Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 32


__ADS_3

Siti sedang meringkuk di ranjang Rumah Sakit dengan membelakangi pintu. Tangisnya sudah reda tinggal menyisakan bengkak di kedua matanya. Apalagi sebelah matanya masih sedikit memar kebiruan bekas di pukuli.


Tok tok. . .


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu lalu pintu pun terbuka. Siti membalik badannya ke arah pintu. Dari balik pintu,masuklah dua orang yang sangat Siti kenal. Mama dan papa mertuanya.


"Siti. . ." Sapa mama dan papa hampir berbarengan.


"Hmm,ma,pa. . ."


Mama langsung memeluk Siti dengan erat,tidak seperti biasanya membuat Siti kaget.


"Bagaimana keadaan kamu? Rey bilang sudah boleh pulang kan?" Tanya papa.


"Tadi dokter bilang besok pagi boleh pulang,pa." Jawab Siti.


"Hmm,iya."


"Wajahmu sampai memar-memar seperti ini. Kandungan kamu baik-baik saja kan?" Tanya mama sembari mengelus perut Siti.


"Hmm,alhamdulillah baik ma!"


"Kalau kamu mau operasi plastik untuk mengobati luka memar di wajah kamu,nanti mama antar. Kita ke Singapura saja. Iya kan pa?" Mama memberikan saran yang di berikan anggukan oleh papa.


"Hmm,tidak perlu ma. Nanti lama-lama hilang sendiri." Tolak Siti.


"Tapi di pipi kiri kamu ini agak parah. Bisa lama hilangnya." Ucap mama.


"Insya Allah tidak apa-apa ma." Jawab Siti. Dia tidak mau terlalu merepotkan mertuanya.


"Ya sudah,kamu pikir-pikir saja dulu ya. Kapan pun kamu mau tinggal bilang saja sama mama. Mama pasti akan antar kamu!" Mama masih menawarinya.


"Terimakasih ma."


"Oh iya kalau besok kamu pulang,kita langsung ke dokter kandungan kenalan mama untuk periksa kondisi kandungan kamu. Mama takut kenapa-kenapa karena kamu kan habis di aniaya orang!"


"Hmm,iya ma." Siti ingin menolak tapi tidak enak hati karena sebenarnya Siti tidak mau pulang ke rumah mertuanya.


"Oh iya tadi pas mama sama papa ke sini,Rey sedang berbicara dengan pak polisi yang mengusut kasus kamu. Sepertinya mereka sudah tahu siapa orang yang telah menganiaya kamu:" Terang papa.


Deg. Jantung Siti langsung berdegup saat mendengar cerita papa mertuanya karena sebenarnya dia tahu siapa orang yang telah menganiayanya.


"Kamu hebat,Siti! Kamu mampu melindungi calon cucu kita setelah di aniaya seperti ini!" Ucap papa lagi. Mama pun mengangguk setuju.


"Hmm,alhamdulillah pa!" Jawab Siti.


"Terimakasih,Siti." Ucap mama tulus.


Tak lama Rey masuk. "Pa,ma." Sapanya. Lalu dia menoleh ke arah Siti yang langsung membuang muka.


"Rey,bagaimana urusan dengan pihak kepolisian?" Tanya papa.


"Sudah ada hasil yang bagus pa. Mereka sedang menuju tempat Siti saat di aniaya!" Jawab Rey.


"Kamu kenal orang yang menganiaya kamu,Siti?" Tanya papa.

__ADS_1


Siti diam. Dia bingung mau menjawab apa. Dia tidak ingin suaminya tahu siapa yang telah menganiayanya tapi jika dia tidak jujur sekarang,nanti juga mereka pasti tahu karena dia sudah mengatakannya pada polisi.


"Siti kenal pa!" Rey yang menjawab.


Siti menoleh ke arah suaminya. Jadi Rey sudah tahu. Batin Siti.


"Hmm,Siti kenal pa." Siti terpaksa jujur.


"Jadi kamu kenal orang itu? Siapa?" Tanya mama.


"Hmm,tetangga paman,ma."


"Tetangga paman kamu? Kok bisa? Kamu punya salah apa sama orang itu?" Tanya mama makin penasaran.


"Siti menolak cinta orang itu ma,jadi dia tidak terima Siti menikah dengan Rey. Siti cintanya hanya sama Rey!" Terang Rey sambil mengerling ke arah Siti membuat wajah Siti memerah karena malu.


"Huuhh,ada-ada saja!" Sungut mama Rey.


"Hmm,kamu hari ini temani saja Siti,Rey. Biar pekerjaan,papa yang handel!" Saran papa.


"Iya pa! Rey akan selalu menemani Siti!" Janji Rey. Siti memutar bola matanya jengah mendengar ucapan suaminya yang dia anggap hanya gombalan saja.


"Kita pulang dulu,Rey,Siti! Kalian baik-baik ya! Ingat,kalian sebentar lagi akan memiliki anak!" Mama memberi nasihat.


"Iya ma!" Jawab Rey sementara Siti hanya diam saja.


Sepeninggal orang tuanya,Rey berjalan mendekat ke ranjang Siti. "Bagaimana kamu sudah punya pilihan mau bulan madu kemana,hmm?"


"Ke Mekah!" Jawab Siti asal.


"Ok. Kita akan kesana! Mau kamu kapan?" Rey menatapnya serius membuat Siti bingung karena tadi dia asal jawab saja ternyata suaminya langsung mengabulkan keinginannya.


"Hmm,kok tidak jadi?" Dahi Rey berkerut. "Kamu pikir saya main-main ya! Kamu mau kemana pun akan saya turuti!"


Siti malah membalik badannya membelakangi Rey.


"Loh? Dosa tidur membelakangi suami!" Ucap Rey tegas.


"Pegal menghadap kesana terus!" Siti beralasan.


Rey pindah posisi menghadap ke istrinya. "Jadi keputusannya mau kemana?"


Siti diam lalu memejamkan matanya karena tidak mau bersitatap dengan suaminya itu. Dia juga malas menjawab pertanyaannya. Toh dia tidak berminat kemana-mana apalagi harus berdua terus. Hatinya masih sakit dan kecewa.


"Diam lagi. Di kiss dulu ya baru mau jawab,hmm?"


"Eehh!"Siti buru-buru bersuara. " Kan tadi sudah saya bilang tidak jadi!"


"Iya tidak jadi ke Mekah. Lalu maunya kemana?"


"Tidak kemana-mana!"


"Hmm,jadi maunya di kamar terus ya! Oke!"


"Paan Sih!" Siti kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kok merem lagi? Minta di. . ."


"Tidaakk!" Jerit Siti sebelum Rey selesai bicara.


"Baiklah,kita ke Singapura saja ya. Sekalian kita obati luka-luka di wajah kamu!" Usul Rey.


"Kenapa? Malu punya istri saya,karena wajah saya makin jelek dengan bekas luka ini?"


"Siti! Kamu sengaja ya dari tadi mancing emosi? Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini!"


Iya sengaja biar kamu jadi ilfil sama saya! Batin Siti. "Memang aslinya saya begini!" Jawabnya.


Hhh. Rey menghela nafas. Istrinya itu sekarang memang berubah. Mungkin karena hormon kehamilan atau memang sengaja ingin membuat dia emosi. Jangan sampai terpancing. Batin Rey.


"Hmm,yasudah terserah kamu saja. Kamu belum makan kan? Kamu mau makan apa nanti saya belikan?"


"Saya ingin tidur!"


"Tapi kamu belum makan! Ingat kandungan kamu. Dia butuh asupan yang cukup!" Rey mengingatkan. "Mau marah ya marah saja tidak apa-apa tapi tetap harus makan biar ada energi untuk marah!"


Kenapa dia sekarang tidak bersikap dingin lagi? Apa karena saya sedang hamil jadi berusaha untuk mengalah. Pikir Siti. Aahh terus saja bersikap menyebalkan,ingin tahu sampai mana kesabarannya.


"Saya mau makan seblak yang paling pedas! Atau baso mercon."


"Seblak? Makanan apa itu?" Tanya Rey.


"Seblak ya seblak! Saya maunya makan itu tidak mau yang lain!" Siti bersikeras padahal sebenarnya dia tidak ingin makan seblak.


"Hmm,baiklah. Saya akan cari itu seblak! Kamu tunggu!" Rey segera keluar kamar. Siti terseyum tipis memandang kepergian suaminya.


***


Rey bertanya pada suster yang berjaga siapa tahu bisa memberi petunjuk tentang makanan yang di inginkan istrinya itu. Dan Rey sekarang sedang berada di warung yang menyediakan makanan yang istrinya mau.


"Seblaknya satu,bu!" Pesan Rey.


"Iya mas. Di tunggu ya!" Jawab ibu penjaga warung.


Setelah menunggu tidak sampai setengah jam,sebungkus seblak sudah ada di tangan Rey. Rey segera kembali ke Rumah Sakit.


"Ini makanan yang kamu mau." Rey menyerahkan seblak yang telah dia siapkan di hadapan istrinya.


Tiba-tiba. Hoeekkks!


Siti buru-buru ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Rey mengikuti dari belakang lalu memijat tengkuk Siti. Setelah puas,Siti kembali duduk di atas ranjang.


"Perut saya mual mencium aromanya!" Siti menggeleng menatap makanan di depannya.


"Jadi?" Tanya Rey dengan dahi berkerut.


"Ya tidak jadi!" Jawab Siti polos.


Rey lalu memandang Siti dan seblak pesanannya bergantian. . .


Rasain Rey!

__ADS_1


NEXT


210421/00.00


__ADS_2