
Mobil Rey sudah sampai di parkiran Rumah Sakit Medika. Mereka turun dari mobil dan segera pergi ke ruang ICU.
Hanya ada beberapa orang saja yang sedang menunggu. Ada yang duduk dan ada yang sambil tiduran di bangku panjang yang ada di depan ruang ICU.
"Cinta tunggu di sini sama ayah,ya. Papa mau masuk dulu. Pak Fadil,saya masuk dulu." Pamit Rey yang di beri anggukan Cinta dan juga Fadil.
Rey masuk ke ruang ICU. Di ruang omanya Aaron ada seorang dokter dan juga suster yang sedang memeriksa kondisi organ vital oma.
"Bagaimana kondisi oma saya,dok?" Tanya Aaron dengan wajah sendu.
"Hmm,masih sama seperti saat pertama kali datang. Kita akan berusaha semampunya untuk menyembuhkan pasien dan jangan lupa untuk berdoa. Selebihnya kita pasrahkan pada Allah." Terang dokter kemudian berlalu dari sana.
"Hmm,dokter bisa kita bicara sebentar." Pinta Rey saat berpapasan dengannya.
Dokter menoleh. "Mari ikut ke ruangan saya." Ajak dokter.
Aaron melirik sekilas. Setelah Rey dan dokter keluar,Aaron pun ikut keluar.
Aaron kaget melihat ada Cinta dan ayahnya sedang duduk di ruang tunggu. Fadil menoleh.
"Aaron." Sapanya.
Cinta pun ikut menoleh. "Aaron." Gumamnya.
Fadil berdiri lalu mendekati Aaron. Cinta mengikuti di belakang. "Bagaimana keadaan oma kamu? Boleh saya ke dalam?"
"Hmm,silahkan." Jawab Aaron.
Fadil lalu masuk keruangan ICU meninggalkan Aaron dan Cinta. Aaron melihat ke arah Cinta. Tatapan mereka saling mengunci.
"Aaron." Sapa Cinta.
Aaron bukannya menjawab tapi justru membalik badannya hendak masuk kembali ke ruang ICU.
Cinta maju beberapa langkah lalu menarik tangan Aaron. "Aaron kamu kenapa?"
Aaron langsung menepiskan tangan Cinta lalu hendak kembali masuk ke ruang ICU.
"Kamu marah sama Cinta? Cinta salah apa?"
Aaron menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Cinta. Aku sedang tidak ingin bertemu kamu. Batinnya. Lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Kamu kenapa?" Ucap Cinta lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. Melihat Aaron yang tidak memperdulikannya,Cinta langsung berbalik kemudian setengah berlari pergi dari sana.
Mendengar langkah kaki Cinta yang menjauh,Aaron menoleh. Aaron buru-buru mengejar Cinta lalu menarik tangannya.
"Kamu mau kemana? Tunggu papa dan ayah kamu di sini!" Ucapnya dengan penekanan.
Cinta sekuatnya menepis pegangan tangan Aaron. "Lepasin! Tidak usah pedulikan Cinta! Sana pergi!" Usirnya.
Aaron justru mengeratkan pegangannya. "Ayo kembali ke sana,nanti papa dan ayah kamu nyariin."
Cinta yang terlanjur sedih dan kecewa dengan sikap Aaron tidak mau menurut. Dia gigit tangan Aaron yang memegangi tangannya kuat-kuat.
"Aaawww! Sakit tau!" Aaron langsung melepaskan pegangan tangannya lalu mengusap-usap tangannya yang di gigit Cinta.
Cinta lalu melangkahkan kakinya cepat-cepat. Aaron kembali mengejarnya. "Kamu mau kemana? Tunggu papa kamu dulu!"
"Pergi sana tidak usah pedulikan Cinta."
__ADS_1
"Kamu mau di culik lagi,ya?" Nada suara Aaron meninggi.
Cinta terus melangkah sambil menahan tangisnya. Saat sudah di atas tangga hendak turun,tiba-tiba Aaron menarik tangannya hingga dia kehilangan keseimbangan dan membuat mereka jatuh bersama dengan Cinta yang menimpa tubuh Aaron. Beruntung tangganya tidak tinggi. Pandangan mereka terkunci beberapa detik.
"Woooii,kalau mau macam-macam jangan di sini!" Hardik seseorang yang lewat.
Cinta buru-buru bangun lalu di ikuti Aaron. Cinta terlihat menahan sakit.
"Dasar anak muda jaman sekarang. Tidak tau tempat lagi ya?"
Saat mereka di hardik oleh dua orang yang baru saja lewat,tiba-tiba ada seorang bapak yang menghampiri mereka. "Mereka tadi tidak sengaja jatuh bukan karena macam-macam!" Terang bapak itu.
"Halaahh,sodaranya datang membela!"
"Saya bukan sodara mereka. Kalau tidak percaya lihat saja dari CCTV. Di sini banyak CCTV. Dasar!" Gerutu orang itu lalu mendekati mereka berdua.
"Terimakasih,pak." Ucap Aaron seraya tersenyum.
"Kalian tidak apa-apa?"
"I-iya pak. Kita tidak apa-apa kok." Jawab Aaron.
"Lain kali kalau mau bertengkar jangan di dekat tangga. Untung tangganya tidak tinggi." Ucap orang itu yang segera berlalu dari sana.
Aaron menoleh ke arah Cinta yang wajahnya sudah memerah antara malu dan marah. Dia juga terlihat menahan sakit.
"Kamu tidak apa-apa kan? Apa badannya sakit?"
"Tidak usah pedulikan Cinta!" Cinta segera meninggalkan Aaron. Aaron menarik tangannya.
"Aku tanya apa badannya sakit,hmm?" Tanya Aaron seraya mencengkeram lengan Cinta.
"Lepasin,sakit tauu!"
"Tidak usah sok perhatian!"
"Dengar,kalau kamu tidak mau nurut,aku cium loh!" Ancam Aaron seraya berjalan mendekat ke arah Cinta hingga hampir tak berjarak.
"Iiisshh,emang dasar mau kamu,sana!" Cinta mendorong Aaron.
"Hhh,Kamunya juga mau kan!"
Wajah Cinta makin memerah. "Cinta benci sama Aaron! Cinta benci!" Teriaknya.
"Hhh,mana bisa kamu benci sama aku! Ayo kembali ke sana!" Aaron berbalik lalu berjalan mendahului Cinta.
Mau tidak mau Cinta mengikuti langkah kaki Aaron kembali ke depan ruang ICU.
"Kalian dari mana?" Tanya Fadil yang ternyata sudah keluar dari ruang ICU.
"Hmm,anak bapak tadi hendak pergi diam-diam." Jawab Aaron kemudian segera berlalu dari sana,kembali masuk ke ruang ICU.
"Sayang,kamu memangnya mau kemana? Katanya mau ketemu Aaron kok malah cemberut? Kamu habis nangis?" Tanya Fadil heran.
"Pulang yuk,yah." Ajaknya.
"Papa kamu masih bicara sama dokter,nak. Kita tunggu dulu di sini."
Cinta lalu duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang ICU bersama ayahnya.
__ADS_1
***
Rey mengikuti langkah kaki dokter menuju ruangannya.
"Silahkan duduk,pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini dokter. Cucu dari pasien bu Nia yang tadi dokter periksa juga mengalami koma tapi di Rumah Sakit Sahabat. Maksud saya salah satu pasien apa bisa di pindah ke Rumah Sakit lain agar mereka bisa di rawat di satu Rumah Sakit saja? Karena yang keluarga yang bisa menjaga hanya satu,yaitu cucunya yang tadi."
"Kalau pasien bu Nia sepertinya tidak bisa di pindah. Coba bapak tanyakan ke dokter yang menangani cucu bu Nia. Apa cucunya bisa di pindah di sini." Terang dokter.
"Hhmm,begitu ya dok. Baiklah terimakasih infonya. Saya akan tanyakan sama dokter di Rumah Sakit Sahabat. "Tapi ada ruangan yang bisa di tempati kan,dok?"
"Oh,masih ada tiga ruangan kosong di ICU."
"Baiklah dokter. Terimakasih." Ucap Rey lalu keluar dari ruangan dokter.
Rey lalu kembali ke ruang ICU. Ada Cinta dan Fadil sedang menunggunya.
"Bagaimana,pak Rey?" Tanya Fadil.
"Omanya Aaron tidak bisa pindah Rumah Sakit. Besok saya akan ke Rumah Sakit Sahabat menemui dokter yang menangani Romi." Terang Rey.
"Papa pulang,yuk." Ajak Cinta.
"Cinta tadi sudah ketemu sama Aaron,hmm? Sudah lihat omanya Aaron?"
Cinta diam. Bagaimana mau melihat omanya Aaron. Aaronnya saja tidak peduli sama Cinta. Batinnya.
"Loh kok diem,hmm?"
"Hmm,sudah pa."
"Ya sudah kita pulang saja. Biar tidak maghrib di jalan." Ajak Rey.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
0040