Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 44


__ADS_3

Mereka telah tiba di depan rumah Siti. Seno turun dari mobil terlebih dahulu lalu membuka pintu rumah. Setelah memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah,Rey pun turun lalu membukakan pintu untuk istrinya.


Siti turun sambil membawa kantong berisi oleh-oleh makanan sementara Rey membuka bagasi mobil untuk mengambil dua koper. Melihat banyaknya yang di bawa oleh Siti,Seno bergegas menghampiri mereka lagi untuk membantu membawakan koper.


"Biar saya yang bawa,mas!" Seno menawari.


"Oh iya terimakasih!" Ucap Rey.


Rey lalu mendekati istrinya. "Sini mas yang bawa,sayang!" Rey lalu membawa kantong oleh-oleh dari tangan istrinya.


Mereka berjalan beriringan menuju rumah Siti yang berjarak sepuluh meteran dari tempat Rey memarkirkan mobil.


"Seno,mobil mas Rey tidak apa-apa di parkir di sana?" Tanya Siti saat mereka telah sampai di rumah.


"Tidak apa-apa mbak! Nanti Seno ngomong sama pak Erte." Jawab Seno.


"Mas,yuk masuk ke sini! Ini kamar saya. Maaf ya mas,kamar saya sangat sederhana dan kecil." Ajak Siti kepada suaminya. Rey lalu mengikuti langkah istrinya. Beruntungnya kamar Siti tidak banyak barang jadi terlihat rapi.


"Iya sayang tidak apa-apa." Jawab Rey yang langsung duduk di pinggir kasur.


"Hmm mas,saya ganti dulu sepreynya ya,yang ini sepertinya sudah agak lama di pasang,sedikit berdebu." Ucap Siti yang langsung membuka lemari kecil yang ada di kamarnya untuk mengambil seprey yang bersih.


Setelah sepreynya di ganti,Rey rebahan di kasur dan mencoba memejamkan matanya. Sepertinya dia kelelahan setelah menyetir selama hampir empat jam.


"Maaf mas kasurnya kecil tidak sebesar kasur di kamar mas." Ucap Siti.


"Hmm,tidak apa-apa. Biar kamu tidak bisa jauh-jauh dari mas tidurnya!" Rey tersenyum menyeringai dengan mata terpejam.


"Iiiss,mas ini!"


Rey hanya tersenyum.


"Mas mau tidur ya?" Tanya Siti yang di berikan anggukan oleh Rey. "Apa tidak sholat zuhur dulu mas?"


Rey membuka matanya. "Yuk,sholat dulu!" Ajak Rey. Dia lalu bangun dan mengikuti Siti yang lebih dulu keluar kamar menuju kamar mandi di belakang. Setelah selesai sholat,Rey kembali berbaring di kasur.


"Mas,saya tinggal dulu ya mau bicara sama Seno. Sekalian memberikan pakaian yang kita beli untuknya." Pamit Siti.


"Hmm." Jawab Rey sambil mengangguk.


Siti lalu keluar dari kamar mencari adiknya Seno. Ternyata adiknya itu baru datang dari luar.


"Kamu dari mana Seno?" Tanya Siti.


"Dari rumah pak Erte,mbak. Ngomong soal mobil suami mbak yang di parkir di sana." Jawab Seno.


"Jadi mereka sudah tahu tentang kedatangan mbak?"

__ADS_1


"Iya mbak! Oh iya,pak Erte minta KTP mbak dan mas Rey sama buku nikah katanya."


"Oh begitu. Nanti sore mbak sama mas Rey ke sana sekalian membawakan oleh-oleh untuk mereka."


"Iya mbak."


"Oh iya Seno,mbak bawakan kamu oleh-oleh. Ini!" Siti memberikan paper bag berisi pakaian untuk Seno.


"Loh kantong plastik itu bukannya oleh-oleh mbak?"


"Itu makanan. Ini pakaian untuk kamu!" Jawab Siti. Seno menerima paper bag dari tangan Siti lalu membukanya.


"Banyak sekali mbak?" Tanya Seno setelah membongkar isi paper bag.


"Mas Rey yang beli." jawab Siti.


"Suami mbak baik sekali mbak!" Ucap Seno sambil melihat semua pakaiannya.


"Alhamdulillah Seno."


"Oh iya dari tadi ada yang mau Seno tanyain sama mbak. Wajah mbak kenapa kok banyak bekas luka? Mata mbak juga ini! Suami mbak melakukan KDRT ya?"


"Huuss kamu tidak boleh menuduh seperti itu,Seno!" Protes Siti. " Mas Rey begitu baik sama mbak!"


"Lalu kenapa wajah mbak jadi seperti itu?" Seno masih penasaran.


"Hmm,mbak pernah di culik,Seno." Jawab Siti.


"Ceritanya panjang,Seno. Kamu nanyanya satu-satu donk!"


"Ya aneh sih mbak. Mbak baru beberapa bulan ke kota mana mungkin punya musuh yang mau nyulik mbak kan."


"Paman Supri tahu masalah itu kok!" Jawab Siti tapi dia tidak ingin Seno tahu soal keterlibatan istrinya paman Supri.


"Paman Supri tahu? Kok tidak cerita sama Seno waktu terakhir nelpon."


"Mungkin tidak mau kamu kepikiran."


"Lalu mbak bisa bebas dari penculik itu karena di tolong suami mbak?"


"Mbak pingsan karena di siksa mereka,lalu mereka buang mbak di pinggir jalan. Ada warga yang menemukan mbak dan membawa mbak ke rumah sakit yang dekat dari sana!" Terang Siti. "Alhamdulillah kandungan mbak selamat. Kamu sebentar lagi akan jadi paman,Seno!"


"Mbak Siti sedang hamil saat di culik?"


"Iya Seno."


"Masalahnya apa sampai mbak di culik dan di siksa?"

__ADS_1


"Orang itu ingin nikahi mbak tapi mbak tidak mau! Mbak malah menikah sama mas Rey."


"Apa? Mbak kenal bang sat itu di mana?" Seno terlihat emosi.


"Iya Seno. Mbak kenal orang itu di rumah paman Supri."


"Lalu orang itu sudah ketemu belum?"


"Mereka sudah di tangkap polisi kok,sudah sidang satu kali." Terang Siti. "Sudah kamu jangan emosi,semua sudah berlalu!"


"Hmm,mbak kenal suami mbak di rumah paman juga?"


Siti tersenyum. "Mbak kenal mas Rey di mal. Saat mbak dan Rania terpisah karena tidak sengaja ketemu orang yang nyulik mbak."


"Hmm,terus mbak pacaran sama mas Rey?"


"Tidak,Seno! Mbak sama mas Rey tidak pacaran sama sekali! Mas Rey punya anak perempuan yang sangat baik. Dia menyukai mbak dan ingin mbak jadi mamanya!" Jawab Siti.


Mata Seno membulat. "Jadi mbak pela kor?"


"Seno! Kamu itu tega nuduh mbak seperti itu!" Protes Siti.


"Maaf mbak! Mas Rey duda waktu itu?"


Siti menggeleng. "Mas Rey punya masa lalu yang kelam. Dan putrinya itu bagian dari masa lalunya! Sudah Seno,mbak tidak ingin mengungkit masa lalu mas Rey!"


"Seno kan penasaran mbak. Suami orang bukan,duda juga bukan! Tapi punya seorang putri!"


"Kekasih mas Rey hamil tapi mas Rey tidak tahu sampai mereka bertemu saat putrinya itu sudah besar dan kekasihnya telah menikah." Terang Siti.


Seno mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenapa kekasihnya tidak ngomong ya padahal mas Rey itu tampan dan sepertinya kaya."


"Mungkin memang belum jodoh,Seno!"


"Iya mbak! Dan ternyata jodoh mas Rey itu Siti khairunissa!" Ucap Seno sambil tersenyum.


"Kamu itu!" Siti memukul pundak adiknya yang masih tersenyum-senyum. " Oh iya Seno,kamu punya beras kan? Mbak mau masak!"


"Ada mbak,kemarin Seno baru beli. Kalau sayur,Seno beli yang mateng di warung mbak Jum!"


"Iya nanti kamu belikan sayur di mbak Jum ya!" Titah Siti.


Seno mengangguk." Seno ke kamar dulu,mbak!" Pamit Seno sambil membawa pakaiannya.


Siti pun segera ke dapur untuk memasak nasi. Kemudian dia keluar ke halaman belakang di samping dapur. Tidak banyak yang berubah. Pohon kelapa yang dulu sebagai mata pencarian satu-satunya masih berdiri kokoh. Ada beberapa buah kelapa yang masih muda. Biasanya dulu Seno yang memanjat untuk mengambil buahnya lalu di jual ke pasar. Itu pun tidak setiap hari karena pohonnya yang hanya sedikit. Selebihnya Siti akan membantu di kebun orang atau sekadar mengambil cucian.


Walau terasa berat tapi masa-masa itu sangat di rindukan Siti.

__ADS_1


NEXT


300421/21.15


__ADS_2