
Rey dan Siti sedang dalam perjalanan ke kampung halaman Siti,Desa K yang memakan waktu kurang lebih empat jam dengan mengendarai kendaraan pribadi. Siti terlihat bahagia,selalu mengukir senyum di wajah cantiknya.
"Kamu cantik sekali hari ini,sayang." Puji Rey sambil sesekali menoleh ke arah istrinya.
"Masa sih mas? Perasaan biasa saja." Jawab Siti.
"Iya sayang! Kamu sedang bahagia ya?"
Siti makin mengembangkan senyumnya. "Tentu saja saya sedang bahagia mas! Akhirnya bisa kembali ke desa!"
"Hmm,bukan bahagia karena mas donk?" Rey cemberut.
Siti tersenyum. "Heheee,ya karena mas juga. Mas sudah mau menepati janji. Oh iya mas berapa lama menemani saya di desa?"
"Belum tahu. Nanti tunggu kabar dari Toni. Jika ada pekerjaan yang harus mas tangani ya mas pulang. Kamu tidak apa-apa kan mas tinggal beberapa hari?"
"Oh begitu. Iya tidak apa-apa mas. Kan ada Seno."
"Seno sebentar lagi lulus kan? Mau kuliah di mana?"
"Saya belum tahu Seno mau kuliah di mana mas? Kan susah hubungi Seno. Mesti nelpon ke pak Erte dulu."
"Dia belum beli handphone? Kan mas sudah pernah bilang pakai uang yang dari mas itu untuk beli handphone."
"Mungkin dia tidak mau memakai uang mas selain untuk keperluan sehari-hari, mas!"
"Hmm,nanti kita belikan saja dia handphone. Jaman sekarang susah tidak ada handphone!" Rey meminggirkan mobilnya. "Kamu sudah lapar kan,kita makan di restoran di depan sana! Kamu mau makan apa?"
"Hmm,lapar sedikit sih. Terserah mau makan apa tapi di suapin mas,ya?" Siti menoleh ke arah suaminya.
Rey tersenyum. "Iya sayang mas suapi! Yang penting kamu mau makan!"
Rey lalu memarkirkan mobilnya di depan restoran. "Kita makan masakan jawa atau kamu mau masakan mana?"
"Apa saja mas. Tapi yang agak pedes juga ya!" Rey pun mengangguk.
Dengan bergandengan tangan,mereka masuk ke restoran. Mengambil meja yang terdekat dengan pintu masuk.
Pelayan pun datang membawakan daftar menu untuk mereka.
"Mas,saya mau ke toilet nih!" Ucap Siti setelah selesai memesan makanan.
"Ayo mas antar!" Mereka lalu ke toilet bersama. Sekembali dari toilet,makanan pesanan mereka datang.
"Ayo kamu mau makan yang mana?" Tunjuk Rey ke beberapa jenis makanan yang terhidang di meja.
"Sepertinya lezat-lezat semua ya mas. Terserah mas deh mau yang mana!"
Rey lalu mengambil lauk daging berkuah kuning yang sedikit mamakai cabai. Dia tidak mau istrinya sakit perut. " Yang ini saja ya!" Ucapnya lalu mulai menyuapi istrinya. "Kita sepiring berdua,mau?" Tanya Rey kemudian menyuap untuknya juga.
Siti mengangguk. "Enak ya mas!" Ucap Siti semringah.
"Pasti,kan mas yang suapi!"
Sedang asik makan berdua,tiba-tiba ada yang menyapa mereka. Seorang wanita dengan dandanan seksi.
"Hey,kamu Rey kan?" Sapa wanita itu.
Rey menoleh pun juga Siti. "Hmm,iya." Masih sambil menyuapi istrinya.
"Wah romantisnya makan suap-suapan! Kamu masih inget saya kan,Rey?" Tanya wanita itu dengan gaya genit.
__ADS_1
"Hmm,iya." Jawab Rey cuek.
"Boleh saya duduk di sini?" Tanya wanita itu lagi.
"Maaf,kita sedang makan!" Rey menolak secara halus. Apalagi melihat tingkah wanita itu yang membuat Rey jengah.
"Hmm,tidak masalah kok Rey. Saya juga mau makan." Ucap wanita itu dengan tanpa malu langsung duduk tepat di sebelah Rey. Siti hanya melihat saja dengan wajah bingung.
Rey membiarkan saja teman wanitanya itu duduk di sebelahnya. Dia tetap dengan kemesraannya bersama istrinya.
"Kamu minum dulu,sayang!" Titahnya pada Siti seraya menyuapi air minum ke mulut istrinya. Siti menurut saja.
"Mbak sedang sakit ya kok di suapi terus dari tadi?" Tanya wanita itu dengan sinis.
"Dia istri saya! Tidak masalah saya suapi!" Rey menjawab dengan ketus.
"Hmm,istri kamu. Eh kabar Cyndia bagaimana? Kamu tidak jadi menikah dengannya Rey?"
Rey menoleh. "Kita sedang makan,tolong bisa diam?" Rey makin ketus.
Wanita itu langsung terdiam dengan wajah memerah.
Siti merasa gelisah. "Mas,saya makan sendiri saja!" Pintanya.
Rey menatap istrinya lekat-lekat. "Kenapa,biar mas yang suapi biar makanmu banyak! Kita harus segera melanjutkan perjalanan!" Tolak Rey sambil terus menyuapi Siti.
Karena merasa tidak di pedulikan,wanita itu akhirnya pergi tanpa bicara apa-apa lagi.
Siti menatap kepergian wanita itu dengan tidak enak hati sementara Rey justru tersenyum lega.
"Mas kok ketus sih sama teman mas tadi?" Tanya Siti sambil menatap suaminya.
"Tidak nambah mas?" Tanya Siti yang melihat piring mereka telah bersih.
"Kamu masih lapar,hmm?"
"Saya sudah kenyang tapi mas makan hanya sedikit,dari tadi suapi saya terus."
"Mas kenyang sayang!"
"Hmm,kenyang apa tidak selera makan gara-gara. . ." Siti menggantung ucapannya.
"Gara-gara apa,hmm? Mas beneran sudah kenyang. Kalau kamu memang harus makan yang banyak!"
"Hmm,ya sudah kalau kenyang."
***
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. "Mas,saya ngantuk!" Ucap Siti.
Rey menoleh ke arahnya. "Kamu tidur saja di belakang ya,lebih santai!" Titah Rey.
Siti menggeleng. "Mau di sebelah mas saja,ah! Di belakang tidak enak!"
Rey lalu meminggirkan mobilnya di lahan kosong. "Sini mas atur dulu kursi kamu biar bisa sambil tiduran!" Ucap Rey lalu merubah posisi kursi Siti agar nyaman untuk tidur. "Nah,begini nyaman kan?"
Siti tersenyum. "Iya nyaman mas. Terimakasih ya!"
"Kiss dulu donk!" Titah Rey sambil menunjuk pipinya sendiri.
"Iihh maunya!" Cup. Siti pun memberikan kiss di pipi suaminya. Tapi Rey justru mencari kesempatan dengan membalas memberikan kiss di bibir istrinya.
__ADS_1
Siti kaget dan wajahnya langsung memerah. "Mas ini,bisa-bisanya nyari kesempatan!" Ucapnya menahan malu lalu memilih langsung tiduran.
Rey langsung tergelak. "Hahahaa! Ya sudah tidur sana!"
Siti pun mencoba memejamkan matanya. Sementara Rey fokus ke jalan. Setelah hampir empat jam,mobil mereka tiba di batas desa. Rey sudah tidak tahu lagi arah jalan,akhinya membangunkan istrinya yang tengah terlelap.
Rey mengusap lembut pipi istrinya. "Sayang. . "
Siti menggeliat lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. "Hmm,mas?"
"Kita sudah sampai di batas desa. Mas tidak tahu lagi lewat jalan mana ke rumah kamu." Ucap Rey.
Siti duduk lalu melihat ke sekeliling. "Hmm,lewat sana mas!" Tunjuk Siti.
Rey menyalakan lagi mobilnya. Saat baru lima menit,ada beberapa anak sekolah berseragam abu-abu lewat di depan mereka.
"Nah itu teman-teman Seno mas. Sekolahnya tidak jauh dari sana!" Tunjuk Siti. Rey mengedarkan pandangan ke arah yang di tunjuk istrinya.
"I itu Seno mas!" Teriak Siti.
Rey langsung menoleh ke arah yang di tunjuk istrinya. "Mau di ajak pulang bareng,hmm?" Tanyanya lalu meminggirkan mobilnya.
Siti mengangguk cepat dan hendak membuka pintu mobil.
"Eeh,mau kemana?" Tanya Rey.
"Mau panggil Seno,mas!" Jawab Siti tanpa menoleh masih sibuk memperhatikan adiknya yang berjalan hampir mendekati mereka.
Rey lalu membuka jendela mobil. "Kamu panggil dari sini saja!" Titah Rey.
"Seno!" Panggil Siti.
Yang di panggil pun menoleh juga teman-teman Seno yang jalan berbarengan.
"Mau keluar mas!" Siti memohon.
Rey menghela nafas. " Mas bukain pintu!" Rey keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Siti.
"Seno!" Panggilnya lagi.
"Mbak Siti?" Seno pun mendekati mereka.
Setelah Seno sudah di dekat mereka,Siti langsung memeluk adiknya itu dengan haru. "Mbak kangen!" Setelah beberapa detik Siti melepaskan pelukannya. "Kamu sehat kan,dek?"
Seno mengangguk. "Seno sehat mbak! Mbak Siti sama siapa?" Tanya Seno sambil melirik ke arah Rey.
Siti lalu mengenalkan adik dan suaminya. "Seno,kenalin ini mas Rey,suami mbak! Mas,ini Seno,adik saya!"
Seno mengulurkan tangannya. "Seno."
Rey pun mengulurkan tangannya. " Rey."
"Mas,Seno ikut pulang sama kita,ya?" Pinta Siti.
"Tentu saja! Ayo Seno!" Ajak Rey.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Siti yang ada di tengah-tengah desa sambil sesekali mengobrol.
NEXT
300421/11.15
__ADS_1