Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 50


__ADS_3

Siti masuk ke dalam rumah. Dia mengintip suaminya dari jendela. Setelah mobil suaminya sudah tidak terlihat lagi,Siti segera masuk ke dalam kamar lalu duduk di pinggir kasur. Mengusap bantal yang biasa di pakai tidur oleh suaminya.


"Saya harus kuat, sabar dan tidak boleh sedih! Agar mas Rey tidak kepikiran." Gumamnya. Tak terasa bulir bening mengalir di pipinya. Baru pertama merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Dulu untuk hanya sebatas menyukai lawan jenis yang setara dengannya saja Siti tidak berani. Tapi kini,dia malah mendapatkan suami yang jauh di atasnya. Suami yang kini sangat mencintainya. Membuatnya tergila-gila.


Siti merebahkan tubuhnya ke kasur sambil mengusap perutnya. "Sehat terus ya nak!" Gumamnya.


Dia lalu melihat handphonenya lalu membuka-buka galeri foto mereka. Kamu sangat tampan mas! Beruntungnya saya akhirnya bisa mendapatkan cintamu. Batinnya.


Tok,tok. . . Ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Mbak Siti!" Seno memanggilnya.


Siti membuka pintu kamarnya. "Kamu sudah pulang?"


"Iya mbak. Mas Rey sudah pergi ya?" Tanya Seno.


"Iya belum lama. Kamu makan dulu sana terus awasi tukang kerja!" Titah Siti.


"Iya mbak." Seno berjalan ke kamarnya yang ada di sebelah kamar Siti. Siti kembali merebahkan tubuhnya di kasur sampai akhirnya ketiduran.


Menjelang sore Siti baru terbangun. Dia melihat handphonenya,ternyata banyak sekali pesan dan panggilan dari suaminya. Jantung Siti berdebar. Kenapa mas menelpon banyak sekali? Ada apa ya? Batinnya. Siti lalu menelpon balik suaminya.


Tuuuttt. Tersambung. Lama dan tidak ada jawaban.


Siti mengulang hingga beberapa kali tapi tak juga ada jawaban. Siti mulai cemas. Lalu dia mengenakan lagi hijabnya yang jika di kamar selalu dia lepas kemudian keluar kamar.


"Seno?" Panggil Siti saat di lihatnya Seno sedang duduk santai sambil memainkan handphonenya.


"Mbak. Sudah bangun?" Tanya Seno.


Siti duduk di sebelah Seno. "Tadi mas Rey menelpon beberapa kali tapi tidak mbak jawab karena mbak ketiduran. Barusan mbak telpon balik tapi mas Rey tidak menjawab. Mbak khawatir,Seno." Ucap Siti lirih.


"Mbak,tadi mas Rey telpon Seno karena mbak tidak jawab telponnya." Ucap Seno yang membuat mata Siti membulat.


"Mas Rey nelpon kamu? Dia bilang apa?" Tanya Siti tidak sabar.


"Dia tanya mbak di mana kok dia telpon berkali-kali tidak mbak jawab. Seno bilang mbak sedang tidur." Terang Seno.


"Terus dia bilang apa lagi?"


"Ya hanya menanyakan mbak saja Dia takut mbak kenapa-kenapa."


"Apa dia bilang dia ada dimana?"


"Hmm,dia tidak bilang mbak. Hanya menanyakan mbak ada di mana dan minta Seno jagain mbak dan jangan sering meninggalkan mbak sedirian di rumah."


"Hmm,kenapa mbak telepon tidak di jawab ya!" Ucap Siti lirih.


"Mbak coba telepon lagi saja!" Saran Seno.


Siti mengangguk. Dia lalu menekan tombol panggil.


Tuuuutt. Sekali tak ada jawaban.


Tuuuutt. Klik. . .


"Hallo mas. . ."

__ADS_1


"Hallo sayang. . ."


Mereka menjawab berbarengan. "Mas?" Sayang?"


Hening beberapa detik,saling menunggu.


"Mas?" Sayang?"


Hahahaa. Mereka tergelak.


"Ayo kamu ngomong!" Titah Rey setelah mereka kembali diam beberapa saat.


"Mas,mas di mana sekarang? Sedang apa? Dari tadi di telepon kok tidak pernah di jawab!"


"Hmm,satu-satu donk nanyanya! Mas sudah sampai rumah beberapa menit yang lalu. Sekarang mas sedang ngobrol dengan belahan jiwa mas yang paling cantik,paling menggemaskan! Paling mas rindukan!"


Wajah Siti langsung memerah. Dadanya sesak. Matanya pun terasa mulai panas. Lalu tanpa pamit,dia langsung mematikan telponnya kemudian setengah berlari masuk ke dalam kamar. "Tega kamu mas!" Gumamnya sambil menyeka air yang mulai jatuh di pipi. Handphonenya dia taruh sembarangan. Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur lalu membenamkan wajahnya di bantal agar isaknya tidak terdengar.


Tiba-tiba handphonenya berdering. Siti menoleh sesaat ke sumber suara tapi kemudian membenamkan lagi wajahnya di kasur. Handphonenya terus-terusan bunyi tapi Siti tidak memperdulikannya. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


"Mbak! Mbak Siti!" Panggil Seno.


"Ada apa?"


"Mas Rey telepon kok tidak di jawab?"


Siti diam. Dia menyeka air matanya di pipi. Lalu diambilnya handphone yang dia letakkan begitu saja. Ada beberapa panggilan dan juga pesan yang masuk yang semuanya dari Rey suaminya. Tak berapa lama handphone Siti kembali berdering tapi panggilan videocall. Siti tekan tombol jawab dan muncullah wajah suami tercintanya. Tapi handphone dia arahkan ke atas plafon.


"Sayang,kok teleponnya di matikan? Di telepon lagi juga tidak di jawab,hmm?" Tanya Rey. "Ini orangnya mana ya?"


"Kalau sedang sama perempuan lain tidak usah telepon saya!" Jawab Siti ketus.


"Mana tahu lah yang mana?" Siti masih ketus.


"Hahahaa." Rey tergelak. Mudahnya membuat istrinya cemburu. "Yang mas maksud itu kamu sayang!"


"Ya mana tahu kok,orang jauh!"


"Heheee,Mana sih wajah istri mas yang cantik itu? Kangen!" Ucap Rey dengan penekanan.


Siti mulai tersenyum. Sebenarnya dia juga ingin melihat wajah suaminya tapi dia terlalu malu memperlihatkan wajahnya yang basah dan matanya yang sembab.


"Ayo donk sayang! Kok tega sih sama mas!"


"Mas yang tega!"


"Hmm,belahan jiwa mas itu ya kamu! Masa masih tidak percaya juga?"


"Nanti deh telepon lagi. Saya sekarang mau mandi!" Siti beralasan.


"Sebentar saja lihat wajah kamu sayang! Sama suami sendiri kok pelit!"


"Salahnya bikin orang kesel!"


"Hmm,mas minta maaf!" Ucap Rey lirih,penuh penyesalan. "Ya sudah kalau kamu tetap tidak mau,mas balik lagi ke desa sekarang juga!" Rey pura-pura mengancam.


"Eehh,mas kan ada pekerjaan di sana!" Siti buru-buru mencegah.

__ADS_1


"Biarin saja pekerjaan itu tidak penting! Sudah ya!" Rey hendak memutuskan panggilannya.


"Mas!" Panggil Siti. Dia lalu menatap ke layar handphone. Terlihat wajah Rey yang sedang tersenyum.


"Terimakasih sayang!" Rey langsung membulatkan matanya demi melihat wajah istrinya. "Kamu habis nangis yank?"


"Siapa yang habis nangis? Ini habis tertawa!" Jawab Siti ketus.


Rey tersenyum. "Ngambeknya jangan lama-lama donk! Nanti anak kita suka ngambek juga."


"Hmm."


"Kamu sudah makan belum yank? Makan jangan males-males ya! Mas usahakan cepat balik lagi ke desa!"


"Tadi siang sudah makan yang bareng mas itu."


"Loh,sekarang kan sudah sore!"


"Iya nanti! Sekarang belum ingin makan!"


"Kamu masih marah,hmm?"


"Hmm,maafin saya ya mas. Saya makin menyebalkan,makin membosankan ya!"


"Siapa yang bilang seperti itu,hmm?"


"Ya memang seperti itu!"


"Sayang,kamu itu menggemaskan! Selalu membuat jantung mas berdebar. Mas selalu bahagia berada di dekatmu! Jangan pernah berpikir seperti itu ya!"


"Mas. . ." Siti kembali terisak.


"Loh kok nangis lagi?"


"Jangan tinggalin saya ya."


"Sayang! Tidak akan pernah! Hanya maut yang membuat mas tinggalin kamu!"


"Iiihh mas ini,jangan ngomong begitu!" Siti makin terisak.


"Ya karena selama mas masih bernyawa,mas tidak akan pernah tinggalin kamu dan anak kita!"


"Terimakasih ya mas! Saya sangat mencintai mas! Sampai kapan pun!"


"Terimakasih sayang! Mas lebih mencintai kamu! Muaah!" Rey mencium handphonenya seolah itu adalah istrinya. "Balas donk!"


"Hmm,muah!" Siti membalas dengan malu-malu.


"Terimakasih sayang. Kamu mandi dulu deh yank,sudah sore nanti keburu maghrib! Nanti mas telpon lagi ya!"


"Hmm,iya mas!" Jawab Siti.


"Daah,istri mas tercinta!"


"Daahh mas sayang!"


NEXT

__ADS_1


050521/21.10


__ADS_2