
Mereka tiba di klinik dokter Layli setengah jam kemudian. Rey memarkirkan mobilnya di depan klinik lalu membukakan pintu mobil untuk Siti dan Ratna. Loh kok ke klinik dokter kandungan. Batin Ratna heran.
"Ratna,ayo. Kamu masih pusing?" Tanya Siti seraya menggandeng Ratna yang terlihat lemas dan pucat.
Mereka lalu masuk ke klinik. Hanya lima menit menunggu,nama Siti sudah di panggil.
"Ibu Siti Khairunissa." Panggil suster.
"Iya." Sahut Siti. "Ayo mas. Ratna,ayo kamu ikut." Ajak Siti.
"Tapi bu,saya kan. . .?" Ratna ingin menolak.
"Kamu ikut saja,yuk." Siti menggandeng Ratna agar ikut masuk ke ruang praktek.
Siti dan Ratna duduk berhadapan dengan dokter Layli sementara Rey berdiri di samping Siti.
"Wah,tidak terasa sudah jalan empat bulan,ya." Ucap dokter Layli. "Ayo kita USG dulu."
Siti lalu barbaring di tempat tidur. Dokter Laylu mulai memeriksanya."Lihat,bayinya sehat ya. Rambutnya sudah mulai tumbuh. Sudah mulai aktip menendang. " Terang dokter Layli. "Mualnya masih sering di rasakan?"
"Alhamdulillah. Mual sudah tidak lagi,dok. Makan mulai banyak." Jawab Siti.
"Alhamdulillah."
"Beratnya cukup kan dok,tidak kurang atau lebih. Apa harus menambah atau mengurangi makan?" Tanya Rey mengingat kehamilan Siti terakhir kali yang kelebihan berat.
"Untuk saat ini beratnya cukup. Kalau mau makan banyak juga tidak masalah malah di anjurkan di bulan-bulan awal. Nanti kita lihat saat usia tujuh bulan apa harus di kurangi atau di tambah porsi makannya." Terang dokter Layli lagi.
"Alhamdulillah." Ucap Rey.
"Hmm,dok. Apa melahirkan kali ini saya bisa normal?" Tanya Siti.
"Kalau ibu dan bayinya sehat,In sya Allah bisa normal."
"Alhamdulillah. Saya ingin merasakan melahirkan normal,dok." Ucap Siti penuh harap.
"Aamiin. Kali ini benar-benar di jaga dan lebih hati-hati setiap melakukan kegiatan ya."
"Iya,dok."
Siti lalu turun dari tempat tidur.
"Seperti biasa ya,ada vitamin yang harus di tebus di apotek." Terang dokter Layli seraya menyerahkan selembar kertas resep ke tangan Siti dan juga hasil foto USG janinnya.
"Terimakasih,dok."
"Iya sama-sama."
"Hhmm,dok. Saya kan daftar untuk dua orang. Nah yang satunya,sodara saya ini." Ucap Siti seraya menunjuk ke Ratna.
Ratna menoleh ke arah Siti dengan dahi berkerut. "Saya?" Ucapnya kaget mendengar apa yang Siti barusan ucapkan.
"Iya,Ratna. Kita periksa saja ya?" Bujuk Siti.
"Tapi saya tidak hamil,bu!" Ratna menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak bilang kamu hamil. USG bukan hanya untuk ibu hamil iya kan,dokter?" Tanya Siti seraya menatap ke arah dokter Layli.
"Iya,benar." Jawab dokter Layli.
__ADS_1
"Tapi saya?" Ratna hendak keluar dari ruangan.
"Ratna,apa salahnya kalau kita periksa ya? Kita kan tidak tau kamu sakit apa?" Bujuk Siti seraya menggandeng Ratna agar naik ke tempat tidur.
Dengan ragu-ragu akhirnya Ratna mau. Dokter Layli langsung mengoleskan gel ke alat periksa lalu menempelkannya ke perut Ratna.
"Kita lihat ya,ada apa di sana?" Ucap dokter Layli.
Semua mata tertuju ke layar monitor. Hanya Rey yang berdiri di dekat pintu,tidak enak kalau melihat dari dekat saat perut Ratna sedang di periksa.
"Hmm,terakhir datang bulan kapan,mbak Ratna?" Tanya dokter Layli.
"Hmm,," Ratna seperti sedang berpikir tapi tidak mau mengatakan apa-apa.
"Hmm,terlihat sebesar kacang polong ya. Masih sangat kecil. Kira-kira baru berusia enam minggu." Terang dokter Layli pelan.
Ratna seketika langsung duduk dan menutup muli8 tnya. "Tidak! Itu tidak mungkin. Alat dokter pasti rusak!" Ucap Ratna seraya menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.
"Ratna. . ." Siti berusaha menenangkan Ratna. Mata Ratna mulai berkaca-kaca. Dia lalu turun dari tempat tidur dan langsung membuka pintu lalu lari keluar.
"Ratna?" Seru Siti. "Mas,kejar Ratna mas!" Pinta Siti dengan wajah khawatir.
Rey lalu menyusul Ratna. "Dok,saya lihat mereka dulu ya." Pamit Siti yang di berikan anggukan oleh dokter Layli.
Siti menyusul Rey yang mengejar Ratna. Karena Siti sedang hamil jadi dia hanya bisa berjalan sedikit lebih cepat. Itupun membuat nafasnya ngos-ngosan.
Sampai di halaman parkir,terlihat Rey yang sedang berdiri di hadapan Ratna yang sedang terduduk di lantai.
Siti segera mendekati mereka. "Ratna,ayo berdiri." Ucap Siti seraya meraih kedua bahu Ratna untuk membantunya berdiri.
Wajah Ratna sudah banjir oleh air mata. Siti lalu memeluknya erat seraya mengusap-usap punggungnya. "Kita masuk ke mobil saja,ya." Ajak Siti yang di beri anggukan oleh Ratna. Ratna seperti sudah pasrah saja lalu menuruti Siti yang mengajaknya naik ke mobil.
"Ya sudah biar mas yang ambil sama tebus obatnya. Kalian tunggu di mobil saja!" Titah Rey.
Rey lalu kembali ke klinik sementara Siti sedang berusaha menenangkan Ratna. Siti kembali memeluk Ratna. "Menangislah,sampai perasaan kamu tenang."
"Bagaimana nasib anakku? Bagaimana aku menjalani kehamilanku tanpa suami? Pasti keluargaku sedih dan kecewa. Aku memang bukan anak yang berbakti." Ucapnya di sela tangis.
"Sssttt,tidak boleh bicara seperti itu. Kamu harus kuat ya."
Ratna masih menangis tersedu-sedu. Tak lama kemudian Rey datang. Ratna langsung melepaskan pelukan Siti lalu mengusap wajahnya yang basah airmata.
"Mas,aku duduk di belakang saja ya." Ucap Siti.
"Iya yank. Ini vitamin sama fotonya." Ucap Rey seraya memberikan bungkusan plastik pada Siti. Rey langsung menghidupkan mesin mobilnya dan segera meninggalkan klinik dokter Layli.
Siti memeriksa isi bungkusan plastiknya. Yang ada nama Ratna langsung di berikan pada Ratna.
"Ratna,ini vitamin sama foto USG kamu tadi." Ucap Siti lalu memberikan bungkusan milik Ratna.
Ratna menggelengkan kepalanya. "Saya tidak mau menyimpannya,bu."
"Baiklah. Tapi vitaminnya kamu ambil ya,jangan lupa di minum agar janinnya tumbuh sehat."
"Apa dia bisa sehat?" Tanya Ratna yang mulai sedikit tenang.
"Tentu saja!"
"Hmm," Ratna mengusap sisa air matanya. Pandangannya mengarah ke jalanan melihat lalu lalang kendaraan.
__ADS_1
"Saya. Saya mau cari kontrakan saja,bu" Ucap Ratna tiba-tiba.
"Loh kenapa? Kamu tidak betah tinggal di rumah?" Tanya Siti kaget.
"Hmm,saya tidak ingin merepottkan bu."
"Kita tidak ada yang merasa di repotkan kok. Iya kan mas?" "Ucap Siti sambil melihat ke arah Rey.
"Iya,Rat. Kita kan sudah kenal lama." Sahut Rey.
"Tapi?"
"Sudah. Kamu tidak boleh berpikir berat. Kamu tinggal di rumah sampai masalah kamu selesai." Titah Rey.
Tidak berapa lama,mereka sudah sampai di rumah.
Siti dan Ratna turun lalu segera masuk ke dalam rumah.
"Ratna,jangan lupa obatnya di minum,ya."
"iyaa bu. Saya langsung ke kamar,ya." Pamitnya.
"Iya,istirahatlah. Jangan banyak pikirannya."
Ratna mengangguk kepalanya kemudian segera berlalu dari hadapan Siti.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
.
.
.
1515
__ADS_1