
Cinta kembali masuk ke dalam rumah,bergabung dengan keluarganya.
"Kita berangkat sekarang saja,yuk! Papa kan harus antar kalian bertiga." Ajak Rey.
"Cinta naik taxi saja pa." Tolak Cinta.
"Eeeh tidak boleh!" Cegah oma Asti.
"Cinta kan sudah besar,oma."
"Cin,papa yang anter! Ayo." Desak Rey. Mau tidak mau Cinta akhirnya sekolah di antarkan oleh papanya.
***
Sementara itu Seno sedang menuju ke salon Bunga menjemput seseorang. Setelah sampai di depan salon,dia lalu memarkirkan mobilnya kemudian turun dan masuk ke dalam.
"Permisi mbak. Saya cari yang namanya Shofia ada?" Tanya Seno pada petugas kasir yang ada di lobby. Seorang gadis berkacamata.
"Oohh mbak Fia? Ada mas? Mas ini siapa ya?"
"Saya temannya,mbak. Mau jemput dia." Terang Seno.
"Teman? Mbak Fia tadi pesan kalau ada pacarnya jemput di suruh tunggu. Mas teman apa pacar?" Tanya petugas kasir penasaran.
Seno tersenyum. "Saya pacarnya,mbak."
"Oohh,mas pacarnya mbak Fia? Wiihh tampannya. . ." Ucap gadis itu sambil tersenyum. " Eehh,silahkan duduk dulu ya mas. Mbak Fia nya sebentar lagi selesai kok." Ucapnya kemudian.
Seno tersenyum. "Terimakasih." Seno lalu duduk sambil mamainkan handphonenya.
Tidak sampai setengah jam,yang di jemput keluar dari ruang rias.
"Eheemm." Sambil menatap orang yang menjemputnya.
Seno menoleh ke arah suara lalu tersenyum. Kemudian dia berdiri dan berjalan mendekati sumber suara.
Mereka berdiri saling berhadapan. Mata mereka bertemu,terkunci hingga beberapa detik sampai seseorang berdehem di dekat mereka.
"Ehheemm."
Mereka langsung menoleh.
"Sudah donk tatap-tatapannya. Bikin kita semua di sini jadi iri ajah." Kata mbak-mbak yang mirip laki-laki.
Seno hanya senyum-senyum menanggapinya sementara Fia,orang yang dari tadi di tunggu oleh Seno langsung mengajaknya keluar.
"Yuk mas,aku sudah selesai." Ajaknya.
"Hmm,ayo."Sahut Seno.
"Dadaahh sayang-sayangkuuh!" Fia melambaikan tangannya ke arah pegawai salon langganannya saat sudah di depan pintu keluar.
"Sukses ya saay." Sahut mereka.
Seno segera membukakan pintu mobil untuk Fia setelah sampai di parkiran. Kemudian dia membuka pintu kemudi dan mulai menghidupkan mobilnya.
"Mas,ini mobil siapa?" Tanya Fia heran karena setiap kali mereka bertemu,Seno hanya mengendarai sepeda motor.
"Oohh,ini punya mas Rey. Tadi di pinjemin." Jawab Seno bohong. Dia tidak ingin Fia setia padanya hanya karena harta.
"Oohh,memangnya mas Rey tidak kerja?"
"Hmm,tadi mas Rey pakai mobil orang tuanya."
"Oh gitu. Mas,orang tua aku sudah sampai di kampus,kita agak cepet ya." Pinta Fia.
"Oohh iya."
"Hmm,mas. Aku,bagaimana penampilanku?" Tanya Fia malu-malu.
"Penampilan kamu? Hmm,bagus kok."
"Bagus? Hmm. . ."
"Kenapa?
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas."
"Tadi kamu sudah sarapan,kan?"
"Sudah kok."
Mereka lalu diam sampai tidak terasa mobil Seno sudah tiba di halaman parkir kampus. Kampus terlihat sangat ramai karena satu mahasiswa saja membawa lebih dari tiga orang keluarga.
Seno turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Fia.
"Mas,kita cari orangtua aku dulu ya." Pinta Fia.
"Ya ayo,mereka sedang dimana?"
"Katanya sudah sampai di gedung utama,mas. Yuk!" Ajak Fia sambil menarik tangan Seno.
"Pelan-pelan saja nanti kamu jatuh. Sedang pakai kebaya ,sepatu tinggi gitu." Protes Seno.
"Kalau aku jatuh kan ada mas." Ucapnya manja.
"Apa hubungannya. Jatuh ya jatuh saja."
"Yah kan ada mas yang nolongin!"
"Hmm,biarin saja jatuh. Salah sendiri."
"Iiihh mas ini. Memang tidak sayang sama Fia sih!" Gerutunya.
"Hmm,apa hubungannya coba?"
"Hubungannya aku sama mas. . ."
"Kak Fia. . .!" Tiba-tiba ada yang meneriakkan namanya. Fia menoleh begitupun Seno. Orang itu melambaikan tangan ke arah mereka.
"Mas,itu adek aku. Yuk kesana!" Ajaknya buru-buru.
"Shofia Andriani!" Tegas Seno.
Gadis itu menoleh,wajahnya jadi ciut. Jika Sudah memanggilnya dengan nama lengkap,artinya pacarnya itu sedang marah.
"Hmm,mas." Sahutnya lirih.
"I iya bisa." Jawabnya pelan. Mereka lalu berjalan beriringan dengan Fia memegang tangan Seno.
"Kak Fia kok lama sih?" Gerutu gadis belasan tahun itu,adiknya Shofia yang bernama Selia.
"Maaf dek,yang make up in kakak kesiangan jadi tadi nunggu dulu." Fia beralasan.
"Hmm,bukannya pacaran dulu?" Sindirnya sambil melirik ke arah Seno.
"Paan sih mana sempat pacaran dulu." Protesnya. "Ayah sama ibu mana?"
"Huuhh,ayah sama ibu sudah nunggu di dalam." Jawabnya yang langsung meninggalkan kakaknya dan Seno.
Fia menoleh ke arah Seno. "Maafin adek ya mas. Dia memang galak."
"Hmm,ayo!"
Mereka lalu mengikuti langkah kaki adeknya Fia yang sudah mulai jauh.
Sampai di dalam gedung,sudah padat orang-orang yang datang untuk mendampingi wisudawan dan wisudawati.
Fia mengajak Seno untuk berkenalan dengan keluarganya yang baru datang dari desa.
"Ooh jadi kamu yang namanya Seno,yang sering di ceritain sama Shofia?" Tanya ayahnya Fia yang bernama Budi.
"Hmm,iya pak." Jawab Seno sambil tersenyum
"Kamu tidak apa-apa ijin kerja sampai acara Shofia selesai?"
"Tidak apa-apa pak. Saya sudah ijin dari beberapa hari sebelumnya kok."Terang Seno.
"Oh ya sudah,silahkan duduk di sebelah saya. Shofia kan duduknya di sana." Tawar ayah Shofia dengan ramah.
"Terimakasih,pak." Jawab Seno. Dia lalu duduk di sebelah ayahnya Shofia sambil sesekali mengobrol.
__ADS_1
Tak berapa lama,acara pun di mulai. Sampai tiba acara foto-foto keluarga dan Seno juga ikut foto berdua dengan Fia. Gadis itu terlihat sangat bahagia. Sambil menggandeng mesra Seno,dia menatap ke arah kamera. Tak lupa adeknya juga ikut mengabadikan moment mereka.
Hari sudah siang. Kini mereka sudah berada di parkiran.
"Ini mobil kamu nak Seno?" Tanya ibu Fia yang bernama Rika.
"Ooh,ini mobil kakak ipar saya,bu." Jawab Seno.
"Hmm,bagus juga ya." Pujinya sambil menatap kagum ke mobil Seno.
"Sudah bu." Bisik Selia.
"Ayo kita naik,saya antar pulang." Tawar Seno yang langsung membukakan pintu mobil belakang.
"Bapak di depan saja sama saya." Ajak Seno.
"Oohh,bapak di depan nih. Ayo." Jawab ayahnya Shofia antusias.
Mereka lalu meninggalkan kampus Shofia.
Seno mengemudikan mobilnya perlahan memasuki area perkampungan dimana Shofia mengontrak rumah bersama satu orang temannya. Tidak berapa jauh dari kampus.
Setelah sampai,Seno memarkirkan mobilnya di depan kontrakan yang berjejer empat. Kontrakan sederhana dengan dua kamar.
"Fia,mas langsung pulang ya. Mau langsung kerja." Pamit Seno.
"Hmm,malam tidak main ke sini?" Tanyanya dengan penuh harap.
"In sya Allah ya kalau kerjaan mas selesai,mas kesini."
"Beneran,mas?"
"Ya kalau kerjaan mas cepat selesai. Kalau kemalaman ya tidak jadi." Jawab Seno.
"Hmm,terus kapan ke sini lagi mumpung ada ayah sama ibu?"
"Sabtu sore ya. Sabtu in sya allah mas pulang agak siang."
"Beneran,mas?"
"In sya Allah Shofia Andriani." Seno menatap lekat ke arah Fia.
"Hmm,iya iya. Yuk pamit dulu sama ayah dan ibu." Ajaknya.
Setelah berpamitan dengan ayah dan ibunya Fia,Seno segera meninggalkan rumah kontrakan Fia dan langsung menuju perusahaan milik keluarga kakak iparnya.
Sampai di parkiran,Seno menitipkan mobil pada pak satpam seperti biasa. Saat dia sedang berjalan di lobby tiba-tiba ada yang menghadangnya.
"Darimana kok baru kelihatan?"
"Bukan urusan kamu!" Jawab Seno ketus.
"Kamu jangan ketus gitu donk. Lupa ya kalau dulu. . . "
"Permisi." Seno buru-buru pergi dari sana tanpa peduli lagi dengan panggilan yang di tujukan padanya.
"Seno. . . !"
"Huuhh,awas saja!"
.
.
.
.
.
NEXT
.
.
__ADS_1
.
0707/1414