Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 47( S2)


__ADS_3

Dinda tengah tertidur dalam pangkuan Seno,beberapa menit setelah makan roti yang di suapi oleh suaminya itu. Seno kemudian membaringkan Dinda ke tempat tidur lalu menyelimutinya. "Cup." Seno mencium lembut dahi Dinda. "Hmm,masih demam." Gumamnya. Terimakasih sayang,kamu sudah mau memberikan mas kesempatan. Mas bener-bener sayang sama kamu! Hhh,moga Fia cepat menemukan jodohnya yang lebih baik dari aku. Batin Seno.


Seno memeriksa handphonenya lalu mencatat nomor-nomor kontak yang di rasa penting. Aku harus beli handphone baru biar Dinda seneng. Aku akan lakukan apapun untuk menyenangkannya! Dia ibu anak-anakku. Hmm,anak-anak. Sepertinya memiliki anak yang banyak itu menyenangkan. Rumah ini pasti jadi ramai. Batin Seno sambil tersenyum.


Setelah selesai mencatati nomor kontak dari handphonenya,Seno menyimpan handphòne beserta kartunya ke dalam koper miliknya. Seno mengambil kertas lalu menulis pesan untuk Dinda kalau dia pergi sebentar untuk membeli handphone baru lalu meletakkan kertas itu di atas meja rias milik Dinda.


"Mumpung Dinda tidur dan masih jam dua siang,aku beli sekarang saja." Gumamnya,lalu mengambil kunci mobil.


Satu jam kemudian,Dinda terbangun. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Tangannya meraba-raba kasur di sebelahnya,kosong. Dinda langsung duduk. "Mas mana ya?" Gumamnya.


Hmm,mungkin di kamar mandi atau sedang ke bawah. Batinnya. Dinda kembali berbaring. Hmm,kok aku mudah banget ya maafin mas Seno. Padahal kan niat aku marahnya lama,biar dia tau rasa. Hmm,ternyata aku tidak bisa mendiamkannya lama-lama. Aku tidak bisa jauh dari dia. Huuhh,mas Seno memang menyebalkan. Kesalnya dalam hati.


Sepuluh menit Dinda menunggu,Seno tidak juga muncul. "Mas kemana sih kok lama? Di bawah apa ya?" Dinda lalu turun ke bawah.


Di dapur ada bibi yang sedang memasak.


"Bi,lihat mas Seno?"


"Ooh,den Seno tadi pergi bawa mobil,non."Jawab bibi.


"Apa? Pergi bawa mobil?" Dinda kaget. Kok pergi tidak bilang-bilang sih. Kesalnya.


"Iya,non. Mungkin satu jam yang lalu."


Dengan wajah kesal,Dinda kembali ke kamarnya. Berbaring di tempat tidur. "Istri sedang sakit,malah di tinggal sendirian. Tidak bilang-bilang lagi. Katanya sayang,bohong." Gumamnya dengan wajah sedih.


"Hmm,jangan-jangan mas ketemuan sama si,hmm. Mas jahaat. Hiks!" Jeritnya tertahan. Matanya mulai berkaca-kaca.


Saat pikiran berkecamuk,berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang,lalu. Cup. Memberikan kecupan di pipi kanannya dari samping.


Dinda langsung membalik badannya. "Mas?"


Seno mengusap sisa air mata di pipi kiri Dinda. "Kok kamu nangis,hmm?"


"Mas dari mana? Istri sedang sakit saja masih di tinggal. Tidak bilang-bilang lagi." Omel Dinda.


"Loh,mas bilang kok!"


"Bilang sama Dinda yang sedang tidur?"


Hhh,Seno menarik nafas berat lalu berdiri mengambil secarik kertas di meja rias Dinda. Lalu memberikannya pada Dinda.


"Nih,mas tulis pesan di kertas ini. Kamu bilang mas harus ganti handphone dan nomor kontak juga kan? Jadi mumpung kamu tidur,mas keluar beli handphone yang baru. Coba lihat handphone kamu,ada nomor baru yang hubungi?" Terang Seno.


"Hmm,mas." Dinda membaca pesan di kertas yang di berikan oleh Seno.


"Nih,handphone baru mas." Seno menunjukkan handphone barunya pada Dinda. "Coba kamu cek!"


Dinda mengambil handphone baru suaminya lalu mengecek isinya. Ada nomor kontaknya dengan nama spesial di sana. 'Ibu anakku'. Dinda langsung tersenyum.


"Apa kamu suka,hmm? Kalau tidak suka,mas ganti nama yang lain?"


"Suka." Jawab Dinda malu-malu. "Handphone yang lama mana?"


"Ada di koper mas."


"Hmm,masih di pake?"

__ADS_1


"Kartunya sudah mas ambil. Ada juga dalam koper." Seno mengambil handphone lamanya yang sudah dalam posisi mati beserta kartunya lalu di berikan pada Dinda. "Apa kamu saja yang simpan,hmm?"


"Iya,aku yang simpan!" Jawab Dinda.


"Jangan sedih lagi ya? Kamu tau tidak,setiap mas lihat kamu nangis,di sini rasanya sakit!" Seno meletakkan tangan Dinda di dadanya.


"Hmm."


"Walau saat ini mas belum bisa membuktikan kata-kata mas. Mas ingin kita sama-sama saling percaya. Sama-sama berjalan beriringan. Selalu terbuka. Jika marah atau kesal,ungkapkan saja,kita akan cari solusinya. Mas ingin rumah tangga kita kuat! Kamu mau kan?"


"Hmm,"


"Jadi ini tadi habis nangis gara-gara apa,hmm?"


"Hmm,tadi aku. . ." Dinda menggantung ucapannya.


"Nyariin mas ya?" Seno lalu memeluk mesra Dinda.


"Iihh,bukan."


"Terus nangis gara-gara apa?"


"Tadi aku,hmm sakit perut." Dinda bingung mau cari alasan apa.


"Sakit perut ya?" Seno tersenyum tipis.


"Hmm,nyariin mas." Akhirnya Dinda mau jujur.


"Mas tidak akan tinggalin kamu!"


"Hmm."


"Tidak mau!"


"Ya sudah kalau begitu mas tidur di sofa saja."Ucap Seno.


"Hmm. . . mas benar-benar tidak akan tinggalin aku?"


"In sya Allah!"


"Misalkan aku bikin mas marah atau kesal?"


"Mas akan maafkan."


"Apapun?"


"Selain penghianatan akan mas maafkan!"


"Hmm,mas waktu itu bukannya termasuk penghianatan?"


"Sayang,mas tidak sengaja bertemu dia. Mas sudah ada janji sama kamu,tidak mungkin mas bikin janji juga sama dia?"


"Hmm,tapi. . ."


"Seperti mas tadi bilang,mas hanya berusaha jujur. Mas tidak pernah kan pura-pura mengaku cinta sama kamu? Mas berusaha apa adanya. Dan kamu harus tau,mas benar-benar sayang sama kamu,Din! Dan mas selalu kepikiran kamu!"


"Hmm,mas masih cinta sama dia." Ucap Dinda lirih.

__ADS_1


"Kamu benar-benar mau mas jujur? Mungkin iya tapi mas juga sudah kecewa padanya."


Mata Dinda kembali berkaca-kaca. "Kamu pasti sering dengar kan kalau cinta itu bisa mati,hmm? Sering kan denger orang bilang 'aku sudah tidaķ mencintainya lagi'. Itu juga bisa terjadi sama mas!"


"Iya. . ."


"Apalagi mas sudah punya kamu,si anak mami."


"Iiihh,mas nyebelin!" Dinda memukul-mukul dada Seno.


"Istri mas memang anak mami kok. Kalau sedang manja,gemesin." Ucap Seno lalu makin mengeratkan pelukannya.


"Mas akan sabar menghadapi sifat aku? Misalkan aku kelewat manja."


"Mas malah suka sama manjanya kamu. Mas sudah bilang tadi kan,gemesin."


"Hmm." Dinda tersenyum malu.


Seno melepaskan pelukannya. Dia pegang kedua bahu Dinda. "Mas ingin bahagiakan kamu!" Kemudian Seno meraih dagu Dinda lalu mendekatkan wajah mereka. Memandang bibir ranum istrinya lalu. . . Cup. Wajah Dinda memerah. Seno mengulanginya lagi dan lagi lebih dalam dan lama.


"Hmm,mas. . ."


Seno kembali memeluk Dinda. "Kamu masih demam,mas tidak akan lakukan itu." Bisik Seno.


Tiba-tiba,kriiuuukk.


Seno melepaskan pelukannya. "Kamu lapar lagi? Yuk turun,mas bikinkan roti bakar kesukaan kamu. Sama minta bikinkan bumbu rujak sama bibi,sepertinya enak mangga mudanya di bikin rujak." Ajak Seno.


Dinda menurut. Mereka lalu turun ke bawah dengan bergandengan mesra.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca. Moga suka. Jangan lupa dukungannya. terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


1331

__ADS_1


__ADS_2