Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 84 ( S2 )


__ADS_3

Rey melihat arlogi di tanganya. Sudah pukul sepuluh. "Cepat sekali." Gumamnya.


Rey lalu menelpon sekretarisnya yang ada di kantor.


"Ya hallo. Saya mau pulang sebentar. Kalau ada yang penting,segera telpon saya atau pak Toni!" Rey memutuskan panggilan telponnya.


Rey lalu buru-buru pulang untuk menjemput Putra dan Putri di sekolah mereka,yang biasanya di jemput oleh opanya. Setelah itu mereka langsung pulang ke rumah.


Siti sedang menunggu anak dan suaminya di rumah. Makan siang juga sudah tersedia di meja makan.


Setelah yang di tunggu pulang,Siti langsung mengajak mereka makan siang bersama.


"Ayo makannya di habiskan,kita mau jenguk kak Cinta!" Titah Siti pada kedua anaknya.


"Horee,ketemu sama kak Cinta." Seru Putri.


"Kak Cinta masih sakit ya ma?"


"Iya sayang. Ya sudah kita makan dulu!"


Setelah selesai makan siang,mereka bersiap-siap untuk ke rumah bundanya Cinta.


"Mama,kak Faqih sudah pulang sekolah belum ya? Adek mau main sama kak Faqih." Tanya Putra saat mereka sudah dalam perjalanan.


"Mungkin sudah pulang nak."


Setengah jam kemudian,mereka sudah sampai di kediaman keluarga bundanya Cinta.


Rey memarkirkan mobilnya di halaman rumah.


Tok tok. . .


"Assalammualaikum." Siti mengucapkan salam saraya mengetuk pintu.


Beberapa menit pintu terbuka.


"Wa alaikumsalam. Mbak Siti?" Sahut bundanya Cinta. Mereka lalu saling memeluk.


Putra dan Putri mencium punggung tangan Cyndia. Rey hanya tersenyum.


"Mari silahkan masuk." Ajaknya.


Cyndia mengajak mereka ke ruang keluarga.


"Silahkan duduk."


Mereka lalu duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Terimakasih. Apa kabarnya mbak? Sudah tidak muntah-muntah lagi ya?" Tanya Siti.


"Alhamdulillah. Iya mbak,sudah tidak muntah lagi. Kabar mbak bagaimana?"


"Masih suka muntah sesekali."


"Oohh,iya baru berapa bulan ya mbak?"


"Aku baru mau jalan tiga bulan,mbak."


"Mama,kak Faqih kok tidak kelihatan?" Tanya Putra seraya menarik-narik tangan mamanya.


"Oh iya. Mbak,kak Faqih nya ada? Ini Putra ingin ajak kak Faqih main."


"Oohh,Faqih ada di kamarnya. Sebelahan sama kamar kak Cinta."


"Oh iya mbak. Kita ke sini mau lihat Cinta. Bagaimana keadaannya sekarang."


"Kalau begitu,ayo kita ke kamarnya saja." Ajak Cyndia.


"Hmm,kalian papa tinggal ya. Papa mau ke kantor lagi." Ucap Rey.


"Iya mas. Nanti kita pulang mas jemput apa kita naik taxi?"


"Tunggu mas jemput!" Titah Rey.


"Hmm,iya mas."


"Ya sudah mas pergi dulu. Mbak,titip mereka ya." Rey melihat ke arah Cyndia.

__ADS_1


"Oh iya,tidak masalah." Jawab Cyndia.


Rey lalu keluar dari rumah.


"Ayo naik,kita ke kamar Cinta." Ajak Cyndia.


"Maaf ya mbak,kita merepotkan saja."


"Ooh,tidak kok mbak. Aku malah senang kalian datang. Sudah lama banget kan tidak main kesini." Ucap Cyndia lalu mulai menaiki anak tangga.


"Iya mbak."


Sampai di depan kamar Cinta,mereka lalu mengetuk pintu. Tok tok . . . " Iyaa. . ." Sahutan dari dalam kamar.


Cyndia membuka pintu kamarnya.


"Sayang,kamu sedang apa? Ini ada tamu." Cyndia masuk lebih dulu,Siti menyusul di belakang.


"Bunda? Tamu siapa,bun?" Cinta bangun lalu duduk di atas kasur.


Siti berjalan mendekati Cinta.


"Mama?" Cinta kaget sekaligus senang. Dia merentangkan kedua tangannya ingin memeluk mamanya. Siti membalas pelukannya penuh kasih sayang.


"Bagaimana keadaan kamu,nak?"


"Cinta sudah baikan kok ma. Terimakasih ya ma,sudah jenguk Cinta."


"Alhamdulillah. Mama khawatir ingin lihat kamu langsung. Tuh adek Putri juga kangen." Ucap Siti seraya menunjuk Putrinya yang masih berdiri di depan pintu.


"Loh kok adek Putri berdiri di depan pintu. Masuk donk dek!"


Putri segera mendekati Cinta lalu memeluknya. "Kata mama kak Cinta sakit ya?"


"Iya sayang tapi sekarang sudah mendingan kok. Terimakasih ya,kakak kangen sama Putri. Eh adek Putra mana,ma? Tidak ikut?" Tanya Cinta seraya menoleh kiri kanan mencari keberadaan adek laki-lakinya.


"Putra langsung main sama Faqih di kamarnya." Jawab Siti.


"Mbak Siti. Aku tinggal ya. Kalian ngobrolah." Pamit bundanya Cinta.


"Iya mbak."


Sudah beberapa hari pelaku sebenarnya belum tertangkap. Orang suruhannya pun berkeras tidak mau mengaku dan memberitahukan siapa di balik penculikan Cinta dan tabrakan yang di alami Seno dan Dinda.


Toni pun belum mendapatkan info tentang seseorang yang di cari Rey.


Minggu pagi saat Cinta sedang lari-lari kecil di halaman rumahnya,tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di luar pagar.


"Aaron?" Cinta kaget melihat ke arah Aaron lalu mendekatinya.


"Cintaku? Sedang olahraga ya?"


"Hmm,iya. Kamu dari mana?"


"Aku dari rumah."


"Hmm,dari rumah langsung ke sini?" Tanya Cinta.


"Iya,semalaman tidak bisa tidur."


"Hmm,kenapa juga tidak bisa tidur."


"Kangen seseorang."


"Hmm,ya sudah sana temui seseorang itu." Wajah Cinta terlihat cemberut.


"Ini sedang menemuinya.Dia sedang lari-lari di halaman rumahnya."


"Iiiihh." Wajah Cinta jadi berubah merah.


"Hmm,aku tidak di suruh masuk nih? Ada pagar pembatas di antara kita yang sangat tinggi?"


Cinta tersenyum. "Aku bilang pak satpam dulu ya. Dia yang pegang kunci pagar." Pamit Cinta yang segera berlalu dari sana.


Lima menit kemudian,Cinta kembali bersama satpam untuk membuka pintu pagar.


"Silahkan masuk,den." Ucap pak satpam ramah.

__ADS_1


"Terimakasih pak. Panggil Aaron saja jangan 'den',ya?"


"Hehe,iya mas Aaron."


Aaron lalu mengikuti langkah kaki Cinta. Mereka duduk di ayunan dekat kolam ikan.


"Wah,ikannya cantik-cantik seperti kamu." Puji Aaron.


"Hmm,kamu pinter ngerayu dapet belajar dari mana?" Tanya Cinta untuk menutupi rasa gugupnya.


"Belajar sendiri langsung praktek ke orangnya."


"Hmm."


Tiba-tiba ada yang mendekati mereka. "Non Cinta? Di suruh ibu sarapan dulu." Ucap asisten rumah tangganya.


Cinta dan Aaron menoleh. "Hmm iya bi. Terimakasih." Cinta lalu menoleh ke arah Aaron. " Kamu mau sarapan di sini?"


"Terimakasih,aku tunggu saja di sini tidak apa-apa kan?" Tolak Aaron halus.


"Ikut saja tidak apa-apa kok. Bunda pasti suruh kamu ikut sarapan."


"Hmm,aku sudah sarapan kok."


"Masa? Kan pagi-pagi sudah jalan ke sini."


"Sarapan di luar. Kan banyak yang jual sarapan pagi-pagi." Aaron masih menolak.


"Hmm,yasudah deh. Aku masuk dulu!" Pamit Cinta.


Cinta lalu masuk ke rumahnya. Di ruang makan,keluarganya sudah menunggu.


"Sayang,kata bibi ada teman kamu ya? Ayo ajak makan sekalian." Titah ayahnya.


"Cinta tadi sudah ajak,yah. Dia bilang sudah sarapan di luar."


"Hmm,ajak saja. Mungkin dia malu!" Titah oma.


Cinta lalu menoleh ke bundanya. Bundanya mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah,Cinta ajak dia kesini ya." Pamitnya lalu segera menemui Aaron yang masih duduk di ayunan di dekat kolam ikan sambil memainkan handphonenya.


"Aaron." Panggil Cinta.


Aaron menoleh. "Iya,Cin?"


"Kamu di suruh ikut sarapan. Ayo! Ayah,bunda sama oma nungguin sekarang!" Ajak Cinta.


"Tapi,aku tidak enak." Aaron terlihat ragu.


"Lebih tidak enak kalau menolak kan?" Ucap Cinta.


"Hmm,baiklah kalau begitu." Aaron berdiri lalu mengikuti langkah kaki Cinta.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. maaf jika masih ada typo. 😁😁


.


.


.


.


0630

__ADS_1


__ADS_2