
Siti sudah menghabiskan semua roti dan cakenya tanpa tersisa sampai-sampai Rey tak berkedip menatapnya. Banyak juga makannya. Batin Rey sambil tersenyum tipis.
Siti melirik suaminya. "Kenapa senyum-senyum?" Tanya Siti ketus.
"Hmm,mas ngantuk!" Rey berbohong.
"Ngantuk tinggal tidur kok!"
"Kan nunggu kamu selesai makan,sayang!"
"Tidur duluan sana,ngapain nungguin saya selesai makan?"
"Mau tidur bareng kamu,yank!" Jawab Rey sambil menempelkan kepalanya di bahu Siti.
"Mas ini!" Siti mengedikkan bahunya. "Tidur sendiri saja deh!"
"Kamu kok masih ketus sih sama mas? Masih marah? Ya sudah mas tidur di luar deh daripada di sini di anggurin!" Keluh Rey lalu beranjak keluar kamar.
Siti menyebik lalu mengedikkan bahunya. "Lagi hilang mood!" Gumamnya.
Rey duduk di ruang tamu beralaskan karpet. Rumah keluarga Siti sudah terlihat jauh lebih bagus,terkesan minimalis walau masih terlalu kecil untuk sebuah rumah menurut Rey karena Siti dan adiknya tidak ingin menambah luas bangunan dengan tanah yang tersisa. Rey cukup tersenyum puas.
Karena tubuhnya terasa pegal-pegal habis menyetir lebih tiga jam nonstop,Rey merebahkan tubuhnya di karpet. Sepertinya besok harus beli sofa dan kasur yang baru deh. Batin Rey. Lama-lama Rey pun tertidur hanya beralaskan karpet.
Setelah selesai makan,beberapa menit Siti naik ke kasur. "Aahh,kenyang juga makan roti sama cake." Gumamnya. Mas kemana ya? Tanyanya dalam hati. Siti lalu memejamkan matanya.
Saat tengah malam Siti terbangun,dia menoleh ke sisi kanan kasur. Loh mas kemana ya kok belum juga masuk kamar? Tanya Siti dalam hati. Dia bangun dari tidurnya lalu turun dari kasur hendak keluar. "Kamu kemana mas?" Gumamnya.
Mata Siti membulat demi melihat suaminya yang tertidur di ruang tamu hanya beralas karpet. Tiba-tiba hatinya jadi sedikit sesak. "Ya Allah kok saya jadi tega gini sama suami!" Gumamnya. Siti lalu mendekati suaminya. Apa banguni saja ya? Pikirnya. Siti duduk di samping suaminya tidur.
Hhh. "Mas. . .?" Panggil Siti lirih sambil mengusap wajah suaminya. "Maafin saya mas." Gumamnya.
Tiba-tiba Rey menggerakkan badannya. Matanya mengerjap-ngerjap. "Sayang?" Lirihnya saat melihat Siti duduk di sebelahnya.
"Kenapa mas tidur di sini?" Tanya Siti.
"Hmm,mas tidak sengaja ketiduran." Jawab Rey.
"Tidur di kamar saja mas!" Pinta Siti.
"Hmm,tapi percuma di kamar mas di anggurin saja!" Rey pura-pura cemberut.
"Mas ini. Kan tinggal tidur saja deh!"
"Maunya tidur berdua!"
"Iya memang tidur berdua kan!"
__ADS_1
"Main-main apa dulu gitu sebelum tidur!"
"Iiiiihh!" Siti mencubit lengan suaminya.
"Mau kan? Kalau tidak mau ya sudah,mas tidur di sini saja!" Rey kembali memejamkan matanya.
"Nyebelin!" Gumam Siti yang masih bisa di dengar oleh suaminya.
Rey tidak bisa menahan senyumnya.
"Apa senyum-senyum?"
"Duuuh badan rasanya pegal-pegal semua!" Keluh Rey sambil meregangkan tubuhnya.
"Makanya tidur di kamar!"
Rey menggeleng. Siti jadi cemberut.
"Iiiihh! Iya-iya!" Ucap Siti kemudian tapi masih dengan wajah cemberutnya.
Rey langsung membuka mata. Dia mengulum senyumnya. Yes! Soraknya dalam hati. "Beneran yank?" Ucapnya lirih sambil tetap mengulum senyum. Siti mengangguk pelan.
Rey langsung bangun dan menggendong istrinya masuk ke kamar. Siti hanya pasrah tanpa bisa menolak saat suaminya tiba-tiba menggendongnya.
"Terimakasih sayang!" Ucap Rey sambil menciumi istrinya bertubi-tubi.
Matahari mulai masuk ke sela-sela gorden. Lamat-lamat Siti mendengar suara berisik di dapur yang terletak di sebelah kamarnya. Siti mengerjap-ngerjapkan matanya,silau. "Hmm,sudah siang!" Gumamnya.
Dia ingin bangun tapi ada lengan kokoh yang melingkari dadanya. "Mas." Gumamnya. Siti lalu mengangkat lengan suaminya agar dia bisa bangun. Setelahnya dia duduk. "Uuhh badan rasanya pegal-pegal semua!" Keluhnya sambil meregangkan kedua tangannya. Lalu dia mencari-cari pakaiannya yang asal di lempar oleh suaminya semalam. "Mas ini,sudah seperti pengantin baru saja." Gumamnya sambil senyum-senyum sendiri mengingat malam panjang mereka semalam,sampai Siti lupa tidur jam berapa.
Setelah mengenakan pakaiannya,Siti berjalan keluar kamar.
"Mbak?" Panggil Seno mengagetkan Siti. Seno menatap Siti dengan pandangan aneh.
"Kamu sudah mau berangkat sekolah? Sudah makan? Maaf mbak belum masak!"
"Hmm,Seno bikin mi instan mbak!" Jawab Seno." Seno berangkat dulu!" Pamit Seno yang masih menatap aneh ke Siti.
"Hmm,iya kamu hati-hati di jalan!" Ucap Siti yang merasa aneh dengan tatapan adiknya itu.
Siti lalu berjalan ke kamar mandi,tanpa sengaja dia menatap ke cermin kaca yang ada di depan kamar mandi. Matanya membulat. "Mas inii! Sampai sebanyak ini!" Gerutunya saat tau di leher dan bahunya penuh tanda merah. Dia lalu kembali ke kamar,suaminya masih tertidur pulas. Yah bagaimana tidak pulas kalau semalam kelelahan.
Siti mengambil pakaiannya yang bersih lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai,Siti ke belakang rumah mencari sayur yang bisa di masak.
"Hmm,wanginya segar!" Ucap Siti sambil menghirup aroma masakannya.
"Sayang,kamu masak apa?" Tanya Rey yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
__ADS_1
"Hmm,mas sudah bangun? Saya masak sayur bening nih,mas suka? Tapi tidak ada lauknya."
"Apa yang kamu masak mas pasti suka sayang! Asal kamu makannya banyak!"
"Hmm,ya sudah mas mandi sana!" Titah Siti.
"Iya sayang! Sayang,terimakasih ya yang semalam!" Bisiknya mesra di telinga Siti membuat Siti merona malu.
Kini Siti dan Rey tengah sarapan yang kesiangan. "Sayang,di sini toko elektronik dan furnitur di mana ya?" Tanya Rey saat mereka selesai sarapan.
"Ada tidak jauh dari sekolah Seno mas! Kenapa memang?"
"Kita beli lemari es ya biar kamu tidak pusing simpan bahan makanan!"
"Hmm,lalu furniturnya buat apaan?"
"Mas mau ganti kasur,tidak apa-apa kan? Sama kita beli meja makan dan sofa!"
"Hmm,banyak yang mau di beli mas?"
"Kamu tidak keberatan kan yank? Mas ingin kamu merasa nyaman!"
"Hmm,kita mau lama di sini mas?"
"Ya sampai Seno lulus. Kamu coba bujuk dia kuliah,nanti lulus kuliah bisa bantu mas di kantor!"
"Hmm,saya tidak janji mas! Seno sudah tidak enak terlalu merepotkan mas. Biaya sekolah dan sehari-hari sudah dari mas masa kuliah juga dari mas?" Terang Siti. "Dia tidak mau banyak hutang budi!"
"Kenapa berpikir seperti itu! Kamu kan tanggung jawab mas! Dia kan adik kamu,jadi wajar yank! Kalau dia mau balas budi sama mas ya ikuti saran mas,kuliah yang bener lalu bantu mas di kantor. Papa sudah terlalu tua." Terang Rey.
"Hmm,jadi kalau mas di sini papa sibuk ya!"
"Iya sih tapi untungnya ada Toni yang bantuin tiap harinya."
"Papa tidak marah mas di desa lama-lama?"
"Hmm,marah sih tidak hanya kalau dia tidak bisa menghandel itu yang bingung. Mesti mas turun tangan."
"Hmm,maaf ya mas sudah menyusahkan mas sama papa,mama juga." Ucap Siti dengan wajah sedih.
"Sayang,mas tidak pernah merasa di repotkan sama kamu! Justru mas bahagia,seperti inilah berumah tangga. Suami butuh istri dan istri juga butuh suami! Kamu mengerti kan?" Terang Rey lalu memeluk istrinya dengan mesra.
Siti tersenyum lalu mengangguk. Dia janji akan berubah lebih baik dan menjadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah dalam rumah tangganya.
NEXT
140521/12.50
__ADS_1