
Dinda yang sudah mendaftar kelas ibu hamil,sore itu di antarkan oleh Seno selepas pulang dari bekerja. Seno dengan setia menunggu di ruang tunggu. Satu jam kemudian,Dinda sudah keluar.
"Lama ya mas?" Tanya Dinda saat sudah di dalam mobil.
"Tidak kok,sayang. Bagaimana tadi?"
"Hmm,baru materi saja. Besok baru mulai senamnya,eh dua hari lagi,mas."
"Ooohh gitu." Seno menganggukkan kepalanya.
"Kamu suka kan senam hamil di sana? Nyaman dengan orang-orangnya?"
"Iya mas. Instrukturnya ramah dan sabar. Ibu-ibu hamil yang ikut senam juga ramah." Terang Dinda.
"Syukurlah kalau begitu. Langsung pulang nih?"
"Hmm,iya mas. Aku capek banget nih. Enak banget kalau tidur." Keluh Dinda.
Senopun melajukan mobilnya ke arah rumah. Tidak sampai satu jam mereka sudah sampai.
***
Dua hari kemudian. Dinda dan Seno baru saja sampai di parkiran kantor. Mereka hendak ke tempat pelatihan ibu hamil. Tapi tiba-tiba ada yang menarik kasar tangan Dinda.
"Jadi kamu sedang hamil? Enak ya dapet bekas suami orang?"
"Ka-kamu,Fia? Lepasin!" Teriak Dinda sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Fia.
Seno pun tak kalah kaget,dia lalu berusaha melepaskan pegangan tangan Fia dari tangan Dinda.
"Lepas! Kamu apa-apaan sih?" Ucap Seno dengan nada tinggi. Dinda sudah berdiri di sampingnya sambil mengusap tangannya yang sedikit memerah karena di tarik dengan kasar.
"Mas,harusnya aku yang hamil anak mas bukan dia!" Tunjuknya ke wajah Dinda.
"Untung saja bukan kamu yang mengandung anakku. Kamu kasar!" Sahut Seno dengan emosi.
"Aku seperti ini karena kamu,mas!"
"Mengertilah,hubungan kita sudah lama berakhir. Mulailah dengan kehidupanmu yang baru. Toh dari awal bukan aku yang menginginkan perpisahan kita. Bukan aku penyebabnya!" Terang Seno dengan nada tinggi.
"Tapi aku tidak menyangka secepat ini mas mendapatkan pengganti aku! Sekarang sedang hamil lagi. Andai saja waktu itu aku. . ." Fia mulai terisak.
"Sudahlah,tolong lupakan aku. Aku ingin bahagia dengan keluarga kecilku!"
"Tapi mas kan tidak mencintai dia! Bagaimana mungkin mas bahagia dengannya sementara mas masih cinta sama aku!"
"Fia,sekarang yang ada di hatiku hanya istriku. Dinda calisya! Aku sangat mencintai istriku!Tidak ada wanita lain!"
"Mas bohong!"
"Terserah kamu mau percaya apa tidak!"
"Mas!" Teriak Fia.
"Ayo sayang kita pergi dari sini!" Ajak Seno pada istrinya.
Saat Dinda hendak berjalan ke mobil,tiba-tiba Fia mendorong tubuh Dinda dari belakang. Karena terlalu tiba-tiba hingga Dinda tidak siap dan akhirnya perutnya terbentur pintu mobil yang sedang di buka oleh Seno.
__ADS_1
"Aaawwh!" Teriak Dinda menahan sakit.
"Sayang?" Seno langsung panik.
"Huhh,kasihan!" Ucap Fia sinis.
"Kamu apa-apaan sih!" Seno menatap nyalang ke arah Fia.
"Mas,perutku sakit!" Keluh Dinda sambil memegangi perutnya.
"Kita ke Rumah Sakit!" Ajak Seno yang langsung membantu Dinda naik ke mobil dan dia pun bergegas naik ke mobil.
Fia menatap mereka dengan senyum kemenangan.
Seno melajukan mobilnya perlahan khawatir bayinya merasakan guncangan.
"Sakit banget mas!" Dinda mengerang kesakitan. Air mata mulai keluar dari sudut matanya. Wajahnya pun memerah.
"Sabar ya sayang." Ucap Seno sambil mengusap lembut perut buncit Dinda.
"Sakit,mas. . ."Dinda terus berteriak sambil mengatur nafasnya.
"Di depan ada Rumah Sakit,kita ke sana saja."
"Aku mau sama mami,mas." Tolak Dinda.
"Tapi sayang,klinik mami masih satu jam dari sini,mas takut kamu tidak kuat."
"Aku kuat mas. Ayo,mas!" Dinda masih memaksa untuk ke klinik maminya.
"Hhh,baiklah kalau kamu sanggup menahan sakitnya,yank!"
Tidak sampai satu jam. Mereka sudah hampir sampai di klinik mami Dinda. Beruntung bukan jam pulang kerja jadi jalanan sedikit lengang. Namun saat Seno hendak mengurangi kecepatan,tiba-tiba mobilnya di tabrak keras dari belakang.
"Bbrrraaakkk!" Karena kaget,Seno pun tidak siap hingga kepalanya terbentur setir mobil. Begitupun dengan Dinda,kepala dan perutnya terasa berguncang.
"Aawwh!" Jerit Seno tertahan.
"Aaawwhh,perutku!" Dinda merintih.
Belum selesai rasa kaget mereka,mobil kembali di tabrak dengan lebih kencang dari yang pertama hingga Seno yang kaget tidak bisa menguasai mobilnya hingga mobilnya menabrak pohon di pinggir jalan yang lumayan sepi padahal klinik maminya Dinda hanya berjarak kurang lebih seratus meter lagi.
"Aaakkhhh!" Jerit mereka berdua.
Seno memegangi kepalanya yang terbentur setir mobil,ada darah yang menempel di tangannya. Sementara Dinda,kepalanya terbentur kaca jendela. Perutnya pun makin terasa sakit.
"Mas. . ." Rintihnya tertahan.
Seno menoleh ke arah Dinda. "Sayang,kamu?"
Wajah Dinda sangat pucat. Dia seperti sedang menahan sakit yang amat sangat.
"Perutku. . ."
Seno melepas sabuk pengamannya lalu memeriksa kondisi Dinda.
"Ka-kamu berdarah yank!" Ucapnya panik.
__ADS_1
Dinda hanya bisa memegangi perutnya tanpa peduli dahinya yang juga berdarah. Dengan menahan sakit di kepalanya,Seno keluar dari mobil lalu membuka pintu mobil Dinda.
"Ayo,yank!" Seno hendak menggendong Dinda.
"Hmm,mas? Tapi kepala mas berdarah." Ucap Dinda lirih.
Tiba-tiba ada dua orang laki-laki datang ingin membantu mereka.
"Ada apa,mas?" Tanya mereka. "Biar kita bantu." Tawar mereka.
"Mobil kita menabrak pohon dan Istri saya pendarahan." Jawab Seno lirih. Dia merasakan takut dan cemas yang sangat dalam hatinya.
Dinda lalu keluar dari mobil di bantu oleh Seno.
"Biar saya gendong istrinya,mas." Ucap salah satu dari mereka.
Dinda menggelengkan kepalanya. "Tidak!" Tolaknya.
"Baiklah sayang? Biar mas yang gendong kamu!" Ucap Seno akhirnya. Sebenarnya dia merasa tidak sanggup menggendong istrinya karena darah terus mengalir di dahinya tapi dia tetap memaksakan diri. Warga lain pun mulai berdatangan ingin membantu mereka.
Akhirnya,dengan tertatih dan menahan sakit di kepalanya,Seno menggendong Dinda ke klinik maminya yang berjarak kurang lebih seratus meter dari tempat mobil mereka menabrak pohon.
Seno merasa lututnya lemas dan kepalanya mulai gelap. Dia pelan-pelan duduk di teras klinik masih sambil menggendong Dinda yang sepanjang jalan terus merintih kesakitan dan darah segar sudah mengalir di kedua kakinya.
"Toloong!" Teriak orang yang ikut mengantar mereka.
Seorang suster keluar. Saat tau di hadapannya adalah Dinda,anak dari pemilik klinik,dia langsung kaget. "Mbak Dinda!" Dia lalu buru-buru masuk kembali ke dalam klinik dengan membawa dua brangkar bersama dua orang temannya yang lain.
Seno dengan sisa tenaganya membaringkan istrinya di atas brangkar. Ternyata Dinda sudah tidak sadarkan diri. Seno pun yang hampir pingsan,ikut berbaring juga di brangkar satunya lagi.
Seno tidak tau istrinya di bawa ke ruangan mana karena sampai di dalam,dia juga kehilangan kesadarannya karena memaksakan diri menggendong istrinya dengan dahi yang banyak mengeluarkan darah.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka ya. Maaf jika masih ada typo-typo. Jangan lupa dukungannya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
1515