Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 106


__ADS_3

Seperti biasa,Rey memakai pakaian khusus dan masker terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang ICU. Dia mengikuti suster dari belakang.


Dia melihat istrinya sudah bisa rebahan tidak berbaring seperti beberapa hari sebelumnya.


"Yank,kamu." Rey menatap istrinya dengan perasaan haru. Dia lalu mendekat dan langsung memeluk istrinya itu.


"Mas."


"Bagaimana keadaan kamu,hmm?" Tanya Rey lalu duduk di sampingnya.


"Masih lemas,sedikit susah nafas." Jawab Siti lemah.


"Hmm,pantes kok masih pake selang oksigen."


"Iya mas. Bagaimana bayi kita,mas?"


"Dia di inkubator,yank." Jawab Rey.


"Hmm,aku ingin lihat dia mas."


"Kita tanya dokter dulu boleh apa tidak,yank."


"Iya mas. Maafin aku ya mas. Gara-gara aku,bayi kita jadi. . ."


"Ssstt sudah yank. Semua sudah terjadi. Ini juga kesalahan mas. Biar ini jadi pengalaman dan pelajaran hidup kita." Ucap Rey berusaha menghibur istrinya.


"Bu Siti,coba minum susu ini dulu ya. Biar ada sedikit tenaga." Titah suster yang sudah berdiri di depan Siti.


Rey mengambil gelas berisi susu dari suster lalu memberikan pada istrinya.


"Minum dulu,yank." Titah Rey lalu membantu istrinya itu minum.


"Sudah,mas." Siti menyerahkan lagi gelas pada suaminya.


"Tinggal sedikit,sayang tidak di habiskan,yank." Ucap Rey.


"Perutku mual,mas." Tolak Siti.


"Hmm,yasudah." Rey lalu menyimpan gelas ke atas meja. "Ada paman Supri sama Radit,yank. Sudah datang dari sejak kamu melahirkan. Paman mendonorkan darahnya untuk kamu." Terang Rey.


"Paman Supri datang,mas?" Tanya Siti kaget.


"Iya yank,paman donorkan darahnya satu kantong untuk kamu." Terang Rey.


"Hmm,merepotkan paman saja,mas. Harus jauh-jauh datang kesini dari desa." Ucap Siti.


"Paman senang kok bantu kamu yank. Kamu mau ketemu sama paman,hmm?"


"Boleh,mas?"


"Tentu saja boleh tapi gantian sama mas. Mas keluar dulu ya?"


"Hmm,iya mas."


Rey lalu keluar dari ruang ICU. "Seno,kamu bisa ke ruang NICU sebentar gantikan paman Supri yang mau kesini?"

__ADS_1


"Oh iya mas. Aku kesana sekarang. Nanti paman aku suruh kesini ya." Pamit Seno. Dia buru-buru membawa laptop yang belum sempat dia tutup. Namun saat dia berdiri,seseorang menabraknya hingga laptopnya jatuh,tapi untungnya jatuh ke atas sepatunya.


"Kamu kok jalan tidak lihat-lihat lagi sih?" Hardik sesorang yang menabraknya.


"Loh bukannya kamu yang lari-lari jadinya nabrak saya?" Seno balik marah. Dia lalu memeriksa laptopnya yang sudah tertutup dan saat dia buka dan coba hidupkan lagi ternyata tidak bisa.


"Iihh kamu yang asal jalan saja kok malah salahin saya,sih?" Orang itu tidak mau kalah.


"Eehh,kamu itu yang asal. Awas ya kalau laptop saya rusak,tanggung jawab kamu!"


"Iiihh laptop gitu aj. Saya bisa ganti sepuluh laptop seperti itu!" Ucapnya angkuh.


"Sombong banget jadi orang. Bukan masalah laptopnya tapi masalah kerjaan saya,tugas saya yang masih tersimpan di laptop ini. Kalau rusak,hilang semua." Kesalnya.


"Iihh,itu bukan urusan saya!" Ucapnya sambil berkacak pinggang.


"Kamu!" Tunjuk Seno.


"Dinda?" Teriak seseorang dari jauh.


Ternyata yang menabrak Seno bernama Dinda. Dia menoleh ke arah orang yang memanggilnya,sejurus kemudian dia langsung berlari menjauh.


"Dinda!" Teriaknya lagi saat yang di panggil malah berlari makin menjauh.


"Rey,ada apa?" Tanya orang yang memanggil Dinda yang ternyata adalah dokter Layli.


"Dokter Layli? Oh,dia tadi nabrak adik saya sampai laptopnya terjatuh." Terang Rey.


"Apa? Haduh anak itu." Dokter Layli menggelengkan kepalanya.


"Dia Dinda,putri saya. Saya kejar dia dulu ya. Nanti soal laptopnya di bicarakan lagi." Ucap dokter lalu buru-buru menyusul putrinya.


"Yaaahh,putrinya dokter Layli,mas. Aduuhh!" Seno menepuk dahinya.


"Sudah tidak apa-apa. Kamu cepat susul paman,gantian jaga di sana!" Titah Rey.


"Hmm,tugas yang baru aku kerjakan tadi pasti hìlang semua deh." Ucapnya lirih lalu segera ke ruang NICU menggantikan paman Supri. Rey menggeleng sambil tersenyum melihat adik iparnya itu. "Kamu memang anak yang giat,Seno." Gumam Rey.


Rey lalu duduk di samping Radit yang tengah tertidur. Tak berapa lama,paman pun datang menghampiri Rey.


"Rey,Seno bilang Siti sudah sadar ya?" Tanya paman.


"Paman? Iya Siti sudah sadar. Siti mau ketemu sama paman." Terang Seno.


"Iya,paman masuk dulu ya." Pamit paman Supri yang di beri anggukan oleh Rey.


Paman lalu masuk ke ruang ICU setelah mengenakan pakaian khusus dan juga masker. Di lihatnya Siti sedang rebahan sambil melamun.


"Siti?" Panggil paman Supri.


Siti menoleh ke arah paman Supri. "Paman." Ucap Siti lalu menyalami paman Supri.


"Siti,bagaimana keadaan kamu?" Tanya paman.


"Alhamdulillah,sudah lebih baik. Hanya masih lemas saja." Jawab Siti. "Paman,terimakasih ya paman sudah repot-repot datang dan sudah mendonorkan darah buat aku." Ucap Siti.

__ADS_1


"Iya Siti. Kapanpun kamu butuh bantuan paman,paman akan selalu siap membantu kamu dan juga Seno." Jawab paman Supri tulus.


"Paman,terimakasih banyak. Entah kapan aku bisa balas kebaikan paman." Ucap Siti terharu.


"Siti,kamu dan Seno itu keponakan paman. Tentu paman akan dengan senang hati membantu kalian. Kamu juga pernah susah saat tinggal bersama paman,maafkan paman ya."


"Paman,aku tidak merasa susah pernah tinggal sama paman."


"Hmm,Siti kamu istirahatlah. Paman keluar dulu. Belum boleh lama-lama ngajak kamu ngobrol." Pamit paman.


"Iya paman. Terimakasih." Ucap Siti.


Paman lalu keluar dari ruangan Siti. Di luar ruangan Radit sedang ngobrol sama Rey.


"Radit,kamu sudah bangun?"


"Hmm pa,Radit mau menemani Seno jaga di depan ruang NICU." Pamit Radit. Dia lalu meninggalkan Rey dan juga papanya.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Rey dan paman Supri terlibat obrolan serius. Tiba-tiba suster memanggil Rey.


"Suami pasien Siti?" Panggil suster dari depan pintu ruang ICU.


Rey dan paman menoleh. Rey lalu berdiri dan menghampiri suster.


"Iya sus,saya." Ucap Rey.


"Begini,pak. Ibu Siti kan sudah sadar dan sudah bisa makan sedikit barusan. Kita tadi coba apakah ibu Siti ASInya keluar,ternyata bisa keluar dikit. Jadi bapak tolong belikan ini di apotek,agar ibu Siti bisa memompa ASInya untuk di berikan pada bayinya." Terang suster sambil menyerahkan kertas resep pada Rey.


"Hmm,alhamdulillah kalau ASInya bisa keluar." Ucap Rey dengan hati yang lega. "Saya segera ke apotek,sus." Ucap Rey lagi sambil menerima kertas resep dari suster.


"Paman,aku ke apotek dulu. Titip Siti ya paman." Pamit Rey.


"Iya Rey." Jawab paman.


Rey pun segera pergi ke apotek yang buka dua puluh empat jam. Karena sudah malam,jadi hanya ada beberapa orang saja yang sedang mengantri. Rey lalu menyerahkan kertas resep lalu duduk menunggu di panggil.


Setelah hampir setengah jam,Rey kembali lagi ke ruang ICU. Dari kejauhan di lihatnya paman sedang berbicara dengan seseorang. Setelah sampai di depan ruang ICU,barulah Rey tau dengan siapa paman Supri sedang berbicara.


"Papa?" Sapa Rey kaget tau papanya ada di sana.


"Rey,sudah dapat yang di suruh suster beli?" Tanya papa.


"Sudah pa. Papa sama siapa ke sini?"


"Papa sendirian,Rey. Papa ingin lihat istri dan anak kamu. Mama masih belum bisa kesini,Putri sedang rewel." Jawab papa.


"Hmm,kasihan Putri." Ucap Rey sedih.


"Ya sudah,kamu kasih ke susternya apa yang tadi kamu beli!" Titah papa.


"Iya pa,Rey masuk dulu." Pamit Rey lalu segera masuk ke ruang ICU.


NEXT


2506/1852

__ADS_1


__ADS_2