Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 31


__ADS_3

Rey baru saja sampai rumah lewat tengah malam tadi. Rasanya baru saja matanya terpejam tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


Tok tok. . .


"Rey. . . Rey!" Suara mama memanggil-manggilnya.


Tok tok.


Rey mengerjap-ngerjapkan matanya. " Yaa. . .!" Sahutnya cepat.


Rey turun dari kasur lalu segera membuka pintu kamarnya karena mamanya masih saja mengetuk dengan tidak sabar.


"Ada apa ma,Rey masih ngantuk?"


"Ada dua orang polisi yang nyariin kamu di depan! Kamu tidak berbuat macam-macam kan semalam?" Mama menatapnya penuh selidik.


"Polisi? Rey hanya berkeliling semalam,ma." Ucapnya malas. Lalu berbalik masuk ke dalam kamar.


"Loh kok masuk lagi? Sana temui polisi itu!"


"Iya ma,Rey pakai pakaian dulu masa mau nemuin polisi dalam keadaan seperti ini." Rey menggeleng sambil memakai pakaiannya lalu segera turun menemui dua orang polisi yang sudah menunggunya di depan.


"Ya pak polisi. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rey saat sudah duduk berhadap-hadapan dengan kedua orang polisi itu.


"Kita menemukan seorang wanita yang mirip dengan istri pak Rey yang di culik beberapa hari lalu." Terang salah satu polisi.


"Istri saya?"


"Iya pak Rey. Kita menemukan seorang wanita di pinggir jalan dalam keadaan terluka karena di aniaya dan di wajahnya ada beberapa memar sampai area mata juga. Kita perhatikan sangat mirip dengan istri bapak. Mungkin pak Rey mau menemuinya sekarang sedang di rawat di Rumah Sakit."


"Apa pak? Istri saya di aniaya?" Rey langsung berdiri saking kagetnya.


***


Semua orang di dalam kamar Siti terdiam sesaat dan saling pandang.


"Permisi,maaf kita . . .


"Siti? Kamu benar Siti?"


Laki-laki yang ternyata suaminya itu langsung mendekat dan berhambur ke pelukannya tanpa malu ada orang lain di dekat mereka.


"Kamu kemana saja?" Melepaskan pelukannya. Menatap Siti dalam-dalam lalu mengusap wajah Siti yang terdapat beberapa luka memar " Siapa yang melakukan ini sama kamu,hmm?" Mulai ada titik bening di matanya.

__ADS_1


"Jadi dia benar istri pak Rey?" Tanya salah satu polisi.


"Benar pak! Dia istri saya!" Jawab Rey tanpa menoleh. Masih menatap lekat ke arah istrinya sementara yang di tatap hanya menunduk.


"Hmm,baiklah kita tinggal sebentar. Silahkan bicara berdua!" Kedua polisi dan suster pun meninggalkan mereka.


"Maafkan saya. . . Tolong maafkan saya!" Rey kembali memeluk Siti. Biasanya Siti akan membalas pelukan suaminya itu tapi kali ini dia diam saja.


"Siapa yang melakukan ini? Siapa yang menyakiti kamu,hmm?" Tanya Rey lagi. Siti tetap diam dan tidak membalas tatapan suaminya.


"Kamu marah? Kamu boleh marah sama saya! Kamu juga boleh pukul saya! Tapi jangan diam begini! Sayang. . ."


Deg. . . Sayang. Kenapa kata-kata itu justru membuat dada nyeri. Kata-kata yang dari sejak menikah begitu di nantikan terucap dari bibir suaminya tapi saat telah terucap justru terdengar menyakitkan.


"Bicaralah,jangan diam. Kamu begitu marah sampai tidak mau lagi bicara,hmm?" Di tangkupnya kedua pipi Siti lalu dia mendekatkan wajah mereka berdua tapi Siti dengan cepat memalingkan wajahnya.


Walau getaran itu masih ada tapi rasa sakit di hatinya membuat dia jengah. Kenapa kamu terus berpura-pura. Batin Siti.


Rey pun langsung menyentuh wajahnya dengan gerakan tiba-tiba hingga Siti tidak bisa lagi menghindar. Lama dan dalam hingga Siti kehabisan nafas. " Hmff. Mau bunuh saya ya?" Dorongnya kuat.


Rey tersenyum. " Akhirnya kamu mau bicara juga." Rey lalu menyentuh perutnya yang masih rata. " Anak saya kamu jaga baik-baik kan?" Tanyanya.


"Anak siapa? Enak saja kalau bicara!" Ucap Siti kesal.


"Hehheee,nah begitu. Ayo marah-marah lagi!"


"Jelak loh cemberut terus!"


"Memang saya jelek makanya kamu tidak suka sama saya. Beda sama mantan kamu yang cantik itu." Seloroh Siti pelan hampir tidak terdengar. Matanya pun makin panas dan akhirnya jatuh sesuatu yang berusaha dia tahan. Dia ingin terlihat kuat tapi yang terjadi malah sebaliknya.


"Kamu bicara apa? Siapa yang tidak suka sama kamu,hmm? Kalau tidak suka mana mungkin saya nikahi kamu!" Ucap Rey meyakinkan.


"Kamu nikahi saya karena Cinta!"


"Iya karena cinta,kalau tidak cinta mana mungkin nikahi kamu!"


"Karena Cinta putri kamu!" Siti bersungut. Wajahnya makin di tekuk.


"Hehehee,karena cinta kamu juga!"


"Kamu paling pandai berpura-pura. Saya tidak akan terkecoh lagi." Sambil terus mendorong tubuh suaminya itu agar menjauh.


"Hmm,saya memandang foto itu karena ingin membuangnya. Agar kamu tidak menemukannya. Bukan apa-apa!" Terang Rey.

__ADS_1


"Terserah. Sikap kamu sendiri membuktikan bagaimana perasaan kamu pada saya dan dia. Saya saja yang bodoh terlalu di ambil hati tiap kali kamu bersikap manis. Padahal sikap manismu itu tidak pernah bertahan lama."


"Kamu masih tidak percaya. . . Lalu bagaimana membuktikannya? Saya,saya sayang kamu,Siti!"


Siti menggeleng lemah. Hatinya masih sulit untuk mempercayai ucapan suaminya.


"Kita pulang yuk! Kata dokter,kamu sudah sehat tinggal pemulihan saja. Saya janji akan menjaga dan menemani kamu sepanjang hari!"


Siti malah tersenyum sinis. Sepanjang hari? Gombalan macam apa itu.


"Yuk kita pulang! Kamu tidak suka kan berada di sini? Sepi,hmm."


"Di rumah kamu pun saya tetap kesepian! Lalu apa bedanya dengan di sini?" Siti mulai terisak. "Saya tidak boleh kemana-mana. Hidup saya memang sudah sepi!" Tubuhnya mulai berguncang.


Rey langsung meraihnya dalam pelukan. "Ssstt,jangan menangis saya mohon! Maafkan saya,tolong maafkan saya! Beri saya kesempatan. Saya akan melakukan apapun untuk membuat kamu bahagia!"


"Jangan lakukan sesuatu karena terpaksa." Siti mendorong tubuh suaminya.


"Terpaksa apa? Kamu pikir saya bisa melakukan itu pada wanita yang sama sekali tidak saya sukai,hmm? Sampai kamu hamil begini!"


"Ya karena saya istri kamu! Kamu hanya melakukan kewajiban kamu saja. Itu pun setelah beberapa bulan kita menikah. Awalnya kamu sama sekali tidak ingin melakukannya." Siti mengusap air matanya yang membuat pandangannya kabur. "Kamu seolah jijik sama saya!"


"Siti,kamu bicara apa sih?" Rey jadi emosi.


Siti makin terisak. " Pergi saja! Tidak usah pedulikan saya!"


"Siti,kenapa kamu berpikir yang aneh-aneh?" Suara Rey kembali pelan. "Jadi saya harus bagaimana agar kamu percaya,hmm?" Mengusap lagi wajah Siti yang basah.


"Tinggalkan saya!"


"Hmm,yang lain!" Rey memeluk Siti lagi. "Bagaimana kalau kita berbulan madu lagi,hmm?"


"Hhh,bulan madu kemana? Keluar negeri? Keluar angkasa? Apa bedanya kalau hati kamu tidak pada saya!"


"Kenapa kamu masih tidak juga bisa percaya?"


"Karena sekarang saya sudah pintar! Dan juga sudah lelah. Kamu tidak usah khawatir tentang anak ini. Kamu bebas menemuinya kelak." Sambil mengusap perutnya. "Kita bagai langit dan bumi,terlalu banyak perbedaan. Hati kita juga tidak bisa menyatu! Tolong berhentilah,saya mohon!"


Rey mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu lagi bagaimana meyakinkan istrinya itu.


"Saya tidak akan pernah melepas kamu! Sampai kapan pun!" Rey keluar dari kamar meninggalkan Siti yang masih terisak.


Kenapa saya bisa jatuh cinta dengan dia? Kenapa? Orang pertama yang saya cintai justru hanya mempermainkan saja.

__ADS_1


NEXT


210421/12.30


__ADS_2