Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 13 ( S2 )


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Seno dan Fia sudah bersiap-siap hendak berangkat ke kota. Mobil jemputan yang di kirim Rey sudah tiba dari semalam. Keluarga Fia yang ikut ke kota hanya lima orang,jadi cukup hanya dengan satu mobil saja.


"Kita dari sini ke kontrakan dulu ya mas?" Tanya Fia.


"Kamu ikut mas ke rumah mas Rey,keluarga kamu tinggal di kontrakan dulu. Tidak apa-apa kan?"


"Oh iya mas." Jawab Fia.


"Setelah acara,malamnya kita menginap di hotel tempat acara resepsi. Keluarga kamu juga sudah di siapkan dua kamar oleh mas Rey." Terang Seno.


"Hmm,mas Rey baik banget ya mas."


"Iya,keluarga mas Rey memang baik semua." Jawab Seno.


Pukul delapan pagi,mereka berangkat ke kota. Seno duduk di depan di samping sopir.


Hanya memakan waktu tiga jam lebih,mereka pun tiba di rumah kontrakan Fia. Sementara Fia di bawa Seno ke rumah keluarga Rey.


"Wah,pengantin baru sudah sampai." Sambut Rey.


"Hehe,iya mas. Mau istirahat dulu sebelum acara nanti malam." Terang Seno.


"Iya. Kantor juga tutup nanti jam tiga." Terang Rey.


"Loh kenapa cepat tutupnya,mas? Kan ada Toni!"


"Tidak apa-apa,sesekali karyawan cepat pulang." Jawab Rey." Ya sudah ajak istri kamu makan siang dulu lalu ajak ke kamar biar istirahat. Nanti ada MUA yang akan membantunya berias di hotel." Terang Rey.


"Iya mas. Terimakasih kita tadi sudah makan di jalan sama keluarga." Ucap Seno. Dia lalu mengajak istrinya masuk ke dalam kamarnya.


"Yuk masuk. Kita istirahat dulu!" Ajak Seno pada istrinya.


"Hmm,mas. Ini kamar mas?" Tanya Fia sambil menatap ke sekelilling kamar.


"Iya,sama persis seperti kamar yang kamu pakai untuk sholat waktu pertama kamu datang. Kamu lupa?"


"Ooh iya ya. Tapi ini terlihat lebih luas."


"Iya sepertinya ini kamar tamu yang paling luas deh."


"Hmm,mas. Aku tiduran dulu ya. Acara nanti malam pasti ramai ya mas?"


"Mas tidak tahu. Kata mbak Siti,setengah karyawan di undang juga."


"Hhaahh? Banyak banget mas? Belum lagi kenalan mereka."


"Iya biar saja,toh bukan mas yang minta. Mau nolak kan tidak enak juga." Ucap Seno.


"Hmm,iya mas. Ya sudah kita istirahat dulu."


Dalam beberapa menit,mereka sudah terlelap.


Menjelang sore,mereka baru terbangun setelah mendengar teriakan dua keponakannya,Putra dan Putri.


"Adek tidak mau pakai sepatu yang itu ma!" Teriak Putri pada mamanya.


"Sayang,kan seragam sama papa." Terang Siti.


"Tapi adek tidak mau ma. Adek mau pakai yang warna merah." Tolak Putra.


"Masa anak laki pakai merah,hmm? Mau seragam sama mama dan kakak ya?"


"Hmm,tapi adek tidak suka sepatu yang itu." Putra tetap tidak mau menuruti saran mamanya.


"Kenapa sih adek tidak mau pakai yang itu?" Tanya Putri.


"Sepatu itu seperti bapak-bapak,adek kan masih kecil." Putra beralasan.


"Hmm,ya sudah terserah adek deh mau pakai yang mana." Ucap Rey.


"Hmm,nanti saja pakai sepatunya nak. Kan masih nanti malam."


"Iya biar adek yang simpan,biar mama tidak lupa." Ucapnya lalu membawa sepatu merah kesayangannya ke kamarnya.


"Hmm,anak itu mulai tidak bisa di atur." Keluh Siti.


"Yah,anak siapa dulu." Ucap Rey.


"Anak papanya lah!" Jawab Siti lalu segera berlalu meninggalkan suaminya yang hendak protes.


"Hhh,kalau anaknya sedang nakal di bilang anak papa. Hhuuh,dasar emak-emak." Gerutu Rey.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Waktu maghrib baru saja berlalu. Semua orang di rumah sedang bersiap-siap.


"Fia,ayo kamu ikut mbak ke hotel. Kamu akan di rias sama MUA di hotel." Titah Siti.


"Iya mbak." Fia buru-buru mengambil tasnya lalu mengikuti Siti.


"Ayo,nanti kita bisa terlambat."


"Kita berdua saja mbak? Putra sama Putri tidak ikut?"


"Mereka sama papanya. Mbak yang akan antar kamu." Terang Siti.


"Aku belum pamit sama mas Seno,mbak."


"Tadi mbak sudah bilang Seno. Dia mandinya lama banget."


Siti bersama Fia naik ke mobil menuju hotel tempat acara resepsi nikah. Tidak sampai setengah jam,mereka pun sampai.


"Pak,langsung jemput keluarga Fia di kontrakannya ya!" Titah Siti pada pak sopir.


"Baik,bu." Sopir pun segera meninggalkan hotel untuk menjemput keluarga Fia.


"Yuk,kita ke kamar kamu!" Ajak Siti.


Mereka lalu menaiki lift menuju lantai sembilan di mana kamar hotel yang akan di pakai oleh pengantinnya berias sekaligus untuk mereka bermalam setelah acara.


"Ayo masuk!" Ajak Siti. Di dalam sudah ada dua orang MUA yang sudah menunggu mereka. Fia menatap kagum kamar hotel mereka. Baru ini masuk ke dalam kamar hotel semewah ini.


"Mbak Siti." Sapa salah seorang MUA yang dulu pernah membantu Siti saat pernikahannya bersama Rey.


"Iya mbak Riri. Maaf ya telat. Tolong di bikin cantik adik ipar saya." Ucap Siti sambil tersenyum.


"Beres mbak Siti. Mbaknya juga sudah cantik ya,jadi tidak susah di bikin makin cantik." Ucap salah satu dari mereka.


Fia hanya tersipu malu.

__ADS_1


Sementara Fia di rias,Siti berkeliling kamar untuk mengecek semua fasilitas yang ada di dalam kamar.


Tiba-tiba handphone Siti berdering.


"Haloo. . ."


"Mbak sedang menemani istri kamu di rias di dalam kamar hotel."


"Iya,keluarga Fia sudah di jemput oleh sopir,kamu tenang saja."


"Iya,anak-anak kan ada papanya. Kamu ke hotel bareng mas Rey saja,dek."


"Iya,iya. Mbak tunggu ya!"


Tuuuttt. . . Panggilan telpon terputus.


Siti kembali duduk-duduk di sofa yang ada di dalam kamar hotel sambil melihat-lihat handphonenya.


Setengah jam kemudian,Siti berdiri.


"Fia,mbak tinggal dulu ya. Anak-anak nyariin mbak. Nanti mbak kesini lagi." Ucap Siti pada Fia.


"Iya mbak." Jawab Fia.


"Mbak Riri,saya titip adik ipar saya,ya." Ucap Siti.


"Tentu,mbak tidak usah khawatir. Pengantinnya aman sama kita kok." Jawab MUA yang bernama Riri.


Siti lalu keluar dari kamar hotel menuju lantai dasar dimana keluarga sudah menunggu. Para tamu mulai ramai berdatangan.


"Fia mana,mbak?" Tanya Seno saat melihat istrinya tidak bersama Siti.


"Fia belum selesai di rias." Jawab Siti.


"Lantai berapa mbak,aku mau nyusul?" Tanya Seno.


"Kan belum selesai,dek. Nanti juga mbak akan jemput dia." Terang Siti.


Seno mondar mandir dengan gelisah.


"Pengantin prianya sudah tidak sabar nih." Goda Rey.


Seno menggaruk-garuk kepalanya. Perasaanku kok tiba-tiba tidak enak gini ya. Batinnya.


"Mbak Siti,jemput Fia sekarang donk!" Pinta Seno setengah memaksa.


"Hhh,iya-iya mbak jemput sekarang." Jawab Siti. Dia lalu segera naik ke lift menuju kamar pengantin.


Sampai di kamar.


"Fia mana,mbak Riri?" Tanya Siti.


"Loh tadi sudah ada yang jemput pengantinnya,mbak." Jawab MUA Riri.


"Sudah ada yang jemput? Siapa mbak?"


"Perempuan muda,mbak. Hampir seumuran sama mbak Fia."


"Loh,yang tau kamar ini hanya kita saja kok mbak." Ucap Siti mulai cemas.


"Loh,masa mbak Siti? Lalu,lalu siapa yang ajak pengantinnya keluar ya?" Mereka semua terlihat bingung.


Akhirnya mereka bertiga berpisah untuk mencari kaberadaan Fia. Siti mencoba menelpon Seno untuk menanyakan apakah Fia sudah sampai di lobi hotel,ternyata gadis itu belum sampai juga di lobi hotel saat Siti sudah sampai sana.


Dari jauh Siti melihat adiknya Seno yang masih sibuk mondar mandir.


"Mana Fia,mbak?" Seno buru-buru mendekati mbaknya sambil menoleh kiri kanan.


"Hmm,mbak belum ketemu,dek." Jawab Siti yang tak kalah bingung.


"Itu Fia." Teriak Rey dari kejauhan.


Seno setengah berlari menghampiri istrinya.


"Kamu dari mana,Fia?" Tanya Seno emosi.


"Hmm,aku. Aku tadi di jemput seseorang terus di ajak kelilling lantai atas,mas." Jawab Fia dengan terbata-bata.


"Seseorang? Siapa? Kamu kenal?"


"Aku tidak kenal,mas. Dia bilang orang WO." Terang Fia.


Seno mengusap wajahnya frustasi. "Hhh,lain kali jangan pergi selain sama keluarga kita! Kamu paham?" Seno masih terlihat emosi.


"I-iya mas."Jawab Fia lirih. Dia makin ketakuatan melihat respon suaminya.


"Sudah dek,yang penting Fia baik-baik saja. Jangan marah-marah terus. Acara kamu sebentar lagi akan di mulai. Yuk,kita ke pelaminannya!" Ajak Siti berusaha menenangkan adiknya.


"Iya,yuk Seno kita ke sana sekarang. Tamu sudah banyak yang datang!" Ajak Rey.


Seno akhirnya menurut. Mereka lalu menuju aula di mana acara resepsi pernikahannya di adakan.


Dari kejauhan terlihat seseorang yang menatap sinis ke arah mereka. " Ini baru permulaan,akan ada kejutan lain lagi." Gumamnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia lalu turun dan bergabung di acara resepsi Seno tanpa seorang pun menyadari.


Acara berlangsung dengan meriah dengan mengundang satu orang artis lokal yang sudah lumayan terkenal di sana.


Siti duduk di samping paman Seno sebagai wakil dari keluarga Seno karena memang bi Rena merasa tidak pantas mendampingi suaminya.


Sampai pukul sembilan malam,acara masih berlangsung walau ada beberapa tamu undangan yang sudah pulang. Banyak karyawan dari perusahaan Rey yang datang memberi ucapan,ada yang iri melihat pengantin wanitanya ,ada juga yang ikut berbahagia terutama teman-teman lama Seno.


"Pak Seno,istrinya biasa-biasa saja ya. Masih cantik juga aku."


"Tapi istrinya itu kan pacarnya dari sekolah dulu dari saat pak Seno belum seperti sekarang,jadi wajar donk."


"Ahh,tetap saja mereka tidak terlihat serasi."


"Iya,ya harusnya dapet yang lebih cantik."


"Sudah,mereka memang sudah jodoh ya mau gimana. Jangan iri sama kebahagiaan orang."


"Iihh,kamu kok dari tadi belain istrinya terus? Sodara kamu ya?"


"Iihh ,kenal juga baru sekarang kok. Cuma aku tidak mau iri seperti kalian!"


"Diihh,siapa juga yang iri ya. Huuhh!"


Menjelang pukul sepuluh,hanya tersisa keluarga inti dan orang-orang dari WO serta orang hotel yang masih belum pulang. Mereka mulai berfoto-foto bersama bergantian. Di lanjutkan pengantinnya berfoto berdua.


"Mas,aku mau ke toilet!" Pamit Fia saat sesi foto selesai.

__ADS_1


"Nanti!" Larang Seno.


"Mas,aku. . ."


"Mas bilang nanti ya nanti!"


Iiihh,orang sudah di tahan-tahan dari tadi masih di suruh nanti-nanti. Gerutu Fia dalam hati.


"Mas,itu ada adek Selia. Aku minta anter sama adek ke toilet,ya?" Ucap Fia dengan wajah memelas.


"Hhh,kamu itu. Sudah sana,jangan lama-lama. Langsung balik lagi kesini! Adik kamu suruh nungguin jangan di tinggal-tinggal!" Titah Seno dengan penekanan.


"Iya mas." Dengan wajah semringah,Fia lalu meminta adiknya untuk menemaninya ke toilet. Sementara keluarga sedang menikmati hidangan terakhir.


"Mbak,Seli tidak tau di mana toiletnya." Terang Selia.


"Hmm,kita cari saja dek."


"Kalau ke kamar mbak saja,gimana?"


"Jauh dek,lantai sembilan. Mbak sudah tidak bisa jauh-jauh." Tolak Fia.


Sementara,acara benar-benar sudah selesai. Keluarga Fia hendak di antarkan oleh pihak hotel menuju kamar mereka yang terletak di lantai sembilan juga.


"Fia mana?" Tanya ibunya Fia pada Seno.


"Fia ke toilet sama Selia,bu." Jawab Seno. "Tapi sudah hampir setengah jam yang lalu,belum balik lagi." Terang Seno yang mulai cemas. Dari sejak sampai di hotel,perasaannya memang tidak enak.


Tiba-tiba. . .


"Minggiirr!" Teriak seseorang dari atas tangga menuju lantai dua.


Semua orang menoleh ke sumber suara. Betapa kagetnya Seno melihat pemandangan di depan matanya.


"Kamu?!" Mata Seno membulat sempurna. "Mau apa kamu? Lepaskan istri ku!"


"Pasti akan aku lepaskan! Tapi ada syaratnya!" Ancam orang itu yang tengah menyandera Fia dengan sebilah pisau yang di arahkan ke leher Fia.


"Kamu! Apa syaratnya?"


"Seno,kamu tenang! Jangan gegabah,istri kamu dalam bahaya kalau kamu sampai gegabah!" Pesan Rey yang berusaha menenangkan Seno di sampingnya.


"Aku mau kamu ceraikan istri kamu ini!"


"Apa? Jangan gila kamu!"


"Terserah kamu kalau tidak ingin dia tergores pisau tajam ini!" Sambil menyeringai tersenyum menang.


"Jangan mas! Jangan ceraikan aku!" Teriak Fia.


"Kamu diam! Apa kamu mau pisau ini menembus leher kamu,heehh?" Ancam orang itu lagi.


"Ok ok! Aku akan ceraikan dia! Tolong lepaskan dia!" Ucap Seno.


"Bagus! Ceraikan sekarang juga!"


"Apa?" Seno mengepalkan tangannya.


"Ayo ceraikan sekarang juga. Talak tiga!"


"Tidak mas! Aku tidak mau!" Fia berteriak.


"Kamu gila ya?" Seno pun ikut berteriak.


"Iya aku memang gila! Gara-gara kamu! Ayo sekarang ceraikan istri kamu ini. Talak tiga! Hahahaha!"


"Dasar gila!"


"Jangan Seno!"


"Seno,Ceraikan saja Fia. Ibu tidak mau anak ibu kenapa-kenapa!" Teriak ibunya Fia.


"Ibu! Fia tidak mau cerai!" Fia mulai sesenggukan.


"Aku,aku ceraikan istriku!" Ucap Seno terbata-bata.


"Talak tiga!" Teriak orang itu lagi.


"Ti-tidak mungkin!" Seno makin frustasi. Dia mencoba mendekat.


"Jangan coba macam-macam! Aku tidak sedang main-main!"


"Aku-aku pasti akan ceraikan istriku tapi lepaskan dulu dia!" Seno coba mengulur waktu.


"Huuhh,kamu pikir aku bodoh? Ceraikan sekarang,talak tiga! Apa mau aku hitung,hehh?"


Seno memandang istrinya yang sudah banjir air mata dengan wajah memohon.


"Aku cinta kamu,mas! Jangan ceraikan aku!" Teriak Fia histeris.


"Bagaimana ini,mas?" Siti pun ikut menangis di samping suaminya.


"Satpam sudah menyebar. Kamu berdoa saja." Bisik Rey.


"Semoga Fia tidak kenapa-kenapa."


.


.


.


.


.


NEXT


.


.


Tunggu bab selanjutnya ya. . .


.


.


.

__ADS_1


2307/1100


__ADS_2