
Dinda langsung menghampiri suaminya yang sedang memegangi kepala dan perutnya. Seno terlihat menahan rasa sakit.
"Pak satpam,tolong bantu bawa ke ruangan saya ya." Pinta Dinda pada satpam Rumah Sakit yang membantunya.
"Baik,bu." Jawabnya.
Dengan di bantu oleh dua orang satpam,Seno berjalan masuk ke Rumah Sakit melalui pintu belakang menuju ruangan dokter.
"Terimakasih,pak." Ucap Seno dan Dinda.
"Sama-sama bu dokter,pak."
Mereka lalu meninggalkan Dinda dan Seno hanya berdua. Kebetulan Rumah Sakit sudah mulai sepi karena sudah sore. Hanya tinggal bagian ruang rawat inap yang masih ada susternya.
"Mas,Dinda obatin ya." Ucap Dinda sambil menyiapkan air di dalam baskom beserta cairan antiseptik.
Dinda lalu duduk berhadapan dengan Seno. Suaminya itu hanya diam menatapnya seolah meminta penjelasan.
"Maafin aku,mas. Gara-gara aku,mas jadi terluka begini." Ucap Dinda dengan wajah sedih. Dia lalu mengusap lembut wajah Seno penuh kasih sayang. Matanya sedikit berkaca-kaca." Nanti aku jelasin di rumah ya."
Dinda lalu mulai membersihkan wajah Seno dengan cairan antiseptik. Kemudian membersihkan tangannya juga. Seno terlihat menahan perih tapi tetap diam saja. Mereka hanya saling menatap satu sama lain.
Setelah di rasa cukup,Dinda menaruh lagi baskom ke wastafel.
"Sakit banget ya mas?"
Seno menjawab dengan menepuk dadanya.
"Dada mas sakit? Tadi kena pukul di dada juga?" Tanya Dinda cemas dan rasa ingin menangis. Dia lalu memeluk Seno . "Maafin aku,mas."Ucapnya yang mulai terisak. "Terimakasih,mas datang tepat waktu.
"Sudah jangan terlalu erat meluknya." Ucap Seno.
"Badannya sakit semua ya mas?"
"Tidak ada yang bisa merebut kamu dari mas." Ucap Seno pelan tapi tegas.
"Aku juga hanya mau sama mas!" Ucap Dinda.
"Ayo kita pulang!" Ajak Seno.
Mereka lalu berjalan menuju parkiran dengan saling bergandengan tangan. Seno menggenggam erat jemari tangan Dinda.
"Aku apa mas yang nyetir?" Tanya Dinda.
"Biar mas yang nyetir." Jawab Seno.
Mereka segera meninggalkan Rumah Sakit. Seno melajukan mobilnya perlahan. Lebih setengah jam,mereka baru sampai di rumah Dinda.
Dinda turun dari mobil tanpa menunggu suaminya membukakan pintu mobil seperti biasa. Dia menggandeng Seno masuk ke dalam rumah. Saat sudah di ruang tamu,mereka berpapasan dengan mami Dinda yang baru saja dari ruang makan.
"Loh,Seno kenapa?" Tanya mami Dinda kaget.
"Hmm,mi. Kita mau bersih-bersih dulu ya. Belum sholat maghrib juga. Nanti aku ceritain." Jawab Dinda.
"Hmm,ya sudah. Hati-hati." Ucap mami Dinda. Mereka lalu naik ke lantai atas. Seno seperti menahan sakit saat menaiki anak tangga. Dia memegangi kakinya.
Seno sepertinya habis berkelahi. Batin mami Dinda.
Di dalam kamar Dinda.
Seno duduk di sofa sementara Dinda menyiapkan pakaian ganti untuk mereka. Lalu Dinda mengajak Seno masuk ke dalam kamar mandi. Dinda dengan penuh kasih sayang membantu Seno mandi. Ternyata tidak hanya wajah dan tangannya yang memar akibat pukulan. Dadanya kemerahan. Sekitar kakinya juga ada beberapa bekas kebiruan.
__ADS_1
"Mas,kok kakinya biru-biru gini? Kena pukul juga?" Tanya Dinda karena dia sempat meninggalkan Seno beberapa saat untuk memanggil satpam.
Seno hanya mengangguk.
Selesai mandi,Seno dan Dinda sholat maghrib berrdua. Setelah selesai,Seno langsung berbaring di tempat tidur. Badannya terasa sakit semua. Sudah beberapa tahun dia tidak pernah lagi berlatih bela diri jadi sedikit kaku.
Seno terlihat memejamkan matanya. "Mas,aku ambilin makan ya?"
"Hmm,kamu juga makan di sini." Pinta Seno.
"Iya mas. Aku temani mas makan. Aku tinggal dulu ya." Pamit Dinda.
Seno memegang tangan Dinda. "Suruh bibi saja yang bawa. Mas tidak mau kamu kecapean!"
"Iya mas. Aku suruh bibi." Dinda mencium dahi Seno sebelum keluar dari kamar.
Di bawah,di ruang makan. Mami dan papi Dinda sedang menunggu mereka untuk makan malam bersama.
"Sayang,suami kamu kenapa? Habis berkelahi?"
"Hmm,tadi aku ketemu Romi,mi." Jawab Dinda.
Papi Dinda langsung berdiri. "Apa?"
"Pi,papi duduk dulu. Jangan emosi pi,ingat darah tingginya." Ucap lembut mami Dinda menenangkan suaminya. Papi Dinda kembali duduk.
"Coba kamu ceritain." Titah mami Dinda.
"Hmm,aku tadi nungguin mas Seno jemput di Rumah Sakit. Karena mas belum datang,aku jalan-jalan ke taman di dekat Rumah Sakit itu,mi. Ternyata Romi ngikutin aku,tiba-tiba dia langsung menarik tangan aku. Dia kaget lihat perut aku yang buncit. Dia marah-marah nuduh aku selingkuh. Aku sudah jelasin kalau kita sudah tidak ada hubungan lagi sejak dia pergi setengah tahun lalu. Tapi dia tidak terima." Terang Dinda.
"Hmm,lalu suami kamu?"
"Saat Romi narik tangan Dinda maksa ikut dia,mas Seno datang. Mereka berdebat,lalu Romi mukul mas Seno duluan. Ya mereka berkelahi,mi."
"Pi,sabar pi." Mami Dinda berusaha menenangkan kembali suaminya.
"Hmm,aku mau ambil makan dulu pi,mi. Mas Seno pasti nungguin. Kita makan di kamar saja tidak apa-apa kan? Badan mas Seno sakit semua."
"Hmm,iya nak. Sana temani suami kamu makan." Titah mami.
Dinda lalu mengambil dua piring nasi beserta lauknya.
"Bi,tolong bantu Dinda ya." Titah mami pada bibi.
"Baik,bu. Mari non biar bibi yang bawakan."
"Terimakasih bi." Jawab Dinda.
Sampai di kamar Dinda. Ternyata Seno sudah tertidur. Dinda duduk di sisi tempat tidur di samping suaminya.
"Duuhh,kelamaan sih jadi ketiduran mas Seno."Gumam Dinda.
Dinda menatap lekat-lekat wajah laki-laki yang sudah empat bulanan ini menemani hari-harinya.
"Maafin aku mas,gara-gara aku mas jadi begini." Ucap Dinda lirih. "Aku akan berusaha jadi istri yang baik untuk kamu! Aku cinta banget sama kamu,mas!"
"Mas juga sangat mencintai kamu,istriku!" Sahut Seno lalu membuka matanya.
Dinda kaget. "Mas?" Wajahnya memerah.
"Mas tidak akan pernah melepas kamu! Apapun yang terjadi. Kamu istri mas selamanya."
__ADS_1
"Hmm,mas." Dinda langsung memeluk Seno yang masih dalam posisi berbaring. Dia sungguh tersanjung.
"Hhmm,"Seno memejamkan matanya seperti menahan sakit.
"Mas? Kenapa?"
"Dada mas sakit.Peluknya jangan di tekan ya."
"Mas,besok kita cek kesehatan mas deh."
"Hmm,buat apa? Wajar saja sakit habis di pukulin."
"Hmm,ok kita tunggu sampai besok kalau masih sakit,kita ke dokter ya!"
"Buat apa ke dokter? Istri cantik mas juga seorang dokter,kok."
"Hmm,mas. Beda donk. Dokter kan spesialisnya macem-macem."
"Mas maunya di periksa sama istri mas saja."
"Hmm,kan tadi sudah aku periksa tapi bagian luar saja. Bagian dalemnya belum. Biar jls,kita ronsen dulu."
"Jangan berlebihan ah. Mas tidak suka ke dokter kecuali dokternya istri mas sendiri.
"Hmm,mas ini. Kita tunggu kalau dadanya sudah tidak sakit lagi,kita tidak usah ke dokter. Biar aku yang rawat mas."
"Mas maunya di rawat sama kamu saja." Ucap Seno manja.
"Hmm,iya suamiku sayang! Aku pasti akan merawat mas."
"Terimakasih ya."
"Makan dulu yuk mas,aku suapin ya."
Seno mengangguk.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. Semoga suka. Terimakasih ππ
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
2200