Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 114 ( S2 )


__ADS_3

Semua keluarga sedang makan malam bersama.


"Kak Ratna kok tidak ikut makan malam,ma?" Tanya Cinta.


"Hmm,kak Ratna sakit nak."


"Kata dokter sakit apa,ma?" Tanya Cinta.


"Sayang,kita makan dulu ya. Nanti saja ngobrolnya." Ucap Rey pelan.


"Hhmm,iya pa."


Tidak sampai setengah jam,semua keluarga sudah selesai makan malam. Kini semua sedang berkumpul di ruang keluarga seperti biasa. Karena malam minggu,anak-anak di bebaskan dari belajar.


Sementara Siti masih di dapur sedang membantu bibi menyiapkan makan malam untuk Ratna. Semangkuk bubur ayam tanpa bawang dan juga segelas air jahe hangat.


"Sudah siap,bu." Ucap bibi.


"Ayo kita antarkan ke kamar Ratna." Ajak Siti.


Siti lalu pergi ke kamar Ratna dengan bibi yang membawa bubur dan air jahe hangatnya.


Tok tok


Beberapa menit baru pintu di buka oleh Ratna. Ratna memaksakan untuk tersenyum.


"Ratna,ini saya bawakan bubur dan jahe hangat untuk kamu." Ucap Siti.


"Hhmm,saya merepotkan saja bu." Sahut Ratna tidak enak hati.


"Bi,tolong taruh di atas meja itu ya." Titah Siti seraya menunjuk meja yang ada di samping tempat tidur.


"Baik,bu." Bibi lalu menaruh yang dia bawa ke atas meja.


"Terimakasih,bi." Ucap Ratna sopan.


"Sama-sama,mbak. Saya permisi dulu." Bibi lalu meninggalkan kamar Ratna.


"Ratna,ayo di makan. Kamu harus makan yang banyak agar janin yang kamu kandung sehat." Titah Siti seraya menggandeng Ratna untuk duduk di sisi tempat tidur di dekat meja.


"Bu,saya dì sini hanya merepotkan saja. Besok saya mau pulang saja ke desa." Ucap Ratna dengan wajah sedih.


"Lalu di desa kamu mau ngapain? Perut kamu makin membesar."


"Hmm,saya tidak tau bu." Mata Ratna mulai berkaca-kaca.


"Kamu makan dulu,yuk. Nanti kita bahasnya. Kalau mual,kamu minum dulu air jahenya bisa sedikit mengurangi mual. Apa kamu mau jus jeruk saja?"


"Hhmm,terimakasih bu. Air jahe saja." Jawab Ratna lalu meminum beberapa teguk air jahe hangatnya kemudian menyendok sedikit bubur ke mulutnya.


"Bagaimana,apa buburnya bikin perut kamu mual?"


Ratna menggelengkan kepalanya. " Tidak,bu."


Siti tersenyum. "Di habiskan ya. Saya tinggal dulu. Nanti saya ke sini lagi." Pamit Siti lalu keluar dari kamar Ratna.


Pak Rey dan istrinya sangat baik dan perhatian tapi aku malu kalau menumpang terus di sini. Batin Ratna.


Sepuluh menit kemudian Ratna sudah menghabiskan buburnya.


Tok tok. Ceklek. Siti berdiri di depan pintu. "Ratna?"


"Iya bu,masuk saja."


Siti masuk ke kamar Ratna dengan membawa beberapa potong roti dan beberapa buah lalu meletakkannya di atas meja kemudian duduk di sebelah Ratna. "Bagaimana,kamu suka buburnya?"


Ratna tersenyum. "Saya suka bu,enak."


"Tidak bikin perut kamu mual kan?"


"Alhamdulillah,tidak bu."


"Saya bawakan juga roti dan buah kalau malam-malam kamu terbangun karena lapar." Ucap Siti.


"Ibu dan pak Rey baik banget sama saya. Saya jadi merasa hutang budi." Ucap Ratna sambil menundukkan kepalanya.


"Sssttt,,tidak boleh bicara seperti itu. Kita merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama kamu!" Terang Siti.


"Tapi bu. . .?"


"Sudah,kamu jangan berpikir seperti itu ya. Anggap kita ini saudara kamu!"

__ADS_1


"Hmm,terimakasih bu."


"Oh iya soal kehamilan kamu. Saya dan suami saya sudah memikirkannya. Kamu harus segera menikah dengan Romi."


"Apa,bu? Menikah dengan Romi?"


"Iya Ratna. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!" Tegas Siti.


"Tapi bu,saya tidak mau!" Tolak Ratna seraya menggelengkan kepalanya.


"Bayi kamu harus ada bapaknya,Ratna! Kamu harus pikirkan itu!"


Ratna diam. Apa mungkin dia mau menikahiku? Dia kan hanya memperalatku. Dia sama sekali tidak lembut terhadapku. Batin Ratna.


"Suami saya yang akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu menjaga kesehatan kamu dan juga janin yang kamu kandung!"


"Hhmm,saya. . ."


"Ratna,jangan banyak pikiran. Ingat kandungan kamu. Kamu istirahatlah,saya tinggal dulu ya. Air minum sudah cukup kan?"


"Iya cukup bu. Terimakasih."


Siti lalu keluar dari kamar Ratna.


"Menikah dengan dia? Apa mungkin? Lalu,apa dia bisa menerima aku dan bayiku?"


***


Pagi-pagi sekali Rey sudah berada di Rumah Sakit Medika untuk menemui Romi. Di luar ada seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi yang ada di depan kamar ranap Romi sambil menyesap kopinya.


"Permisi,pak. Romi dan Aaron ada?" Tanya Rey pada bapak-bapak itu.


"Nak Romi sama nak Aaron ada di dalam. Anak ini siapa ya?"


"Saya Rey." Jawab Rey seraya mengulurkan tangannya.


"Saya pak Arman. Pakdenya Romi dan Aaron." Balasnya seraya menyambut uluran tangan Rey.


"Saya ingin bertemu dengan Romi dan Aaron,pak." Terang Rey.


"Oh silahkan,nak Rey. Ketuk saja pintunya."


"Terimakasih." Rey tersenyum.


Tok tok


"Pak Rey?" Ucap Aaron kaget.


"Saya mau bertemu abang kamu." Terang Rey.


"Hmm,abang ada pak. Silahkan masuk." Ucap Aaron. Ada apa ya papa Cinta pagi-pagi sudah datang. Wajahnya serius banget lagi,tidak ada senyum-senyum sedikitpun. Batin Aaron.


Rey masuk ke kamar ranap Romi. Romi terlihat baru selesai dengan sarapannya. Dia melihat ke arah Rey yang sedang memperhatikannya. Tanpa banyak bicara,Rey langsung mengeluarkan amplop putih lalu dia taruh di atas pangkuan Romi.


"Apa ini?" Tanya Romi datar dan dingin.


"Buka,baca!" Jawab Rey tak kalah dingin.


Romi melirik ke arah Rey dan Aaron sekilas lalu membuka amplop yang Rey berikan. Mata Romi membulat lalu dia menenggak salivanya kasar.


"Apa maksudnya ini,saya tidak mengerti?" Tanya Romi ketus.


"Apa kamu sudah tidak bisa membaca lagi sejak terbaring di Rumah Sakit?" Jawab Rey sinis.


"Hhmm,untuk apa ini di berikan pada saya?"


"Jadi kamu benar-benar sudah tidak bisa lagi membaca ya? Kasihan sekali?" Rey makin sinis dan mulai emosi.


"Ada apa ini?" Tanya Aaron yang bingung melihat Rey dan abangnya yang saling berkata sinis.


"Aaron. Coba kamu bantu abang kamu. Jelaskan maksud kertas itu. Sepertinya abang kamu benar-benar sudah kehilangan kemampuannya untuk membaca."


Romi menatap tajam ke arah Rey,begitu pun Rey tidak mau kalah.


Aaron segera mengambil kertas dari tangan Romi. "Foto USG? Punya siapa ini pak,Rey?"


"Baca,Aaron. Ada namanya di sana!" Jawab Rey.


"Ratna Sari. Ratna? Ratna yang. . .?"


"Minta abang kamu untuk menjelaskan!" Titah Rey yang masih terus mengarahkan pandangannya ke arah Romi.

__ADS_1


Aaron berjalan mendekati abangnya. "Bang?"


Romi menelan salivanya lagi. "Dia pasti bukan dari aku!" Ucapnya.


Rey membulatkan matanya. "Kamu pikir dengan siapa lagi dia melakukannya,heehh?" Rey mulai bicara dengan nada tinggi.


"Mana saya tau!"


Rey mendekat hendak memukul Romi tapi dia urungkan. "Kurang ajar kamu!"


"Bang,apa maksudnya ini?" Aaron makin tidak sabar.


"Dengar,saya bisa saja membuat kamu benar-benar membusuk di penjara dalam keadaan seperti ini. Tanpa ada seorang pun yang bisa mengurus kamu!" Ancam Rey.


"Pak Rey?" Aaron kaget mendengar ancaman Rey.


"Aaron,siapkan abang kamu. Dua minggu dari sekarang dia harus menikahi wanita yang sudah hamil karena perbuatannya. Kalau dia tidak mau membusuk di penjara!" Ancam Rey lagi kemudian segera berlalu dari sana.


Sial! Batin Romi.


"Pak Rey?" Panggil Aaron tapi Rey terus saja berjalan meninggalkan kamar ranap Romi.


"Bang,siapa Ratna ini? Apa dia yang datang ke sini sama pak Rey beberapa hari lalu?" Tanya Aaron.


Romi hanya diam saja dengan wajah menahan marah.


"Bang,jawab aku bang!"


"Diamlah,Aaron! Keluar sana! Abang ingin sendiri!" Usir Romi.


"Jadi abang sudah membuat kak Ratna hamil."


"Pergi,abang bilang!"


"Hhmm,baiklah bang. Abang harus tanggung jawab! Aku akan persiapkan semua yang di butuhkan untuk pernikahan abang!" Tegas Aaron lalu keluar dari kamar ranap Romi.


"Aaron,kamu mau pergi?" Tanya pakde.


"Pakde,tolong jaga bang Romi dulu ya. Aku ada urusan." Jawab Aaron.


"Iya. Kamu hati-hati di jalan."


"Iya,pakde."


Aaron segera pergi dari sana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


1930


__ADS_2