
Setengah jam kemudian. Dinda hendak turun dari kasur.
"Mau kemana?"
"Aku mau ke kamar mandi." Jawab Dinda.
"Oohh,iya."
Dinda bangun sambil memakai selimut yang hanya satu.
"Ke kamar mandi kok mau pake selimut?"
Dinda menoleh. "Hmm,aku butuh."
"Lalu aku gimana?" Seno menahan selimutnya.
"Hmm,tapi aku. . ." Dinda menarik-narik selimutnya sambil matanya mencari-cari pakaian yang tadi dia pakai. Tadi Seno taruh pakaianku di mana sih. Batin Dinda kesal.
"Selimut kan buat di tempat tidur bukan kamar mandi."
"Tapi pakaianku manaa?" Tanya Dinda dengan wajah kesal.
Seno mengedikkan bahunya. "Mana tau."
"Iihh,kan kamu tadi yang. . . hmm."
"Yang apa?"
Iihh nyebelin banget sih jadi suami. Dinda makin kesal. Dia terus mencari pakaian yang tadi dia pakai di dekat tempat tidur tapi tidak ada. Pakaian bersihnya dia simpan di laci meja,sedikit jauh dari tempat tidur,sulit di jangkau.
"Aku mau pake selimutnya." Ucap Dinda dengan wajah memerah.
Seno tersenyum geli melihat tingkah istrinya itu. Dia lalu mengambil pakaiannya sendiri lalu memakainya,selimut dia biarkan begitu saja. Dinda lalu melilit tubuhnya dengan selimut lalu turun dari kasur. Seno melihat ada bercak merah di tempat tidur Dinda. Dahinya berkerut. Darah? Batin Seno.
Baru saja Dinda selangkah. . ."Aaww. . ." Jeritnya.
Seno langsung menoleh ke arah Dinda. "Kamu kenapa?" Tanya Seno khawatir.
"Hmm,tidak apa-apa." Ucap Dinda menahan sakit.
Dia mencoba berjalan lagi tapi kembali berhenti dan berpegangan dengan dinding.
"Kamu kenapa?" Seno turun dari kasur mendekati istrinya.
"Sa kit." Ucap Dinda lirih masih menahan sakit.
"Hmm,masih sakit? Kenapa tidak bilang dari tadi? Sini aku gendong!"
"Tidak mau!" Tolak Dinda tapi Seno sudah langsung menggendongnya.
"Iiihh turunin." Protes Dinda. Seno hanya tersenyum tipis.
Sampai di kamar mandi.
"Selimutnya di lepas,nanti basah!" Titah Seno setelah menurunkan Dinda.
"Iiiihh,jangan!" Tolak Dinda.
"Kamu ke kamar mandi mau mandi apa tidur,hmm?" Seno menatap ke Dinda.
"Kamunya keluar!" Usir Dinda.
"Terimakasih belum,sudah ngusir. Dosa loh sama suami begitu!" Ucap Seno sambil menahan senyum melihat meronanya wajah Dinda.
"Hmm,terimakasih." Ucap Dinda sambil cemberut.
"Terimakasihnya yang ikhlas!"
"Iihh,terimakasih." Ucap Dinda sambil maksain tersenyum.
"Hmm,sama-sama."
"Aku mau mandi." Ucap Dinda.
"Ya sudah,ayo kalau mau mandi." Seno menyiapkan air di bathup.
"Loh? Aku mau pake shower saja." Ucap Dinda.
"Ooh mandinya pake shower? Selimutnya di lepas dulu."
"Jangaan!" Tolak Dinda sambil memegang selimutnya erat-erat.
"Mau mandi pake selimut?"
"Hmm,kamu keluar dulu." Pinta Dinda.
Seno berjalan ke arah pintu kamar mandi. Dinda langsung tersenyum. Tapi ternyata Seno malah menutup pintu kamar mandi dari dalam lalu menguncinya. Dia berbalik ke arah Dinda.
"Loohh?" Dinda menatap Seno dengan wajah panik.
__ADS_1
Seno mengulum senyumnya. Kenapa sekarang dia jadi gemesin sih? Batinnya.
***
Dinda sedang duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang basah.
"Tidak ada hair dryer ya?" Tanya Seno.
"Ada,di rumah." Jawab Dinda ketus.
Hmm,mulai deh keluar galaknya.
Seno mendekatinya. "Apa masih sakit?" Bisiknya lembut.
Wajah Dinda kembali memerah. Seneng banget bikin aku malu. Mamiii,nih mantu mami nyebeliin. Teriak Dinda tapi hanya dalam hati.
"Aku laper!" Jawabnya.
"Hmm,di tanya apa masih sakit malah jawab laper."
"Aku laper tauuu,dari tadi juga." Gerutu Dinda.
"Hmm,iya iya. Tapi sarapannya sudah dingin gimana? Kamu pesan lagi ya? Yang ini biar aku yang makan,tidak baik membuang makanan." Tanya Seno.
"Kelamaan,aku sudah laper banget! Lemes lagi." Ucap Dinda sambil cemberut. Dia lalu bangkit dari duduknya lalu berjalan pelan-pelan ke arah meja yang ada makanannya.
"Kamu mau sudah dingin?"
"Terpaksa daripada laper."
"Aku pesankan lagi ya?"
"Lamaaa. . ." Ucap Dinda.
"Hmm,ya sudah kalau tidak mau."
Dinda lalu mengambil makanannya dan juga air mineral yang langsung di minumnya hampir habis setengahnya.
"Seperti tidak minum seharian saja." Gumam Seno yang masih bisa di dengar Dinda.
"Ini sudah jam berapa? Dari bangun belum minum!"
"Heheee." Jawab Seno.
Malah ketawa. Mikir apa,gara-gara dia aku sampe kelaparan,kehausan gini. Batin Dinda.
"Masih haus,ya? Nih!" Seno memberikan air minumnya yang sama sekali belum dia minum. Dinda terpaksa menerimanya daripada makanannya nyangkut di tenggorokan.
Dinda lalu minum sampai habis setengahnya. Sepertinya dia kehausan sekali. Sisanya dia taruh di meja. Dia lalu berjalan perlahan ke arah sofa yang lebih dekat. Duduk lalu menyalakan tv. Hmm,kenyang juga walau kurang enak karena dingin. Daripada kelaperan. Batinnya.
Seno hanya memperhatikan tingkah istrinya. Apa masih sakit ya,jalannya masih susah gitu. Batinnya. Seno lalu minum air mineral sisa dari Dinda.
Kemudian Seno membereskan bekas makan lalu dia menyusul Dinda duduk di sofa. Dinda menoleh sesaat lalu kembali melihat tv.
"Bagaimana?"
"Apa?"
"Masih sakit?"
"Hmm,dikit."
"Syukurlah. Mungkin kalau sering tidak akan sakit lagi." Ucap Seno sambil menatap Dinda lekat-lekat dengan menahan senyum.
"A apa?" Dinda menoleh sambil membulatkan matanya dengan wajah memerah. Paan sih,nyebelin banget. Batinnya. Dia lalu menatap ke arah tv lagi.
"Mau di kamar seharian apa mau keluar?" Tanya Seno.
"Keluar saja. Di kamar bosan." Jawab Dinda.
"Beneran bosan?"
"Hmm,i iya bosan."
"Baru juga berapa kali sudah bosan."
"Iiihh paan sih?" Jawab Dinda dengan wajah cemberut. Kok dia makin nyebelin sih. Batin Dinda.
"Ayo kalau mau keluar." Ajak Seno.
"Tapi aku pake pakaian ini tidak apa-apa?"
"Atasnya pake jaketku. Nanti kita cari pakaian untuk kamu ya." Terang Seno.
"Eh tapi mami bilang hari ini kita mau pergi bulan madu. Mami sudah beli tiketnya."
"Kemana?" Tanya Seno?"
"Hmm,mami tidak bilang."
__ADS_1
"Hhh,ya sudah kamu telpon saja,bilang kalau kita keluar sebentar." Titah Seno.
"Handphoneku di rumah."
"Pake handphoneku. Inget kan nomor kontak mami?"
"Hmm,inget kok."
Seno lalu memberikan handphonenya pada Dinda. Dinda langsung menelpon maminya.
Setelah beberapa kali di telpon,baru di jawab.
"Ini Dinda,mi."
"Pake handphonenya Seno."
"Hehee,iya iya mi."
"Ya kan belum terbiasa mi."
"Aku sama hmm. . ." Dinda menoleh ke arah Seno.
"Sama mas Seno mau jalan-jalan keluar."
"Iya mi. Mami kapan mau ke sini anter barang-barang aku? Jangan ada yang ketinggalan ya mi!"
"Nanti aku kirim pesan barang apa saja."
"Hmm,iya iyaa. Sudah dulu ya. Dadaahh mamiku!" Dinda mematikan handphonenya.
Seno senyum-senyum saja melihat Dinda bicara sama maminya. Hmm,dasar anak mami. Batin Seno.
"Aku kirim pesan ke mami boleh?"
"Hmm. . ." Jawab Seno.
Setelah selesai,Dinda lalu mengembalikan handphone pada Seno. " Terimakasih."
"Beneran mau keluar?" Tanya Seno.
"Iya beneran lah. Bosen di kamar terus."
"Yakin? Tidak sakit lagi?"
"Hmm."
"Alhamdulillah. Kamu pake jaketku ya,kalau hanya pake itu di kira orang mau tidur lagi." Titah Seno yang langsung memakaikan jaketnya ke Dinda.
"Oh iya,mami kapan mau kesini?"
"Habis ashar."
"Oh iya sudah yuk,kita sekalian makan siang di luar ya."
"Hmm."
Mereka lalu keluar dari kamar hotel.
"Tidak mau gandeng nih?" Tanya Seno saat mereka sedang berjalan di koridor hotel.
"Hmm." Dengan malu-malu,Dinda pun menggandeng Seno.
.
.
.
.
.
NEXT
Jangan lupa ya dukungannya untuk karya othor yang biasa ini. ππ
.
.
.
.
.
.
0208/1345
__ADS_1