Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 72


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Polisi sudah mengetahui siapa yang telah melakukan tabrak lari pada Siti.


"Apa? Anak kecil yang sudah nabrak istri saya?" Tanya Rey kaget pada polisi yang mendatanginya di Rumah Sakit.


"Iya pak Reynand. Sekarang dia ada di kantor polisi. Apa pak Reynand mau menemui dia?" Tanya pak polisi.


"Hmm,tidak pak! Biar dia jadi urusan bapak polisi saja. Saya masih harus menunggui istri saya." Tolak Rey.


"Baiklah kalau begitu pak Reynand. Kita permisi dulu." Pamit kedua bapak polisi.


"Huuhh,kurang ajar!" Gumam Rey dengan menahan emosinya.


Dia lalu menelepon asistennya Toni kemudian kembali lagi ke ruang ICU.


"Sayang,bangunlah mas mohon!" Bisik Rey di telinga Siti.


Tiba-tiba handphone Rey bergetar. Dia langsung membuka handphonenya. Ternyata ada pesan masuk dari mamanya,sebuah video. Rey tersenyum getir. Terlihat putri kecilnya yang lucu sedang menangis dan di sebelahnya putrinya Cinta sedang berusaha menenangkan adiknya. "Semoga kalian selalu sehat-sehat! Aamiin." Gumamnya.


Rey melihat video itu berulang-ulang dengan volume kecil. Dia dekatkan ke telinga istrinya. "Sayang,dengarlah putri kita menangis merindukan kasih sayang mamanya!" Bisik Rey. Tak terasa matanya mulai berkaca-kaca.


Rey menyandarkan kepalanya di sisi ranjang di dekat istrinya sambil terus melihat video buah hatinya. Sementara tangan yang satunya untuk menggenggam tangan istrinya.


Tiba-tiba dia merasakan gerakan-gerakan kecil di telapak tangan yang di gunakannya untuk menggenggam tangan istrinya. Rey langsung mengangkat kepalanya lalu melihat ke tangannya. Ternyata tangan istrinya yang bergerak-gerak.


"Dokter,suster,tangan istri saya bergerak!" Ucap Rey sedikit panik. Antara bahagia,kaget,terharu bercampur aduk.


Dokter dan suster segera mendekat. Mereka mulai memeriksa Siti. Tiba-tiba Siti mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan lalu menggumamkan sesuatu. "Mas. . ."


Rey menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang baru dia dengar dan lihat.


"Sayang." Rey memegang erat tangan Siti. Siti mulai membuka lebar matanya.


"Alhamdulillah istri anda sudah sadar,pak. Semua organ vitalnya sudah bekerja dengan baik.


"Alhamdulillah. Terimakasih dokter!" Ucap Rey dengan haru. Dokter dan suster pun meninggalkan Rey dan Siti.


Rey duduk di sebelah istrinya yang sedari tadi menatapnya dengan dahi berkerut.


"Sayang,akhirnya kamu sadar juga!" Ucap Rey seraya menciumi wajah istrinya bertubi-tubi.


"Mas? Saya kenapa?" Masih menatap dengan heran.


"Kamu habis kecelakaan yank. Kamu lupa,hmm?"


"Kecelakaan?"


"Iya sayang. Hmm,kamu bener-bener lupa yank?" Rey balik menatap istrinya heran.


"Uuhhh,badan rasanya sakit semua!" Siti memegangi badannya. "Loh,perut saya mas? Perut saya kok kempis?" Siti panik meraba-raba perutnya yang sudah rata.


"Sayang. Sayang dengerin mas! Kamu sudah melahirkan yank! Anak kita perempuan!" Terang Rey yang berusaha menenangkan istrinya.


Mata Siti membulat.


"Apa mas? Saya sudah melahirkan?" Siti menatap suaminya tak percaya.


"Iya sayang! Makanya kamu cepat sembuhnya. Kasian bayi kita,dia butuh kamu yank!"


Siti terdiam sambil masih memegang perutnya. Dia masih sulit percaya. Bagaimana proses melahirkan bayinya yang sama sekali dia tidak sadari. "Dia di mana sekarang mas?" Tanya Siti yang mulai terisak.


"Ssstt,kamu jangan nangis yank! Dia aman sama mama. Mama yang merawatnya!"

__ADS_1


"Saya mau pulang mas!"


"Sayang,kamu baru saja sadar setelah satu minggu. Tidak mungkin pulang sekarang!" Ucap Rey.


"Tapi mas,saya sudah sehat sekarang!" Siti masih bersikeras ingin pulang.


"Kita tanya dokter dulu ya!" Usul Rey. Tapi tiba-tiba seorang suster masuk.


"Permisi,saya mau melepas alat-alat ini pak,bu!" Ucap suster.


"Silahkan sus." Jawab Rey.


"Saya boleh pulang sekarang sus?" Tanya Siti.


"Pulang bu? Hmm,saya tanya dokter dulu ya bu!" Jawab suster sambil melepaskan semua alat yang terhubung ke Siti kemudian keluar.


"Hmm,saya haus." Ucap Siti.


"Haus? Ini,kamu minum yank!" Rey segera memberikan air mineral pada Siti.


Suster masuk. "Pak,dokter ingin bicara. Silahkan ikut saya!"


"Oh iya sus." Jawab Rey. Dia lalu menoleh ke arah istrinya. "Sayang,mas tinggal sebentar ya!" Pamit Rey yang di beri anggukan oleh Siti.


Rey lalu keluar menemui dokter.


"Permisi dokter!" Sapa Rey.


"Silahkan masuk pak. Dengan pak Reynand ya? Suami bu Siti?"


"Iya dokter."


"Begini pak Reynand. Istri bapak memang sudah sadar. Kondisi organ vitalnya juga sudah nornal semua. Tapi kalau untuk pulang hari ini,saya belum bisa memberikan ijin. Bu Siti baru boleh pulang paling cepat dua hari lagi." Terang dokter.


"Baiklah dokter,saya menurut saja apa yang terbaik untuk istri saya." Jawab Rey.


"Oh iya,hari ini istri bapak sudah bisa di pindah ke ruang rawat biasa. Bapak bisa hubungi suster dan juga bagian administrasi soal kamar yang akan istri bapak tempati dan juga biaya-biayanya." Terang dokter lagi.


"Baiklah dok,terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu!" Pamit Rey.


Rey segera keluar dari ruang dokter,kembali berbicara dengan suster untuk mengurus perpindahan Siti ke kamar rawat inap biasa.


Setelah urusannya selesai,Rey kembali menemui istrinya.


"Sayang,kamu belum bisa pulang hari ini. Tapi hari ini kamu akan pindah ke ruang rawat biasa. Mas sudah pesan kamar khusus untuk kamu." Terang Rey.


"Jadi kapan saya boleh pulang mas? Kasian putri kita,dia tidak bisa merasakan ASI." Ucap Siti dengan wajah sedih.


"Hmm,sabar ya sayang ini demi kebaikan kamu juga!"Rey coba menghibur istrinya.


Siti kembali terisak. "Maafin saya mas,tidak bisa menjaga diri dengan baik hingga putri kita jadi menderita!"


"Sssstt,kamu tidak boleh sedih sayang! Kamu ingin cepat pulih kan? Kamu harus semangat!"


"Hmm,"


***


Siti akhirnya di pindah ke ruang rawat biasa. Rey mendorong istrinya dengan kursi roda menuju kamar rawat inapnya.


"Nah,di sini lebih nyaman kan yank?" Ucap Rey.

__ADS_1


"Tetap saja Rumah Sakit,mas! Semewah apapun tidak akan nyaman!" Keluh Siti. "Saya ingin bertemu putri saya." Ucapnya sedih dan mulai meneteskan kembali air matanya.


"Iya mas tau yank. Tapi kan ada mas yang akan selalu ada di samping kamu. Apa kamu masih tidak merasa nyaman,hmm?" Hibur Rey lalu memeluk istrinya penuh kasih sayang.


"Putri kita mas! Saya mau melihat putri kita!"


"Kita videocall saja bagaimana,hmm?"


Hhh." Ya sudah tidak apa-apa."


"Sebentar ya sayang! Mas hubungi mama dulu."


Rey pun segera menghubungi mamanya. Tidak berapa lama,terdengar suara mamanya dari seberang.


"Rey?"


"Ma,Siti sudah sadar!"


"Oh ya? Alhamdulillah! Mana istri kamu Rey?"


"Ini ma,dia juga ingin melihat putri kami!" Ucap Rey lalu memberikan handphonenya pada Siti.


"Hallo ma." Siti.


"Siti,bagaimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah saya sudah lebih baik ma. Ma,saya mau lihat putri saya." Ucap Siti


"Oh iya,tunggu ya." Mama lalu mulai mengarahkan handphonenya ke arah cucunya. "Itu putri kamu,baru saja tidur habis minum susu!"


"Dia hanya minum susu formula ya ma. Saya tidak bisa memberikannya ASI." Ucap Siti dengan wajah sedih.


"Iya Siti,mama terpaksa memberinya susu formula. "


"Iya ma,saya mengerti. Terimakasih ma sudah mau merawat putri saya!"


"Siti,kamu tidak perlu berterimakasih. Putri kamu itu kan cucu mama! Tentu saja dengan senang hati mama akan merawatnya!"


"Iya ma."


"Tuh lihat putri kamu sedang tidur,dia begitu cantik dan lucu. Cinta beberapa malam menginap di sini,menjaga adiknya." Terang mama.


"Oh ya,ada Cinta juga ma."


"Iya,tapi sekarang dia sedang sekolah,sebentar lagi di jemput.


"Hmm,iya ma."


"Oh iya Siti mama lupa. Kamu sama Rey sudah ada nama untuk putri kalian?"


"Nama?" Siti menoleh ke arah suaminya.


"Iya namanya siapa?"


"Mas,nama putri kita siapa?" Tanya Siti sambil menoleh ke arah suaminya.


"Namanya siapa ya??"


NEXT


250521/12.15

__ADS_1


__ADS_2