
Di ruang makan sudah ada mami dan papi Dinda yang menunggu.
"Seno? Bagaimana keadaan kamu?" Tanya papi Dinda.
"Alhamdulillah sudah lebih baik,pi." Jawab Seno.
"Hari ini ijin saja dulu." Saran mami.
"Iya mi. Mau jadi pengawal ibu dokter juga hari ini." Ucap Seno sambil melirik ke arah Dinda yang baru saja menghidangkan semangkuk bubur hangat ke hadapan Seno.
Dinda hanya senyum-senyum saja.
"Kamu mau kerja hari ini?" Tanya papi sambil menatap ke arah Dinda.
"Iya pi,aku ada satu operasi. Sudah itu baru pulang." Jawab Dinda.
"Lalu besok dan seterusnya bagaimana?"
"Hmm,aku bingung."
"Ya sudah sarapan saja dulu,nanti lanjut lagi ngobrolnya." Ucap mami Dinda.
Sepuluh menit selesai sarapan,mami mengajak mereka ke ruang keluarga untuk membahas masalah yang terjadi kemarin.
"Bagaimana? Kamu sekarang tidak aman,nak. Papi takut dia akan muncul lagi."
"Iya pi,dia memang bilang akan datang lagi." Jawab Dinda.
"Menurut kamu bagaimana,Seno?" Tanya papi sambil melirik ke arah Seno.
"Maaf pi,mi,kalau Seno inginnya Dinda kerja di klinik mami saja. Kan lebih aman di sana. Ada kamar juga untuk Dinda istirahat kalau sedang kelelahan." Terang Seno.
"Hmm,mami setuju saja. Karena klinik itu juga nantiny Dinda yang meneruskan sedangkan masnya Danis tidak bisa. Dia lebih suka jadi polisi."
"Hmm,maksud papi tuh besok bagaimana? Kapan kamu mau resign? Kan tidak mungkin suami kamu tidak kerja hanya nunggui kamu di Rumah Sakit?" Tanya papi sambil melirik ke arah Dinda.
"Hari ini aku akan bilang mau resign. Besok baru mau ajukan suratnya,pi."
"Berapa lama waktunya?"
"Aku belum tau pi,aku usahain lebih cepat." Jawab Dinda.
"Hmm. Seno,kamu juga harus jaga diri. Dia sangat berbahaya." Ucap papi.
"Iya pi. Seno akan lebih hati-hati."
"Berangkat sekarang saja,mas. Operasinya jam sepuluh. Ini hampir jam delapan." Ajak Dinda.
"Ya sudah kalian hati-hati di jalan ya." Pesan papi Dinda.
"Mami sama papi juga mau berangkat."
"Iya mi,pi."
***
Seno melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat Dinda bekerja. Hampir satu jam mereka baru sampai. "Mas tunggu di mobil saja ya." Ucap Seno sebelum Dinda turun.
"Hmm,iya mas. Terimakasih ya mas." Dinda kemudian memberikan pelukan juga kecupan untuk Seno. Lalu mencium punggung tangan suaminya sebelum turun dari mobil.
"Kalau mau keluar,telpon mas dulu. Jangan pernah sendirian,ya!"
"Iya mas. Mas juga hati-hati. Aku sayang mas!"
"Mas juga sayang kamu."
Dinda segera turun dari mobil.
"Hhh,ada-ada saja." Gumam Seno sambil memperhatikan istrinya yang baru saja masuk ke dalam gedung Rumah Sakit.
__ADS_1
Satu jam menunggu,dia mulai bosan. Seno akhirnya turun dari mobil dengan memakai topi dan juga kacamata.
Seno lalu berjalan menuju ruang OK yang dia tau tempat istrinya akan melakukan operasi. Dia duduk tidak jauh dari sana sambil memperhatikan orang yang lalu lalang.
Satu jam lebih,ada satu orang dokter yang keluar,di ikuti oleh Dinda di belakangnya.
"Bukannya itu dokter yang waktu itu mau mengantar Dinda pulang?" Gumam Seno. Tangannya mulai mengepal. Dengan langkah cepat dia menghampiri Dinda dan dokter laki-laki itu.
"Ehheemm." Seno berdehem saat sudah sampai di dekat mereka yang masih asik mengobrol.
Dinda menoleh. "Mas?" Tanyanya kaget .
Dokter laki-laki itu memberikan senyum lalu menganggukkan kepalanya. "Saya permisi dulu." Pamitnya.
"Kenapa dokter itu? Mau mengantar kamu pulang lagi?" Tanya Seno pelan, menahan emosinya.
"Mas. Kita hanya sedang membicarakan pasien tadi." Jawab Dinda.
"Oohh,jadi dia dokter bedah juga?"
"Iya mas."
"Ketemu terus tiap saat ya."
"Hmm,mas."
"Lalu kenapa jadi berhenti ngobrol pas mas datang?"
"Kita hanya berteman saja. Ngobrol juga tentang pasien."
"Hmm,setiap selesai mengoperasi pasien pasti di obrolin ya?"
"Sudah donk mas,Kita pulang yuk. Aku tadi sudah bilang kalau mau resign."
"Kamu yakin mau resign,nanti tidak bisa bertemu lagi dengan teman kamu itu."
"Mas."
"Belum mau pulang?"
"Mas sih terserah ibu dokter saja. Kalau masih ada yang mau di obrolin ya mas tunggu di mobil saja." Ucap Seno kemudian segera berlalu dari sana meninggalkan Dinda yang mulai kesal dengan sikap suaminya.
Dinda segera menyusul Seno. "Mas." Pangginya.
Seno masih melangkah.
"Mas?" Panggil Dinda lagi karena langkah kali Seno semakin lebar.
Hhhh,Dinda merasa kakinya sakit. Dia lalu duduk di bangku panjang. "Mas Seno kalau sudah cemburu jelek banget." Keluh Dinda.
Dinda menunduk untuk memijat-mijat kakinya yang terasa pegal sambil menoleh ke arah dimana Seno berjalan. Suaminya itu sudah tidak terlihat lagi.
Kenapa mas Seno mesti cemburu begitu? Apa masih belum mengerti perasaanku. Batin Dinda. Wajahnya terlihat murung. Setelah pegalnya berkurang,Dinda lalu berdiri ingin menyusul lagi suaminya.
"Hmm,mas?" Kaget Dinda,ternyata Seno sudah berdiri di sampingnya.
"Ayo pulang." Seno meraih tangan Dinda. Mereka berjalan pelan menuju parkiran mobil.
Seno membukakan pintu mobil untuk Dinda. Kemudian dia pun naik dan langsung menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan Rumah Sakit.
Dinda menatap ke jendela mobil,melihat ramainya kendaraan yang lalu lalang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Seno.
Saat di lampu merah,Seno menggenggam tangan Dinda hingga Dinda kaget dan menoleh ke arahnya. Hanya beberapa detik saja Dinda kembali melihat ke jendela.
Hampir satu jam,mereka akhirnya sampai di rumah Dinda. Dinda membuka pintu mobil sendiri lalu langsung masuk ke dalam rumah.
Seno segera menyusulnya. Sampai di anak tangga,Seno tiba-tiba menggendong Dinda membuat Dinda kaget tapi dia tidak menolak.
Sampai di kamar,Seno menurunkan Dinda lalu mendudukkannya di sofa. Seno berlutut lalu memijjat kaki Dinda. Dinda diam saja.
__ADS_1
"Masih pegal kakinya?" Tanya Seno setelah lebih lima menit memijat kaki Dinda. Dinda diam saja. Seno kembali memijat kaki Dinda.
Beberapa menit,Seno duduk di samping Dinda yang tetap membisu. "Maafin mas. Entah kenapa mas kesal banget sama teman kamu itu."
"Kesal sama orang lain,marahnya sama aku." Ucap Dinda lirih. Wajahnya terlihat sedih.
"Hmm,maafin mas ya. Kakinya masih sakit?"
"Biarkan saja."
Seno lalu memeluk Dinda. "Sudah ya marahnya."
"Yang marah tuh mas,bukan aku. Maaf aku selalu membuat mas marah."
"Sayang,maafin mas donk. Mas tidak bisa lihat kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain. Apalagi sampai ngobrol akrab gitu."
"Kan bukan aku yang mulai. Aku yang kena marah."
"Ssssstt,maafin mas. Jangan sedih lagi ya."
"Aku sampai hampir lari menyusul mas tapi mas tidak peduli,tau-tau sudah tidak terlihat lagi."
Seno makin mengeratkan pelukannya. Dia merasa bersalah. Tidak seharusnya meninggalkan Dinda tadi.
Beberapa menit,Seno melepaskan pelukannya. Mata Dinda sudah berkaca-kaca. Seno lalu mendekatkan wajah mereka. Mereka saling menatap satu sama lain. Lalu Seno mulai mengecup bibir istrinya itu. Dinda tidak membalas. Seno mengulangi lagi dan lagi sampai Dinda mau membalasnya.
Beberapa detik,Dinda mendorong tubuh Seno. Dinda menarik nafas dalam-dalam. "Hhhh,mas. jangan lama-lama. Aku susah bernafas."
Seno tersenyum lalu mendekatkan lagi wajah mereka dan kembali mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Hmm,mas."
Tiba-tiba. Krriiuukk.
Seno melepaskan ciumannya. "Kamu lapar,hmm?" Tanyanya sambil mengusap lembut bibir Dinda.
Dinda mengangguk. "Mandi dulu ya baru makan."
Dinda kembali mengangguk. Mereka lalu sama-sama masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,moga suka. ππ
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
2121