
Rey baru sampai rumah menjelang dini hari. Dia langsung merebahkan diri di kasur yang beberapa hari ini jarang dia tempati karena lebih memilih tidur di sofa.
Biasanya dia hanya memperhatikan tingkah istrinya di atas kasur yang kadang terlihat gelisah,miring kiri kanan hingga hampir tengah malam baru berhenti. Terkadang istrinya itu memilih untuk sholat malam baru bisa tertidur.
Sebenarnya dia ingin menemani istrinya tidur di ranjang yang sama tapi sekarang dia susah untuk menahan diri jika berdekatan dengan istrinya itu makanya dia lebih memilih menghindar. Dia tidak tahu justru itu menyakiti hati istrinya.
Kini baru terasa,baru sehari tidak melihat wajah istrinya,hatinya begitu gelisah. Hatinya kosong. Hidupnya terasa sepi. Dia sangat merindukan sosok itu. Dia benar-benar merasa kehilangan. Kehadiran Siti dalam hidupnya mulai membuatnya terbiasa. Apakah cinta sudah mulai ada untuk istrinya itu dia pun masih bingung karena sosok dari masa lalunya pun belum hilang dalam ingatan.
***
Siti mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia merasakan seluruh tubuhnya remuk. Tiba-tiba dia ingat kedua orang tuanya yang telah tiada. Aahh,jadi itu hanya mimpi. Bapak,ibu,Siti sangat merindukan kalian. Ucapnya dalam hati. Tidak terasa bulir hangat mengalir di pipinya.
Dia lalu melihat sekelilingnya. Ruangan bercat putih. "Saya di mana?" Gumamnya. "Orang itu? Dimana orang itu? Ahh mereka telah menyiksaku sampai begini. Siti mencoba menggerakkan badannya tapi makin terasa sakit. Dia pun melihat selang infus,lalu melihat ke tangannya. Hmm,saya sedang di infus? Dimana ini?
Tiba-tiba pintu di buka. Ceklek. Seorang wanita masuk mendekati Siti.
"Wah,kamu sudah sadar?" Seru seseorang yang berpakaian serba putih itu dengan wajah berbinar. "Tunggu sebentar ya!" Dia lalu keluar lagi.
Tak lama kemudian dia kembali bersama seorang laki-laki yang juga berpakaian serba putih. Terlihat lebih dewasa dari si wanita.
"Alhamdulillah. Selamat pagi bu. Saya periksa dulu ya!"
Siti diam saja memperhatikan apa yang laki-laki itu lakukan. Toh dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya sangat lemah.
"Hmm,Bagus. Semua sudah normal kembali." Ucap laki-laki itu. "Oh iya,saya dokter yang menangani ibu. Kalau boleh tahu nama ibu siapa? Apa ada keluarga yang bisa di hubungi?"
"Saya,nama saya Siti,dokter. Hmm,saya tidak punya keluarga di sini!" Jawab Siti sambil menunduk,tidak mau menatap ke arah lawan bicaranya.
"Baiklah bu Siti. Anda masih ingat kejadian yang anda alami sebelum bisa sampai di sini?" Tanya dokter lagi.
"Saya,saya di aniaya orang." Jawab Siti lirih.
"Hmm. Oh iya apa ibu sudah tahu kalau sekarang ibu sedang hamil?"
"I iya dok. Kandungan saya baik-baik saja kan?" Siti mengusap lembut perutnya yang masih rata itu.
"Alhamdulillah kandungan ibu baik-baik saja. Ibu jangan stres dan banyak makan yang bervitamin ya!"
"Kalau ibu ada perlu apa-apa,tekan bel yang ada di atas sini ya bu!" Terang suster sambil menunjuk ke arah bel yang dia maksud.
__ADS_1
"Iya dokter,suster. Terimakasih!" Ucap Siti sambil tersenyum.
"Hmm,baiklah bu Siti. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya. Sekarang ibu istirahat saja." Dokter dan suster lalu meninggalkan Siti sendirian.
Siti sangat bersyukur kandungannya baik-baik saja. "Kamu baik-baik di sana ya sayang! Mama akan selalu menjaga kamu! Kamulah cahaya hidup mama!" Gumam Siti sambil terus mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. Tak terasa mengalir bulir hangat di pipinya.
Siti coba duduk,dia ingin ke kamar mandi. Sekarang jam berapa ya,belum sholat. Ucapnya dalam hati. Siti berusaha sekuat tenaga yang tersisa untuk turun dari ranjang besi itu. Dengan menahan rasa sakit,akhirnya berhasil juga ke kamar mandi.
Setelah dari kamar mandi,Siti menekan bel yang ada di atas ranjang. Tak lama seorang suster datang.
"Bu Siti,kok turun ada yang bisa saya bantu?" Tanya suster dengan wajah khawatir.
"Saya,saya mau sholat sus!" Jawab Siti.
"Hmm,baiklah. Ibu sholat sambil tiduran atau sambil duduk saja di kasur. Nanti saya pinjamkan mukenanya ya! Ayo bu naik lagi,nanti ibu bisa jatuh!" Suster dengan sabar menuntun Siti naik ke ranjang besi itu lagi.
Setelah selesai sholat,Siti segera makan makanan yang di sediakan oleh Rumah Sakit. Dia sangat lapar hingga makanannya habis tak tersisa.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu lalu pintu pun terbuka. Muncullah seorang suster dan dua orang pria berjaket hitam dengan garis wajah tegas dan tanpa senyum.
"Permisi bu Siti. Ini ada bapak-bapak dari kepolisian ingin bertanya-tanya sama ibu tentang kejadian yang ibu alami." Terang suster.
Deg. . . Jantung Siti langsung berdebar-debar.
"Hmm,I iya pak. Silahkan." Jawab Siti gugup.
"Bagaimana kejadian yang ibu alami hingga ibu terluka parah dan sampai di temukan warga?"
"Saya,saya di aniaya pak." Jawab Siti.
Hingga hampir satu jam kedua polisi itu menanyai Siti secara bergantian.
"Baiklah bu Siti,terimakasih atas waktunya. Mungkin beberapa hari lagi kami akan datang kembali untuk mengusut tuntas kasus penganiayaan yang ibu alami."
"Iya pak."
"Kita permisi dulu. Semoga ibu lekas sembuh!"
"Aamiin. Terimakasih pak!"
__ADS_1
***
Sudah tiga hari Siti di Rumah Sakit. Kondisinya makin membaik. Dia sudah bisa sholat sambil berdiri tanpa bantuan suster lagi.
"Bu Siti bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya dokter saat visit ke kamar rawat Siti bersama seorang suster. Dokter pun memeriksa bekas luka pada tubuh Siti dan juga kondisi kesehatannya.
"Alhamdulillah dok,saya sudah makin baik! Kapan saya bisa meninggalkan Rumah Sakit ini?" Tanya Siti.
"Hmm,kondisi bu Siti sudah baik semua tinggal pemulihannya saja. Oh iya ibu tidak punya keluarga di sini? Suami ibu di mana?" Tanya dokter.
"Saya. Hmm,keluarga saya ada di desa,dok!"
"Apa nama desanya bu? Apa jauh dari kota ini?"
"Hmm,lumayan dok mungkin tiga jam perjalanan. Bagaimana dok,kapan saya boleh meninggalkan Rumah Sakit ini? Untuk pembayarannya bagaimana?"
"Oh begitu. Mungkin besok pagi ibu boleh meninggalkan Rumah Sakit. Untuk pembayarannya bisa ibu tanyakan pada suster." Terang dokter." Sekarang ibu lepas infus dulu ya!"
"Baiklah. Terimakasih dokter!"Ucap Siti.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Silahkan istirahat ya bu." Dokter pun pamit. Tinggal suster yang masih harus melepas infus Siti.
"Bagaimana biaya saya selama di sini suster?" Tanya Siti.
"Saya tanyakan dulu ya bu. Ibu tunggu saja di sini!" Jawab suster.
"Kira-kira berapa ya sus? Saya hanya punya cincin ini." Tanya Siti.
"Hmm,saya kurang tahu bu." Jawab suster.
Siti mengusap-usap cincin di jari manisnya. Cincin pernikahannya dengan Rey itu terpaksa akan dia pakai untuk membayar perawatannya selama di Rumah Sakit karena dia tidak punya uang sepeserpun.
"Kalau biaya Rumah Sakit kurang apa tidak boleh meninggalkan Rumah Sakit ini,sus?"
"Hmm,nanti bisa di bicarakan langsung sama. . .
Belum selesai suster bicara,pintu ada yang membuka dengan kasar. Siti dan suster langsung menoleh ke arah pintu. Ada tiga orang laki-laki masuk ke kamarnya tanpa mengetuk lagi.
Betapa kagetnya Siti saat melihat siapa yang datang. Dua orang laki-laki adalah polisi yang pernah mendatanginya beberapa hari yang lalu dan yang satu lagi amat sangat Siti kenal. Jantungnya berdegup hebat saat manik mata mereka bertemu. Terkunci beberapa detik hingga Siti memalingkan wajahnya ke arah lain karena matanya mulai terasa panas dan berair.
__ADS_1
NEXT
200421/20.35