Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 57


__ADS_3

Rey meraih bahu istrinya hendak membalik badannya agar bisa melihat lebih jelas wajah istrinya yang tengah terisak. Tapi Siti menahan badannya. Rey tidak habis akal,dia memutar badannya agar bisa berhadapan dengan istrinya itu. Namun wajah istrinya tertutup bantal.


"Sayang?" Rey mengusap bahu istrinya yang masih sedikit berguncang karena menahan tangisnya. "Kamu kenapa nangis?"


Siti diam tidak mau menjawab.


Dengan paksa,Rey membalik badan istrinya. "Kamu kenapa?"


Siti tetap diam dan berusaha menutupi wajahnya dengan tangan.


"Siti? Kamu kenapa sih? Jangan seperti anak kecil begini!" Suara Rey mulai tinggi.


Siti membuka wajahnya. "Iya,saya memang seperti anak kecil!" Lirihnya.


Hhh,Rey menghela nafas berat. "Ya kamu itu kenapa kok tiba-tiba nangis? Marah,kesal? Sama siapa? Saya?"


"Tidak usah pedulikan saya!" Lirih Siti lalu menutupi lagi wajahnya.


"Terserah kamu!" Ucap Rey lalu berdiri dan berlalu meninggalkan istrinya yang justru makin terisak.


"Kamu memang tidak akan pernah bisa melupakan dia,mas!" Gumamnya.


Karena kelelahan menangis,Siti akhirnya tertidur. Menjelang sore Siti terbangun karena merasakan perutnya lapar. Tidak ada suami di sampingnya. Siti bingung apa harus turun untuk makan,atau di bawa saja ke kamar. Tapi nanti mama mertuanya bertanya kenapa tidak makan di bawah saja. Untuk turun saja Siti merasa enggan. Siti bangun dari tidurnya. Dia duduk di sandaran kasur. Tubuhnya merasa lemas karena setelah acara dia belum sempat makan tapi keburu melihat sesuatu yang membuat hatinya sakit. Kenapa harus di suapi segala,kenapa harus perhatian seperti itu? Apakah cinta belumlah hilang di hatimu untuknya? Apakah cinta pada istrimu ini hanya kepalsuan saja? Kenapa kamu tidak bisa berhenti berpura-pura? Kenapa? Batin Siti nelangsa.


Air mata Siti kembali mengalir,deras lebih dari sebelumnya. Dia bangkit lalu berjalan ke kamar mandi. Menguncinya rapat-rapat. Masuk ke dalam bathtub masih dengan pakaian yang dia pakai saat acara lalu mengalirkan air dingin hingga tumpah ruah. Dia tidur meringkuk dengan seluruh tubuhnya terendam air kecuali kepala. Dia ingin melupakan sesaat saja gundah di hatinya.


Dia memejamkan mata. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih. Cinta yang selama ini dia harapkan ternyata tidak pernah ada. Dia memang kekurangan harta dan juga cinta sedari kecil. Tapi Siti hanya ingin cinta. Hanya cinta yang bisa membuatnya bahagia.


Entah sudah berapa lama Siti berendam. Braaakkk. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan paksa. Dalam keadaan setengah sadar,Siti merasa tubuhnya terangkat,menggigil,keram. Lalu kesadarannya perlahan hilang.


***


Rey


Saat keluar kamar,Rey terlihat kesal juga bingung menghadapi sikap istrinya yang tiba-tiba berubah padahal saat acara berlangsung,dia adalah orang yang paling bahagia di lihat dari senyumnya yang tidak pernah hilang. Rey pun selalu setia berada di sampingnya. Ikut merasakan kebahagiaan yang istrinya rasakan.


Rey penasaran,akhirnya berjalan ke ruang khusus cctv,melihat apa ada kejadian yang membuat istrinya jadi berubah seperti itu.


Dan dia jadi ingat apa yang telah dia lakukan terhadap mantan kekasihnya,Cyndia. Tapi Rey pikir Siti tidak akan tahu karena saat itu Cyndia sedang di pojok ruangan sementara Siti sedang bersama saudaranya di tempat yang cukup ramai oleh tamu yang datang.


Ternyata dugaannya benar saat dia melihat ke arah cctv jika istrinya melihat dengan jelas saat dia menyuapi Cyndia air minum karena bayinya yang sedang rewel sementara dia sedang tersedak. Suaminya Fadil kebetulan sedang ke toilet.

__ADS_1


Rey mengusap kasar wajahnya sendiri. Lalu setengah berlari kembali ke kamarnya dengan perasaan bersalah dan cemas.


***


Siti membuka matanya perlahan. Silau. Dia tutupi matanya dengan tangan. Dia tidak tau apa yang terjadi. Lamat-lamat Siti mendengar suara.


"Dia sudah sadar!"


Tak lama kemudian dia mendengar suara seseorang yang amat dia kenal. Seseorang yang mengisi hati dan pikirannya beberapa bulan ini. Tapi tiba-tiba dadanya kembali terasa sesak,sakit,sangat sakit hingga menjatuhkan sesuatu di sudut matanya tanpa bisa dia cegah.


"Sayang?"


Siti diam,tidak mau menoleh ke arah suara itu berasal.


Entah sudah berapa orang yang bertanya ini itu pada Siti tapi Siti tetap bungkam. Bahkan saat mama mertuanya mengajaknya bicara pun Siti tetap diam.


"Mas suapin ya,kamu belum makan dari pagi. Ingat,kamu sedang mengandung,sayang!"


Iya,karena kehamilan inilah kalian jadi berpura-pura baik. Batin Siti.


Rey terus saja membujuk istrinya untuk makan. Akhirnya Siti makan juga karena dia sudah tidak kuat menahan lapar. Dia juga masih memikirkan calon bayinya.


Dua suap


Hingga suapan kelima Siti menolak di suapin. Sudah cukup. Batinnya. Dia kembali tidur sambil membelakangi suaminya.


Rey tidak mau memaksa lagi. Yang penting perut istrinya itu terisi makanan.


"Kamu tiduran lagi ya!" Titah Rey. Dia lalu memakan sisa makanan Siti.


Tiba-tiba ada yang membuka pintu. Ceklek.


"Pa,ma!" Ucap Rey.


Oh papa sama mama yang datang. Batin Siti. Siti tetap dengan posisinya tanpa bergerak sedikit pun.


"Siti,bagaimana keadaan kamu? Kamu sudah makan kan?" Tanya mama yang sudah duduk di hadapan Siti. Siti tetap memejamkan matanya,pura-pura tidur.


"Siti,mungkin dia sudah tertidur ma. Baru Rey suapi." Terang Rey.


"Hmm,kamu harus lebih perhatian sama istri kamu Rey! Wanita hamil itu sangat sensitif!" Ucap mama.

__ADS_1


"Iya ma!"


"Jangan sampai kejadian ini terulang lagi nak! Kamu harus jaga perasaan istri kamu!" Ucap papa sambil menepuk pundak Rey.


"Iya pa!"


***


Hari kedua Siti di rawat. Tapi Siti tetap tidak mau bicara sedikit pun. Kadang Rey mencoba menggodanya atau pun bersikap romantis tapi Siti tetap tidak berubah.


"Minta di kiss ya biar mau ngomong,hmm?"


"Beneran ini minta di kiss!" Ucap Rey lagi setelah tidak mendapat respon dari istrinya. Dia lalu memberikan ciuman dari kepala hingga ke bibir tapi sedikit pun Siti tidak merespon apalagi membalas seperti biasa.


Entah karena sudah kehabisan akal untuk membuat istrinya bicara,di saat malam Rey mencoba mengajak istrinya bercinta. Tapi itu membuat Rey menyesalinya karena istrinya justru menangis tapi tanpa suara. Hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti.


"Sayang,begitu marahnya kamu sama mas? Tolong maafkan mas! Mas mohon! Jangan menangis lagi!" Ucap Rey menghiba.


Tatapan Siti kosong,wajahnya tampak menyimpan luka,dia merasa terhina. Apa harus begini memperlakukannya. Tidak ada lagi sikap manja yang sering di tunjukkannya.


"Mbak Siti!" Panggil seseorang. Siti reflek menoleh.


"Seno. . .!" Jeritnya.


Seno mendekat dan memeluk Siti.


"Bawa mbak pergi,bawa mbak pergi!" Siti memohon sambil sesenggukan.


"Tenang mbak! Mbak jangan nangis lagi ya. Seno ada di sini untuk mbak!"


"Mbak mau pulang ke desa! Ayo Seno!"


"Seno tanya mas Rey dulu ya mbak!"


Siti langsung melepaskan pelukannya. " Kenapa harus bertanya dulu? Mbak tidak mau lagi di sini,Seno!"


"Iya mbak,iya! Seno keluar sebentar ya!" Pamit Seno. Siti hanya menatap saja adiknya yang keluar kamar.


Saya akan pergi,semoga kamu bisa berhenti untuk terus berpura-pura. Cinta tidak harus memiliki. Biarlah cinta ini hanya akan saya rasakan sendiri. Batin Siti.


NEXT..

__ADS_1


__ADS_2