
Besoknya,pagi-pagi sekali Dinda sudah membersihkan diri di bantu oleh Seno. Wajahnya sudah tidak sepucat kemarin malam.
"Mas suapin makan,ya?"
"Iya mas,perutku rasanya lapar banget." Jawab Dinda.
Dinda pun makan sambil di suapi oleh Seno. Seno sangat telaten menyuapi istrinya makan. Tidak sampai setengah jam,Dinda sudah menghabiskan makanannya.
Seno membereskan sisa makan Dinda lalu meletakkannya di meja.
"Sayang,terimakasih ya kamu sudah memberikan mas seorang putri yang cantik dan lucu."
"Iya mas. Tapi aku tidak bisa membuatnya lahir sehat." Sahut Dinda dengan wajah sedih.
"Dia sehat kok,yank. Hanya organ tubuhnya saja yang belum siap. Mami bilang dengan perawatan intensif,in sya Allah dia akan tumbuh seperti anak yang lain. Seperti adek Putra kan juga premature." Terang Seno berusaha menghibur istrinya agar tidak sedih.
"Hmm,iya mas."
Tiba-tiba ada tamu. Dua orang petugas dari kepolisian. Mereka mendatangi klinik tempat Dinda di rawat untuk menanyakan penyebab mobil Seno dan Dinda menabrak pohon di pinggir jalan. Seno lalu menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka dari awal. Termasuk juga tabrakan kecil beberapa waktu sebelumnya.
"Baiklah,pak Seno. Terimakasih atas keterangannya. Kita akan segera menyelidiki siapa yang ada di dalam kejadian yang menimpa bapak dan juga istri." Ucap pak polisi.
"Terimakasih atas bantuannya pak. Saya sangat berharap masalah ini bisa cepat selesai."
"Baiklah. Kita permisi dulu."
Kedua polisi itu pun meninggalkan ruang rร nap Dinda.
"Mas,aku mau melihat putri kita sekarang?" Pinta Dinda.
"Iya,ayo." Ajak Seno yang langsung mengambil kursi roda di sudut kamar.
Dengan memakai kursi roda,Dinda bersama Seno pergi ke ruang NICU. Sampai di sana,ada maminya Dinda yang sedang memeriksa kondisi bayi mereka. Seno berdiri di dekat inkubator sambil menatap bayinya.
"Mami di sini rupanya. Sudah lama,mi?" Tanya Dinda.
"Mami baru saja,nak. Bagaimana kondisi kamu?"
"Sudah lebih baik daripada semalam. Bagaimana bayiku,mi?"
"Alhamdulillah bayi kamu sehat hanya tetap harus di rawat intensif karena kan kurang bulan. Kamu mau lihat,nih."
"Hmm,iya mi." Dinda lalu menatap bayinya yang berada dalam inkubator. Bayinya sedang tertidur. Masih banyak alat bantu yang menempel di tubuhnya.
"Sampai sebulan ya mi,dia di inkubator?"
"Iya sayang. Agar semua organ tubuhnya benar-benar siap."
"Hmm,iya mi."
"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Oh iya apa kalian sudah punya nama untuk putri kalian,hmm?"
Dinda memandang ke arah Seno. "Namanya siapa,mas?" Tanya Dinda.
"Bagaimana kalau namanya Shafira?" Jawab Seno.
"Hmm,bagas juga mas."
"Kamu suka?"
"Hanya itu saja namanya,mas?"
__ADS_1
"Nanti panjangnya kita cari sama-sama ya!"
Dinda mengangguk. "Hmm,iya mas."
"Shafira juga bagus. Oh iya,jangan lupa kamu pijat PDmu ya agar ASI keluar. Kasihan bayi kamu sejak lahir hanya minum susu formula."Titah mami.
"Hmm,iya mi."
"Ya sudah,mami tinggal dulu ya. Din,mas Danis mau datang mungkin siang apa sore." Terang mami.
"Mas Danis? Mas Danis marah mi?"
"Marah sama siapa? Kalau marah sama orang yang mencelakai kalian ya pasti. Dia juga mau menemui temannya yang bekerja di kepolisian sini untuk membantu agar kasus kamu cepat di tangani."
"Hmm,baiklah mi."
"Mami tinggal ya." Pamit mami Dinda seraya mencium pucuk kepala putrinya.
"Mas, kepalaku pusing." Keluh Dinda seraya memegangi kepalanya.
"Kita kembali ke ruangan kamu,hmm?" Tanya Seno yang di berikan anggukan oleh Dinda.
***
Malam hari,ruang ranap Dinda ramai karena kedatangan keluarga besar. Ada om dan juga tantenya Dinda. Kakak sulung Dinda yang seorang polisi juga baru datang sore tadi.
"Jadi bagaimana Dan,kamu sudah ketemu sama teman kamu yang menangani kasus Dinda?" Tanya mami Dinda.
"Sudah mi. Mereka sudah dapat nomor mobil pelaku dari cctv yang ada di TKP. Sekarang sedang di selidiki mobil itu milik siapa." Jawab Danis.
"Semoga cepat tertangkap ya." Ucap tantenya Dinda.
"Aamiin. Beberapa bulan ini hidup aku tidak tenang,tan. Jadi jarang keluar rumah." keluh Dinda.
"Iya tan."
"Hmm,aneh. Menurut kamu pelakunya siapa?"
Dinda diam lalu menoleh ke arah Seno.
"Si Romi pernah datang ke Rumah Sakit tempat Dinda bekerja dan menyerang Seno." Terang papinya Dinda.
"Loh masa,mas?" Tanya tante Dinda.
"Iya,masih beruntung mereka tidak apa-apa. Hanya Seno lebam-lebam di keroyok sama teman-temannya si Romi itu."
"Hmm,setau tante saat Dinda dan si Romi itu masih sekolah,dia tidak terlihat nakal ya."
"Iya di depan kita." Celetuk Danis yang memang sangat membenci Romi. "Aku pernah tidak sengaja lihat dia marah-marah sama Dinda. Saat aku tegur eh malah dia yang marah-marah. Yah jadi berantem kita."
"Hmm,apa mungkin Romi begitu karena tidak terima Dinda menikah. Kamu sudah putus kan sama si Romi itu,Din?" Tanya tante Dinda.
"Hmm,aku beberapa kali bilang sama dia kalau aku sudah tidak bisa lagi sama dia tapi dia tidak mau,tan. Selain dia kasar,mami sama papi juga tidak menyukainya. Lalu dia pergi keluar negeri lima bulan sebelum aku nikah. Tidak ada kabar jadi aku pikir dia bener mau aku putusin." Terang Dinda.
"Dari awal pacaran,dia memang kasar? Kok kamu mau?" Tanya Danis.
"Dia kasar sejak maminya meninggal,mas! Satu tahun setelah kita lulus sekolah."
"Hmm,apa ada hubungnnya dengan kematian maminya?" Tanya omnya Dinda.
Dinda mengedikkan bahunya. "Entahlah om. Sudah ah kenapa jadi ngomongin dia." Dinda lalu melirik ke Seno yang sejak tadi hanya diam saja.
__ADS_1
"Seno tidak bakalan cemburu kok. Iya kan Seno?" Seloroh tantenya Dinda.
Seno hanya senyum-senyum saja.
"Tuh kan senyum."
"Hmm. ."
"Sudah malam nih,tante sama om mau pulang dulu ya." Pamit tantenya Dinda.
"Mami sama papi juga mau pulang. Besok pagi-pagi sekali mau kesini nengokin cucu baru."
"Mas Danis juga. Masa jadi obat nyamuk di sini." Celetuk Danis membuat semua yang di sana tertawa.
Setelah semua keluarga pulang,Dinda berniat ke kamar mandi. "Anter aku ke kamar mandi,mas!" Pinta Dinda.
"Kamu kan masih pakai kateter,yank. Sudah tidak apa-apa di tempat tidur saja."
"Hmm,mas. Mau aku lepas. Tidak nyaman."
"Bisa lepas sendiri?"
"Istri mas ini kan dokter. Masa begitu saja tidak bisa,hmm? Ayo mas,bantu aku ke kamar mandi. Mau cuci muka juga biar seger,enak tidur."
"Hehee. Ya sudah ayo mas bantu."
Seno lalu menuntun Dinda ke kamar mandi. "Sudah mas,aku bisa sendiri. Mas keluar dulu."
"Hmm? Mas bantuin!"
"Aku bisa sendiri,mas!"
"Hmm,mas tungguin!"
"Hhh." Dinda memutar bola matanya.
Tidak sampai setengah jam,Dinda sudah selesai di kamar mandi. Kini dia sudah berbaring dengan nyaman di tempat tidur.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca ya,semoga suka. Jangan lupa dukungannya,vote,gift,mumpung hari senin. Juga like n komennya yang membangun. Terimakasih ๐๐
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
1441