Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 76


__ADS_3

"Sayang?" Rey yang panik langsung menggendong dan membawanya ke dalam kamar.


"Siti kenapa Rey?" Tanya mama yang sedang memberikan susu untuk Putri.


"Pingsan ma." Jawab Rey.


"Loh kok bisa?" Tanya mama heran sambil menatap menantunya itu.


"Rey tidak tau ma,tau-tau dia jatuh pingsan. Ma, tolong minyak kayu putihnya Putri." Pinta Rey.


Mama segera memberikan minyak kayu putih pada Rey dan Rey segera menciumkannya di hidung Siti beberapa saat.


Siti mulai mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengusap hidungnya yang mencium aroma kayu putih. "Hmm." Lirihnya sambil memegangi kepalanya.


"Sayang,kamu sudah sadar?"


Siti menatap suaminya. "Mas? Yang di katakan polisi itu tidak benar kan mas?" Tanya Siti dengan suara bergetar karena menahan tangisnya.


"Memangnya polisi mengatakan apa yank?"


"Mas,saya lihat foto itu." Ucapnya sambil mengusap sesuatu yang mulai keluar di sudut matanya.


"Hmm,yank. Mas juga belum yakin,itu kan baru foto. Mungkin hanya mirip?" Rey coba menenangkan istrinya.


"Tapi mas,foto itu jelas!" Ucap Siti yang mencoba untuk duduk.


"Biar lebih jelas,mas akan lihat sendiri ke kantor polisi. Kamu tunggu kabar dari mas ya. Semoga hanya mirip saja!" Ucap Rey meski tidak yakin.


"Saya ikut ya mas?" Pinta Siti.


"Yank,kamu di rumah saja jagain bayi kita! Biar itu jadi urusan mas! Kamu juga nanti pingsan lagi di sana!"


Siti hanya diam. Dia merasa yakin jika foto itu tidak hanya mirip tapi benar-benar orang yang dia kenal.


"Kamu sudah enakan belum yank?" Tanya Rey yang melihat istrinya hanya diam saja.


"Hmm,iya mas. Sudah mulai enakan!"


"Kamu istirahat saja ya,Putri juga baru saja tidur sama mama. Mas mau ke kantor dulu ada urusan sebentar sama Seno,baru setelah itu mas ke kantor polisi." Pamit Rey. Dia lalu mencium dahi istrinya lalu keluar kamar.


Siti masih belum bisa melupakan foto itu.


***


Rey segera melajukan kendaraannya menuju perusahaannya. Sesampainya di sana,dia segera ke ruangan di mana Seno bekerja.


"Seno!" Panggilnya. "Ke ruangan mas sekarang!" Titahnya.


Seno menoleh. "Ya mas. Sebentar saya siapkan dulu berkasnya." Jawab Seno. Setelah semua siap,Seno segera ke ruangan Rey yang masih satu lantai dengan ruangannya.


Tok tok.


"Mas." Panggil Seno.


"Masuk!" Titah Rey.

__ADS_1


Seno segera masuk. "Ini mas. Pak Budi minta siang ini juga." Ucap Seno.


"Hmm." Jawab Rey.


Rey segera memeriksa berkas yang di berikan Seno lalu menandatanganinya.


"Kamu bisa sendiri kan bertemu pak Budi?" Tanya Rey.


"Kalau hanya membahas masalah pekerjaan kita dengan pak Budi saya sudah paham mas. Insya Allah saya bisa.


"Bagus,kamu memang cepat belajarnya! Mas hari ini ada perlu di kantor polisi." Terang Rey.


"Kenapa ke kantor polisi,mas?"


"Penabrak mbak kamu sudah di bawa ke kantor polisi."Jawab Rey.


"Loh,bukannya memang sudah tertangkap mas?" Tanya Seno heran.


"Yang waktu itu hanya suruhan saja." Jawab Rey.


"Apa?? Jadi ada orang lain lagi mas?" Seno kaget.


"Iya,Seno. Mas ingin memastikan kebenarannya karena memang sulit untuk di percaya." Terang Rey.


"Mas Rey sudah tau siapa orang itu?"


Rey mengangguk. "Tadi polisi ke rumah dan mbak kamu mengetahuinya sampai dia pingsan."


"Mbak Siti sampai pingsan? Memangnya siapa mas?" Seno duduk dengan tegang.


"Hmm,mas pastikan dulu nanti di kantor polisi. Nanti mas kabari lagi. Kalau urusan kamu sama pak Budi sudah beres,kamu kabari mas ya! Mas pergi dulu!"


Rey lalu memakai lagi jas hitamnya lalu keluar dari ruangannya di ikuti oleh Seno.


Siapa orang itu ya? Bikin penasaran deh. Batin Seno yang hanya bisa memandangi punggung kakak iparnya yang mulai menjauh. Dia lalu kembali lagi ke ruangannya.


****


Sampai di kantor polisi,Rey buru-buru turun dari mobilnya.


Rey melangkahkan kakinya lebar-lebar. Dia ingin cepat sampai di ruangan dimana penabrak istrinya di tahan. Setelah menemui petugas polisi yang menangani kasus istrinya,dia kini sudah sampai di dalam ruangan sempit itu. Di sana duduk satu orang remaja wanita dan satu orang remaja laki-laki yang hampir sebaya.


Pandangan mereka bertemu. Ada semburat kaget,takut di wajah dua remaja itu.


"Apa alasan kamu?" Tanya Rey tanpa basa basi lagi. Di tatapnya dua remaja itu dengan sorot mata tajam seperti menusuk hingga kedua remaja itu tetap diam,tidak ada yang berani bersuara. Mereka cepat-cepat menunduk.


"Ayo jawab!" Rey masih menatap tajam ke arah mereka berdua.


"Kalian ingin berlama-lama mendekam di sini ya?"


Semenit,dua menit.


"Oke! Kalau kalian tetap tidak mau bicara,silahkan nikmati waktu kalian di sini. Mungkin masa depan kalian berada di sini!" Ucap Rey lalu hendak keluar dari sana.


"Ma,maaf. Maafkan saya!" Suara remaja wanita yang terbata-bata.

__ADS_1


Rey menoleh. Dia menunggu apa lagi yang akan di katakan remaja itu.


"Saya,saya tidak bermaksud melukai begitu. Saya hanya. . ." Tidak berani meneruskan kata-katanya lagi.


"Hanya apa? Hanya ingin membunuh,heeh?" Rey mulai emosi. Dia ingat kembali apa yang telah di alami istrinya dan juga bayinya.


"Ti,tidak! Saya tidak ingin membunuh. Saya hanya,hanya. . . " Dia menutup mulutnya. "Tolong maafkan saya. Saya tidak mau ada di sini." Ucapnya lagi yang mulai terisak.


Rey berbalik dan keluar dari ruangan itu meninggalkan kedua remaja yang mulai sama-sama terisak.


Hhhh. Rey menarik nafas berat lalu mengusap wajahnya. Dia tidak ingin berlama-lama berada di ruangan itu bersama dua orang yang telah mencelakai istrinya.


"Bagaimana pak Reynand,apa sudah berbicara dengan mereka?" Tanya polisi yang menunggunya di luar.


"Sudah pak tapi hanya sebentar saja." Jawab Rey sambil menahan amarahnya.


"Bagaimana apa mau kita lanjutkan kasus ini? Mengingat mereka masih di bawah umur. Kita serahkan keputusan pada keluarga korban.


"Saya bicarakan dulu dengan istri saya pak. Istri saya awalnya ingin membebaskan anak itu tapi sekarang semua berbeda dan istri saya belum mengambil keputusan apa-apa. Dia masih syok!" Terang Rey.


"Saya mengerti pak Reynand. Sebaiknya segera ambil keputusan sebelum berkasnya di limpahkan." Ucap polisi.


"Iya pak,kalau saya sih inginnya mereka di beri efek jera dulu. Tapi semua keputusan ada di istri saya jadi saya bicarakan dulu dengannya."


"Rey!" Panggil seseorang. Rey langsung menoleh. Ternyata paman Supri dan putranya Radit.


"Rey,ada yang ingin paman bicarakan sama kamu dan juga Siti. Boleh paman ke rumah kamu?" Tanya paman.


Rey menatap pamannya Supri dan juga Radit bergantian. Dia tidak tau apa harus percaya pada mereka.


"Rey,paman mohon. Beri paman kesempatan. Paman akan bawa anak itu pergi jauh dari hidup kalian." Paman Supri terus memohon.


"Maksud paman apa ya?"


"Tolong bebaskan dia. Paman janji dia tidak akan menggangu kalian lagi. Dia hanya tidak bisa berpikir dewasa,Rey. Dia,dia masihlah belum dewasa."


"Belum dewasa tapi sudah berani seperti itu,paman?"


"Paman tau Rey,kesalahannya sungguh fatal. Paman juga mau mengembalikan uang 1M yang kamu berikan pada Radit. Radit,mana buku tabungan kamu yang berisi uangnya Rey?" Paman Supri menoleh ke arah Radit. Radit lalu menyerahkan buku tabungan beserta ATMnya pada papanya.


"Hmm,tapi,tapi sudah saya pakai beberapa puluh juta,pa." Ucap Radit terbata-bata. Dia hanya menunduk.


"Kamu itu,huuhhh!" Paman kesal lalu menyerahkannya pada Rey.


"Rey,ini uang kamu. Maaf sisanya yang sudah di pakai oleh Radit akan paman ganti secepatnya."


Rey diam,sama sekali tidak melihat buku tabungan dan ATMnya apalagi mengambilnya.


"Apa yang sudah saya kasih tidak akan pernah saya ambil lagi!" Tegas Rey.


"Tapi ini kan karena anak paman,Rey."


"Saya bicarakan dulu sama Siti. Nanti saya akan kabari paman lagi!" Ucap Rey. "Saya permisi dulu!" Pamit Rey yang tanpa menoleh lagi segera meninggalkan paman Supri dan Radit yang hanya bisa memandang kepergian Rey dengan rasa malu dan juga menyesal.


Hai haaii,jangan lupa dukungannya untuk othor ya. Trimss πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


NEXT


280521/13.20


__ADS_2