
Siti dan Cinta sedang bersiap mau jalan-jalan ke mal. Cinta begitu bersemangat.
"Ma,nanti Cinta mau cari boneka buat dede bayi yang di perut mama!" Ucap Cinta saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Dede bayinya masih kecil sayang,nanti saja belinya ya!" Jawab Siti.
"Hmm,Cinta maunya sekarang ma!" Ucap Cinta manja sambil bersandar di bahu Siti.
"Iya tapi kalau dedenya laki-laki masih mau di kasih boneka,hmm?"
"Eh iya ya." Cinta tersenyum malu. " Jadi adik Cinta belum tahu laki-laki apa perempuan,ma?"
"Belum sayang!"
"Nanti sekalian kamu beli baju hamil ya!" Titah Rey sambil menoleh ke arah Siti. Siti dan Cinta duduk di kursi belakang.
"Hmm,perut saya kan masih kecil." Tolak Siti.
"Tidak apa-apa mumpung ke mal sekalian belanja!" Terang Rey. " Kamu belikan juga untuk Seno!"
Hmm belikan untuk Seno? Yakin pasti pulang ke desa? Tanya Siti dalam hati. Dia sudah tidak bersemangat.
Mobil mereka akhirnya tiba di basement. Rey pun segera mencari tempat parkir. Setelah dapat,mereka segera masuk ke dalam mal.
"Kita mau kemana dulu nih?" Tanya Rey.
"Cinta mau bantu mama cari baju hamil,pa!"Jawab Cinta antusias.
"Ya sudah yuk kita cari untuk mama!"
Mereka lalu masuk ke butik khusus ibu hamil. Ada berbagai macam model pakaian hamil. Pakaian dalam dan aksesoris lainnya.
"Ini bagus ma!" Ucap Cinta sambil memegang pakaian yang di pajang di manekin.
"Hmm,ini untuk ibu hamil yang bekerja,sayang. Mama tidak cocok deh!" Tolak Siti dengan halus.
"Tidak apa-apa sayang kamu ambil yang ini,bagus kok. Tidak mesti untuk wanita kantoran,untuk di pakai wanita hamil di acara resmi lain juga cocok" Seloroh Rey.
"Hmm,saya tidak percaya diri memakainya mas!" Ucap Siti sambil menggeleng. Apalagi setelah melihat harga yang tertera.
"Kan nanti sesekali mas ajak kamu ke kantor. Ayo kamu ambil saja!" Rey memaksa dan langsung meminta Siti untuk mencoba di kamar pas.
"Mas,apa pantas saya pakai ini?" Siti keluar kamar pas lalu memperlihatkannya pada Rey.
Rey tersenyum lalu mendekat. "Pantas sekali sayang! Kamu cantik. Kecantikan kamu alami!" Jawab Rey sambil mengusap lembut wajah Siti hingga memerah.
"Hmm,mas ini. Yang di tanya pakaiannya kok malah wajah saya yang di pegang!"
"Mas terpesona!" Bisiknya. "Sudah yuk kita cari model lain!"
Siti lalu berganti lagi dengan pakaian yang tadi dia pakai.
Suami dan putrinya malah yang begitu antusias memilihkan pakaian untuknya.
__ADS_1
"Sudah cukup mas! Banyak sekali!" Siti protes.
"Satu bulan ada berapa hari,hmm?" Tanya Rey membuat Siti membulatkan matanya.
"Mas ini. Masa mau beli 30 lembar?" Siti hanya bisa menggelengkan kepala.
"Ini loh tidak sampai sepuluh,sayang! Masih banyak kurangnya!"
"Sudah mas ah. Saya kan di rumah saja. Pakai daster sudah cukup!" Siti kembali protes.
"Kalau daster untuk malam,sayang!"
"Hmm,terserah mas deh!"
Setelah sedikit berdebat,akhirnya Rey sudah tiba di kasir untuk membayar. "Pakai kartu kredit bisa kok pak." Saran kasirnya.
"Saya pakai debit saja,mbak!" Jawab Rey. Rey memang tidak punya kartu kredit.
Setelah membayar dengan jumlah yang fantastik bagi Siti,mereka keluar butik dengan membawa banyak paper bag dari yang ukuran kecil sampai yang besar.
"Tuh kan mas kebanyakan belinya,repot bawanya."
"Tidak apa-apa sayang biar mas yang bawa semua! Kamu pegang Cinta saja biar tidak terpisah!" Titah Rey. " Eh itu ada troli,kita pakai troli saja." Rey lalu mengambil satu troli kecil yang cukup untuk menaruh paper bag Siti.
"Cinta lapar pa."
"Oh iya sudah jam sebelas ini. Kalian pasti lapar ya!" Rey mengelus perut Siti. "Kamu kalau lapar,bilang mas dong,sayang!" Rey menatap Siti lekat-lekat. Siti hanya senyum.
Mereka lalu mencari restoran terdekat. Dan segera memesan makanan. Setelah menunggu hampir sepuluh menit,ada seseorang yang mendekat ke meja mereka. Seorang wanita cantik yang cukup berkelas dalam penglihatan Siti.
"Kamu?" Wajah Rey terlihat tidak menyukai kehadiran wanita itu.
"Hallo cantik! Kamu pasti putrinya Cyndia ya. Dan kamu,hmm istri Rey?" Seloroh wanita itu yang hanya di balas senyuman oleh Siti.
"Tante Siapa?" Tanya Cinta.
"Tante ini teman sekolah ibu kamu Cyndia dan. . ."
"Permisi,ini pesanannya." Seorang pelayan datang tepat waktu di saat wanita itu ingin mengatakan hal yang Rey hindari. Dia takut Siti akan cemburu.
"Terimakasih mas." Jawab Rey pada pelayan restoran. "Maaf,kita mau makan! Istri dan anak saya sudah lapar!" Rey menoleh ke arah wanita itu.
"Oohh iya. Boleh tante ikut makan di sini,sayang?" Tanya wanita itu sambil menoleh ke arah Cinta.
"Maaf. ." Rey menggeleng sambil menatap wanita itu sekilas.
"Aahh Rey. Ayolah! Hanya bergabung makan saja." Wanita itu memohon.
"Tidak apa-apa mas,mbaknya mau gabung!" Siti menimpali. Wanita itu tersenyum menang. Rey hanya menatap Siti dengan dahi berkerut.
Mereka mulai makan sementara wanita itu baru akan memesan makanan.
Siti memegangi mulutnya,sepertinya dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
__ADS_1
"Kamu kenapa,sayang?" Tanya Rey penuh perhatian sambil mengusap wajah istrinya.
"Hmm,sedikit mual!" Siti menjawab lirih.
"Kamu ke toilet saja! Mau mas temani,hmm?" Rey menawarkan diri.
"Saya ke toilet sendiri saja mas! Cinta jangan di tinggal sendirian." Jawabnya lalu segera berdiri.
"Hmm,kamu hati-hati ya!" Pesan Rey dengan wajah cemas. Bingung harus menemani siapa.
"Saya saja yang temani ya mbak!" Wanita itu menawarkan diri.
"Tidak perlu. Dia bisa sendiri!" Rey menolak dengan tegas. Dia justru tidak mau Siti sampai berbicara dengan wanita itu.
"Hmm,saya sendiri saja. Terimakasih!" Ucap Siti yang bergegas ke toilet.
Setelah selesai,Siti kembali ke meja mereka. Dari jauh Siti bisa melihat wanita itu bersikap agresip sama suaminya. Tapi suaminya berusaha menghindar dengan wajah kesal.
Siti langsung duduk kembali.
"Bagaimana sayang? Sudah enakan?" Tanya Rey.
"Hmm,iya mas sudah enakan."
"Kamu pesan yang lain saja ya! Atau mau punya mas,hmm? Mas suapin ya!" Dengan cepat,Rey menyuapi Siti dengan makanannya. "Bagaimana,enak kan?"
"Hmm,enak mas! Makanan saya agak eneg!" Jawab Siti sambil tersenyum. Rey pun terus menyuapi Siti dengan mesra sementara wanita itu memasang wajah kesal.
"Ya jelas enak,kan mas yang suapin! Ini tinggal dikit,kita pesan lagi ya?" Siti pun mengangguk setuju. Entah karena makanannya yang enak atau karena di suapi suaminya,Siti makan begitu lahap.
"Mas pesan satu lagi yang ini!" Pinta Rey saat pelayan berjalan ke arah mereka.
"Baik pak!" Jawab pelayan itu dengan ramah.
Akhirnya Siti makan dengan di suapi Rey. Makannya pun habis banyak,lebih dari porsi yang biasa dia makan. Rey tersenyum puas.
"Alhamdulillah,habis! Dedenya mau makan di suapi sama papa ya." Ucap Rey sambil mengelus perut Siti. Siti hanya tersenyum sambil menunduk malu.
"Dedenya manja sama papa,ya!" Cinta menimpali.
"Iya sayang,adiknya Cinta manja ya!"
Mereka ngobrol dengan begitu akrab bagai keluarga bahagia membuat wanita itu makin kesal.
"Saya duluan Rey!" Wanita itu berdiri padahal baru memakan makanannya sesendok saja.
"Oh iya. Makananya biar saya yang traktir!" Ucap Rey. Wanita itu tidak menjawab dan langsung meninggalkan mereka.
"Teman bunda apa teman papa,tante yang tadi itu pa?" Tanya Cinta setelah wanita itu sudah pergi. "Dekat-dekati papa,Cinta tidak suka. Yang boleh dekati papa cuma mama Siti!" Ucapnya lagi dengan wajah kesal.
Rey langsung menoleh ke arah Siti. Siti hanya diam menunduk. "Hmm,teman sekolah bunda sama papa,nak!" Jawab Rey jujur,
"Jadi benar ya,bunda sama papa dulu teman sekolah? Tapi bunda nikahnya sama ayah." Seloroh Cinta. Rey tersenyum tipis sambil melirik Siti,tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
NEXT
290421/14.00