Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 28


__ADS_3

Hampir satu bulan sejak Siti dan Rey berbulan madu. Kehidupan rumah tangga yang masih sedikit kaku. Sikap Rey yang masih belum terlalu terbuka tentang perasaannya membuat Siti belum sepenuhnya yakin dengan suaminya itu. Kadang perhatian terkadang juga cuek. Hanya saat dia menginginkan malam panjang berdua,Rey terlihat begitu hangat dan romantis hingga membuatnya terbuai,membuatnya merasa di cintai. Tapi itu pun sangat jarang di lakukan. Mungkin hanya seminggu sekali bahkan lebih. Terkadang sikapnya bisa membuat Siti jatuh terhempas,kembali merasa semua yang di lakukan seperti keterpaksaan saja. Tidak ada cinta di dalamnya.


Setiap hari juga,mama mertua Siti sering bertanya tentang Siti yang telah hamil apa belum. Hampir tiap kali bertemu muka sampai Siti tidak enak hati. Resah. Tentu saja di rasakan olehnya. Dia ingin sekali segera hamil,mungkin itu bisa membuat suaminya benar-benar mencintainya. Hanya doa yang bisa Siti panjatkan.


Sudah tiga hari ini Siti merasa tidak enak badan. Setiap bangun tidur merasakan pusing dan maghnya seperti sedang kambuh. Aahh semoga karena magh saja. Malu,masa belum sebulan sembuh terus sakit lagi? Tidak bisa jaga kesehatan sendiri.


Satu minggu belakangan ini suaminya sering pulang malam,saat Siti sudah tertidur. Yah kadang jam sepuluh bahkan pernah jam dua belas malam. Mau bertanya kok rasa segan. Mereka belum terlalu akrab sebagai pasangan suami istri. Masih ada sedikit jarak.


Untuk mengatasi rasa sedih dan gelisahnya,Siti terkadang nonton tv. Kadang juga duduk-duduk di taman belakang. Seperti pagi ini,sehabis sarapan Siti langsung ke taman belakang. Sekalian berjemur.


Tiba-tiba Siti merasakan perutnya begah. Terus naik ke atas hingga dadanya sesak,kepalanya pusing dan pandangannya mulai kabur. Siti pun jatuh dengan pasrah ke rerumputan di dekat kolam ikan. Dia hanya sempat mendengar bi Sri berteriak memanggil namanya.


"Non Sitii. . .!"


Siti mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia masih merasakan pusing dan tak nyaman di perutnya.


"Non Siti sudah sadar?" Bisik bi Sri di sampingnya sambil memijat-mijat kakinya.


"Bi,saya kenapa?" Tanya Siti lirih.


"Non Siti tadi pingsan di dekat kolam." Jawab bi Sri.


"Hmm." Siti berusaha untuk duduk. Dia duduk di sofa di ruang tamu.


"Non tiduran saja!" Titah bi Sri.


"Saya sudah enakan kok bi. Terimakasih sudah menolong saya!"


"Iya non. Yang penting non tidak kenapa-kenapa. Bibi sempat takut tadi mana di rumah tidak ada orang."


"Mama kemana bi?"


"Tadi nyonya di jemput teman-temannya,non! Mungkin arisan." Jawab bi Sri.

__ADS_1


" Ya sudah,sekali lagi terimakasih bi. Bibi silahkan kalau ada yang mau di kerjakan. Saya sudah enakan."


"Baiklah non,bibi ke belakang dulu!" Pamit bi Sri.


Saya kenapa ya tidak biasanya begini? Magh sama anemia mungkin ya. Batin Siti. Tanpa sengaja matanya menatap ke kalender di dinding. Sudah awal bulan. Eehh,harusnya kan saya dapet tanggal dua limaan,ini sudah lewat sepuluh hari. Batin Siti. Hmm besok coba tes ah. Ucapnya dalam hati sambil tersenyum.


***


Pagi ini kembali Siti merasakan perut dan kepalanya tidak enak. "Hmm,coba tes sekarang ah!" Gumamnya.


Siti pun mengambil benda pipih yang pernah di belikan mama mertuanya saat dia baru beberapa minggu menikah. "Nih,kamu simpan kalau butuh tinggal kamu tes saja sendiri!" Ucap mama mertuanya padahal saat itu Siti belum pernah sekalipun di sentuh oleh suaminya.


Siti pun masuk ke kamar mandi. Mulai mengikuti petunjuk yang tertera di bungkusnya. Setelah beberapa menit menunggu,hasilnya pun kelihatan. Saking senengnya,Siti sampai berlonjak.


Dia cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Tujuannya adalah suaminya. Di kamar tidak ada,di balkon pun tidak ada. Dimana ya?


Iseng Siti masuk ke ruang kerja suaminya yang pintunya sedikit terbuka. Dia dorong pelan daun pintu. Ternyata suaminya sedang berdiri membelakanginya. Dan,mata Siti mulai berkaca-kaca. Di lihatnya suaminya sedang memegang selembar foto yang sangat dia kenal. Walau sedikit berbeda karena mungkin itu adalah foto lama tapi Siti masih tahu itu foto siapa. Siti masih diam berdiri di tempatnya tapi suaminya masih saja terus memandang foto itu kemudian foto itu di letakkan di dadanya. Begitu erat sambil menggumamkan sesuatu yang tidak bisa Siti dengar.


Sesak. Siti pun tidak bisa lagi membendung air matanya. Isaknya mulai terdengar,hingga suaminya pun bisa mendengar dengan jelas.


"Siti,kamu?" Ucap Rey.


Siti diam,dia tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya lemas dan gemetar,tanpa sadar benda pipih yang ada dalam genggaman pun terlepas. Dia membalik badannya lalu keluar terburu-buru dengan hati yang hancur,bukan kembali ke kamar tapi malah turun ke bawah. Melewati tangga yang lumayan dengan setengah berlari.


"Hey,jangan lari-lari!" Jerit mama yang melihatnya dari ruang makan,karena sebentar lagi mereka akan sarapan bersama.


"Siti tunggu!" Rey pun meneriakkan namanya sambil mengerjarnya.


Siti tidak peduli. Dia terus berlari sambil menangis. Membuka pintu lalu berlarian ke halaman,di saat pak satpam sedang membuka pintu pagar. Siti pun terus berlari keluar pagar.


Baru beberapa meter,tiba-tiba ada dua orang yang menarik tangannya. "Ehh,lepasin!" Teriaknya. Siti di bekap namun masih berontak,lalu dimasukkan ke dalam mobil. "Tolooongg!" Teriaknya yang terakhir dapat di dengar oleh orang rumah.


Rey,mamanya serta pak satpam dan beberapa asisten rumah tangga hanya bisa menatap kepergiannya.

__ADS_1


"Rey!" Jerit mama.


Rey seperti orang linglung. Dia masih menatap keluar pagar dengan tatapan nanar dengan tangan memegang benda pipih yang tadi di jatuhkan oleh Siti. Dia terduduk di tanah.


"Kejar Rey!" Titah mama dengan penekanan. "Kamu pegang apa?" Mama lalu mengambil benda pipih yang ada di tangan Rey.


Mama menatap benda itu dengan mata membulat. "Siti? Siti hamil Rey?" Mama mengguncang tubuh Rey. Rey hanya bisa mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Siti hamil dan kalian malah bertengkar? Jawab mama Rey?"


Rey masih diam,tubuhnya bergetar.


"Ada apa ini,ma?" Papa muncul.


"Siti hamil pa." Mama menunjukkan benda pipih pada papa.


"Lalu kenapa dia malah pergi? Rey?"


Rey bangkit." Rey mau kejar Siti!" Tegasnya.


"Kejar kemana? Mobil yang membawanya sudah pergi dari tadi!" Ucap mama. "Kalian kenapa bertengkar? Apa itu bukan anak kamu?" Mama bertanya bertubi-tubi.


"Anak Rey ma! Itu anak Rey!" Rey mengusap wajahnya dengan kasar.


"Lalu kenapa kalian bertengkar dan Siti malah lari?"


"Siti,Siti melihat Rey sedang memandangi foto Cyndia,ma!" Ucap Rey terbata-bata.


"Apa? Kamu itu Rey!" Mama terlihat kesal dan marah.


"Ayo kita lihat CCTV,kita cari tahu ciri-ciri mobil yang membawa istri kamu!" Papa merangkul Rey menuju ruang CCTV. Rey mengikuti papanya dengan langkah gontai.


NEXT

__ADS_1


190421/12.10


__ADS_2