertanya.


"Hmm,iya pa." Jawab Rey yang mulai salah tingkah. Dia masih mencari waktu yang pas untuk memberitahu istrinya.


"Lalu bagaimana kelanjutannya?" Papa makin penasaran.


"Hmm,masih di tangani polisi pa."Jawab Rey.


Tuuuttt. . .


Handphone Rey berdering. Rey melihat nama paman Supri di layar handphonenya. Rey bingung di jawab apa tidak.


"Kok di biarin,Rey? Siapa tau penting!" Ucap papa.


"Hmm,tidak penting kok pa!" Rey berbohong.


"Kalau tidak penting masa nelpon,Rey!" Ucap papa. "Memangnya siapa yang nelpon?"


Handphonenya kembali berdering.


"Jawab saja mas." Ucap Siti.


"Hmm,Rey ke sana dulu!" Pamit Rey.


Semua mata menatap ke arahnya. Dia segera berlalu dan menjawab telponnya sambil berjalan.


"Haloo." Rey.

__ADS_1


"Rey,paman di depan rumah kamu." Paman Supri.


"Apa?" Rey. Sambil mengusap wajahnya.


"Paman minta tolong Rey." Paman Supri. Dengan nada memohon.


"Hmm,tunggu sebentar,paman. Saya bicara sama Siti dulu." Rey. Telepon langsung di matikan oleh Rey.


Rey kembali ke ruang keluarga menemui istrinya.


"Yank,yuk ikut mas!" Ajak Rey yang langsung menggandeng istrinya. "Ma,pa,Rey ke atas sebentar!" Pamit Rey.


Mama dan papa hanya bisa menatap dengan wajah penasaran.


"Mau kemana,mas?" Tanya Siti yang mengikuti saja langkah kaki suaminya.


"Ikut mas sebentar."


Mereka sampai di kamar. "Ada paman Supri datang." Ucap Rey.


"Paman Supri? Tidak biasanya,ada apa ya mas?" Tanya Siti heran.


"Hmm,kamu jangan kaget ya! Jaga emosi kamu." Ucap Rey sambil menatap lekat-lekat istrinya itu.


Siti balas menatap suaminya. "Iya mas."


"Memang Rania di balik tabrak lari kamu!" Terang Rey.


Siti menarik nafas berat. Dia memang sudah yakin sejak melihat foto yang di berikan oleh polisi. "Lalu mas?" Tanyanya lirih dengan wajah yang terlihat tenang namun pandangannya kosong.


"Kamu tidak apa-apa kan yank?" Tanya Rey yang justru khawatir dengan respon istrinya.


"Hmm,saya tidak apa-apa kok mas!"


"Kamu mau ketemu paman Supri? Dia ada di teras."


"Paman ingin Rania di maafkan dan kasus kamu tidak di lanjutkan."


Siti mengusap wajahnya lalu duduk di meja makan. "Turuti saja mau paman,mas."


"Apa yank?"


"Mas,tolong turuti saja."


"Hmm,kamu yakin yank?"


Siti mengangguk. "Saya,saya lelah mas. Saya mau istirahat!" Siti duduk di sisi kasur.


Rey meraih tangan istrinya. "Yank,kamu baik-baik saja kan?" Menatap lekat-lekat manik mata istrinya yang mulai berkaca-kaca. Rey lalu memeluk istrinya itu erar-erat. "Menangislah yank!" Bisiknya lalu mencium pucuk kepala istrinya penuh kasih sayang.


Siti pun mulai terisak. "Apa saya tidak berhak bahagia mas?" Tanyanya di sela isak tangis.


"Tentu saja kamu berhak bahagia yank! Abaikan orang-orang yang menyakitimu!" Rey melepaskan pelukannya lalu memegang bahu istrinya dan mengusap airmata yang sudah membanjiri wajahnya. "Dengar,jangan pedulikan orang-orang yang menyakiti kamu! Ada mas! Mas yang akan membahagiakan kamu!"


"Tapi mas? Banyak yang tidak suka dengan hubungan kita! Dengan kebahagiaan saya!" Jeritnya.


"Yank,mas kan sudah bilang. Abaikan!" Tegas Rey dengan penekanan.


"Tapi saya ingin hidup tenang mas tanpa rasa was-was."


"Hmm,mas akan selalu jagain kamu! Kalau perlu,mas akan bayar orang untuk bantu jagain kamu dan juga Putri!"


"Hmm,itu berlebihan mas!"


"Tidak ada yang berlebihan untuk kalian! Kalian membawa kebahagiaan untuk mas! Kalian membawa cinta untuk mas!"

__ADS_1


"Terimakasih mas! Saya sangat mencintai mas!"


"Mas juga sangat mencintai kamu yank! Kamu,Putri dan Cinta!" Rey kembali memeluk erat istrinya.


Siti mendongakkan kepalanya. "Mas,saya belum siap ketemu paman. Mas yang bilang sama paman ya."


"Iya sayang,lebih baik kamu tidak usah ketemu mereka!"


Siti mengangguk.


"Mas turun dulu ya! Kamu di kamar saja!" Pamit Rey yang segera keluar kamar setelah yakin kalau istrinya sudah tenang.


Rey turun hendak menemui paman Supri. Dari ruang keluarga,papa memanggilnya. " Rey,di luar ada siapa?" Tanya papa.


"Hmm,ada paman Supri pa."


"Loh ajak masuk Rey!" Titah papa.


"Hhmm,iya nanti pa." Jawab Rey yang segera berlalu ke teras.


Ternyata di teras sudah ada Seno karena hari memang sudah sore.


"Mas Rey,paman mau ketemu mbak Siti." Ucap Seno.


"Hmm,begini paman. Saya sudah bicara sama Siti. Dia mau menuruti permintaan paman tapi maaf,dia belum bisa ketemu paman saat ini!" Terang Rey.


"Paman mengerti Rey. Siti pasti sedih dan kecewa. Paman benar-benar minta maaf!" Ucap paman tulus.


"Ini ada apa mas Rey? Paman?" Tanya Seno yang belum mengerti permasalahannya.


"Seno,maafkan paman!"


"Maaf kenapa,paman?"


"Hmm,paman. Paman tidak bisa mendidik keluarga paman dengan baik!"


"Ya kenapa?" Seno melirik ke arah Radit yang dari tadi hanya diam. "Apa Radit membuat masalah,paman?"


"Eeehh,bukan! Bukan Radit yang nabrak Siti!" Ucap Radit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Rania yang suruh pacarnya yang nabrak kok!" Ucapnya dengan wajah ketakutan.


"Apa kamu bilang?" Seno menarik kerah baju Radit.


"Seno,Seno lepasin!" Titah Rey yang langsung menjauhkan Seno dari Radit sementara paman hanya diam dan menunduk.


"Paman,apa ini semua?" Tanya Seno emosi.


"Paman minta maaf Seno."


"Haahh,paman minta maaf? Paman juga terlibat?" Tanya Seno dengan mata menatap tajam.


"Paman,paman tidak bisa mendidik keluarga paman." Ucap paman lirih.


Seno mengusap kasar wajahnya. "Waktu itu istri paman,sekarang anak paman."


"Paman tau paman salah,Seno. Kalau Siti tidak mau memaafkan dan membebaskan Rania dan temannya,paman tidak akan memaksa."


"Kenapa paman? Kenapa kalian jahat sama mbak Siti? Dia salah apa?"


Paman Supri hanya menggeleng.


"Rania bilang,kalau dia marah sama Siti. Sejak jadi istri orang kaya sudah tidak peduli lagi padanya padahal karena Ranialah Siti bisa kenal suaminya. Hidupnya makin susah. Dia merasa di lupakan. Dia sakit hati. Tapi dia tidak ada niat membunuh,dia hanya ingin mencelakai dan membuat rusak wajah Siti yang cantik! Dia juga menyesal saat tau Siti koma. Beberapa hari Radit lihat dia menangis!" Terang Radit tanpa di minta. Semua yang mendengar menjadi diam.


"Saya tidak pernah melupakan Rania! Rania itu adik saya!" Ucap Siti yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah basah oleh airmata.


Hay hay othor up lagi nih hari ini dobel ya. Jangan lupa dukungan buat othor biar makin semangaatt! Trimakasih semuaa 😍😍

__ADS_1


NEXT


280521/20.30


__ADS_2