
Rey mengikuti suster masuk ke ruangan khusus bayi. Di sana hanya ada satu bayi dalam box. Suster lalu mengangkat bayi tersebut lalu di berikan pada Rey.
"Ini bayi bapak,berjenis kelamin perempuan." Ucap suster.
Rey menerima bayinya dengan tangan bergetar. "Ini bayi saya,sus?"
"Iya pak. Oh iya belum bisa di bawa pulang hari ini ya pak,mungkin besok!" Ucap suster lalu meninggalkan Rey bersama bayinya.
"Anakku,kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya lirih seolah sang bayi bisa menjawabnya. Dia lalu membawa bayi mungil itu dalam dekapannya. Tak terasa ada bulir bening di sudut matanya. Sayang,bayi kita sudah lahir. Ucapnya dalam hati.
"Rey?" Mama mengintip dari pintu.
Rey menoleh. "Ma,ini bayi Rey! Perempuan." Ucapnya.
Mama masuk lalu meminta untuk menggendong bayinya. "Dia sangat cantik,Rey. Mirip sekali wajahnya dengan kamu!" Ucap mama lalu memeluk dan menciumi cucunya penuh kasih sayang. "Semua yang ada di wajahnya persis kamu nak!"
"Hmm,iya ma. Ma,Rey titip anak Rey ya,Rey mau lihat Siti!" Pamit Rey.
"Kamu yang sabar ya nak! Terus berdoa!" Ucap papa sambil menepuk bahu putranya.
Rey mengangguk lalu keluar dari ruangan bayi,kembali ke ruang OK di mana istrinya sedang di tangani dokter.
"Bagaimana bayinya mas?" Tanya Seno saat Rey sudah kembali duduk di depan ruang OK.
"Sedang di gendong mama!" Jawab Rey.
"Laki apa perempuan mas? Sehat kan?" Tanya Seno lagi.
"Perempuan. Alhamdulillah sehat!"
"Syukurlah!" Seno menjadi lega.
"Mbak kamu sudah ada kabar?" Tanya Rey yang bolak balik menatap pintu ruang OK.
"Belum mas! Nah itu si Radit!" Tunjuk Seno ke arah Radit yang sedang berjalan ke arah mereka dengan wajah sedikit pucat.
"Mana uang saya? Saya sudah kasih Siti darah saya,banyak! Sampai saya lemas begini!" Ucap Radit sambil tangannya menadah meminta uangnya.
"Saya belum bawa uangnya sekarang!" Jawab Rey lirih.
"Kamu mau menipu saya,heehh?" Radit emosi.
"Saya mau lihat istri saya dulu. Mau lihat apa darah kamu bisa menolongnya!" Jawab Rey dengan suara tinggi.
"Heeyy,tadi kamu janji kasih saya uangnya setelah saya donorkan darah saya ke Siti!"
"Iya tapi sekarang mas Rey belum pegang uangnya! Kalau mau tunggu silahkan,tidak ya sudah!" Hardik Seno yang makin kesal dengan tingkah sepupunya itu.
"Huuhh,awas kamu Seno!" Radit menatap tajam ke arah Seno. Sementara Rey tidak memperdulikannya. Radit lalu duduk tidak jauh dari mereka.
Rey dan Seno masih menunggu dengan gelisah. Setelah hampir satu jam,seorang dokter dan suster keluar dari ruang OK.
"Keluarga pasien Siti?" Panggil suster.
__ADS_1
Rey maju mendekat. "Saya suaminya sus." Jawab Rey.
"Bapak bisa ikut ke ruangan saya?" Tanya dokter.
"Hmm,bisa dok!" Jawab Rey yang kemudian mengikuti langkah kaki dokter masuk ke ruangannya.
"Pak,istri bapak sudah selesai operasi caesar dua jam yang lalu dan juga kita baru saja mengobati luka-lukanya. Untuk kebutuhan darahnya sudah terpenuhi hanya saja istri bapak saat ini belum sadar. Jadi akan kita bawa ke ruang ICU!" Terang dokter.
"Apa luka-luka istri saya parah dok?"
"Alhamdulillah luka-lukanya tidak parah hanya saja karena banyak kehabisan darah dan darahnya juga baru saja di trasfusi jadi dia belum sadar. Sedikit saja telat,saya tidak tau apa yang terjadi. Bapak berdoa saja ya agar istri bapak cepat sadar!" Terang dokter yang membuat kepala Rey sakit dan makin lemas.
"Iya dok." Jawab Rey lirih. "Saya bisa lihat istri saya dok?"
"Oh bisa. Bapak ke ruang ICU saja."
"Terimakasih dok. Saya permisi dulu!" Pamit Rey.
Rey keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai.
"Bagaimana mas?" Tanya Seno saat melihat Rey yang baru saja dari ruang dokter.
"Siti sekarang di bawa ke ICU!" Jawab Rey lirih.
"Apa mas? ICU?" Tanya Seno dengan suara bergetar. Rey mengangguk lalu berlalu dari sana menuju ruang ICU di ikuti Seno.
Sampai di ruang ICU.
"Oh bisa pak. Bapak silahkan pakai pakaian yang ada di ruangan itu sebelum masuk ya!" Tunjuk suster. Rey mengangguk.
Rey segera masuk ke ruang ICU di mana istrinya sedang di rawat. Dia terpaku di depan ranjang istrinya. Dadanya terasa sesak. Istrinya yang manja itu kini tengah terbaring tak berdaya dengan beberapa selang di wajah dan tangannya. Rey perlahan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Sayang. . ." Ucapnya lirih lalu menyentuh wajahnya. "Bangunlah yank,kamu belum lihat putri kita kan? Dia sangat cantik,tapi kamu jangan iri ya,wajahnya sangat mirip mas!" Rey mencoba tersenyum. Senyum getir. Di raihnya tangan yang terlihat pucat itu lalu di tempelkan ke wajahnya. Sambil membayangkan saat-saat kebersamaaan mereka.
Tiba-tiba ada suster yang datang. "Maaf pak,saya harus memberikan makanan untuk istri bapak!" Ucap dokter.
"Makanan?" Tanya Rey heran. Dia tidak tau bagaimana cara memberikan makan untuk istrinya yang belum sadar itu.
"Iya pak! Saya akan memberikan makanan cair untuk istri bapak melalui sonde." Terang suster.
"Sonde?"
"Iya. Permisi ya pak!" Dengan hati-hati,suster memberikan makanan cair untuk Siti. Rey hanya memperhatikan saja. Ini adalah pengalaman pertamanya melihat pasien yang di beri makan melalui sonde.
"Apakah harus sus? Apa tidak cukup dengan infus saja?" Tanya Rey yang merasa ngeri melihat hidung istrinya yang di masuki selang sonde.
"Tentu saja harus pak! Istri bapak tetap harus di beri makan agar lambungnya tidak kosong!" Terang suster lagi.
"Hmm. Kira-kira kapan istri saya sadar sus?"
"Saya tidak tau pak. Bisa cepat bisa juga lambat tergantung pasien sendiri!"
Hhhh. Rey hanya bisa menghela nafas berat. Setelah suster selesai memberi istrinya makan,Rey kembali duduk.
__ADS_1
***
Esok paginya Rey masih dengan setia menunggui istrinya di ruang ICU. Kadang di ruang tunggu. Istrinya itu belum juga sadar. Dia hanya sesekali pergi untuk melihat bayinya.
Hari ini bayinya sudah boleh di bawa pulang ke rumah. Mama dan papa Rey yang mengurus semua keperluan cucunya itu.
"Rey titip bayi Rey ya ma,pa." Pinta Rey lalu mencium bayinya sambil menatapnya lekat-lekat.
"Kamu tidak usah khawatirkan bayi kamu nak. Mama dan papa akan merawatnya. Kamu jaga saja istri kamu. Jangan lupa kirim kabar ya!" Ucap mama lalu berpamitan.
Rey kembali ke ruang ICU.
"Istri saya belum sadar juga dok." Keluh Rey pada dokter yang berjaga di ruang ICU.
"Sabar ya pak,jangan putus berdoa!" Ucap dokter.
Rey duduk lagi di samping istrinya yang seperti sedang tertidur. Tubuh istrinya terasa dingin dan pucat,dan terlihat sedikit lebih berisi.
"Sus,istri saya jadi terlihat lebih gemuk ya?" Tanya Rey heran.
"Oohh,mungkin karena cairan infus pak,sudah ada lima kantong yang masuk dari kemarin siang. Istri bapak juga baru saja melahirkan." Terang suster.
"Ooh begitu." Ucap Rey. Dia terus menatap istrinya dengan perasaan masygul.
Setelah menunggu selama satu jam,dia keluar dari ruang ICU. Di depan ruang ICU ternyata sudah ada Radit.
"Kapan mau kasih uangnya?" Tanya Radit tanpa basa basi lagi.
Hhhh. Rey menarik nafas kesal sambil menatap tajam ke arah Radit. "Ayo ikut saya!"
Radit lalu mengikuti langkah kaki Rey dengan senyum semringah. Bayangan uang 1 milyar menari-nari di pelupuk matanya.
Rey mengajak Radit ke mobilnya. Di sana Rey menandatangani selembar cek dengan nominal 1 milyar sesuai dengan janjinya.
"Nih!" Ucap Rey seraya menyerahkan cek pada Radit.
"Apa ini? Saya maunya cash!" Tolak Radit.
"Saya tidak punya cash saat ini!"
"Ambil di Bank donk!"
"Saya tidak ada waktu! Saya harus tetap berada di dekat istri saya!" Rey memberikan alasan.
"Tidak peduli! Saya mau cash sekarang!"
"Kamu benar-benar ya!" Ucap Rey kesal. Rey langsung mengambil handphonenya lalu menelepon seseorang.
"Bawa cek ini ke perusahaan saya. Temui yang namanya Toni. Serahkan cek ini ke Toni dan ikut dia ke Bank. Kamu bisa ambil uangnya di bank!" Titah Rey dengan penekanan kemudian segera berlalu meninggalkan Radit.
NEXT
240521/17.55
__ADS_1