
Cinta sedang membereskan alat-alat tulisnya lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Cin,jangan lupa nanti kita kerja kelompok di rumah Anton ya." Ucap Mira,teman sebangku Cinta.
Cinta menoleh. "Anton? Kenapa tidak di rumah kamu saja,Mir?"
"Di rumahku sedang ada tamu dari luar kota,Cin."
"Hhuuhh. Jam berapa?" Tanya Cinta malas.
"Jam setengah tiga. Jangan tidak datang loh. Apa mau aku jemput?"
"Aku datang sendiri saja."
"Nanti aku kirimkan alamatnya ya. Kamu kan sudah tau komplek rumah Anton."
"Iyaa. Sudah aku pulang dulu. Bye!" Pamit Cinta lalu buru-buru ke luar gerbang di mana sopirnya sudah menunggu."
"Ke kantor pak Rey ya non?"
"Pulang ke rumah bunda,pak." Jawab Cinta.
Tidak sampai setengah jam,Cinta sudah sampai di rumah bundanya.
"Cin?" Sapa bunda Cyndia.
"Hmm,iya bun."
"Biasanya ke kantor papamu dulu."
"Cinta ada kerja kelompok,bun."
"Oohh,ganti baju makan siang dulu." Titah Cyndia.
"Hmm,iya bun." Jawab Cinta. Dia segera menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Tepat pukul dua siang. "Bun,Cinta mau kerja kelompok dulu,ya." Pamit Cinta lalu mencium punggung tangan bundanya.
"Hati-hati ya nak. Minta pak Dani tunggu apa nanti di jemput lagi?"
"Hmm,di jemput lagi saja bun. Nanti Cinta kabarin ya."
"Iya sayang."
Cinta naik ke dalam mobil. Pak Dani,sopirnya Cinta langsung melajukan mobilnya ke arah komplek rumah Anton sesuai petunjuk dari Cinta. "Nanti bapak tunggu apa gimana,non?" Tanya pak Dani.
"Bapak pulang saja dulu nanti Cinta kabari kalau mau pulang." Jawab Cinta.
"Baik,non."
Beberapa saat kemudian,mobil sudah sampai di komplek rumah Anton. "Rumahnya nomor seratus lima belas,pak." Ucap Cinta.
Lima menit,Cinta sudah berada di depan rumah Anton. Sudah ada tiga orang temannya yang menunggu di sana termasuk teman sebangkunya Mira.
Cinta turun dari mobil. "Bapak boleh pulang." Ucap Dinda.
"Iya,non." Jawab pak Dani.
Cinta lalu berjalan ke rumah Anton.
"Cinta,akhirnya kamu datang juga." Sapa Mira.
"Iya,kita tungguin." Ucap Tania,teman sekelas Cinta.
"Aku terlambat ya?"
"Tidak kok,kita sekarang tinggal tunggu si Andi. Yuk masuk,Anton sudah nunggu di dalem sama Budi." Ajak Mira.
Mereka lalu masuk ke rumah Anton. Rumahnya cukup nyaman dan besar.
"Hey kalian sudah datang,ayo kita ke ruang tengah saja." Ajak Anton. " Aku bikinin minuman apa nih?"
"Apa saja deh." Jawab Mira.
Tak lama Andi datang dan bergabung bersama mereka.
"Cin,kan Anton yang jadi ketua,kamu sekretarisnya ya." Usul Mira.
"Loh kok aku sekretarisnya? Kamu saja deh,Mir." Tolak Cinta.
"Yah,Cinta. Kamu kan lebih pinter daripada kita. Tulisan tangan kamu juga bagus. Kamu saja ya." Bujuk Mira. " Yang lain setuju kan?"
__ADS_1
"Kita sih setuju saja." Jawab Tania.
"Iya." Andi dan Budi pun setuju.
"Jadi ketua kita Anton dan wakilnya Cinta ya." Ucap Mira.
"Iihh kalian ini." Cinta cemberut. Tiba-tiba handphone Cinta berbunyi,ada pesan masuk. Cinta tersenyum dan langsung membalasnya.
Mereka lalu mulai mengerjakan tugas kelompok. Hampir pukul lima sore,tugas pun selesai.
"Ayo di minum." Tawar Anton.
Mereka lalu minum dan makan cemilan yang di sediakan oleh Anton.
"Aku pulang ya." Pamit Tania.
"Aku juga." Ucap Andi dan Budi.
"Cin,kamu sudah minta jemput belum?"
"Eh iya aku sampai lupa sih." Cinta buru-buru menghubungi sopirnya. Duuhh,jaraknya setengah jam lagi. Keluh Cinta dalam hati.
"Cin,aku tinggal ya?" Pamit Mira.
"Loh,kok kalian pulang semua sih?" Protes Cinta.
"Kan ada Anton." Jawab Mira.
Iiihh. Gerutu Cinda dalam hati.
"Ya Cin,aku pulang duluan nanti mama aku nyariin." Mira beralasan.
"Hmm,iya deh." Jawab Cinta menahan kesal.
Mira pun segera pulang,tinggal Cinta berdua dengan Anton.
"Minumnya mau nambah,Cin?" Tawar Anton.
"Tidak,terimakasih." Jawab Cinta. Tunggu di luar saja ya." Ucap Cinta.
"Eh,Cin kamu belum tulis nama anggota kita loh." Ucap Anton.
"Oh iya." Jawab Cinta. Cinta kembali duduk.
Cinta menoleh dan langsung kaget. "Anton,kamu apa-apaan?" Cinta mendorong wajah Anton yang hendak menciumnya.
"Cin,aku tuh sejak pertama lihat kamu sudah suka." Anton masih berusaha mencium Cinta.
"Jangan gila kamu!"
Anton memegangi tangan kiri tangan Cinta. Cinta berusaha mengelak.
"Jangan jual mahal kamu Cin! Aku tau siapa kamu!"
"Apa maksud kamu?"
"Kamu itu terlahir tanpa ayah,kan? Sudahlah kamu pasti sama saja seperti. . ."
Plak! Cinta mendaratkan telapak tangannya ke pipi kiri Anton.
"Tutup mulut kamu!" Mata Cinta mulai berkaca-kaca. "Jangan kamu hina bundaku!" Cinta makin emosi.
"Beraninya kamu!"
"Tolooong!" Teriak Cinta.
"Di rumahku tidak ada siapa-siapa!" Anton menyeringai. "Kamu harus membayar tamparan kamu ini!"
"Anton,kamu jangan gila. Kita masih kecil,masih sekolah!"
Tapi Anton tidak peduli. Dia terus berusaha berbuat tidak senonoh pada Cinta. Tentu saja tenaga Cinta tidak sekuat Anton. Cinta tidak bisa menahan air matanya.
Tapi tiba-tiba. . .
"Cinta!" Seru seseorang dari arah pintu.
Cinta menoleh. "Aaron!" Teriak Cinta.
Aaron segera menghampiri mereka. Bukk bukk! Aaron berkali kali memukul wajah dan perut Anton yang tidak siap dengan serangan dari Aaron.
"Aaawww!" Teriak Anton. "Siapa kamu? Kurang ajar!" Ucap Anton menahan sakit.
__ADS_1
"Aku mau pulang! Aku mau pulang!" Cinta terisak.
"Aku mau menghabisi dia dulu!" Ucap Aaron.
"Aku mau pulaangg!" Ucap Cinta dengan wajah memohon. Wajahnya sudah penuh dengan airmata.
"Hhh,baiklah Cin." Ucap Aaron akhirnya,melihat Cinta yang ketakutan. "Ingat,urusan kita belum selesai!" Ancam Aaron pada Anton.
"Aku akan balas kamu!" Ucap Anton.
"Aku tunggu!" Sahut Aaron.
Aaron lalu menoleh ke arah Cinta. "Ayo,aku antar kamu pulang." Ajak Aaron. Cinta menganguk.
Aaron meraih tangan Cinta dan membawanya keluar dari rumah Anton.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Aaron sambil menatap Cinta. Beruntung Anton belum berhasil menyentuh gadis itu. Hanya rambutnya yang terlihat kacau.
Cinta mengangguk. "Pulang." Pintanya. Tangisnya mulai reda karena merasa sudah aman.
"Tapi aku cuma pakai sepeda motor. Kamu mau naik sepeda motor?"
Cinta mengangguk.
Mereka langsung meninggalkan rumah Anton.
"Kamu sudah pernah naik sepeda motor?"
"Belum."
"Pegangan ya,nanti kamu jatuh!"
"Iya."
Cinta tidak tau jika handphonenya terus berdering karena sopirnya yang terus menghubunginya.
Tanpa sadar dia memeluk Aaron dari belakang dengan sangat erat. Masih ada trauma di hatinya.
Setengah jam motor Aaron berhenti di depan pagar rumah Cinta.
"Bener ini rumah kamu?" Tanya Aaron.
"Iya."
Cinta lalu turun. "Terimakasih." Ucap Cinta.
"Masuklah. Jangan sedih lagi.Nanti aku telpon ya!"
Cinta mengangguk lalu masuk ke rumahnya dengan Aaron yang terus menatap ke arahnya.
"Syukurlah aku tidak terlambat." Gumam Aaron. Aku sayang kamu,Cin. Batinnya.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. Maaf jika ada typo-typo ya. jangan lupa like dan komennya. Terimakasih.
ππ
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
0508/2121