
Tanpa terasa sudah satu bulan pernikahan Dinda dan Seno.
Saat mereka baru saja selesai dengan aktifitas malam. "Mas,kita nikah sudah satu bulan ya. Tidak terasa." Ucap Dinda dalam pelukan Seno.
"Hmm,iya ya. Din,mas mau ajak kamu pindah ke apartemen. Kamu mau kan?" Tanya Seno.
Dinda menoleh. "Mas punya apartemen?" Tanya Dinda kaget.
"Iya,tapi apartemennya masih minta jatah tiap bulan."
Dinda mengernyitkan dahinya tidak mengerti. "Maksudnya,mas?"
"Tiap bulan mas masih harus bayar. Tidak apa-apa kan?"
"Oohh,tidak apa-apa kok mas. Hmm,itu apartemen buat siapa,mas?"
"Ya buat kita? Memangnya buat siapa lagi,hmm?"
"Hmm,kirain."
"Kirain apa?"
"Hmm,kirain buat mas waktu sama. . ." Dinda menggantung ucapannya.
"Sama siapa? Mas beli sebulan sebelum kita nikah!" Tegas Seno yang paham maksud Dinda.
"Hmm?"
"Tidak percaya ya? Nanti mas lihatin buktinya ada di kamar mas di rumahnya mas Rey." Terang Seno.
"Hmm,percaya kok mas."Jawab Dinda. Jadi mas Seno sengaja beli apartemen buat kita berdua. Gumam Dinda sambil tersenyum di balik dada Seno.
"Jadi kamu mau kan tinggal di apartemen sama mas?"
"Hmm,Dinda tanya mami dulu ya."
"Hhhh,kalau mami tidak setuju?"
"Dinda akan rayu mami." Janji Dinda.
"Bener?"
Dinda mengangguk.
"Terimakasih ya." Bisik Seno.
"Hmm,mas. Nanti siang kita makan di kafe itu lagi ya. Aku langsung ke sana,mas nyusul saja dari kantor."
"Kamu mas jemput saja!"
"Tidak usah,mas. Nanti habis waktu istirahat kalau jemput aku."
"Mas kan bebas mau istirahat kapan,asal perut lapar saja."
"Tapi aku kan tidak bebas,mas. Hari ini banyak yang operasi. Kalau sudah mau jalan,aku hubungi mas."
"Tapi kan mas yang bawa mobil. Apa kita bawa mobil sendiri-sendiri,hmm?"
"Hmm,aku maunya bareng sama mas! Kalau gitu aku saja yang bawa mobil. Mas aku anter duluan ya?"
"Hmm,kamu itu!" Cubit mesra Seno di pipi Dinda.
"Hmm mas,aku mau nya dekat-dekat terus sama mas." Ucap Dinda malu-malu.
"Mas juga." Sahut Seno.
Dinda mendongakkan kepalanya. "Benerkah,mas?" Tanya Dinda rasa tidak percaya.
"Tentu saja,kenapa tidak percaya ya?"
Dinda langsung tersenyum bahagia,hatinya berbunga-bunga.
"Belum mau tidur ya? Belum ngantuk?"
Dinda hanya menggeleng.
__ADS_1
"Kalau gitu ikut mas saja,yuk!" Ajak Seno.
"Hmm,mau ajak kemana malam-malam begini?"
"Mau ajak kamu terbang lagi!"
"Iihh mas,kirain ajak kemana." Ucap Dinda malu-malu. Dia merasakan jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
"Tidak mau ya,hmm?"
"Hmm,mau. . ." Jawab Dinda lirih.
Seno membalik badannya menghadap ke Dinda. "Cup." Seno mencium pucuk kepala Dinda dengan mesra. Lalu turun ke dahi,mata,hidung,pipi dan terakhir lebih lama dan dalam. . .
***
Seno sedang menuju ke kafe di depan perusahaan keluarga Rey. Dengan langkah sedikit cepat takut Dinda sudah datang lebih dulu.
Sampai di kafe,Seno duduk sedikit dekat pintu karena meja yang biasanya sudah ada yang menempati.
Saat Seno sedang menunggu Dinda,ada yang tiba-tiba duduk di kursi di depannya.
"Fia?" Seno kaget.
"Mas."
"Kamu? Sedang apa di sini? Sama siapa?" Tanya Seno gugup.
"Aku sengaja ke sini karena tau mas sering makan siang di sini. Aku tunggu mas dari tadi."
"Hmm,Fia. . ."
"Mas,aku kangen sama mas. Maafkan aku waktu itu. . ."
"Sudah Fia,jangan di bahas lagi." Pinta Seno.
"Mas,aku ingin kita menikah lagi! Aku tidak bisa tanpa mas!" Pinta Fia dengan wajah memohon.
"A apa?" Seno kaget.
"Hmm,Fia. Mas. . ."
"Aku tau mas masih cinta sama aku. Hubungan kita tidak sebentar mas. Aku benar-benar tidak bisa melupakan mas!"
"Fia. . ."
"Mas,mau kan nikah lagi sama aku?"
"Tapi,Fia .."
"Tapi apa mas? Mas sudah tidak cinta lagi sama aku?"
"Mas,mas masih cinta sama kamu tapi mas sadar cinta tidak harus memiliki!" Tegas Seno.
"Kita buka lembaran baru,mas. Hanya ada aku sama mas!"
"Tapi Fia,mas tidak bisa."
"Kenapa? Mas sudah punya yang lain? Mas bilang masih cinta sama aku!"
"Tapi cinta tidak harus memiliki!"
"Kenapa? Aku belum menikah lagi. Mas juga belum menikah lagi kan?" Fia meraih tangan Seno tapi buru-buru Seno lepaskan.
"Hmm,maafkan mas,Fia."
"Kenapa?"
"Mas,mas sudah menikah lagi."
"Apa? Se- secepat ini mas?" Fia kaget. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia terlihat syok.
"Maafkan mas,Fia!"
"Mas bilang masih cinta sama aku. Lalu dia? Mas juga cinta sama dia?"
__ADS_1
Hhh,Seno menghela nafas berat. "Mas,mas sedang mencoba mencintainya."
"Jadi mas tidak cinta sama dia? Kenapa mas tidak ceraikan saja dia lalu menikah lagi denganku?"
"Fia!" Ucap Seno dengan nada tinggi. Dia langsung berdiri dan tanpa sengaja menoleh ke arah pintu masuk. Matanya membulat saat tau ada seseorang yang sangat dia kenal sedang berdiri di depan pintu. Menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba seseorang itu keluar dari pintu. Seno langsung mengejarnya.
"Din. . . Dinda!" Panggil Seno. Fia mengikutinya dari belakang.
Dinda sampai di mobilnya lalu segera melajukan mobilnya dari sana. Seno hanya sempat memegang kaca jendela mobil. "Dinda. . ."
"Siapa dia,mas?" Tanya Fia.
"Istriku. Dia istriku,Fia! Aku tidak akan pernah menceraikannya!" Tegas Seno.
"Tapi mas tidak cinta sama dia,mas." Fia meraih tangan Seno tapi segera Seno tepiskan karena dia segera naik taxi yang kebetulan baru menurunkan penumpang di depan kafe.
"Mas Seno!" Teriak Fia. "Aku akan merebut kamu kembali,mas!" Gumamnya.
Sementara Seno masih bisa melihat mobil Fia karena jalanan sedikit macet saat jam istirahat.
"Ikuti mobil warna putih itu ya pak!" Titah Seno pada pak sopir. Sementara dia terus menghubungi istrinya itu tapi sia-sia.
"Angkat Din. . ." Gumamnya penuh harap.
"Ya Allah,apa saja yang sudah Dinda dengar tadi?" Gumamnya khawatir. Apa aku memang belum mencintainya. Aahh entahlah. Seno mengusap wajahnya kasar.
Seno melihat mobil Dinda menuju daerah laut.
Mau kemana kamu Din? Batin Seno. Dia begitu cemas.
Setelah setengah jam,mobil Dinda terlihat berhenti di jalanan yang jarang di lewati kendaraan. hanya satu kilometer dari laut.
"Stop di sana,pak!" Tunjuk Seno di dekat rumah di pinggir jalan. "Ini,pak. Terimakasih!" Ucap Seno seraya menyerahkan beberapa lembar uang pada sopir taxi.
Seno berlari sekencangnya menuju mobil Dinda yang terparkir asal. Setelah sampai,Seno menggedor-gedor kaca jendela mobil di samping Dinda.
"Din,buka Din!" Pinta Seno.
Dinda justru menyalakan lagi mobilnya. Seno langsung berdiri di depan mobil untuk menghadang. Tapi karena sepi,mobil Dinda mundur dan langsung berbelok arah meninggalkan Seno sendirian di sana.
"Dindaa. . .!" Teriak Seno. Mobil Dinda terus melaju dengan kencang. Seno mengejarnya sesaat sambil menatap mobil Dinda dengan tatapan nanar.
Seno akhirnya terduduk di jalan. "Dinda. . ." Ucapnya lirih. Dadanya terasa sesak. "Maafkan mas."
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor yang masih recehan ini. Terimakasih ππ
.
.
.
.
.
.
0908/1414
__ADS_1