
Hari ini di rumah Rey ada sekitar dua puluhan anak yatim dari panti asuhan tempat mama biasa menjadi donatur. Acara empat bulanan Siti kali ini hanya mengundang mereka dan juga pengurus panti asuhan dan orang terdekat saja.
Siti sedang di rias di kamarnya di bantu kenalan mama,mbak Santi. Sementara Putri sedang bersama bibi. Mama dan papa sibuk menyiapkan acara dan menyambut anak-anak yatim dari panti asuhan.
"Mama cantik banget deh pake baju ini!" Puji Cinta yang ikut menemani di kamar,membuat Siti mengembangkan senyumnya.
"Mama Cinta memang cantik jadi pake baju apapun tetap cantik!" Ucap mbak Santi.
Setelah selesai di rias,Siti di temani Cinta turun ke bawah. Di lihatnya tidak terlalu banyak orang membuat dia sedikit lega.
Acara empat bulanan pun di mulai,sedikit berbeda dari saat kehamilan pertama karena tidak banyaknya undangan. Siti menjalani acara demi acara di pandu oleh mama. Beruntung Putri tidak rewel di urus sama bibi.
Setelah pengajian dan pembacaan doa oleh anak panti pilihan,acara pun selesai. Kini tamu undangan sedang menikmati hidangan. Bingkisan untuk tamu pun sudah di siapkan. Siti bergegas kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Lalu turun lagi ke bawah mencari Putri.
Ternyata Putri sedang di belakang bersama bibi karena sedikit rewel. "Putri kenapa,bi?" Tanya Siti.
"Maaf non,si kecil baru saja rewel jadi bibi bawa ke belakang. Sudah bibi kasih susu tapi masih rewel." Terang bibi pengasuh Putri.
"Mungkin mau ASIku bi,sini biar aku gendong." Ucap Siti. Siti lalu mengambil alih menggendong Putri. Dia lalu duduk di sudut dapur dan mulai memberikan ASI untuk Putri. Ternyata Putri kelaparan. Dia begitu semangat minum ASI mamanya. "Kasihan kamu nak,cuma mau ASI mama ya?" Ucap Siti dengan wajah penuh sesal.
"Yank,kamu ternyata di sini. Mas cari kemana-mana." Tanya Rey yang tiba-tiba ada di depan Siti.
"Putri rewel,mas." Jawab Siti.
"Putri lapar ya? Kok tidak di kasih susu sama bibi?" Tanya Rey.
"Bibi sudah kasih susu tapi Putri tidak mau,masih rewel jadi di bawa bibi ke sini."
"Hmm,kasihan kamu nak. Cuma mau ASI mama ya?" Rey mengusap lembut kepala bayinya dengan penuh kasih sayang. "Kalau Putri sudah selesai,kamu balik ke depan lagi ya,yank! Ada tamu yang mau pulang." Titah Rey.
"Iya mas. Kalau Putri sudah selesai,aku ke depan."
"Ya sudah,mas tinggal ya. Mas bilang mama dulu." Pamit Rey yang di beri anggukan oleh Siti.
Setelah Putri melepaskan diri,Siti segera kembali ke depan di mana para tamu sedang menikmati hidangan.
"Nah,itu dia." Seru Rey.
Dengan tersenyum,Siti mendekati mereka. Para tamu mulai meninggalkan rumah keluarga Rey setelah memberikan ucapan selamat dan tentu saja dengan membawa bingkisan yang telah di selipkan amplop juga untuk anak-anak yatim dari panti asuhan.
Hari sudah siang,rumah keluarga Rey mulai sepi. Hanya tinggal Cinta serta ayah dan bundanya juga adik laki-lakinya.
__ADS_1
"Mbak Siti,selamat ya atas kehamilan keduanya. Semoga lancar sampai lahiran." Cyndia,bundanya Cinta memberikan doa tulus.
"Terimakasih doanya mbak. Terimakasih juga sudah mau datang." Ucap Siti dengan haru. Cyndia pun tersenyum.
Rey terlihat sedang berbincang akrab dengan Fadil,suaminya Cyndia. Mereka juga sambil tertawa-tawa,entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka ternyata bisa dekat,tanpa harus mengingat masa lalu. Kenapa aku tidak bisa dekat juga dengan Cyndia. Batin Siti. Dia lalu tersenyum.
***
Hari sudah menjelang malam. Sudah pukul sembilan dan Putri baru saja tertidur. Siti lalu merebahkan diri di kasur lalu meregangkan otot-ototnya.
"Kamu kecapekan yank?" Tanya Rey yang duduk di samping istrinya yang sedang berbaring.
"Iya mas. Aku sekarang mudah capek." Jawab Siti.
"Mas pijat ya?" Tawar Rey.
"Ehmm,apa mas tidak capek?"
"Mas tidak capek kok,yank. Sini mas pijat!"
Siti lalu duduk,Rey memijat punggungnya perlahan."
"Kok pelan banget,mas?"
Siti mengangguk. "Iya mas. Leher sama pinggang pegal-pegal."
"Kalau pinggang tidak boleh di pijat kuat,yank. Mas tidak berani."
"Hmm,iya deh pelan-pelan saja mas."
Setelah hampir setengah jam. "Sudah cukup,mas." Ucap Siti lalu membalik badannya ke arah suaminya. "Terimakasih ya mas." Ucap Siti sambil tersenyum.
"Iya sayang,sama-sama. Sudah enak kan badannya?"
"Iya mas,sudah enak kok." Jawab Siti.
Mereka saling berpandangan. Rey lalu mengusap lembut perut istrinya yang sudah terlihat buncit itu. "Yank,terimakasih ya sudah menjaga buah cinta kita." Ucap Rey dengan mesra.
"Iya mas. Aku bahagia kok bisa memberikan anak untuk mas."
Rey mulai mendekatkan wajah mereka. Dia lalu memegang tengkuk istrinya. Hmm,mas mau apa ya? Batin Siti. Dan sudah bisa Siti duga,apa yang akan di lakukan suaminya itu. Siti diam tanpa membalas sentuhan suaminya.
__ADS_1
"Yank?" Rey menjauhkan wajahnya dengan dahi berkerut.
"Hmm,mas aku capek!" Keluh Siti.
"Hmm,yasudah kalau capek tidur saja." Ucap Rey datar. Sepertinya dia merasa kecewa atas penolakan istrinya akhir-akhir ini. Rey lalu tidur membelakangi istrinya.
Siti pun ikut tidur di sebelahnya tanpa ada obrolan romantis dulu. Dia mulai memejamkan matanya. Setelah hampir setengah jam,Siti tidak juga bisa tidur nyenyak. Akhirnya dia ke kamar mandi,mengambil wudhu untuk mengaji.
Siti masuk ke ruang ganti dan mengaji di sana agar suami dan bayinya tidak terganggu dengan suaranya. Setelah membaca satu ayat Alquran,dada Siti sesak. Dia ingat sikapnya akhir-akhir ini terhadap suaminya. Dia bahkan selalu dingin jika di sentuh oleh suaminya itu. Dan dia kembali terbayang ekspresi suaminya
tadi, saat dia menolak untuk kesekian kalinya.
Siti lalu menyimpan lagi Alquan kecilnya. Dia kembali ke kamar. Dia lalu berjalan ke sisi di mana suaminya tidur dan duduk di sampingnya. Dia tatap wajah itu. Wajah yang selalu sabar dan begitu perhatian terhadapnya. Wajah yang tadi terlihat raut kecewanya.
Siti merasa bersalah dan berdosa. Dia lalu mencium lembut dahi suaminya itu. Tiba-tiba suaminya membuka mata. Mereka saling bertatapan dalam diam.
"Maafin aku,mas." Ucap Siti lirih.
Rey tersenyum. "Maaf untuk apa,yank?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya,Siti kembali mencium dahi suaminya dengan mesra.
"Kamu kenapa,yank?" Tanya Rey heran.
"Hmm,Apa,apa mas masih mau?" Tanya Siti malu-malu.
"Memangnya mas mau apa?"
"Hmm,yang tadi." Siti masih malu-malu.
"Yang tadi? Yang tadi,apa?"
"Iiihh mas ini,yang tadi." Siti mulai kesal.
Rey tersenyum tapi tidak bereaksi. Dia masih menunggu apa yang akan di lakukan istrinya itu. Dan tanpa Rey duga,istrinya itu bersikap agresif duluan tidak seperti biasanya. Dia kembali mencium dahi suaminya sampai semua bagian wajah suaminya tak terlewat.
Rey merasa tersanjung dan tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Dia pun membalas setiap sentuhan yang di berikan istrinya dan juga membalasnya. Istrinya itu sudah tidak dingin lagi seperti akhir-akhir ini. Dan dalam satu selimut yang sama,mereka menuntaskan apa yang tadi sempat Siti tolak. Melayang bersama menggapai hangatnya cinta. π
NEXT
Terus dukung cerita Siti ya. Makasih π
__ADS_1
2006/1820