
Mobil Seno sudah sampai di depan rumah kontrakan Fia saat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Seno memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sana.
"Masuk dulu kan nak Seno?" Tanya ayahnya Fia.
"Iya,pak. Saya mampir sebentar." Sahut Seno.
Mereka masuk ke rumah semua kecuali Seno dan Fia. Mereka bercakap-cakap di teras rumah.
"Fia,kamu bener-bener cinta sama mas?" Tanya Seno pelan-pelan. Di tanya seperti itu,Fia hanya menunduk saja dengan wajah memerah.
Seno menunggu beberapa saat tapi Fia tetap diam dengan masih menatap lantai ubin.
"Hmm,ya sudah kalau tidak." Ucap Seno lagi.
Fia langsung mengangkat wajahnya lalu menatap ke arah Seno. "Iihh,belum juga di jawab." Kesalnya masih dengan wajah memerah.
"Ya salahnya di tanya kok diam saja."
"Iihh mas ini,masa tidak mengerti?"
"Ya gimana mau ngerti orangnya diem?"
"Iihh menyebalkan." Gerutu Fia. "Hmm,kalau mas?" Fia balik bertanya tanpa mau melihat ke arah Seno.
"Yah balik nanya belum juga jawab."
Mas Seno nyebelin ih,masa gitu masih tanya segala? Apa tidak merasakan perasaanku bahkan dari sekolah dulu? Gerutu Fia dalam hati.
"Ya sudah mas pulang ya." Seno beranjak dari duduknya.
Fia kebingungan. Dia lalu ikut berdiri. "Mas,kok mau pulang sih?" Tanyanya lirih.
"Kamunya diem terus."
"Iiiih." Fia menghentakkan kakinya. "Hmm,i iya." Jawabnya gugup.
"Iya? Iya apa?"
"Iya,pertanyaan mas tadi."
"Memangnya tadi mas tanya apa?" Seno pura-pura lupa.
"iihh,pura-pura lupa lagi. Nyebelin." Gumamnya hampir tak terdengar.
"Hmm,mas denger loh." Seno lalu melangkah ke pembatas teras di mana sepatunya dia taruh.
Fia buru-buru mendekat lalu berdiri di sampingnya. "Mas,mas mau pulang ya?" Tanyanya dengan nada khawatir. Kamu tu pandai banget mengobrak abrik hatiku mas. Batinnya.
Seno hanya diam saja.
Hhhh Fia menarik nafasnya berat. Dia menatap ke bawah,ke pot-pot bunga yang di tanamnya di pembatas teras. "Hmm,mas. Iya,aku . . aku cinta sama mas." Ucapnya pelan hampir seperti sedang bergumam. Setelah mengucapkan itu,Fia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Walau mereka sudah dekat bertahun lalu sejak mereka masih sekolah,tapi Fia tidak pernah mengungkapkan perasaan cintanya secara langsung. Begitupun Seno. Kebersamaanlah yang membuat mereka akhirnya memutuskan berpacaran tanpa harus menanyakan perasaan cinta masing-masing.
Hubungan yang berjalan bagai air yang mengalir. Tanpa paksaan dan tuntutan satu sama lain. Dan di saat inilah Seno makin merasa mantap,karena Fia tipe gadis yang ceria dan penyayang. Gadis baik-baik yang menerimanya apa adanya dari sejak dia masih susah di desa.
"Apa,mas kurang jelas dengernya. Coba di ulang lagi." Goda Seno membuat gadis di sampingnya menjadi kesal,malu,dan rasa ingin menangis saja.
"Mas nyebelin!" Fia menghentakkan kakinya dengan wajah cemberut. Tanpa di sadarinya,Seno mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
"Shofia Andriani." Panggil Seno pelan.
Deg. Jantung Fia langsung berdebar. Kenapa mas Seno memanggil dengan nama lengkap? Hmm,pasti marah nih sama aku. Duuuhh. Batin Fia gelisah.
Gadis itu mendongakkan kepalanya lalu memberanikan diri menatap Seno di sampingnya. "I,iya. Aku benar-benar cinta sama mas Seno." Ucapnya pelan lalu buru-buru menundukkan lagi kepalanya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu mau bersama mas selamanya?" Tanya Seno mantap.
Fia membuka matanya lalu menoleh ke arah Seno. "Mas?"
Seno meraih tangan kiri Fia lalu menyelipkan cincin di jari manis gadis itu. Mata Fia membulat sempurna demi melihat apa yang di lakukan orang yang selama ini mengisi hari dan hatinya itu.
"Mas,ini?"
"Apa kamu mau?"
Fia langsung mengangguk. "Aku mau. Aku mau mas!" Jawab Fia mantap sampai gadis itu hendak memeluk Seno tapi Seno langsung bergerak sedikit menjauh membuat Fia malu hingga menundukkan wajahnya yang memerah.
Seno menggelang. "Belum waktunya." Ucap Seno lembut sambil mengusap lembut pucuk kepala Fia.
"Hmm,mas mau ngomong sama ayah kamu." Pinta Seno.
Fia mendongakkan kepalanya. "Hmm,sekarang mas?"
"Tahun depan."
"Iihh mas ini." Sambil tersenyum malu,Fia masuk ke dalam rumah untuk memanggil ayahnya sementara Seno kembali duduk di kursi yang ada di teras. Dia sedang berpikir bagaimana cara mengutarakan niat baiknya itu. Gantian kini jantungnya yang berdebar-debar.
Tak lama,ayahnya Fia keluar dari dalam rumah.
"Nak Seno,Shofia bilang kamu ingin bicara penting sama bapak ya?"
"Hmm,iya pak." Jawab Seno.
"Kalau begitu,kita bicara di dalam saja. Tidak enak nanti ada tetangga yang dengar." Pinta ayahnya Fia.
"Ooh,baiklah pak."
Ayahnya Fia masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Seno. "Maaf nak Seno,ruang tamunya kecil dan tidak ada kursi jadi kita duduk di bawah saja." Ucap ayahnya Fia.
"Ohh tidak apa-apa kok,pak." Jawab Seno.
"Hmm,bagaimana. Nak Seno ingin bicara apa sama bapak?" Tanya ayah Fia yang mulai penasaran.
Seno diam sesaat. Bingung harus memulai dari mana. "Hmm,begini pak. Saya dan Fia sudah lama saling mengenal,sejak kita masih sekolah di desa. Sampai Fia pindah ke kota,kita masih saling berhubungan." Terang Seno. Dia berpikir lagi. Ternyata lebih gugup menghadapi ayah kekasihnya daripada dosen. Batinnya.
"Iya,bapak mendengarkan." Sahut ayahnya Fia.
"Ehhmm. Saya,saya serius sama anak bapak. Saya ingin membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius lagi." Terang Seno terbata-bata.
__ADS_1
"Hmm,maksudnya?" Tanya ayahnya Fia.
Duuhh bapak,masa belum mengerti juga. Apa harus bilang langsung saja ya,mau ngajak nikah. Pikir Seno dalam hati.
Hhhh. Seno menarik nafasnya berat. Setelah beberapa detik. "Hmm,begini pak. Saya ingin menikahi Fia." Ucap Seno mantap. Aahh leganya,akhirnya bisa keluar juga kata-kata itu dengan sukses. Batin Seno.
Ayah Fia langsung mengembangkan senyumnya lebar-lebar. "Nak Seno melamar anak bapak Shofia? Yang bener?" Tanyanya antusias. "Ehh,maksud bapak,kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan?"
"Hmm,saya serius pak. Fia kan sudah lulus kuliah tinggal cari kerja saja."
"Oh iya iya. Jadi kapan nak Seno,kalian nikahnya?"
"Yah secepatnya saja pak,agar kita tidak terlalu lama bertemannya." Terang Seno.
"Jadi kalian berteman saja bukan pacaran seperti kata Shofia?"
"Ehhmm,maksud saya. Yah seperti itu pak. Tidak baik berlama-lama."
"Yah bapak setuju. Tidak perlu pacaran lama-lama. Anak jaman sekarang kan pergaulannya bebas jadi lebih cepat lebih baik."
"Hmm,maksud saya begitu pak."
"Kalau Shofia sudah di tanyain belum? Kalau dia mau,bapak setuju-setuju saja."
"Saya sudah bilang sama Shofia,pak."
"Anak itu mau kan?"
"Alhamdulillah mau,pak."
"Ya pasti mau lah wong kalau pulang ke desa nyeritain kamu terus kok. Ehh." Ayah Fia menutup mulutnya sambil menahan senyum. Seno pun jadi ikut tersenyum.
"Bapak panggil dulu Shofianya ya,biar jelas apa anak itu bener-bener mau." Ucap ayah Fia dan langsung memanggil anaknya di kamar.
Tak lama,Fia keluar dari kamar bersama ayah dan juga ibunya. Mereka lalu duduk berempat. Fia menundukkan kepalanya sambil mengusap-usap cincin pemberian Seno tadi.
"Shofia,nak Seno ini mau melamar kamu. Mau ajak kamu nikah. Kamu mau kan?" Tanya ayah Fia sambil menatap ke arah anak gadisnya.
Fia tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Nah,kalau sudah begitu artinya Shofia mau." Ucap ayah yang di senyumin semua yang ada di situ.
"Bu,ambilkan nak Seno minum. Sejak sampai tadi kan belum di kasih minum. Shofia kok tidak kasih minum calon suaminya." Titah ayah pada ibunya Fia.
"Tidak usah repot-repot,pak. Saya juga sudah mau pulang." Tolak Seno.
"Loh tidak merepotkan kok nak Seno." Sahut ibu.
"Beneran bu,saya sudah mau pulang. Saya belum pulang sejak dari kantor karena langsung ke sini." Tolak Seno lagi.
"Oohh ya sudah kalau begitu. Oh iya besok ayah sama ibunya Shofia mau pulang ke desa. Sudah berapa hari kita di sini ya bu. Toko jadi tutup beberapa hari ini." Terang ayahnya Fia.
"Mau pulang jam berapa pak? Besok biar saya antar ke terminal."
"Ooh tidak usah repot-repot nak Seno. Kita naik angkot atau ojek saja ya,bu."
"Tidak repot kok pak. Saya besok libur." Terang Seno.
"Aahh,seusia bapak belum terlalu tua kok."
"Heheee."
"Jadi besok saya jemput jam berapa,pak?"
"Bisnya berangkat jam sepuluh."
"Ya sudah saya jemput jam delapan ya pak. Saya mau pulang sekarang saja pak. Nanti keburu malam tidak enak sama keluarga mas Rey." Pamit Seno.
"Ooh,ya sudah kalau begitu. Hati-hati bawa mobilnya ya nak Seno."
"Iya pak." Seno lalu menyalami orang tua Fia.
"Shofia,kamu antar Seno sampai depan." Titah Ayahnya Fia.
"Iya,yah."
Fia mengantarkan Seno sampai pagar.
"Mas,terimakasih ya untuk hari ini." Ucap Fia dengan senyum bahagianya.
"Iya sama-sama."
"Aku pikir,mas masih lama ngelamar aku. Eeh taunya sekarang."
"Hmm,kenapa? Kamu belum mau di lamar mas?"
"Bukan belum mau tapi ini benar-benar kejutan buat aku. Aku memang ingin menikah lulus kuliah tapi kan tidak mungkin minta di lamar sama mas."
"Loh kenapa tidak mungkin?"
"Ya malu lah mas. Masa minta di lamar. Maunya ya seperti ini." Ucapnya malu-malu. "Rasanya seperti mimpi."
"Mas memang sengaja nunggu kamu lulus biar tidak ganggu kuliah kamu."
"Hmm,jadi mas memang sudah lama niat ngelamar aku setelah aku lulus?"
Seno mengangguk.
Fia langsung tersenyum. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Bisa berjodoh dengan Seno adalah harapannya dari sejak sekolah,tapi itu dia simpan rapat-rapat. Dia hanya bisa berharap dan tak lupa selalu berdoa setiap saat agar cita dan cinta nya tercapai.
"Mas pulang dulu ya,kamu masuk sana." Pamit Seno.
"Aku tunggu sampai mobil mas belok ke sana." Tunjuk Fia ke simpang jalan tak jauh dari rumahnya.
"Kamu masuk rumah,baru mas pulang!" Titah Seno.
"Hmm,iya iya." Sahut Fia dengan wajah kesal. Padahal dia masih ingin berlama-lama ngobrol.
"Mas,hati-hati di jalan ya." Ucapnya kemudian segera berbalik dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Seno pun segera naik ke mobilnya dan berlalu dari sana menuju rumah kakak iparnya. Dia melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih. Pasti orang rumah sudah tidur semua. Batinnya.
***
"Kita jadi kan jalan pagi,ma?" Tanya Putra saat turun dari tangga.
"Mama tidak ikut ya nak. Kamu sama papa saja." Terang Siti.
"Kakak Putri tidak ikut?"
"Kamu sama papa saja ya nak. Kalau ikut semua nanti papa tidak bisa jagain kalian berdua." Terang Siti.
"Iya deh. Mana papa kok lama?"
"Hallo jagoannya papa,sudah lama nunggu ya?" Rey langsung mencium pucuk kepala putranya.
"Pa,mama sama kak Putri tidak ikut."
"Ya tidak apa kita berdua saja nak."
"Ayo sarapan dulu." Panggil oma Asti.
Mereka lalu menuju ke ruang makan.
"Paman Seno mana?" Tanya Putra yang sudah duduk manis di meja makan.
"Nah itu dia paman."
"Haloo anak tampan,sudah rapi mau kemana?"
"Putra mau jalan pagi sama papa. Paman ikut yuk."
"Paman mau keluar,sayang. Kapan-kapan saja ya."
"Hmm,iya deh."
Mereka lalu sarapan bersama. Setelah selesai sarapan,Putra ikut papanya jalan santai. Sementara Siti di rumah bersama Putri.
"Kamu mau kemana dek? Semalam pulang sudah larut masak sekarang sudah mau keluar lagi?"
"Seno mau ketemu sama orang,mbak." Jawab Seno.
"Semalam sudah ketemu sekarang mau ketemu lagi?"
"Nanti Seno kasih tahu mbak ya."
"Kok nanti? Sekarang saja,dek." Desak Siti.
"Ya nanti siang,mbak. Seno pergi dulu ya mbak." Pamitnya kemudian sebelum Siti mulai bertanya lagi.
Seno langsung masuk ke dalam mobilnya kemudian segera meninggalkan rumah dengan tatapan curiga dari mbaknya.
Setengah jam lebih,Seno sudah sampai di rumah kontrakan Fia,karena hari minggu jadi jalanan sepi.
Di lihatnya keluarga Fia sudah menunggunya di teras. Seno segera turun dari mobil.
"Maaf pak,bu. Apa saya terlambat?" Tanya Seno.
"Oh tidak kok nak Seno. Bisnya berangkat jam sepuluh kok." Jawab ayahnya Fia.
"Yuk kita berangkat sekarang. Lebih baik menunggu di sana daripada nanti kita terlambat,bis keduanya sore." Ajak ibunya Fia.
"Selia tidak ikut anter ya bu." Ucap Selia.
"Loh kenapa nak?"
"Kan nanti mbak Fia jalan sama mas Seno,masa Selia jadi obat nyamuk." Selia beralasan.
"Loh tidak mungkin mbak kamu jadikan kamu obat nyamuk. Kamu ada-ada saja." Omel ayah.
"Ayah iiihh. Selia nunggu di rumah saja,belum cuci baju juga."
"Hmm,ada saja alasan kamu!" Gerutu ibu.
"Biarin saja bu." Ucap Fia. "Mbak pulang,pakaian sudah di cuci semua ya." Ancam Fia.
"Iiihh,Selia cuci pakaian milik Selia sendiri lah."
"Huuu dasar." Gerutu Fia.
"Ya sudah yok,biar saja dia tidak ikut. Nanti kita terlambat." Ajak ayah.
"Ayo." Ajak Seno.
"Ayah duduk di depan lagi ya nak Seno?" Tanya ayah sambil menoleh ke arah Seno yang sedang berjalan di belakangnya.
"Iya pak."
Setelah semua naik ke mobil,Seno segera melajukan kendaraannya ke terminal B. Cukup jauh dari rumah kontrakan Fia.
.
.
.
.
.
.
NEXT
.
.
.
__ADS_1
0907/2222