
Beberapa hari sejak Seno melamar Fia. Saat mereka baru saja selesai makan malam. Seno mengajak mbaknya untuk berbicara.
"Mbak,Seno mau nikah bulan ini." Ucap Seno.
"Bulan ini,dek? Apa tidak terlalu cepat?" Tanya Siti kaget.
"Tidak masalah mbak,Seno tidak ingin membuang waktu. Toh Fia sudah lulus kuliah."
"Hmm,kamu sudah mampu bertanggung jawab? Kalau mbak sih terserah kamu kalau memang kamu merasa dia yang terbaik untuk jadi istri kamu."
"Seno sudah mantap mbak. Dia beda dari gadis yang lain." Terang Seno.
"Hmm,baiklah. Kamu mau melamar dia lagi secara resmi apa langsung nikah saja?"
"Langsung nikah saja,mbak. Biar tidak buang waktu. Karena orang tuanya kan ada di desa." Terang Seno.
"Orang tua Fia tau kalau kalian mau nikah bulan ini?"
"Fia belum bilang sama orang tuanya,mbak."
"Hmm,jadi tanggal berapa?"
"Akhir bulan mungkin,mbak. Seno akan tanya orang tuanya kapan tanggal baiknya." Terang Seno.
"Hmm,ya sudah. Kamu juga harus cepat bilang sama mas Rey dan juga mama sama papa. Jangan sudah dekat waktunya baru kamu mau bilang." Titah Siti.
"Iya mbak. Ya sudah,mbak istirahatlah. Seno ijin mau ke rumah Fia dulu."
"Sudah malam ini,dek."
"Besok tidak sempat mbak,kerjaan kantor numpuk."
"Hmm,jangan lama-lama loh." Pesan Siti.
"Iya mbak."
Mereka lalu kembali ke ruang keluarga.
"Mama,mama dari mana?" Tanya Putra yang langsung bergelayut manja sama mamanya.
"Mama tadi sedang ngomong sama paman. Kamu sudah ngantuk belum? tidur yuk,biar tidak susah bangunnya!"
"Hmm,adek belum ngantuk ma. Sebentar lagi ya."
"Lima menit lagi ya?"
Putra mengangguk. "Ok deh."
"Hmm,ma,pa,mas Rey. Seno mau keluar sebentar ya." Pamit Seno.
"Iya,hati-hati di jalan." Pesan oma Asti yang di beri anggukan yang lain.
"Paman mau kemana sudah malam? Sebentar lagi mau tidur loh." Tanya Putra.
"Paman ada urusan sebentar,anak pinter. Kamu jangan malam-malam tidurnya ya." Ucap Seno sambil mengelus lembut kepala keponakannya itu.
Dia lalu segera keluar dari rumah. Mobil sudah dia siapkan sejak tadi.
Seno melajukan mobilnya ke arah rumah Fia. Setelah sampai,Seno memarkirkan mobilnya tidak jauh dari kontrakan.
Fia sudah keluar mendengar deru mobil Seno. "Mas,kok malam-malam kesini?"
"Hmm,besok mas banyak kerjaan jadi sempetnya sekarang."
"Ada apa memangnya mas?"
"Nanti kamu telpon orang tua kamu,bilang kita mau nikah bulan ini. Tanya tanggal yang bagus kapan." Terang Seno.
"Ehmm,beneran bulan ini mas?" Tanya Fia kaget.
"Kenapa? Kamu tidak mau cepat-cepat jadi istri mas?"
Fia tersenyum malu-malu. "Hmm,mau mas."
"Kirain tidak mau."
"Iihh,maulah!" Sahutnya sambil menundukkan kepala.
"Hmm,kalau mau,kamu tanya orang tua kamu. Gimana baiknya. Terus nanti nikahnya mau seperti apa."
"Iya mas. Kalau aku terserah mas saja mau seperti apa."
"Kalau terserah mas ya,akad nikah aj beres. Hemat lagi."
"Hmm. . .mas ini."
"Lah,kamu di tanyain terserah mas."
"Kalau ibu pernah bilang kalau anaknya nikah,mau orgenan."
"Nah makanya mas tadi tanya kan,nikahnya mau seperti apa. Biasanya kan pihak perempuan yang atur. Nikah di rumah kamu kan."
"I iya mas. Mas tidak marah misal ibu maunya seperti itu?"
"Kenapa harus marah?"
"Hmm,terimakasih ya mas."
"Terus,apa kamu mau di lamar secara resmi di desa?"
"Nanti Fia tanyain ibu ya mas."
"Hmm,yasudah mas cuma mau tanya itu. Mau tanya lewat telpon nanti kurang jelas. Mas pulang dulu ya." Pamit Seno.
"Hmm,iya mas. Hati-hati di jalan ya."
"Iya. Oh ya kalau ada kabar dari orang tua kamu,kabarin mas langsung ya." Pesan Seno.
"Iya mas."
"Mas pulang."
Seno segera naik ke mobilnya lalu meninggalkan rumah kontrakan Fia.
***
Pagi-pagi di perusahaan Rey. Seno baru saja sampai. Dia melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Tapi baru saja sampai di lobi,ada seseorang yang menarik tangannya. Seno kaget dan langsung menoleh.
"Kamu!" Ucap Seno dingin dan langsung menepiskan tangan orang itu.
"Seno,aku mau bicara penting. Kamu bisa kan?" Ucapnya dengan gaya manja.
"Maaf,saya sibuk."
__ADS_1
"Seno,kamu jangan sombong donk,mentang-mentang sekarang jadi wakilnya bos."
"Kalau saya sombong lalu apa hubungannya sama kamu. Tolong jangan pernah menampakkan wajah kamu lagi di hadapan saya." Tegas Seno.
"Hmm,mana mungkin aku tidak menampakkan wajahku di depan kamu. Aku kemarin sudah di terima kerja di sini tuh." Ucapnya dengan senyum menang.
"Apa? Siapa yang sudah menerima kamu kerja di sini?"
"HRD lah. Kan itu bukan bagian kamu."
Seno mengepalkan tangannya. Tanpa menoleh lagi,dia segera berlalu dari sana.
"Seno tunggu! Hmm,lihat saja nanti. Kamu pasti akan jadi milik aku." Ucapnya dengan senyum sinis.
Seno sudah sampai di ruangannya. Dia membuka jasnya lalu menaruhnya di belakang kursi yang biasa dia pakai.
"Hmm,kalau dia kerja di sini pasti sering ketemu. Aku tidak bisa ajak Fia kerja di sini,nanti dia macam-macam sama Fia. Huuhh!" Gumam Seno lalu mengusap rambutnya kasar.
Tanpa sengaja manik mata Seno menangkap selembar amplop kecil berwarna hitam di dekat tumpukan kertas.
Dia lalu membuka amplop tersebut. Ada secarik kertas berwarna putih.
'Semoga selalu bahagia dengan dia'
Seno kembali melipat kertas itu dan memasukkannya lagi ke dalam amplop.
"Siapa yang mengirimkan ini? Apa maksud kata-katanya?" Gumam Seno penasaran.
Dia lalu melihat CCTV yang ada di ruangannya. Dia mengernyitkan dahi.
"Cleaning servis,laki-laki. Hmm,pasti ada yang menyuruhnya." Gumam Seno.
Seno lalu menelpon bagian kepegawaian untuk bertanya tentang cleaning servis yang membersihkan ruangannya tadi pagi.
Sepuluh menit kemudian,cleaning servis itu sudah ada di hadapannya.
"Maaf pak Seno. Ada apa memanggil saya ya? Saya,saya hanya membersihkan ruangan ini pak. Saya tidak ambil apa-apa,pak. Saya tidak berani." Ucap cleaning service itu dengan wajah menunduk dan sedikit pucat.
"Hmm,saya belum bicara apa-apa kamu sudah bicara kemana-mana. Sudah tidak mau kerja di sini?" Ucap Seno tegas tapi sambil mengulum senyum.
"Ma-maaf. Saya,saya masih mau kerja di sini pak." Ucapnya terbata-bata.
"Hmm,makanya dengerin dulu saya bicara!"
"I iya pak."
"Hmm,kamu yakin tadi hanya membersihkan ruangan saya? Tidak ada yang lain?"
"Sumpah pak! Saya tidak berani macam-macam."
"Jangan sumpah-sumpah! Sudah bohong,pakai sumpah lagi."
"Tapi bener pak,saya-saya hanya membersihkan ruangan bapak,tidak ada yang lain." Ucapnya dengan suara bergetar.
"Lalu ini apa? Siapa yang meletakkan ini di meja saya?" Tanya Seno sambil menunjukkan amplop kecil berwarna hitam itu.
Cleaning servis itu mendongakkan kepalanya. "I,itu tadi orang ekspedisi yang kasih ke saya,pak. Katanya itu untuk pak Seno. Jadi saya taruh di ruangan bapak."
"Ekspedisi?"
"Iya,pak."
"Kamu lihat orangnya? Ekspedisi apa kok tidak ada tulisan apa-apa di luar amplopnya?"
"Hmm,kamu itu. Lain kali jangan asal terima. Mengerti?"
"I,iya pak saya mengerti. Saya minta maaf. Saya janji akan lebih teliti lagi."
"Hmm,ya sudah sana kembali kerja."
"Iya pak. Terimakasih,pak."
Cleaning servis itu buru-buru meninggalkan ruangan Seno.
"Siapa ya? Ini bukan tulisan tangan lagi. Aahh sudahlah,nanti lihat CCTV di luar. Kerjaan numpuk lagi." Gumamnya sambil meletakkan amplop itu di sembarang tempat.
Seno pun mulai memeriksa berkas-berkas yang ada di mejanya sampai hari menjelang siang.
Karena tidak ada waktu untuk makan di luar,Seno terpaksa meminta karyawannya membelikannya makanan di kantin.
Tok tok tok. . .
"Masuk." Titah Seno tanpa menoleh lagi. " Taruh saja di meja di depan sofa. Terimakasih." Ucapnya.
"Seno."
Seno mendongakkan kepalanya. "Kamu? Ngapain kamu masuk ruangan saya?" Tanya Seno kaget.
"Aku yang belikan kamu makanan di kantin. Tenang saja,tidak usah kamu ganti uangnya." Jawabnya dengan suara manja. Anita.
"Tolong keluar,saya banyak pekerjaan." Usirnya halus.
"Kamu jangan jahat donk. Kamu masih sakit hati ya sama aku?" Tanyanya dengan gaya ngambek.
Hhh. Seno menarik nafasnya kasar sambil menatap Anita dengan tatapan tajam. "Saya sudah lama melupakan itu. Sudah lama sekali bahkan sejak saya masih sekolah di sana. Kamu tahu kenapa? Karena saya sudah ada orang lain yang saya cinta. Sampai detik ini saya mencintainya. Sangat mencintainya bahkan saya sudah melamarnya. Kamu siap-siap saja terima undangan dari saya." Terang Seno panjang lebar.
Anita membulatkan matanya. "Tidak mungkin. Kamu pasti bohong." Ucapnya tidak percaya.
"Kenapa tidak mungkin? Gila saja saya masih suka sama kamu sampai sekarang,seperti tidak ada perempuan lain saja." Ucap Seno ketus.
"Hmm,pokoknya aku tidak percaya!"
"Ya sudah terserah kamu mau percaya apa tidak sama saya. Itu bukan urusan saya! Kamu tungu saja undangan dari saya tidak lama lagi!"
"Kamu jahat Seno! Aku tidak percaya sama kamu!" Ucap Anita yang langsung meninggalkan ruangan Seno sambail menghentakkan kakinya. Tanpa dia sadari ada seseorang yang hendak masuk ke ruangan Seno dan hampir menabraknya.
"Jalan lihat-lihat donk!" Ucap Anita dengan nada tinggi sambil matanya menatap marah.
"Siapa kamu?"
"Tidak penting siapa saya,huuhh!"
"Lebih baik kamu bereskan barang-barang kamu dan keluar dari perusahaan."
"Memang kamu siapa berani pecat saya?" Tanyanya sinis.
"Saya Reynand Wibowo. Anak pemilik perusahaan. Direktur utama di sini!" Rey tidak mau kalah berbicara dengan nada tinggi.
"Ada apa mas?" Tanya Seno yang langsung menghampiri mereka.
"Kenapa orang ini bisa kerja di perusahaan saya? Tidak punya atitude sama sekali." Tanya Rey geram.
"Bukan Seno yang terima dia,mas. Nanti akan saya urus." Ucap Seno menenangkan kakak iparnya.
__ADS_1
"Ja,jadi kamu?" Anita menatap Rey dengan wajah pucat.
"Sekarang pergi dari hadapan saya. Dari perusahaan saya juga!" Setelah mengatakan itu,Rey langsung masuk ke dalam ruangan Seno.
"Ma,maafkan saya pak." Anita berniat menghampiri Rey tapi di cegah oleh Seno.
"Lebih baik kamu segera pergi dari perusahaan ini. Percuma,kita tidak menerima karyawan seperti kamu!"
"Tapi,Seno?"
"Pergi atau saya panggil satpam!" Ancam Seno yang sudah benar-benar kesal pada perempuan itu.
"Seno,kamu jangan jahat sama aku." Ucapnya memelas.
"Ya sudah,saya akan panggil satpam sekarang juga."
"Eehh,iya iya. Huuhh!" Ucap Anita kesal dan segera berlalu dari hadapan Seno. Awas kamu,Seno. Aku tidak terima di perlakukan seperti ini. Batinnya sambil melirik ke arah Seno sesaat.
Setelah kepergian Anita,Seno kembali masuk ke dalam ruangannya. Rey sedang duduk di sofa.
"Sudah kamu pecat?" Tanya Rey.
"Sudah,mas. Aku juga mau konfirmasi sama bagian HRD." Jawab Seno lalu segera menelpon HRD.
Setelah menelpon bagian HRD,Seno mengambil berkas yang ada di mejanya lalu menyerahkan pada Rey.
"Mas,ini berkas-berkas yang harus mas tanda tangani. Seno sudah periksa semua."
"Hmm." Rey mengambil berkas-berkas dari tangan Seno dan langsung menandatanganinya.
"Ini makan siang kamu?" Tanya Rey yang melihat kotak nasi yang ada di meja.
"Hmm,iya mas. Dia tadi yang bawain padahal Seno suruh karyawan lain." Terang Seno.
"Hmm,ya sudah. Jangan lagi ada karyawan seperti itu." Tegas Rey.
"Iya mas. Seno akan beritahu bagian HRDnya." Ucap Seno.
"Oh iya,kamu jadi nikah bulan ini? Tanggal berapa?" Tanya Rey.
"Iya mas tapi belum tau tanggalnya. Sedang di tanyakan dulu sama orang tua Fia." Terang Seno.
"Sudah ada persiapan belum?" Tanya Rey.
"Hmm,belum sih mas." Jawab Seno.
"Kalau butuh apa-apa,tanya mama saja. Mama punya kenalan WO."
"Kita rencana nikah di desa saja,mas."
"Hmm,di sini resepsinya."
"Hmm,Seno rasa tidak perlu mas. Nanti merepotkan mas." Tolak Seno halus.
"Kenapa merepotkan mas. Bukan mas yang urus kok kan ada WO." Terang Rey.
"Hmm. . ."
"Nanti kalau sudah ada kabar dari orangtuanya,kamu bilang mas ya."
"Hmm,iya mas."
"Oh iya. Kamu nanti mas kasih cuti sepuluh hari apa cukup?"
"Sepuluh hari mas? Tidak kelamaan?"
"Biasa saja kok. Ya mungkin kamu mau ajak istri kamu bulan madu kemana kan?"
"Hehehee. Terimakasih,mas." Ucap Seno dengan wajah semringah.
"Ya sudah,mas kembali ke ruangan mas dulu. Berkas-berkas yang lain segera kamu periksa!" Pamit Rey yang langsung berdiri meninggalkan Seno.
"Resepsi di sini. Pasti keluarga mas Rey undang banyak tamu." Gumam Seno.
Tiba-tiba handphone Seno berdering. Fia.
"Hallo. . ."
"Iya kenapa?"
"Hari jumat tanggal dua delapan?"
"Oohh,iya."
"Jadi sebelum jumat itu keluarga mas datang bawa sesuatu,gitu?"
"Ok. Kamu pilih sendiri ya nanti mas kasih uangnya."
"Fia,kamu bisa minta temani adik kamu kan."
"Hhh,memangnya bisa satu dua jam saja? Pasti lama pilih-pilihnya. Mas paling males. . ."
"Shofia,kenapa jadi manja sih? Mas nanti itu di kasih cuti sepuluh hari sama mas Rey. Jadi sebelum itu mas tidak bisa ijin-ijin dulu. Belum lagi nanti sebelum hari H,keluaraga mas harus ke desa, bawa sesuatu yang kamu beli itu. Masa belanja saja kamu minta temani mas?" Ucap Seno panjang lebar.
Seno tidak menyadari suaranya yang sedikit tinggi membuat orang di seberang menangis.
"Fia?"
"Kok tadi diem?"
"Ya sudah,kamu istirahatlah. Uang untuk belanjanya nanti mas transfer saja."
"Wa alaikumsalam."
Seno mematikan handphonenya. "Huuhh,kenapa dia tiba-tiba jadi manja sih. Sudah tau kalau aku males ke Mal." Gumam Seno sambil menggelengkan kepalanya.
.
.
.
.
NEXT
.
.
.
.
__ADS_1
1207.0303