Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 152 ( S2 )


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul dua siang,mereka akhirnya sampai di tempat praktek dokter kandungan yang bernama dokter Saras Wati Sp.Og . Setelah mengurus administrasi,tak butuh waktu lama,nama Ratna di panggil.


Ratna dan Romi masuk ke ruangan periksa. Setelah mengobrol sebentar,Ratna di minta naik ke tempat tidur. Pakaiannya di buka sebatas perut. Dokter lalu mengoleskan cairan gel di perut Ratna lalu menempelkan alat yang berhubungan dengan monitor yang ada di depannya.


Romi yang baru pertama kali mengantar, memperhatikan apa yang di lakukan dokter dengan seksama. Untung aku tadi pilih dokter perempuan. Batinnya.


"Bisa bu Ratna lihat ya. Yang di tengah-tengah itu janinnya. Kira-kira sebesar kacang. Janinnya tumbuh sehat," terang dokter.


"Jadi istri saya beneran hamil,dok?" tanya Romi takjup dengan tatapan terpaku ke monitor. Tanpa dia sadari kalau dia sudah dalam posisi berdiri.


Ratna yang menoleh langsung kaget, "Bang. Abang bisa berdiri."


Romi menunduk,mengamati tubuhnya yang memang sedang berdiri.


"Eehh,iya. Bapak bisa berdiri," bu dokter pun kaget dan terharu.


Tapi tiba-tiba Romi kembali duduk seraya memegangi kedua kakinya. Dia mengernyitkan dahinya, "sakit," gumamnya.


Ratna turun dari tempat tidur lalu memegangi kedua kaki suaminya seraya memijatnya perlahan.


"Gimana,bang?"


"Enak di pijat," jawab Romi dengan ekpresi antara senang dan bingung.


"Kalau bapak sama ibu mau,saya punya kenalan terapis yang bagus. Dia buka klinik terapi khusus," terang dokter.


"Iya mau,dok," sahut Ratna antusias.


"Baiklah. Saya buatkan resep untuk ibu dulu ya. Vitamin sama penguat kandungan."


Setelah selesai menulis resep obat untuk Ratna,dokterpun memberikan kartu nama pada Ratna," Ini saya kasih kartu nama terapisnya. Namanya bapak Agung."


"Terimakasih,dokter," ucap Ratna, "Sudah berapa usia kandungan saya,dok?" tanya Ratna.


"Usianya sekitar lima minggu. Janinnya sehat,ya. Saat ini memang masih rawan dan kondisi ibunya juga lemah. Jadi harus banyak makan dan istirahat. Jangan mengerjakan pekerjaan yang berat!"


"Baiklah,dok. Terimakasih. Kita permisi dulu," pamit Ratna.


"Sama-sama. Hati-hati di jalan. Semoga suaminya kembali bisa berjalan,ya."


"Aamiin," sahut Ratna lalu mendorong kursi roda Romi keluar dari ruangan menuju ke parkiran mobil.


Mereka segera menuju ke alamat yang di berikan oleh dokter Saras. Hanya memakan waktu tidak sampai satu jam,mereka pun sampai di klinik terapi yang di maksud oleh dokter Saras.


"Ayo,bang," ajak Ratna saat suaminya malah diam saja saat mereka sudah sampai di depan klinik.


"Hhmm,iya," sahut Romi pendek.


Dengan bantuan pakde,mereka lalu masuk ke dalam klinik. Setelah bertanya-tanya dengan bagian administrasinya,mereka lalu di arahkan ke ruangan bapak Agung selaku terapis di sana.


Bapak Agung lalu mengajak Romi ke ruang terapi. Ada banyak alat terapi di sana. Awalnya Romi hanya di minta berdiri. Dengan perlahan dan hati-hati,Romi ternyata bisa berdiri walau hanya beberapa menit saja karena kakinya akan terasa lemas dan nyeri jika terlalu lama.


Ratna duduk memperhatikan dengan seksama. Semoga bang Romi bisa kembali berjalan. Doanya dalam hati.


Satu jam kemudian,sesi terapi awal Romi selesai. Pak Agung memberikan jadwal tiga kali seminggu untuk Romi melakukan terapi.

__ADS_1


***


Sampai di rumah,Romi sesekali berdiri di dekat tempat tidurnya. Jika kedua kakinya mulai merasa lemas,dia akan duduk sebentar untuk beristirahat.


"Bang,semoga abang kembali bisa berjalan ya," ucap Ratna penuh harap. Dia ikut duduk di sebelah suaminya.


"Aamiin. Semoga ya. . ." sahut Romi seraya merangkul bahu istrinya.


"Kalau abang sudah capek,istirahat dulu. Aku bikinin makanan ya. Abang mau di bikinin apa?"


"Hhmm,iya. Apa saja yang kamu masak,abang pasti mau,kok.


Ratna tersenyum, "Ayo bang,aku bantu ke kursi roda. Temani aku masak ya."


Romi mengangguk seraya tersenyum, "Iya,sayang!"


Ratna tak bisa menutupi wajah bahagianya setiap kali suaminya memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Hatinya berbunga-bunga.


Ratna pun memasak makanan untuk suaminya dengan semangat dan penuh cinta. Tak berapa lama masakannya pun sudah matang.


"Bagaimana,bang?"


"Hhmm. . . " Romi hanya menjawab dengan mengangkat dua jempolnya kerena mulutnya penuh dengan makanan.


***


Satu bulan berlalu. Waktunya Ratna periksa kandungannya. Setelah pulang dari periksa kandungan,Mereka pergi ke klinik terapi.


Setelah terapi selama satu bulan,sudah mulai ada perkembangan dari Romi. Dia seperti bayi yang baru belajar berjalan,melangkah satu persatu dengan bantuan terapisnya. Saat di rumah terkadang Ratna atau Aaron yang membantunya belajar berjalan.


Setelah satu jam sesi terapi,Romi kembali duduk di kursi rodanya untuk beristirahat.


"Alhamdulillah,tetap berlatih kekuatan otot kakinya. Harus lebih sering berdiri dan berlatih di rumah," terang pak Agung selaku terapis Romi.


Ratna yang mendengar dari tempat dia duduk langsung menyunggingkan senyumnya.


"Terimakasih,pak," ucap Romi hangat.


"Kalau pak Romi mau memakai tongkat untuk berlatih kekuatan kakinya,bisa di buatkan di sini," tawar pak Agung.


Pakai tongkat? Masa aku jalan pakai tongkat. Romi terlihat ragu.


"Bagaimana,pak Romi? Dengan sering berdiri dengan bantuan tongkat,itu bisa melatih kekuatan otot dan juga keseimbangan tubuh. Kalau di sini kan ada alat khususnya. Tongkat hanya di pakai di rumah saja," terang pak Agung yang melihat keragu-raguan di wajah Romi.


Romi lalu menganggukkan kepalanya, "Hhmm,baiklah pak. Saya mau."


"Ok,nanti saya akan bikinkan ya pak. Untuk hari ini sudah selesai terapinya."


Romi dan Ratna lalu pulang ke rumah.


Sampai di rumah,Ratna pergi ke dapur hendak membuat minuman hangat untuk mereka berdua sementara Romi menunggu di teras rumah.


"Bagaimana terapinya,bang?" tanya Aaron yang baru turun dari atas.


"Ya begitulah," jawab Romi santai.

__ADS_1


"Abang nih,di tanyain bener-bener," Aaron terlihat kesal.


"Abang mau pakai tongkat."


Aaron membulatkan matanya, "Pakai tongkat,bang?"


"Hhmm,kenapa?"


"Tidak apa-apa sih. Ayo,aku bantu latihan," tawar Aaron.


"Males. Abang capek,tau!" tolak Romi.


"Hhmm,ya sudah kalau capek. Aku mau keluar dulu,bang."


"Mau kemana kamu?"


"Biasa,urusan anak muda. Abang kan sudah ada temannya. Daahh!" Aaron berlalu seraya melambaikan tangannya ke arah abangnya.


"Hhh,dasar."


Tak lama Ratna keluar dengan membawa dua gelas minuman jahe hangat. Selain untuk menghangatkan tubuh juga untuk meringankan mual-mual yang di alaminya di masa hamil muda.


"Bang,ini minuman jahenya," ucap Ratna seraya meletakkan minuman ke atas meja.


"Terimakasih,sayang," sahut Romi lembut.


Ratna tersenyum mendengarnya. Walau suaminya sudah mulai sering memanggilnya dengan sebutan sayang,tapi Ratna tetap selalu merasa berbunga-bunga.


"Bang,tadi aku seperti dengar suara Aaron. Kemana dia?"


"Biasa,pasti pacaran," jawab Romi seraya mengambil gelas minuman.


"Hhmm. . ."


"Bawa ke kamar saja deh minumannya," titah Romi.


"Hhmm,kenapa bang? Katanya mau hirup udara di luar."


"Tidak jadi. Mau di kamar saja. Ayo!"


"Hhmm,baiklah bang. Ayo."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


16


__ADS_2