Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 19 ( S2 )


__ADS_3

Karena terus di desak keluarga istrinya,Seno mau tidak mau akhirnya memutuskan untuk menceraikan istrinya,Fia. Dia tetap memberikan pada Fia, rumah yang beberapa bulan ini di tinggali oleh keluarga istrinya itu.


Dengan isak tangis,Fia menerima kata cerai dari Seno.


"Aku ceraikan istriku Shofia Andriani dengan talak satu." Ucap Seno.


"Kenapa tidak talak tiga saja sekalian." Ucap nenek Fia ketus.


"Iya. Jangan harap kamu bisa balikan lagi sama putri saya. Tidak akan saya biarkan." Ancam ibunya Fia.


Seno hanya diam lalu segera pergi dari Rumah Sakit. Dia tidak ingin melihat kehancuran istrinya yang juga membuat hancur hatinya.


Dia langsung pulang ke rumah.


"Kamu dari mana,dek? Bagaimana istri kamu?" Tanya Siti.


"Seno sama Fia baru saja bercerai,mbak." Terang Seno lirih dengan wajah menyiratkan kesedihan mendalam.


"Apa?" Siti kaget.


"Nenek dan ibunya Fia memaksa Seno menceraikan Fia,mbak. Mereka menganggap kejadian Fia adalah kesalahan Seno. Seno tidak bisa menjaganya. Mereka tidak ingin Fia mengalami hal itu lagi."


"Kenapa kamu mau di paksa menceraikan istri kamu sih dek?" Protes Siti.


"Seno terus di desak,mbak. Seno lelah!"


"Huuhh,dasar kamu!" Siti langsung meninggalkan adiknya dengan rasa kecewa. "Huuh,punya adik laki-laki tidak bisa tegas!" Keluhnya. Siti lalu masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamarnya,dia terus menggerutu. "Kenapa sih yank,masuk kamar langsung ngomel-ngomel?" Tanya Rey heran. Dia pun lalu duduk di sebelah istrinya.


"Seno,mas. Seno sudah menceraikan Fia!" Ucap Siti kesal.


"Apa? Jadi benar yang mas dengar waktu itu kalau keluarga Fia ingin Seno menceraikannya."


"Iya mas. Tapi Seno ya jangan mau! Bawa kemana gitu istrinya. Kasihan Fia." Ucap Siti dengan wajah sedih. Walau dia belum terlalu mengenal adik iparnya tapi dia merasa kalau Fia adalah sosok yang baik untuk adiknya Seno.


"Hmm,mungkin Seno di desak terus,yank."


"Jadi kalau mas di desak ceraikan aku,mas mau begitu?"


"Ya tentu saja tidak donk yank. Apalagi kamu sudah memberikan mas anak-anak yang lucu dan menggemaskan seperti mamanya." Ucap Rey sambil merangkul istrinya.


"Hmm,jadi kalau belum ada anak,mas mau donk di suruh ceraikan aku." Siti makin cemberut.


"Iihh,kok mas kena omel juga sih yank? Ya mana mungkinlah mas mau ceraikan kamu. Mungkin Seno punya alasan sendiri. Kita harus bisa menghargai keputusannya!" Terang Rey dengan gusar.


"Huuhh." Siti masih cemberut.


"Sudah yank,Seno sudah dewasa. Dia tau mana yang terbaik untuk hidupnya. Daripada kesal terus gara-gara Seno,yuk temani mas tidur." Ajak Rey dengan senyum menggoda.


"Mas iihh,sempat-sempatnya. Males ah!" Tolak Siti yang masih kesal.


"Dosa loh,yank! Mas janji nanti kesalmu pasti ilang.


"Iya ilang di ganti capek!" Gerutu Siti.

__ADS_1


"Hehe,capeknya kan dikit. Lebih banyak ehmm. . ."


"Iiihh. . ."


***


Seno hendak berangkat kerja,tiba-tiba handphone nya berdering.


"Dokter Layli?" Gumam Seno sambil menatap ke arah layar handphone.


"Saya ingin bicara. Kamu ke klinik saya!" Titah dokter Layli tanpa bisa Seno bantah. Telpon langsung terputus.


Setengah jam perjalanan,Seno sampai di klinik dokter Layli.Dia langsung menuju ruang pribadi dokter.


Tok tok. . .


Ceklek. Pintu terbuka.


"Masuk!" Titah dokter Layli.


Seno pun masuk dan duduk setelah di persilahkan oleh dokter Layli.


"Bagaimana?" Tanya dokter Layli tanpa basa basi lagi.


"Saya,saya menurut saja apa mau dokter Layli." Ucap Seno lirih. Dia seolah pasrah saja dengan jalan hidup yang harus dia jalani. Pernikahan yang harus gagal di usia berapa bulan dan sekarang pun dia tidak tau lagi apa yang akan dia jalani.


"Bagaimana keadaan istri kamu?"


"Istri saya?" Seno mengernyitkan dahinya. Kenapa dokter Layli menanyakan keadaan istrinya yang bahkan sekarang sudah jadi mantan istri.


"Iya istri kamu? Apa dia sudah lebih baik?"


"Bagus. Jadi tidak masalah kan kalau kamu bicarakan masalah kamu dengan putri saya pada istri kamu itu?"


Hhh. Seno menarik nafasnya berat. Apa dia harus cerita kalau dia sudah bercerai. "Saya,saya sudah bercerai dengan istri saya." Jawab Seno lirih.


"Apa? Kamu menceraikan istri kamu? Semudah itu?" Dokter Layli bertanya dengan nada tinggi.


"Hmm,keluarga istri saya menginginkan kami bercerai. Mereka tidak ingin putri mereka dalam bahaya lagi jika masih bersama saya." Terang Seno lirih. Dia sudah tidak peduli lagi bagaimana penilaian dokter Layli terhadapnya.


"Hmm,jadi mereka menyalahkan kamu atas apa yang terjadi pada putri mereka?" Tanya dokter Layli. Seno hanya mengangguk lemah.


"Hmm,saya tidak tau harus berkata apa. Tapi di sini saya selaku orang tua Dinda juga ingin kmau bersikap seperti pria sejati. Kamu paham maksud saya?"


"Hhh,iya saya paham dokter. Dokter ingin saya menikahi Dinda. Baiklah,saya bersedia." Ucap Seno lirih.


"Tapi tidak segampang itu,Seno."


"Maksud dokter?" Seno makin bertambah pusing.


"Kamu kan baru saja bercerai dan tunggu sampai beberapa bulan dulu. Saya tidak mau putri saya sampai di cap perebut suami orang!"


"Hhm,baiklah. Saya menurut saja apa mau dokter." Ucap Seno.


Seno ini sebenarnya baik,aku memang sudah suka dari dulu.Sayang dia menikah dengan orang lain bukan dengan Dinda. Tapi dengan kejadian ini,dia memang harus menikahi Dinda. Aku tidak mau anakku sudah di lecehkan. Dan daripada Dinda menikah dengan pacarnya yang tidak jelas itu. Batin dokter Layli.

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu sudah setuju. Kamu boleh pergi sekarang. Nanti saya akan hubungi kamu lagi." Ucap dokter Layli.


"Baik,dok. Saya permisi dulu!" Pamit Seno.


***


Satu bulan berlalu. Seno terkadang lewat depan rumah yang dia belikan untuk Fia. Tapi sudah tiga minggu ini rumah itu sepi. Bahkan adiknya Fia yang bersekolah di kota pun tetap menempati rumah kontrakan mereka bukan rumah yang di belikan Seno.


Setelah dari rumah Fia,Seno langsung menuju ke perusahaan keluarga Rey. Di sana dia kembali bertemu dengan keponakannya,Cinta. Gadis itu makin terlihat berbeda. Dia terlihat makin cantik dan ceria. Tidak ada lagi wajah murung menghiasi wajahnya.


"Kenapa kamu tidak melamar di kantornya saja?"


"Hmm,saya belum percaya diri."


"Loh,kenapa? Kan bisa sambil belajar. Aku juga nanti kalau sudah lulus sekolah mau kerja di sini tapi ya di kantornya bukan cleaning servis."


"Iya kamu kan putri pemilik perusahaan ini."


"Hmm,bukan. Pemiliknya itu opa ku bukan papaku. Begitu kata oma."


"Hehee." Sama saja kali. Batinnya.


"Eh sudah dulu ya. Aku mau ketemu papa aku."


"Kamu makan siang di kantin kan bentar lagi"


"Iya memangnya kenapa?"


"Aku tunggu kamu di kantin,ya."


"Kamu mau makan di kantin?"


"Iya,sama kamu!"


"Hmm. . ." Cinta langsung berlarian menuju ruangan papanya sambil tersenyum.


"Kamu ternyata tidak hanya cantik,tapi juga baik dan ramah. Kamu benar-benar cewek idaman."


.


.


.


.


NEXT ya readerku. Jangan lupa dukungannya . . 😘😘


.


.


.


.

__ADS_1


.


2607/1929


__ADS_2