Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 11


__ADS_3

Hampir dua minggu sejak mereka jalan-jalan ke taman waktu itu. Saat Siti sedang istirahat di teras rumah habis makan siang,tiba-tiba papa nya Cinta,Rey datang ke rumah bu Ranti sendirian tanpa Cinta seperti biasa nya.


"Mbak Siti." Panggil Rey.


"Iyaa. . . " Sahut Siti. Dia menoleh ke arah sumber suara. Siti begitu kaget saat tahu siapa yang memanggilnya. " Pak Rey?" Ucap nya lirih dengan dada yang tiba-tiba berdebar kencang.


"Boleh saya duduk?" Tanya Rey tanpa menatap lawan bicaranya.


"I ya,silahkan!" Jawab Siti sambil mengangguk gugup. Mimpi apa papa nya Cinta datang sendirian dan duduk di sebelahnya.


Rey berjalan tenang mendekat lalu duduk di sebelah Siti. "Apa ada waktu sebentar? Ada yang ingin saya sampaikan!" Ucap nya kemudian.


Siti hanya mengangguk.


"Hmm,maaf sebelumnya. Kamu tahu putri saya Cinta kan? Dia satu-satu nya penyemangat hidup saya. Apa pun akan saya lakukan untuk membuat dia tersenyum,bahagia sepanjang hidupnya." Lalu Rey diam beberapa menit. Saat sedang bicara dengan Siti pun,dia hanya menatap lurus kedepan tanpa menoleh sekali pun ke arah Siti.


"Dia menginginkan kamu menikah dengan saya,menjadi mama nya!" Ucap Rey lagi. Datar,tanpa emosi.


Tiba-tiba Siti merasakan debaran di dada nya semakin membuatnya sesak. Apa barusan papa nya Cinta bilang? Menikah dengan nya? Jadi mama nya Cinta?


"Saya akan berikan apapun yang kamu mau jika kamu mau menikah dengan saya! Memberikan kasih sayang dan perhatianmu hanya untuk putri saya!" Kali ini Rey menekankan kata-kata nya.


Pernikahan seperti apa yang di tawarkan pak Rey? Batin Siti bergejolak. Dia ingin menjawab tapi bingung.


"Ini kamu baca dulu! Jika ada yang kamu tidak setuju,katakan saja!" Rey menyerahkan sebuah amplop coklat.


"A pa ini,pak Rey?" Tanya Siti bingung. Dia memegang amplop coklat itu dengan tangan gemetar.


"Kamu baca saja dulu!" Pinta Rey.


Siti membuka amplop itu lalu mengeluarkan isi nya. Selembar kertas berwarna putih. Siti membaca satu persatu tulisan yang tertera di kertas itu. Dalam hitungan detik,keningnya berkerut. Apalagi ini? Batinnya. "A apa maksud nya ini pak?" Tanya Siti terbata-bata.


"Apa ada yang kamu tidak mengerti?" Rey malah balik bertanya.


"Ini. . . Jadi pak Rey minta saya menikah dengan pak Rey dengan syarat-syarat ini?" Suara Siti terdengar bergetar,tubuh nya pun tak kalah bergetar demi memahami maksud isi dari tulisan di kertas itu.


"Itu bukan hanya syarat tapi imbalan yang akan kamu dapatkan." Ucap Rey terdengar angkuh.


"Sa,saya tidak ingin seperti ini pak Rey!" Siti menghela nafas berat." Saya tidak mau imbalan apa-apa!" Tegasnya walau dengan suara bergetar.


"Lalu apa yang kamu inginkan?"


Siti diam,dia sungguh tidak pernah bermimpi akan menikah dalam situasi seperti itu. "Jika pak Rey tidak menginginkan saya,kenapa harus menikahi saya?"


"Cinta. Hanya demi putri saya,Cinta!" Jawab Rey datar dan dingin. Wajahnya pun tanpa ekspresi,menatap kosong ke depan.

__ADS_1


Jawaban ringan menurut Rey tapi terdengar menyakitkan di telinga Siti. Ingin rasanya Siti protes tapi bibirnya kelu.


"Bagaimana,apa kamu setuju?" Tanya Rey saat Siti hanya diam.


"Saya,saya tidak ingin pakai syarat dan semua yang tertulis di sini!" Siti melipat kembali kertas putih itu dan memasukannya lagi ke dalam amplop coklat lalu di taruhnya ke atas meja di samping mereka.


"Lalu apa yang kamu inginkan?"


"Saya,saya ingin pernikahan biasa! Seperti orang-orang pada umumnya!" Jawab Siti.


"Pernikahan seperti apa itu saya tidak mengerti? Saya belum pernah menikah!"


Deg. . .! Siti kaget mendengar jawaban Rey. Pak Rey belum pernah menikah? Lalu Cinta? Bukan kah Cinta adalah putrinya? Putri yang sangat di cintainya hingga rela melakukan apapun yang Cinta inginkan? Begitu banyak pertanyaan di kepala Siti. Tapi dia tidak berani menanyakannya.


"Ta tapi. . .?" Siti ragu meneruskan kalimatnya.


"Cinta putri saya yang lahir di luar pernikahan. Ibu nya sudah menikah dengan orang lain. Dan saya belum pernah menikah!" Rey mengatakan itu seolah mengerti dengan semua pertanyaan di kepala Siti.


Siti menutup mulutnya dan mata nya membulat. Apa? Si siapa ibu nya Cinta?


"Saya hanya mau kamu menjawab iya! Putri saya menginginkan kamu menjadi mama nya! Dan kamu jangan pernah menanyakan perasaan saya!" Rey terdengar seperti memaksa.


"Ta,tapi?" Jantung Siti makin berdebar. Ini benar-benar gila! Pernikahan macam apa itu? Batinnya. Dia lalu ingat Cinta. Gadis kecil itu memang terlihat sangat menyukainya. Dan karena gadis kecil itu lah,kini hidup nya lebih tenang dan jadi lebih baik.


"Saya tidak punya banyak waktu!" Rey tidak sabar menunggu jawaban Siti.


"Hmm,baiklah! Berapa nomor rekening kamu! Saya akan transfer!"


"Tidak! Saya tidak mau uang pak Rey!" Tolak Siti tegas.


"Oke! Saya akan kirim orang untuk mengurus keperluan kamu! Minggu depan kita akan menikah!" Ucapnya lalu berdiri,memasukkan kedua tangannya di saku celana. Dia hendak meninggalkan Siti.


"Tunggu! Tolong bawa saja amplop ini!" Pinta Siti.


"Kamu simpan saja!" Rey pun segera berlalu tanpa berpamitan lagi.


Siti hanya bisa menatap nanar kepergian Rey. Setelah mobil Rey sudah tidak terlihat lagi,Siti pun bangkit dari duduknya. Dia masuk ke kamar sambil membawa amplop coklat lalu menyimpannya di laci. Setelah itu dia segera kembali ke toko.


***


Esoknya,sama seperti kemarin saat Siti sedang istirahat siang. Seorang wanita datang menemui Siti. Dia membawa dua buah paperbag besar.


"Siang mbak Siti." Sapa wanita itu dengan ramah.


"Siang mbak,ada yang bisa saya bantu?" Sahut Siti.

__ADS_1


"Saya utusan dari pak Reynand ingin bertemu dengan mbak Siti!" Ucap wanita itu.


"Hmm,utusan dari pak Reynand?" Tanya Siti kaget.


"Iya mbak. Boleh saya masuk?"


"Oh iya silahkan masuk!" Ajak Siti. Mereka lalu masuk ke ruang tamu. "Silahkan duduk!"


Wanita itu duduk lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam paperbag. " Terimakasih mbak Siti. Saya di suruh membawakan ini untuk mbak Siti coba mana yang mbak suka." Dia lalu memberikan sebuah kotak besar pada Siti.


Siti lalu mengambilnya. Dia kaget melihat isi nya. "Ini. . .?" Siti bingung menatap isi kotak itu. Sebuah gaun putih yang indah.


"Mbak coba saja. Apa perlu saya bantu? Kalau tidak suka yang itu,ini masih ada satu lagi yang bisa mbak Siti coba." Terang wanita itu.


"Oh,saya coba sendiri saja mbak. Saya tinggal ke kamar dulu ya!" Pamitnya. Wanita itu hanya mengangguk.


Siti berjalan ke kamar nya. Dia menaruh gaun itu di atas kasur. Lalu dia coba memakainya. Dia pandangi bayangan diri nya di cermin. Gaun ini sangat indah,tapi tidak cocok untuk saya pakai. Batin nya. Dia lalu membuka kembali gaun itu. Setelah memakai kembali pakaiannya,dia lalu keluar kamar membawa gaun itu.


"Bagaimana apa mbak suka gaunnya?" Tanya wanita itu.


"Gaun ini terlalu indah,tidak cocok untuk saya." Terang Siti.


"Oh,kalau begitu bagaimana kalau mbak coba yang satu lagi?" Wanita itu lalu mengeluarkan kotak satu lagi yang ada di dalam paperbag lalu memberikan pada Siti.


Siti pun mengambil kotak dari tangan wanita itu. "Terimakasih." Ucap nya. Dia lalu kembali ke kamar untuk mencoba lagi gaun yang ada di dalam kotak.


Tak berapa lama Siti kembali lagi ke ruang tamu. "Gaunnya sama-sama indah. Terlalu indah untuk di pakai oleh saya,mbak." Ucap nya merendah.


"Ini kan gaun pengantin mbak,tentu saja harus indah!" Ucap wanita itu.


"Tapi,saya malu memakainya." Ucap Siti lagi.


"Gaun-gaun ini yang paling sederhana di butik kami mbak. Cocok untuk wanita muslimah yang memakai hijab." Terang wanita itu.


"Hmm,baiklah kalau begitu saya pilih yang pertama saja yang warna putih!" Ucap Siti. Dia tidak punya pilihan lain lagi.


"Baiklah kalau begitu saya pulang dulu." Pamit wanita itu. Dia bangkit dari duduknya lalu keluar rumah di ikuti Siti dari belakang.


"Terimakasih mbak!" Ucap wanita itu.


"Iya sama-sama mbak!" Balas Siti.


Siti kembali ke dalam rumah. Dia membawa gaun itu ke kamar dan menggantungnya di belakang pintu.


Pak Rey,apa kamu tidak mempunyai sedikit saja rasa pada saya? Atau malah membenci saya? Hingga sekali pun tidak pernah mau menatap saya. Saya ingin menikah dengan pria yang saya cintai dan tentu juga mencintai saya. Tapi pernikahan ini,apa tidak ada cinta sedikit pun di dalamnya? Pikiran Siti menerawang jauh. . .

__ADS_1


NEXT


290321/17.10


__ADS_2