
Sampai di rumah,terdengar tangisan Putri. Siti setengah berlari masuk ke dalam rumah setelah mencuci tangan di wastafel yang ada di dekat pintu masuk.
Siti berjalan ke ruang keluarga di mana ada papa dan bibi yang tengah menggendong bayinya yang sedang menangis.
"Sini bi,biar aku gendong Putri." Pinta Siti. Siti lalu mengambil alih menggendong bayinya. "Kamu lapar ya nak." Gumamnya. "Pa,aku bawa Putri ke kamar dulu." Pamitnya sama papa.
"Iya Siti. Putri nangisnya dari tadi pasti karena lapar." Jawab papa.
"Iya pa." Siti lalu naik ke atas menuju kamarnya. Dia segera memberikan ASI untukk bayinya.
"Duuh kasihan anak mama kelaparan." Gumamnya sambil menatap bayinya yang sangat antusias mengisi perutnya.
"Yank?" Rey masuk ke kamar.
Siti menoleh ke arah suaminya. "Ya mas."
"Papa bilang Putri rewel dari tadi ya. Lain kali jangan kita tinggal-tinggal lagi deh." Ucap Rey
Dia duduk di sebelah istrinya sambil menatap bayinya. " Dia lapar sekali yank!"
"Iya mas. Kan biasanya tidak sampai dua jam sudah aku kasih lagi,ini sudah hampir tiga jam kita tinggal!" Terang Siti.
"Iya makanya dia cepat besar dan gembul gini pipinya." Ucap Rey sambil mencubit gemas pipi bayinya.
"Mas?" Siti menatap suaminya. "Maafin aku ya!"
"Hmm,maaf kenapa yank?"
"Aku hamil lagi." Ucap Siti lirih. "Aku tidak enak sama mama."
Dahi Rey berkerut lalu dia merangkul pundak istrinya. "Kamu ngomong apa sih yank? Cup!" Rey mencuri cium pipi istrinya. "Mas yang minta maaf!" Dia lalu bersandar di pundak istrinya.
"Hmm?"
"Kamu harus tau yank,mama sama sekali tidak marah sama kamu! Mama hanya khawatir!" Terang Rey dengan penekanan.
"Iya aku tau mas. Hanya saja aku jadi tidak enak sama mama. Membuat mama kepikiran."
"Yank,kamu inget kan apa kata dokter Layli tadi? Kamu tidak boleh stres,isi hati kamu dengan kebahagiaan! Mas akan bahagiain kamu!"
"Hmm,aku tau mas."
"Jadi jalani kehamilan kamu ini dengan hati yang bahagia ya. Ingat,kamu juga harus tetap memberikan ASI untuk Putri!" Terang Rey. "Putri sudah belum? Kalau sudah,biar mas yang gendong."
"Mas tidak kerja hari ini?"
"Mas mau menemani kamu saja,yank! Mas sudah bilang sama Seno dan juga Toni,biar mas libur dulu." Terang Rey.
"Hmm,terimakasih ya mas! Maaf merepotkan mas terus."
"Yank,kok minta maaf terus sih? Minta yang lain donk!" Rey menatap lekat-lekat istrinya. "Mas sangat mencintai kamu!" Ucapnya lirih lalu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan saling menenggelamkan wajah mereka. Jantung Siti berdebar walau hanya sentuhan di bibir saja. Lama,sampai Siti mulai kehabisan nafas. Tiba-tiba...
Ceklek. Pintu terbuka. Siti langsung menjauhkan wajahnya dan menatap ke arah pintu dengan wajah memerah karena malu.
"Hmm?" Mama berdiri di depan pintu. Menggelengkan kepala lalu keluar lagi dan menutup pintu dari luar.
"Hmm,mama nih." Gumam Rey.
__ADS_1
"Mas sih." Protes Siti masih merasa malu.
"Hmm,kamu juga mau kan?" Goda Rey lalu hendak mendekatkan lagi wajah mereka.
"Iihh mas ini!" Siti menjauhkan wajahnya.
"Loh,mas mau cium Putri kok! Weee!" Goda Rey sambil menjulurkan lidahnya ke arah istrinya. Lalu dia mencium pipi Putri.
"Hmm,dasar mas nih!" Ucap Siti lirih dengan wajah memerah.
"Hahahaa." Rey tergelak. "Sini mas gendong Putri. Dia sudah kenyang tuh!" Ucapnya lalu mengambil bayinya dari dekapan Siti.
Rey lalu menggendong bayinya. Mengusap lembut kepala bayinya dengan penuh kasih sayang.
***
Satu minggu sudah sejak Siti ketauan hamil lagi. Kondisi kesehatannya menurun. Setiap hari dia akan mengalami mual muntah yang parah hingga semua orang di rumah menjadi cemas. Siti setiap hari banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Dia selalu merasa lelah dan pusing di kepalanya tidak juga hilang. Bahkan dia selalu menolak di dekati suaminya.
Pagi ini,mama memaksa untuk membawa Siti ke klinik dokter Layli padahal baru satu minggu yang lalu mereka baru saja kontrol kandungan.
"Mbak Siti,apa saja yang di rasakan?" Tanya dokter Layli ramah.
"Mualnya tidak hanya pagi hari dok. Setiap mencium aroma yang tidak enak,pasti langsung mual. Masih pusing juga. Nafsu makan tidak ada." Terang Siti dengan suara lemah.
"Ayo berbaring,kita USG dulu!" Titah dokter Layli.
Siti lalu naik ke atas kasur. Dokter mulai menempelkan alat di perut Siti.
"Hmm,bayinya sehat hanya beratnya kurang dari seharusnya. Mungkin karena asupan dari mamanya kurang." Terang dokter.
"Lalu bagaimana dokter? Kalau di paksa makan,Siti selalu memuntahkan lagi makanannya. Putri juga kasihan,dia sekarang di bantu susu formula juga karena rewel ASI mamanya dikit." Terang mama dengan nada cemas.
"Menginap,dok?" Mama dan Rey sama-sama kaget.
"Iya. Obatnya di masukkan lewat infus jadi harus di rawat." Terang dokter lagi.
"Hmm,tidak bisa di rumah saja dokter? Nanti saya sewa perawat satu." Pinta mama. "Kasihan Putri kalau pisah sama mamanya."
"Hmm,baiklah akan saya usahakan,As! Tapi memang lebih baiknya di rawat di sini."
"Hmm,yasudah di rawat saja ma. Yang terbaik saja,dokter." Ucap Rey dengan penekanan. Dia terlihat sangat khawatir dengan kondisi istrinya.
"Bagaimana? Jadi di rawat saja ya?"
"Ya sudah kalau Rey maunya begitu dokter." Mama akhirnya menyetujui juga Siti di rawat.
"Saya hubungi administrasinya dulu ya untuk cari kamar."
"Iya dokter." Jawab mama.
"Kamu di rawat saja ya yank!" Titah Rey pada istrinya. "Kamu hamil jadi makin kurus." Ucap Rey dengan nada khawatir.
"Iya mas,aku nurut saja sama mas." Jawab Siti lemah.
Setelah sepuluh menit ada suster yang masuk memberitahukan ketersediaan kamar yang di minta keluarga pasien.
"Dokter,kamarnya sudah ada. Silahkan isi administrasinya dulu!" Pinta suster.
__ADS_1
"Oh iya,nanti ada yang ke sana sus. Terimakasih." Ucap dokter. "Rey,kamu ke bagian administrasinya ya biar Siti bisa langsung ke kamar!" Titah dokter Layli pada Rey.
"Baik dokter." Rey lalu keluar dari ruangan dokter Layli.
"Kamu santai saja,Siti. Kamu pasti banyak pikiran ya?"
"Hmm,saya. . ." Siti menggantung ucapannya. Dia memang sering memikirkan tentang kehamilannya.
"Kamu akan baik-baik. Berpikir positif ya!"
"Iya dokter."
Tak berapa lama Rey masuk bersama suster.
"Kita sudah bisa ke kamar sekarang." Terang Rey.
"Yasudah,ayo!" Ajak mama. "Dokter,kita ke kamar sekarang." Pamit mama.
Mereka lalu keluar dari ruangan dokter Layli.
"Silahkan duduk,bu." Ucap suster mempersilahkan Siti untuk duduk di kursi roda.
"Hmm,saya bisa jalan sendiri kok,sus." Tolak Siti.
"Tidak apa-apa yank,kamar kamu ada di lantai dua nanti kamu capek." Terang Rey.
Siti menurut,lalu duduk di kursi roda di dorong suaminya.
Mereka masuk ke ruang perawat terlebih dahulu untuk memasang infus lalu naik ke lantai dua dimana kamar rawat Siti berada.
"Ayo kamu tidur,yank!" Titah Rey.
Siti lalu naik ke tempat tidur. "Hmm,mas. Putri bagaimana?" Tanya Siti dengan wajah sedih.
"Putri,mama yang urus. Kamu tidak usah khawatir. Jangan banyak pikiran,inget Siti!" Ucap mama dengan penekanan.
"Hmm,iya ma."
"Yasudah mama pulang dulu. Kasihan Putri kelamaan di tinggal." Pamit mama.
"Terimakasih,ma. Maaf sudah merepotkan mama." Ucap Siti.
"Sudah tidak apa-apa. Putri kan cucu mama. Kamu cepat sehat!" Ucap mama. "Ya sudah mama mau pulang,Rey."
"Yank,mas antar mama dulu ya?"
"Mama naik taxi saja,Rey." Ucap mama.
"Jangan ma,di antar mas saja." Ucap Siti.
"Kamu tidak apa-apa mas tinggal sebentar,yank?"
"Iya tidak apa-apa mas. Mas cepat antar mama,kasihan Putri!"
"Yasudah,kita pergi dulu. Kamu tidur saja ya!"
Rey dan mama lalu keluar dari kamar rawat Siti. Siti menatap kepergian mereka dengan wajah sedih. "Aku harus kuat." Gumamnya. "Maafkan mama,Putri."
__ADS_1
NEXT
1706/0005