Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 105


__ADS_3

Setelah makan siang,Rey dan paman Supri kembali ke klinik. "Jadi paman sekarang menginap di rumah saja ya." Tawar Rey.


"Terimakasih nak Rey,tapi tidak enak sama orangtua kamu. Paman sama Radit menginap di hotel saja. Oh iya tadi sebelum ke sini paman lihat ada penginapan dekat sini." Tolak paman dengan halus.


"Tidak apa-apa kok,paman. Orangtua ku tidak akan mempermasalahkannya."


"Hmm,paman sebenarnya mau nungguin Siti di sini kok Rey. Bolehkan kita tidur di ruang tunggu?"


"Setau Rey sih boleh paman,tapi nanti paman capek tidur di kursi."


"Tidak masalah,Rey. Paman bisa tidur di mana saja asal sudah ngantuk." Paman tersenyum.


"Papa." Tiba-tiba Radit dan Seno berjalan menghampiri mereka.


"Seno? Kamu sudah pulang kerja?" Tanya Rey.


"Iya mas,pekerjaan tidak banyak jadi cepat selesai." Jawab Seno.


"Mas Rey,aku,aku boleh tidak kerja di kantor mas Rey? Itu loh yang suka nganterin kopi ke orang-orang."Tanya Radit.


Seno dan Rey saling pandang. "Jadi OB?" Tanya mereka hampir berbarengan.


"I iya mas."Jawab Radit malu-malu.


"Hhh,kamu nanti bantu papa kamu saja. In sya Allah,mas akan kasih modal untuk buka minimarket kecil-kecilan." Terang Rey.


"Apa? Serius mas?" Radit kaget bercampur senang.


"Iya,terserah kalian mau di desa apa di kota." Ucap Rey.


"Kalau Radit maunya di kota saja,mas. Radit tidak betah di desa,tinggal di keluarga mama." Jawab Radit.


"Radit,tidak boleh bicara begitu." Ucap paman.


"Mas terserah kamu sama paman saja bagusnya di mana. Tapi tidak bisa sekarang. Mas masih mau ngurusin istri dan anak mas." Terang Rey.


"Tidak apa-apa,Rey. Paman juga mau di sini dulu,nunggu sampai Siti dan bayi kalian pulih." Ucap paman.


"Terimakasih paman." Jawab Rey.


"Oh iya,aku mau ke ruang NiCU dulu. Mau lihat perkembangan bayi kami." Pamit Rey.


"Paman ikut,Rey." Pinta paman.


"Ayo,paman."


Rey bersama paman menuju ruang NICU. Paman menunggu di luar,melihat dari kaca jendela sementara Rey masuk ke dalam.


Di dalam ruang NICU,bayi mereka sedang di beri makanan cair melalui OGT.


"Itu kok dari mulut,sus?" Tanya Rey heran. Setau dia kalau makanan cair lewat hidung.


"Karena hidung untuk selang oksigen,pak. Jadi makannya lewat mulut,pakai OGt." Terang suster.

__ADS_1


"Loh bayi saya kok di bantu oksigen?" Rey makin ngeri membayangkan jika bayinya kesulitan mendapatkan oksigen.


"Agar saturasinya tidak turun,pak. Jadi kita bantu pakai oksigen."


Hhh,entahlah aku tidak paham. Batin Rey. "Bagaimana,apa ada kemajuan sus?"


"Kita masih observasi dulu ya pak. Dedenya juga kan belum satu hari lahir."


Rey begitu sedih melihat bayi sekecil itu harus menggunakan banyak selang di tubuhnya. Dia hanya bisa pasrah dan berserah diri pada sang pemberi kehidupan.


Setelah puas menatap bayinya,Rey pun keluar dari ruang NICU. Paman masih ada di luar.


"Paman,kita tunggu di sini saja dulu." Pinta Rey.


"Iya Rey. Di sini lebih sepi dan kita bisa tiduran di kursi panjang ini kapanpun." Ucap paman.


"Iya paman. Paman kalau mau tiduran silahkan. Paman pasti capek. Apa kita cari hotel dekat sini?" Tawar Rey.


"Tidak usah,Rey.Paman mau nunggui di sini langsung." Tolak paman


"Baiklah paman."


***


Sudah dua hari Siti dan bayinya di rawat. Siti belum sadar juga. Semua orang mulai khawatir terutama Rey. Dia jadi banyak melamun. Rasa sesal makin menghantuinya. Dia bahkan jarang mau makan.


Malam ini Seno dan Radit berjaga di depan ruang ICU sementara Rey dan paman Supri berjaga di depan ruang NICU. Paman sudah tertidur dari selepas sholat isya sementara Rey masih di dalam ruang NICU menatap bayinya.


"Sus,kondisi bayi saya bagaimana?"


"Tapi semua selang ini masih lama terpasang?"


"Yah kita lihat kondisi pasien,pak. Untuk berapa hari awal memang masih rentan naik turun." Terang suster lagi.


"Hmm,asupannya bagaimana sus?"


"Ya masih kita kasih susu khusus. Semoga ibunya cepat sadar dan bisa memberikan ASI. Itu jauh lebih baik dari susu semahal apapun."


Rey terus memperhatikan bayinya sampai tertidur di kursi.


"Pak,kalau mau tidur di ruang tunggu saja." Panggil suster membangunkan Rey. Rey mengucek matanya yang lelah lalu keluar dari ruangan NICU.


Dia duduk di sebelah paman yang masih tertidur. Dia lalu berdiri,berniat ke ruangan ICU untuk melihat keadaan istrinya.


Di depan ruang tunggu,Radit sedang tertidur sedangkan Seno sibuk dengan laptopnya.


"Seno,kamu ngerjain apa?" Tanya Rey.


"Hmm,mas Rey. Ini ada tugas kuliah." Jawab Seno.


"Apa ada kabar dari dalam?"


"Belum ada,mas. Satu jam lalu aku dari dalam."

__ADS_1


"Hmm,mas masuk dulu." Pamit Rey.


Setelah mengenakan pakaian khusus dan masker,Rey masuk menjenguk istrinya.


"Suster,bagaimana istri saya?"


"Sebenarnya sudah stabil semua,pak. Kita hanya menunggu kesadaran pasien saja." Jawab suster.


Rey lalu duduk di sebelah istrinya. Dia lalu menggenggam tangannya lalu membisikkan doa dan juga beberapa ayat pendek.


"Yank,mas baru saja menengok bayi kita. Dia butuh ASI kamu,yank! Kapan kamu sadar?"


"Kita di sini nungguin kamu,Putri di rumah juga nungguin kamu pulang membawa adiknya."


Rey terus mengajak bicara istrinya. Selama hampir satu jam tak bosannya dia berbicara apa saja untuk membuat istrinya itu merespon setiap apa yang dia katakan.


Ketika dia berdiri dan hendak melepaskan genggaman tangannya,tiba-tiba dia merasa jari-jemari istrinya itu bergerak pelan. Rey menatapnya dengan rasa kaget bercampur senang. Jari-jemari itu bergerak seperti hendak menggapai-gapai.


Kedua mata Siti juga mulai ada gerakan dan lama-lama terbuka. Dia lalu menatap Rey yang ada di depannya. Mulutnya pun mulai bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Rey seperti terhipnotis hingga dia terdiam beberapa detik. Jantungnya berdebar-debar.


Ketika dia mulai bisa menguasai diri,dia segera memanggil suster.


"Sus,istri saya!" Panggil Rey pada suster jaga.


Suster jaga segera mendekat. "Ada apa,pak?"


"Istri saya sudah membuka matanya." Terang Rey.


Suster lalu melihat ke arah Siti. "Oh,bapak silahkan keluar dulu."Titah suster. Rey pun keluar dari ruang ICU dengan perasaan campur aduk.


Rey duduk di sebelah Seno. "Baru saja mbak kamu membuka matanya,Seno." Terang Rey dengan dada yang masih berdebar.


Seno menghentikan aktivitasnya dan menaruh laptop di sampingnya. "Mbak Siti sudah sadar mas?"


"Iya tadi dia buka matanya. Sekarang sedang di tangani suster. Semoga dia benar-benar sadar." Ucap Rey.


"Aamiin." Ucap Seno lirih.


Mereka lalu terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing sambil terus menatap pintu ruang ICU.


Tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka.


"Suami pasien Siti." Panggil suster.


Rey berdiri lalu menghampiri susternya.


"Saya,sus." Jawab Rey.


"Silahkan masuk,pak!" Titah suster.


Dengan jantung yang makin berdetak lebih kencang,Rey masuk mengikuti suster. Hatinya penuh harapan baik. Semoga saja semua berakhir baik. Batinnya.


NEXT

__ADS_1


2406/2222


__ADS_2