Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 111


__ADS_3

Mereka akhirnya pergi ke Mal M bersama dalam diam. Setelah memarkirkan mobil,mereka segera turun. Mereka mencari laptop di lantai dua Mal M agar lebih cepat tidak memakan waktu.


Seno mulai mencari berbagai merek laptop dengan berbagai type. Saat menanyakan merek laptop seperti milik Rey,Seno dan Dinda kompak membulatkan matanya. Dengan nominal angka empat puluh jutaan lebih laptop itu memang terlihat berkelas.


"Memangnya laptop kamu semahal itu?" Tanya Dinda sewot.


Seno hanya tersenyum tipis. Laptopku hanya delapan jutaan,itu sih punya mas Rey. Ucap Seno dalam hati.


"Kalau iya kenapa? Kamu tidak punya uangnya kan?" Tanya Seno.


"Kamu!" Wajah Dinda memerah.


"Huuhh,tuh kan percuma kita cari laptop kalau kamu tidak punya uangnya. Tidak di ganti juga tidak masalah kok,anggap saja waktu itu aku kena sial." Seno makin memancing emosi Dinda.


"Siapa bilang aku tidak punya uangnya. Kamu lupa ya siapa mami aku? Aku bayarin itu laptop!" Dinda tidak mau terlihat kalah.


"Iya tau kok siapa mami kamu. Paling juga itu duit mami kamu."


"Eehh siapa bilang? Itu duitku sendiri tau. Duit jajanku tuh besar,memangnya kamu yang cari duit sendiri?"


"Duit dapet dari orangtua saja bangga. Kalau aku kan dapet dari kerja."


"Eehh,aku masih sekolah tau!"


Seno tersenyum. Mudah sekali membuat gadis di depannya ini emosi. Tapi banyak jg ya duitnya. Batin Seno.


"Ok,beliin tuh laptop!"


"Siapa takut!" Dinda lalu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu.


"Kartu kredit?" Tanya Seno sinis.


"Iiihh aku tidak suka kredit ya! Ini ATM!" Jawab Dinda sewot lalu memamerkan ATMnya pada Seno.


Seno tersenyum." Ya sudah bayarin tuh!"


Dinda lalu meminta pelayan tokonya mengambilkan laptop yang tadi di tanyakan oleh Seno. Pelayan toko menatap remeh padanya. "Adik bawa uangnya?" Tanya pelayan toko dengan nada mengejek.


"Ada di ATM ini." Jawab Dinda.


"Hmm,ada duitnya di ATM empat puluh juta?"


"Eehh kamu pikir aku tidak punya uang,hehh?"


"Kita cari di tempat lain saja!" Ajak Seno yang langsung keluar dari toko.


"Eh tapi?" Dinda ingin protes dan tetap mau membeli laptopnya tapi melihat Seno yang makin menjauh,mau tidak mau dia ikut keluar dari toko.


"Ehh tunggu!" Teriak Dinda.


Seno lalu masuk ke toko yang lain,Dinda terpaksa ikut masuk juga. Dia melihat saja saat Seno bicara dengan pelayan toko. Tak lama kemudian pelayan toko mengambil satu unit laptop dan Dinda melihat Seno langsung membayar dengan kartu ATM miliknya sendiri.


"Berapa? Pakai ATM aku nih!" Tanya Dinda.


"Simpan saja buat kamu jajan. Aku masih ada uang untuk membelinya." Tolak Seno halus. Dia merasa harga dirinya turun jika membeli barang memakai uang dari gadis kecil di hadapannya.

__ADS_1


"Hmm,kamu! Kamu terus saja mengejekku? Sama seperti pelayan tadi. Di pikir aku tidak mampu?" Wajah Dinda mulai memerah,panas.


"Eehh siapa yang menghina kamu? Kamu kan masih sekolah,masa aku yang sudah kerja minta beliin laptop sama anak sekolahan? Kan gengsi lah aku!" Seno memberikan alasan.


Dinda diam mendengar ucapan Seno.


"Sudah,simpan saja ATM kamu!" Ucap Seno lagi.


"Tapi mama minta aku yang bayarin kalau tidak,uang jajanku di potong. Sama saja,kan!" Jawab Dinda.


"Kok begitu? Hmm,bilang saja kalau kamu yang bayarin!"


"Kok suruh Dinda bohong? Tidak boleh bohongi mami!"


"Hmm,bukan suruh bohong! Ya sudah deh terserah kamu saja." Seno pusing.


"Ya Dinda yang bayar. Berapa harga laptopnya? Empat puluh juta?" Tanya Dinda lesu.


"Hmm,yang tiga jutaan saja." Jawab Seno.


"Tiga juta? Laptop apaan itu?" Tanya Dinda heran.


"Laptop mainan! Ya laptoplah! Yang mahal sewot,yang murah juga sewot." Gerutu Seno.


"Laptop punya kamu yang rusak itu tiga juta harganya?"


Seno diam,bingung mau jawab apa. Kalau yang mahal kasihan,yang murah tapi dia butuh yang lebih bagus.


"Terserah kamu mau beliin laptop yang mana." Kata Seno akhirnya.


Seno akhirnya memberitahu laptop dia yang rusak pada pelayan toko. Dinda hanya diam lalu memberikan ATMnya pada pelayan toko.


"Sudah ya,aku sudah tanggung jawab!" Tegas Dinda.


"Hmm. Kamu ada yang mau di beli?" Tanya Seno.


Dinda meliriknya sekilas lalu menggeleng. "Pulang!" Pintanya.


"Tidak mau cari makan dulu?"


"Mau pulang!" Tegasnya lagi. Dinda sebenarnya lapar tapi dia tidak bersemangat karena baru saja kehilangan uangnya delapan juta.


Mereka lalu pulang kembali ke klinik dokter Layli. Di dalam mobil mereka tidak ada yang mau mulai berbicara. Dinda hanya menatap ke jalanan yang mulai macet.


"Terimakasih." Ucap Seno setelah mereka sampai di parkiran. Dinda hanya diam lalu membuka pintu mobil kemudian setengah berlari meninggalkan Seno yang menatapnya intens.


"Gadis aneh." Gumamnya.


***


Siti sedang nonton tv setelah menjenguk bayinya sambil memberikan ASI beberapa botol pada suster yang berjaga di ruang NICU. Papa sudah pulang dari tadi sementara Radit dan paman Supri sedang ke rumah lamanya.


"Mas,Seno kok lama ya?" Tanya Siti.


"Mungkin macet,yank." Jawab Rey.

__ADS_1


Tok tok


Tidak berapa lama ada yang mengetuk pintu kamar inap Siti. " Siapa ya mas?"


"Mas lihat dulu." Jawab Rey lalu berjalan ke pintu dan membuka pintu yang memang dia kunci dari dalam.


"Seno? Sudah di beli?" Tanya Rey saat tau Seno yang mengetuk pintu.


"Iya mas,ini." Tunjuk Seno pada tas laptop yang dia bawa.


"Berapa harganya,dek?" Tanya Siti penasaran.


"Delapan jutaan,mbak." Jawab Seno.


"Looh,mahal banget dek." Ucap Siti kaget.


"Hmm,tadi Seno mau pilih yang tiga jutaan tapi kata Dinda harus beli seperti laptop Seno yang rusak. Dia juga maksa mau bayarin." Terang Seno.


"Ya sudah kalau dia maksa. Kok lama?" Tanya Siti.


"Hmm,itu mbak. Tadi Dinda,Dinda ajak muter dulu." Seno berbohong padahal karena mereka sempat bertengkar dan Dindanya ngambek.


"Ooh begitu. Kamu besok kerja kan,mas belum bisa ke kantor,besok mbak kamu pulang?" Tanya Rey.


"Seno ke kampus sebentar paginya ya mas. Mau serahin satu tugas Seno yang sudah selesai." Jawab Seno.


"Iya tidak apa-apa." Jawab Rey.


"Aku pulang sekarang ya mbak,mas." Pamit Seno kemudian.


"Mau bawa mobil mas?" Tanya Rey.


"Naik taxi saja mas. Lagipula besok kan mbak Siti mau pakai buat pulang." Tolak Seno


"Hmm,ya sudah kamu hati-hati di jalan ya dek!" Pesan Siti.


"Iya mbak. Seno pulang sekarang,ya. Assalammualaikum." Ucap Seno lalu keluar dari kamar Siti.


"Wa alaikumsalam."Jawab Rey dan Siti hampir berbarengan.


"Kamu tidak tidur siang,yank?" Tanya Rey.


"Mas mau tidur?" Siti balik bertanya.


"Mas ngantuk yank! Mas tidur sebentar ya. Kalau kamu butuh apa-apa banguni mas saja."


"iya mas." Jawab Siti


Rey lalu naik ke kasur yang ada di sebelah kasur Siti. Hanya beberapa detik sudah terdengar suara dengkurannya.


"Kamu sangat kelelahan ya mas, jagain aku dan bayi kita." Gumam Siti.


Terimakasih sudah menyimak terus cerita tentang Siti.


Next

__ADS_1


2806/35.35


__ADS_2