
Lima tahun telah berlalu. Siti dan Rey makin romantis setiap harinya. Siti yang usianya makin matang yaitu 33 tahun ,telah menjelma menjadi wanita elegan yang sangat percaya diri dan pencinta keluarga sedangkan papa Rey yang usianya hanya terpaut 1 tahun lebih tua dari sang istri,tentu saja tidak mau kalah. Dia makin gagah dan tampan. Dia begitu mencintai keluarga sampai-sampai dia akan melakukan dan menuruti apapun yang di inginkan oleh istri dan anak-anaknya. Terkadang Siti ingin protes dengan cara suaminya memanjakan putra putri mereka karena itu membuat putra putri mereka tumbuh menjadi anak yang manja. Tapi Rey tidak peduli selagi dia bisa dan ada,dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan orang-orang tercintanya.
Putri kini telah berusia 6 tahun dan baru saja masuk sekolah dasar. Putra berusia 5 tahun sudah bersekolah di taman kanak-kanak. Anak-anak tumbuh menjadi anak yang cantik dan tampan tentu saja karena warisan dari kedua orangtuanya.
Sedangkan kakak mereka dari hubungan lama Rey yaitu Cinta,telah tumbuh menjadi seorang gadis yang tak kalah cantik. Usianya kini telah menginjak 15 tahun dan sedang duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah atas.
Seno. Adik semata wayang Siti itu baru saja menamatkan kuliah S2nya di usianya yang ke 25 tahun. Dia kini jadi tangan kanan kakak iparnya,Rey. Jika Rey sedang malas ke kantor maka semua urusan pekerjaan akan di handle oleh Seno.
Keluarga paman Supri sudah memiliki usaha minimarket di rumah barunya dengan bantuan modal dari Rey. Rumah lama mereka di jual untuk tambahan membeli rumah baru di daerah yang sedikit lebih jauh dari rumah lamanya. Mereka ingin membuka lembaran baru dengan tinggal di tempat yang baru.
Rania juga telah memiliki dua orang putri sedangkan Radit belum menikah,dia ikut membantu usaha papanya.
***
"Ayo sayang nanti kamu kesiangan!" Titah Siti pada Putra. Anak itu selalu membuat heboh setiap pagi karena sulit untuk di bangunkan.
"Lima menit lagi,ma!" Ucapnya malas.
"Adeekk,bangun donk nanti kakak kesiangan. Hari ini kakak piket kelas!" Teriak Putri.
"Kakak,tidak boleh keras-keras ngomongnya."
Putri menghentakkan kakinya. "Kakak bisa kesiangan ma." Gerutu gadis kecil itu lalu segera keluar dari kamar. Dia turun ke bawah dengan wajah masam.
"Loh cucu oma yang cantik ini kenapa kok wajahnya di tekuk begitu?" Tanya oma di meja makan.
"Adek,oma. Mesti susah di bangunin. Kakak nanti kesiangan." Gerutunya.
Semua orang yang ada di meja makan hanya menggelengkan kepala. Sudah terbiasa setiap pagi kakak dan adik itu selalu membuat heboh.
Rey baru turun dari atas. Dia sudah mendengar kehebohan anak-anaknya itu dari kamarnya.
"Sabar,sayang. Mama sedang mengurus adik kamu." Ucap Rey berusaha menenangkan putrinya itu.
"Kakak hari ini ada piket kelas,pa." Wajah Putri makin di tekuk.
"Paman antar,ya." Seno baru saja bergabung di meja makan.
"Beneran,paman?" Tanya Putri sambil menatapnya.
"Tentu saja. Apa sih yang tidak untuk keponakan paman yang cantik ini?" Goda Seno sambil mengusap lembut pucuk kepala Putri.
Putri tersenyum semringah. Satu lagi orang yang selalu memanjakannya. Walau di usia bayi dia sudah harus berbagi kasih sayang orangtua dengan adiknya,tapi dia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Karena banyak orang di rumah yang akan mencukupinya dengan kasih sayang. Bahkan terkesan berlebihan.
"Ya sudah kan ada paman Seno yang antar,sekarang kakak sarapan dulu,ya." Titah oma Asti.
"Iya,oma." Jawab Putri yang langsung memakan sarapannya.
Setelah dia selesai sarapan,barulah adiknya turun bersama mamanya.
"Mama." Seru Putri lalu menghampiri mamanya.
__ADS_1
"Sayang,kamu sudah sarapan?"
"Sudah,ma. Hari ini kakak ke sekolah di antar paman Seno." Terang gadis kecil itu.
"Hmm,tidak bareng papa sama adik?"
"Kakak ada piket kelas,ma. Nanti kakak bisa di hukum kalau teman-teman sudah selesai mengerjakan tugas piketnya kakak baru datang." Keluhnya.
"Iya sayang. Buku-buku kamu sudah semua kan?"
"Sudah donk,kan tadi sudah mama cek juga."
"Ya sudah,kakak berangkat sekarang saja biar tidak di hukum. Ayo pamit dulu sama papa,opa dan oma."Titah Siti.
Putri lalu berpamitan dengan papa,oma dan opanya. Lalu dia segera keluar di antar oleh mamanya.
"Paman mana,kak?" Tanya Siti.
"Paman baru saja manasin mobilnya tuh." Tunjuk Putri ke arah Seno di halaman depan.
Siti lalu menemani putri sulungnya itu di teras sambil menunggu Seno selesai memanaskan mobil. Tak lama kemudian Seno melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Tuh,paman sudah siap. Kesana yuk!" Ajak Siti.
Mereka lalu berjalan ke arah mobil milik Seno. Mobil hadiah dari Rey karena dia berhasil lulus S1 dengan nilai yang memuaskan.
"Kakak berangkat ya ma." Pamit Putri lalu mencium punggung tangan mamanya.
"Hati-hati ya sayang!" Ucapnya lalu mencium pucuk kepala Putri.
"Dek,hati-hati di jalan.Tungguin sampai Putri masuk kelas ya!" Pesan Siti pada adiknya.
"Siap kak. Kita berangkat dulu. Assalammualaikum." Pamit Seno.
"Wa alaikumsalam." Sahut Siti.
Setelah mobil adiknya tidak terlihat lagi,Siti kembali masuk ke dalam rumah. Ternyata Putra sudah selesai sarapan. Mereka masih ngobrol di ruang keluarga.
"Ma,kakak tidak bareng lagi sama kita?" Tanya Putra.
"Iya dek,kakak ada piket kelas. Kalau telat nanti kakak bisa di hukum. Kita harus disiplin." Terang Siti.
"Hmm,adek tadi masih ngantuk banget,ma." Putra beralasan. Alasan yang sama hampir setiap pagi.
"Hmm,mulai besok harus belajar disiplin ya. Bangun lebih pagi!" Nasihat opanya sambil menepuk lembut bahu cucunya.
"Ya sudah yuk kita berangkat sekarang." Ajak Rey.
"Hari ini adek tidak minta di tungguin mama lagi kan?" Tanya Siti pada putranya itu.
"Hmm,tidak ma. Adek berani kok sekolah sendirian!" Jawabnya.
__ADS_1
"Anak papa memang hebat!" Puji Rey pada putranya dengan bangga.
"Yuk,pamit dulu sama oma dan opa!" Titah Rey.
Putra segera berpamitan pada oma dan opanya. Siti lalu mengantarnya sampai di mobil.
"Adek sekolah dulu ya ma." Pamit Putra pada mamanya kemudian mencium punggung tangan mamanya.
"Iya sayang. Di sekolah jadi anak yang baik ya dek." Pesan Siti.
"Iya ma." Putra lalu masuk ke dalam mobil.
"Mas kerja dulu ya,yank!"
"Hati-hati di jalan,mas!" Pesan Siti kemudian mencium punggung tangan suaminya.
Setelah mobil suaminya menjauh,Siti kembali masuk ke dalam rumah.
"Siti,kamu belum sarapan?" Tanya mama dari ruang keluarga.
"Belum,ma.Ini baru mau sarapan." Jawab Siti.
"Ya sudah sarapanlah dulu. Nanti jadi kan temani mama ke salon?"
"Iya jadi ma." Jawab Siti. Siti kemudian melangkahkan kakinya ke dapur. Meja makan sudah di bersihkan oleh bibi. Kalau Putra sedang susah bangun pagi,Siti pasti tidak akan sempat untuk ikut sarapan bersama.
"Bi,tolong sarapan saya." Pinta Siti pada bibi.
"Iya bu." Jawab bibi. Bibi sudah tidak memanggil Siti dengan sebutan 'non' lagi karena Siti sudah merasa tua untuk di panggil 'non'.
.
.
.
Season 2 sudah hadiir. Yang masih penasaran dengan season 2 ini jangan lupa dukungannya ya baik like,komen,hadiah dan juga votenya agar othor makin semangat nulis tiap harinya.
Semoga kalian suka ya. Silahkan kritik dan sarannya, othor sangat menerima dengan senang hati.
Sampai jumpa bab selanjutnya. Terimakasih ππππππππ
.
.
NEXT
.
.
__ADS_1
.
0307/1818