
Siti dan Rey sedang berkeliling desa dengan berjalan kaki. Para tetangga yang biasanya usil dan sinis saat melihat mereka sudah berubah jadi ramah.
"Nak Rey,Siti?" Panggil seseorang yang ternyata bu Titin,istrinya pak Erte.
"Bu Titin!" Sapa mereka. Siti dan Rey lalu menyalaminya.
"Kapan datang kok baru kelihatan?" Tanya bu Titin.
"Kemarin lusa bu!" Jawab Siti.
"Berapa lama di sini?"
"Belum tau bu!"
"Wah kebetulan ya,satu minggu lagi Ratna akan melangsungkan pernikahannya. Nak Rey dan Siti bisa datang kan?"
"Insya Allah bu,kalau kita masih di desa pasti datang. Karena mas Rey belum tau kapan harus kembali ke kota!" Terang Siti.
"Ooh iya. Kalian makin mesra saja,mau kemana? Oh iya Siti sedang hamil ya kok ibu baru tau."
"Kita mau jalan-jalan saja. Iya ini sudah kurang lebih tiga belas minggu bu."Jawab Siti.
"Wah sudah lebih empat bulan ya! Mau lahiran di mana?"
"Lahiran di kota bu,omanya ingin cucunya lahir di kota agar bisa langsung momongnya!" Terang Siti.
"Beruntung ya punya mertua yang perhatian!"
Siti tersenyum. "Iya bu."
"Ya sudah ibu tinggal dulu ya mau ke rumah pak Lurah!" Pamit bu Titin.
"Iya bu,silahkan!" Jawab Siti.
Siti dan Rey kembali jalan-jalan. Sesekali mereka berpapasan dengan tetangga yang menyapa mereka dengan ramah. Sampai mereka tiba di pinggiran sungai yang airnya deras karena semalam baru saja di guyur hujan.
"Air sungainya tidak bening lagi seperti waktu itu ya yank!" Ucap Rey.
"Iya mas karena semalam hujan deras jadi membawa tanah dari atas sini."
"Ooh begitu ya!"
"Makanya tidak ada yang mandi dan cuci-cuci di sungai. Mas tidak bisa lihat perempuan mandi di sungai deh!" Goda Siti.
"Ngapain lihat perempuan lain,di samping sudah ada yang lebih menggoda dan menggemaskan kok!" Ucap Rey lalu mencuri cium pipi istrinya itu.
Siti tersipu malu sambil mengusap pipinya yang memerah.
"Kalau tidak ingat waktu maunya sih ehem eheem terus!" Goda Rey lagi.
"Mas inii!" Siti mencubit lengan suaminya lalu bersandar di sana. Rey lalu merangkulnya dengan mesra lalu mengecup pucuk kepalanya juga.
"Kita mau kemana lagi sayang?"
"Pulang yuk mas,matahari mulai tinggi sudah mulai panas! Nanti ini kulit bisa item,jelek nanti mas tidak suka lagi!" Tunjuk Siti ke kulit tangannya.
"Hmm,masa cuma gara-gara kena panas sebentar bisa langsung item yank? Lagian kamu kan bisa perawatan di salon!"
"Perawatan di salon? Seperti orang mau nikah saja!" Ucap Siti. " Saya tidak suka dandan mas! Pakai bedak sama lipstik juga karena sudah nikah sama mas! Biar tidak kelihatan terlalu jelek!"
"Siapa yang bilang kamu jelek,sayang? Kalau kamu jelek mas mana mau lagi nikah sama kamu!"
"Hmm,banyak kok yang bilang saya jelek. Yang bilang cantik ada juga sih tapi. . .
"Tapi kenapa? Lebih percaya orang lain daripada suaminya sendiri hmm?"
__ADS_1
"Iya,percaya sama mas kok! Pulang yuk!"
"Ya sudah kita pulang! Jadi kamu belum pernah perawatan di salon yank? Salon itu bukan hanya dandan tapi juga perawatan kulit badan,wajah biar mulus!"
"Hmm,jadi kulit saya tidak mulus ya mas." Ucap Siti lirih dengan wajah sedih.
"Eeh maksud mas bukan kulit kamu yank! Justru kulit kamu yang belum tersentuh salon saja mulus gitu gimana kalau sering ke salon." Terang Rey. Dia tidak mau istrinya itu jadi tersinggung.
"Hmm,mas mau saya sering ke salon?"
"Tidak sayang,sesekali saja biar makin mulus! Hmm,mas jadi ingin usap-usap kulit kamu nih! Pulang yuk!"
"Mas ini!"
Rey tergelak. " Hahaa! Salah kamu kenapa bahas kulit!"
"Hmm,dasar!"
"Lagian hari ini ada yang antar sofa dan kasur kamu yank! Masa kita tidak di rumah!"
"Oh iya mas!"
Mereka lalu pulang.
***
Siti dan Rey sedang duduk-duduk di teras rumah saat orang toko furnitur datang membawa barang-barang yang mereka beli kemarin. Selang satu jam,orang dari toko elektronik pun datang. Beruntung adiknya Seno sudah pulang dari sekolah jadi bisa membantu Rey menata barang-barang.
"Wah,mbak Siti habis ngeborong isi rumah nih!"
"Suaminya baik sekali ya!"
"Siti memang beruntung ya,baru ke kota beberapa bulan eh dapet suami kaya!"
Celotehan ibu-ibu tetangga yang hanya di balas senyuman oleh Siti.
"Seno,kamu sudah daftar pasang listrik yang baru kan?" Tanya Rey pada adik iparnya.
"Iya sudah kemarin mas! Mungkin beberapa hari lagi di pasang!" Jawab Seno.
Rey mengangguk.
***
Satu minggu berlalu tanpa terasa. Siti sedang di salon di temani Rey,mereka akan datang menghadiri pernikahan anaknya pak Erte,Ratna.
"Cantiknya istri mas!" Puji Rey sambil merangkul istrinya dengan mesra saat mereka baru selesai dari salon.
Siti tersenyum bahagia. "Mas juga sangat tampan!" Puji Siti.
"Nanti kamu jangan jauh-jauh dari mas!" Titah Rey. Siti mengangguk. Dia juga tentu tidak mau jauh-jauh dari suaminya yang pasti selalu menarik perhatian orang-orang di desa.
Mereka tiba di rumah Ratna yang telah banyak tamu yang datang. Mereka mengambil tempat duduk di dalam karena acara akad nikah akan segera di mulai. Setelah beberapa menit terdengar suara riuh.
"Saaahhh!"
Acara akad nikah Ratna telah selesai dengan lancar. Tamu-tamu sudah banyak yang pulang setelah menyantap hidangan yang telah di sediakan oleh tuan rumah. Siti dan Rey memberikan kado pernikahan mereka dan segera pulang.
"Resepsinya mas mau datang nanti malam?" Tanya Siti.
"Kamu jangan keluar malam,yank!" Ucap Rey seraya menggelengkan kepala.
"Hmm,iya mas! Kalau di desa biasanya pesta sampai pagi."
"Sampai pagi?" Kening Rey berkerut.
__ADS_1
"Hhmm." Siti mengangguk.
Sampai di rumah,Siti melihat adiknya sedang ngobrol dengan temannya di ruang tamu.
"Mbak Siti!" Sapa teman Seno.
Siti tersenyum. " Ya. . . Mbak masuk dulu."
Siti lalu masuk ke kamar di susul suaminya.
Tut tuuuutt .Tiba-tiba handphone Rey berbunyi.
"Hallo pa!" Rey. . .
Setelah berganti pakaian,Siti keluar kamar menuju ke halaman belakang yang jarang di lewati orang untuk menyirami tanamannya. Di sana dia menanam beberapa sayuran dan bunga-bunga yang tumbuh subur karena sangat terawat.
"Sayang,kamu di sini rupanya. Mas cari-cari." Ucap Rey.
"Hmm,mau siram tanaman,mas!" Jawab Siti.
"Subur-subur dan cantik-cantik ya seperti yang merawat!" Puji Rey.
Siti tersenyum. "Mas tidak bosan kan kita sering hanya makan sayur daripada lauk?"
"Tidak kok yank! Sayuran kan sehat!"
"Oh iya,mas suka ikan Mujaer?"
"Yah lumayan suka yank,tergantung yang masak juga kalau enak ya mas mau!"
"Di ujung sana ada tambak ikan milik pak Dana,katanya sekarang sudah mau panen!"Tunjuk Siti ke ujung desa yang berbatasan dengan kebun kopi milik warga desa.
"Oh ya? Boleh mancing sendiri?"
"Biasanya boleh mas! Mas mau mancing?"
"Hmm,mas hobi mancing ikan yank!"
"Oh ya? Tapi saya kan sedang hamil mas. Kata orang-orang tua dulu,kalau istrinya sedang hamil tidak boleh mancing ikan!" Terang Siti dengan wajah serius.
"Masa sih? Baru tau mas!"
"Kata orang-orang tua di sini mas! Dulu nenek juga pernah bilang!"
"Hmm,mungkin itu hanya kepercayaan orang dulu saja yank!"
"Tapi mas? Tidak ada salahnya kan kita turuti saran orang tua? Yah untuk jaga-jaga saja." Ucap Siti sambil mengelus perutnya.
"Hmm,jadi kapan mas boleh mancing ikan?"
"Yah tunggu anak kita sudah lahir! Bukan hanya ikan,membunuh binatang lain juga tidak boleh kata nenek!"
"Kita memang tidak boleh membunuh binatang yank! Tapi kalau mancing yang lain boleh kan?"
Dahi Siti berkerut. "Hmm,mancing yang lain mas? Mancing apa?"
"Mancing cewek!" Ucap Rey sambil menyeringai.
Wajah Siti langsung cemberut. "Mas ini!"
Rey pun tergelak. "Hahaa! Mesti cemburu!"
"Siapa juga yang cemburu,huuhh!" Wajah Siti masih cemberut.
Rey langsung memeluk istrinya. "Masuk yuk,sudah hampir maghrib." Ajak Rey.
__ADS_1
NEXT
150521/12.50