Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 56 ( S2 )


__ADS_3

Pukul dua belas siang,Seno sudah selesai memeriksa dua berkas yang di suruh Rey dan langsung menyerahkannya kembali.


"Ini mas." Ucap Seno seraya menaruh berkas-berkasnya ke meja Rey.


"Oh iya,terimakasih. Kamu sudah mau pulang?"


"Iya mas. Tiďak apa-apa kan?" Tanya Seno.


"Iya tidak apa-apa kok pulanglah. Kasihan istri kamu kelamaan nunggu." Jawab Rey.


"Terimakasih mas. Seno pulang ya." Pamit Seno.


"Iya,hati-hati." Ucap Rey.


Seno lalu meninggalkan ruangan Rey,kembali ke ruangannya.


Seno masuk ke ruangannya lalu menutup pintunya rapat-rapat. Matanya tertuju ke istrinya yang tengah tertidur di sofa lalu menghampirinya.


Hmm,kok kamu malah tidur sih yank. Batin Seno.


Seno menatap lekat-lekat wajah cantik istrinya itu. Di saat mas mulai mencintai kamu,ada saja yang mengganggu hubungan kita. Mas tidak akan biarkan siapapun memisahkan kita. Batin Seno lalu mengusap lembut wajah Dinda.


Dinda merasa ada yang menyentuh wajahnya jadi dia terbangun. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan langsung kaget saat tau suaminya sudah ada di hadapannya dengan jarak beberapa senti saja.


"Hmm mas,bikin kaget deh."


Seno tersenyum. "Kok kamu makin cantik sih. . ." Ucapnya lembut.


"Hmm,gombal." Sahut Dinda dengan wajah merona.


"Mana janjinya tadi?"


"Hmm,janji apa?"


Seno menunjuk bibirnya.


"Hmm,mas ini." Dinda tersenyum malu.


"Masa sama mas masih malu-malu,hmm." Ucap Seno sambil menatap mesra Dinda.


Dinda merasa jantungnya berdebar di tatap begitu oleh Seno. Dinda pun mulai mendekatkan wajah mereka berdua lalu melingkarkan tangannya ke leher Seno. Mereka saling menatap dengan tatapan penuh cinta. Seno yang tidak sabar langsung mencium bibir istrinya beberapa detik hingga berulang kali. Karena ada dorongan dari dalam dirinya,dari yang hanya sekedar ciuman biasa berubah menjadi ciuman yang lebih dalam dan menghanyutkan.


"Hmm,mas." Lirih Dinda yang lebih dulu melepaskan ciumannya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam.


Seno menganggukkan kepalanya sambil menatap Dinda penuh arti seolah meminta persetujuan.


"Hmm,tapi mas? Ini masih di kantor mas. Nanti kalau ada yang. . ."


Seno kembali memberikan ciumannya.


"Hmm,mas. Di rumah saja. . ." Tolak Dinda halus. Dia merasa tidak nyaman jika harus melakukannya di dalam ruangan suaminya yang dia anggap kurang privasi.


"Pintu sudah mas kunci. Mas ingin di sini. Ya. . .?" Pinta Seno dengan wajah memohon.


Akhirnya Dinda mengangguk. Dia juga sudah mulai menginginkannya karena godaan terus menerus dari suaminya.


Seno kembali memberikan ciuman yang menghanyutkan hingga mereka akhirnya sama-sama terlena. Ruangan yang sepi dan sofa putih pun jadi saksi kehangatan cinta Seno dan Dinda.


Setengah jam kemudian,Seno tengah merapikan pakaiannya begitupun dengan Dinda.


Seno mendekati lalu berbisik di telinga Dinda. "Terimakasih sayang." Bisiknya mesra. Dinda membalas dengan senyuman lalu mulai merapikan rambutnya.


"Kita langsung pulang apa cari makan di luar?" Tanya Seno.


"Makan di rumah saja,mas. Kan kita tidak boleh keluar kalau tidak penting banget."


"Hmm,ok sayang. Apa tidak ada yang mau di beli?"


"Oh iya aku mau beli susu hamil. Kotak terakhir sudah aku buka tinggal dikit." Jawab Dinda.

__ADS_1


Iya,nanti kita ke minimarket sebentar ya." Ucap Seno sambil mengusap lembut rambut istrinya.


Mereka lalu keluar dari ruangan Seno dengan Dinda memakai jas hitam milik Seno. Dinda menggandeng tangan Seno yang sedang membawa tumpukan berkas di tangannya.


Baru saja keluar,mereka berpapasan dengan Rey yang juga baru keluar dari ruangannya hendak makan siang.


"Mas Rey. . ." Sapa Dinda.


Rey tersenyum sambil mengangguk ke arah Dinda.


"Kalian kok baru mau pulang?" Tanya Rey heran.


"Hmm,i iya mas. Hmm,kita. . ." Seno terlihat salah tingkah.


"Hmm,ya sudah ajaklah istri kamu pulang." Titah Rey.


"Hmm,iya mas. Kita pulang dulu ya." Pamit Seno.


Rey menatap kepergian Seno dan Dinda sambil menggeleng. Hmm,mereka terlihat berantakan sekali. Kamu ternyata tidak jauh beda dari aku,Seno. Batin Rey.


Rey meneruskan langkahnya. Dia ingin makan siang di kafe yang ada di seberang gedung.


***


Seno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mas,aku tadi merasa tidak enak sama mas Rey." Ucap Dinda.


"Tidak enak kenapa?"


"Dia melihat kita dengan tatapan aneh."


"Hmm,tidak apa-apa. Dia orangnya pengertian kok."


"Tapi mas,dia seperti curiga gitu lihat kita. Apa aku terlihat aneh ya mas?"


"Hehee." Seno malah senyum-senyum.


"Tidak apa-apa kok. Karena dia lebih pengalaman dari mas." Ucap Seno sambil tersenyum.


"Maksud mas?"


"Yah kan mas Rey lebih dulu menikah daripada mas. Jadi dia lebih pengalaman mempunyai istri.


"Hmm,aku tidak mengerti maksud mas."


"Sudah jangan di pikirkan. Kamu tidak perlu khawatir tentang mas Rey. Dia itu kakak ipar terbaik! Ayah terbaik dan pastinya suami terbaik. Di mata mas!" Terang Seno dengan penekanan.


"Hmm,kalau menurutku sih suami terbaik itu ya suamiku!" Ucap Dinda.


"Hmm,bisa saja kamu. Mas belum merasa jadi suami yang baik untuk kamu!"


"Kan yang merasakan aku. Yah walau kadang suka nyebelin kalau sedang cemburu."


"Nyebelin ya?"


Dinda mengangguk.


"Ya sudah kalau tidaķ suka di cemburuin. Mas cuekin sajalah!"


"Nyebelin tapi aku suka kok!" Ucap Dinda manja.


"Hmm,"


"Mas,kita berhenti di sana? Aku kan mau beli susu."


"Oh iya asik ngobrol hampir kelupaan."


Seno lalu memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket.

__ADS_1


Sampai di minimarket,Dinda membeli apa saja yang di butuhkannya sampai hampir penuh satu trolly.


"Banyak banget belinya?"


"Susunya stok buat dua minggu,mas. Kan aku di rumah terus mulai besok. Sama cemilan kesukaanku juga."


Hmm,jangan lupa buahnya juga."


"Iya mas."


Setelah memborong banyak belanjaan,Seno segera membayarnya di kasir.


"Mas,uang yang mas transfer tiap bulan tidak pernah aku pakai loh. Setiap belanja atau makan,pakai uang mas terus."


"Ya tidak apa-apa simpan saja. Lagipula mas kasih tidak seberapa kok!"


"Alhamdulillah kok mas. Berapapun yang mas kasih,aku bersyukur." Ucap Dinda.


"Terimakasih ya sayang. Kamu mau terima mas apa adanya."


"Hmm. Karena aku sayang mas! Mas juga mau terima aku apa adanya. Mas sudah memberikan aku kebahagiaan! Itu jauh lebih berharga dari apapun!"


"Kamu juga sudah memberikan kebahagiaan untuk mas. Kamu dan calon anak kita sangat berharga. Mas tidak akan biarkan siapapun merebut kalian! Termasuk mereka!" Ucap Seno dengan penekanan.


"Terimakasih ya mas. Tapi mereka itu siapa mas?"


"Ya pacar kamu,dokter kamu!"


"Iiihh mas ini! Mereka bukan siapa-siapa aku!" Dinda cemberut.


"Heheee. Mas sudah laper nih. Kamu sudah laper belum,hmm?"


"Laper sih,makanya aku mau makan roti dulu." Jawab Dinda.


"Sebentar lagi sampai rumah kok."


"Hmm. . ." Dinda mengunyah rotinya.


Tak berapa lama,mereka sampai juga di rumah. . .


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka ya. Jangan lupa dukungannya buat othor. Terimakasih 😍😍


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


2300


__ADS_2