
Seno dan Rey sudah tiba di rumah menjelang sore karena mereka akan berangkat ke desa. Besok paginya akan di langsungkan akad nikah di rumah mempelai wanita.
Keluarga Cinta sudah menunggu di ruang tamu bersama keluarga paman Supri. Semua ikut ke desa untuk menghadiri acara penting Seno. Termasuk Cinta. Gadis itu lebih banyak diam,dia lebih memilih menunggu di dalam mobil ayahnya.
Sehabis ashar,mereka berangkat agar tidak terlalu malam sampai di desa. Rencananya mereka akan tinggal di rumah Siti yang sudah di renovasi oleh Rey saat awal pernikahan mereka dulu.
Tidak sampai empat jam,mereka akhirnya sampai di rumah Siti tepat jam delapan malam. Karena hanya ada dua kamar tidur,jadi hanya di pakai oleh para istri dan anak-anak sementara para suami beristirahat di ruang tamu.
"Cinta mau langsung tidur boleh ma?" Tanya Cinta pada mamanya,Siti.
"Tentu saja sayang,kamu tidur sama adek Putri di kamar ini ya. Adek sudah tertidur dari tadi. Kamu ke kamar mandi dulu sana!"
"Hmm,iya ma." Cinta pun segera pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Tiba-tiba dia tidak sengaja menabrak seseorang karena jalan terburu-buru.
"Aduuuhh." Teriak gadis itu.
"Cinta,maaf ya om tidak sengaja." Ucap seseorang itu yang ternyata Seno.
Cinta langsung menoleh tapi hanya beberapa detik saja,dia langsung buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
"Maafin om,om bukan untuk kamu Cin." Gumam Seno yang hanya terdengar olehnya sendiri. Seno pun kembali ke ruang tamu untuk istirahat.
Cinta keluar dari kamar mandi dengan wajah basah.
"Sayang,wajah kamu kenapa?" Tanya ayahnya Fadil saat ayahnya hendak ke kamar mandi.
"Hhmm,Cinta. Oh abis cuci muka,yah."
"Langsung di keringkan donk. Kamu tidak bawa handuk?"
"Handuk? Ada kok,yah. Di dalam tas di kamar."
"Hmm,ya sudah." Fadil pun masuk ke dalam kamar mandi,dan Cinta segera masuk ke dalam kamar. Dia tidur sambil meringkuk menghadap dinding.
***
Pagi-pagi sekali,rumah Siti sudah ramai dengan aktivitas. Bi Rena sedang sibuk membuat sarapan di bantu oleh Cyndia. Sementara Siti sedang membantu adiknya bersiap-siap dengan memakai pakaian untuk akad nikah. Satu warna dengan pakaian untuk akad nikah calon istrinya yang di belikan oleh oma Asti.
"Ayo anak-anak,kita sarapan dulu!" Titah Cyndia sambil menata sarapan di karpet di ruang tamu. "
Anak-anak mulai sarapan di temani ayah mereka masing-masing.
"Cinta mana kok dari tadi tidak terlihat,mas?" Tanya Cyndia pada suaminya.
"Sepertinya belum bangun." Jawab Fadil.
"Belum bangun? Duuhh,anak itu." Cyndia bergegas masuk ke dalam kamar. Dan benar saja,anak gadisnya itu masih tidur tertelungkup selimut.
"Sayang,sudah jam berapa ini,ayo bangun,mandi!" Titah Cyndia.
Cinta mengerjapkan matanya sambil meregangkn otot-ototnya. "Memangnya jam berapa bun,kok sudah rame?"
"Acara om Seno jam delapan,nak. Sekarang sudah hampir jam tujuh. Ayo kamu cepet mandi sana. Anak gadis kok males sih."
"Cinta,hmm boleh Cinta nunggu di sini saja,bun?"
"Nunggu di sini?" Kening Cyndia berkerut.
"I-iya bun. Kepala Cinta pusing banget. Boleh ya Cinta di rumah saja?" Cinta mencoba mencari alasan. Melihat om Seno menikah,hhh,males banget. Batinnya.
"Sayang,tidak enak sama mama Siti. Sudah jauh ke sini malah ga ikutan."
"Hmm,Cinta kan sedang pusing bun."
"Kamu mandi terus sarapan,siapa tau pusingnya ilang ya nak." Titah bundanya sambil berlalu meninggalkannya sendirian di kamar. "Bunda iihh." Gumam Cinta kesal. Dia turun dari kasur lalu mengambil pakaian gantinya dan segera ke kamar mandi. Dia melihat omnya yang baru saja menaruh piring kotor di dapur dengan sudah mengenakan pakaian akad nikahnya. Pandangan mereka bertemu sesaat lalu Cinta segera memalingkan wajahnya.
"Cin,restui om ya?" Seno masih sempat mengajaknya bicara. Cinta berhenti sesaat di depan pintu kamar mandi lalu buru-buru masuk dan menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.
"Om tega. Hikkss."
Seno kembali ke ruang tamu di mana semua orang telah siap.
"Cinta kemana,kok belum kelihatan?" Tanya Rey sambil menoleh kiri kanan.
"Cinta baru saja mau mandi,mas." Jawab Seno.
"Apa? Jam segini baru mau mandi?" Rey menggelengkan kepalanya. Dia lalu menyusul ke belakang.
"Mas,mau kemana?" Tanya Siti.
"Mau lihat Cinta,kita sudah mau berangkat kok dia baru mau mandi."
"Mas,biarkan saja,sebentar lagi dia siap kok."
"Hhh,anak itu sudah besar kalah sama adik-adiknya." Rey tetap berlalu ke kamar mandi.
Cinta baru saja keluar dari kamar mandi.
"Cin,ayo cepat. Acara om Seno sebentar lagi di mulai,kamu kok masih santai."
"Hmm,papa." Cinta hanya menunduk saja.
"Kamu kenapa,hmm?"
"Pa,Cinta. Hmm,kepala Cinta pusing." Keluhnya. Rey segera mengusap dahi anaknya itu.
"Hmm,tidak panas kok."
"Cinta memang tidak demam,pa. Kepala Cinta yang pusing." Cinta memasang wajah sedih.
Rey jadi tidak tega melihatnya. "Tapi sayang,kamu tidak mau lihat acaranya om Seno,hmm?"
"Buat apa?" Ucap Cinta lirih hampir tidak terdengar.
"Cinta,kamu ngomong apa,nak?"
"Hmm,maksud Cinta tuh buat apa kalau kepala Cinta sakit gini pa? Nanti di sana Cinta malah merepotkan saja kan?"
"Hmm,acaranya sampai siang loh. Kamu mau di rumah sendirian?"
"Sampai siang?"
"Iya sampai siang,lalu malam ada lagi acaranya."
"Hmm,Cinta tidak ikut ya pa. Cinta istirahat saja di rumah. Cinta janji deh,nanti malam Cinta bakalan ikut ke sana. Tapi pagi ini,Cinta tidak ikut ya." Cinta memasang wajah sedih sambil memegangi kepalanya.
Rey lalu meraih bahu anak gadisnya itu lalu memeluknya. "Hmm,ya sudah kamu istirahat saja. Pintu kunci dari dalam,kamar juga di kunci. Kalau ada yang datang,jangan di bukain selain keluarga kita. Kamu mengerti?"
"Hmm,makasih ya pa." Cinta makin mengeratkan pelukan pada papanya.
"Ya sudah kita berangkat dulu. Sarapan kamu ada di meja depan. Kamu habisin biar cepet sembuh!" Titah Rey. Mereka lalu sama-sama ke ruang tamu.
"Cinta sedang tidak enak badan,jadi tidak bisa ikut pagi ini." Terang Rey pada semua orang yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Kamu sakit apa nak?" Siti langsung mendekatinya.
"Kepala Cinta pusing,ma."
"Hmm,ya sudah sini ikut mama." Siti lalu mengajak Cinta ke dalam kamar sambil membawakannya sarapan.
"Mama pijitin ya kepala kamu!" Ucap Siti sambil memijat lembut dahi Cinta. "Gimana apa terasa lebih baik?"
"Iya ma. Terimakasih." Jawab Cinta.
"Ya sudah,kita tinggal ya. Kamu habiskan sarapannya soalnya kita baru kembali agak siangan dan di rumah tidak ada makanan,hanya roti-rotian tadi malam."
"Iya ma,tidak apa-apa kok."
Siti lalu meninggalkan Cinta di kamar.
Mereka semua segera berangkat ke rumah mempelai wanita. Ada beberapa terangga yang ikut serta mengantarkan mereka,ada keluarga pak Erte juga.
Setelah sampai di depan rumah mempelai wanita,mereka di sambut hangat oleh tuan rumah.
Seno langsung di persilahkan duduk di dekat penghulu dan ayahnya Fia selaku wali nikah bagi Fia. Sementara Fia menunggu di dalam kamar.
Seno segera mengeluarkan seperangkat perhiasan yang sudah siap di saku bajunya beserta alat sholat yang di bawa oleh Siti sebagai tambahan mas kawin.
Setelah mengucapkan kalimat sakral dengan satu tarikan nafas saja,maka hampir semua orang yang ada di sana sama-sama memgucapkan "Saahhh!"
Fia lalu di arahkan untuk duduk di samping Seno. Setelah membacakan doa-doa dan nasihat pernikahan,Seno dan Fia sungkeman pada orang tua Fia. Sementara dari pihak Seno di wakilkan oleh Siti dan paman Supri.
Setelah itu,mereka menyalami satu persatu tamu yang hadir di sana. Berfoto-foto lalu menyantap hidangan yang telah di sediakan oleh pihak tuan rumah.
Menjelang jam sebelas siang,tamu mulai meninggalkan rumah Fia,begitupun Siti sekeluarga besar.
Seno sudah boleh tinggal di rumah Fia. Di dalam kamar pengantin sambil menanti acara hiburan nanti malam.
"Mas mau ganti baju sekarang?" Tanya Fia malu-malu.
"Iya,baju mas masih di luar kamar deh sepertinya." Jawab Seno.
"Biar Fia yang ambilin." Ucap Fia yang segera keluar dari kamar. Seno hanya membawa tas koper kecil.
"Mas,kok mas bawa bajunya dikit banget?"
"Iya,nanti kan kita ke kota lagi,keluarga mas Rey ingin mengadakan resepsi untuk kita di kota." Terang Seno.
"Hmm,di rumah mereka ya mas?"
"Hotel sepertinya,sama seperti pas mbak Siti dan mas Rey nikah."
"Tapi kita pakai baju apa,mas? Aku hanya ada satu lagi untuk nanti malam."
"Sudah di siapkan sama mama,kok. Mas ganti baju dulu,gerah." Seno pun segera melepaskan baju akad nikahnya berganti dengan kaos biasa.
"Mas mau istirahat sekarang?" Tanya Fia yang melihat Seno sudah merebahkan diri di kasur.
"Iya,mas capek,ngantuk. Semalem susah tidur." Jawab Seno sambil mulai memejamkan matanya.
"Hmm,ya sudah,aku tidur juga deh." Fia ikut tidur di samping Seno tapi sedikit jauh kerena dia masih malu.
Mereka tertidur sampai menjelang ashar.
***
Sementara Siti sekeluarga pun beristirahat siang. Cinta masih tiduran di kamar.
"Masih pusing sedikit,bun." Jawab Cinta.
"Kamu makan dulu ini,tadi di bawain dari acaranya om Seno!" Titah Cyndia sambil menyuapi putrinya itu.
"Hmm,Cinta tidak suka bun!" Tolak Cinta.
"Kenapa,enak kok ini. Kamu harus makan biar tidak makin sakit. Kalau ayah tau,bisa marah loh kamu tidak mau makan."
"Hmm,tapi papa pasti tidak marah,bun."
"Kata siapa? Anak sakit tidak mau makan,pasti marah! Ayo,makan dikit-dikit saja!" Cyndia masih berusaha memaksa Cinta makan.
"Cinta tidak mau makan ini,bun. Cinta mau makan burger saja deh."
"Sayang,kita sekarang sedang di desa bukan di kota. Bunda tidak tau di mana ada jual burger di sini!" Kesal Cyndia.
"Ayo makan dikit saja!"
Karena terus di paksa,akhirnya Cinta mau juga makan makanan yang di bawa dari acaranya Seno. Setelah beberapa suap. "Sudah bun,Cinta sudah kenyang!" Tolaknya.
"Hmm,baru juga empat suap! Bunda bikinin susu saja ya!"
"Susu adek Fagih ya bun,yang coklat."
"Hmm,iyaa." Cyndia segera beranjak dari tempat tidur meninggalkan Cinta dan berlalu menuju dapur untuk membuatkan Cinta segelas susu coklat hangat.
"Cinta masih sakit,mbak?" Tanya Siti.
"Masih pusing katanya. Makannya hanya sedikit. Ini saya bikinkan susu coklat." Terang Cyndia.
"Oh iya mbak. Kalau nanti malam dia masih sakit,jangan di paksa ikut,kan acara hiburan juga. Berisik nanti dia tambah pusing kepala." Terang Siti.
"Oh iya mbak. Moga nanti malam pusingnya ilang." Ucap Cyndia kemudian masuk ke dalam kamar untuk memberikan segelas susu hangat untuk Cinta.
Siti ke ruang tamu,bapak-bapak sudah pada tidur. Dia lalu menutup pintu dan menguncinya. Dia kemudian masuk ke dalam kamar di mana semua ibu-ibu pun sudah tertidur bersama putra putri mereka.
Lewat ashar,mereka mulai bangun satu persatu. Bapak-bapak sholat berjamaah di ruang tamu,sementara ibu-ibu setelah selesai sholat sibuk membuat cemilan untuk di makan bersama teh dan kopi hangat.
Cinta duduk di teras belakang. Dia menatap nanar ke depan. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Cinta,kamu ngapain di sini nak?" Tanya Siti yang kaget melihat Cinta sedang melamun seorang diri di belakang.
"Hmm,mama. Cinta hanya iseng saja melihat-lihat di sini." Jawab Cinta.
"Kamu lihat pohon kelapa yang tinggi itu? Dulu om Seno kecil jago banget naik dan ngambil kelapa yang masih muda. Lalu di jual ke pasar oleh om Seno." Siti bercerita tanpa Cinta bertanya.
"Hmm. . .iya ma." Jawab Cinta singkat.
"Kamu masuk yuk,nanti masuk angin. Anginnya sedang kencang ini!" Titah Siti.
Cinta pun menurut. Dia kambali ke kamar tanpa peduli panggilan bundanya yang menawarinya cemilan sore. Dia kembali tidur meringkuk di kasur.
"Cinta masih tidak enak badan ya,mbak?" Tanya Cyndia pada Siti.
"Sepertinya sih iya,dia jadi lebih pendiam tidak seperti biasanya kan."
"Dia memang lebih pendiam sudah beberapa minggu ini,mbak. Setiap di tanya pasti jawabnya sedang sakit kepala. Tapi di ajak ke dokter dia tidak mau." Terang Cyndia.
"Nanti pulang dari desa,saya coba ajak dia ke dokter ya mbak." Tawar Siti.
__ADS_1
"Iya mbak. Terimakasih ya mbak."
"Iya sama-sama,mbak. Cinta kan juga putri saya." Ucap Siti dengan senyum tulus.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam,waktu isya pun telah berlalu. Keluarga sudah bersiap-siap untuk kembali hadir di rumah Fia karena akan di adakan acara resepsi dengan di sertai hiburan ala orang desa mereka.
"Cinta,kamu sudah enakan sayang?" Tanya Rey sambil merangkul bahu anak gadisnya itu.
"Masih sedikit pusing sih,yah. Tapi tidak apa-apa." Jawabnya tidak bersemangat.
"Nanti kalau kamu pusing,papa antar pulang yah. Ayo semangat! Masa om nya nikah kamu tidak hadir sama sekali,hmm!"
"Iya pa." Jawab Cinta singkat.
Mereka pun beramai-ramai pergi ke rumah Fia.
Dari jauh sudah terlihat panggung acaranya. Seno dan Fia telah duduk manis di pelaminan.
Acara hiburan pun sedang berlangsung meriah. Ada artis desa yang sedang asik bernyayi di panggung. Sebenarnya keluarga Rey dan Fadil tidak terlalu menyukai acara semacam itu tapi demi Seno,mau tidak mau mereka tetap menghadirinya.
"Cinta bergelayut manja di sebelah papanya dengan alasan kepalanya makin pusing karena suara musik yang keras.
"Papa antar pulang ya?"
Cinta mendongakkan kepalanya. " Tidak apa-apa,pa?" Tanya Cinta tidak enak hati.
"Daripada kamu makin sakit kepala. Bagaimana kalau kita foto-foto sebentar baru nanti papa antar kamu pulang,hmm?"
"Hmm,Cinta tidak mau foto-foto,pa!" Cinta menggeleng dengan keras.
"Loh,masa tidak ada foto kamu di nikahan om Seno?"
Cinta hanya memasang wajah cemberut.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya." Rey meninggalkan Cinta sendirian di meja tamu sementara yang lain sedang asik memilih-milih makanan yang sudah terhidang.
"Hay. . ." Tiba-tiba ada anak laki-laki yang menyapa Cinta saat gadis itu sedang melamun sambil menatap papanya dari kejauhan. Cinta hanya menoleh sekilas.
"Boleh kenalan? Kok aku baru lihat kamu ya? Bukan orang sini ya?"
Melihat Cinta yang hanya diam saja. Anak laki-laki itu berinisiatif mengulurkan tangannya lebih dahulu ke arah Cinta.
"Dimas. . .! Nama kamu siapa?"
"Cinta,yuk kita foto dulu sama om Seno!" Ajak Rey yang sedang berjalan ke arah Cinta yang sedang duduk menunggunya.
"Oh nama kamu Cinta,ya." Gumam Dimas sambil menyunggingkan senyum manisnya. "Jadi pengantin pria itu om kamu ya.
Rey sudah tiba di dekat Cinta. Cinta pun buru-buru berdiri lalu merangkul papanya dengan manja.
"Hmm,ternyata anak papa."
Rey lalu mengajak yang lain ikut berfoto bersama pengantin. Setelah acara foto-foto,Rey berniat mengajak Cinta untuk makan malam tapi gadis itu menolak.
"Kepala Cinta sakit banget,pa!" Tolaknya.
"Hmm,mau pulang sekarang ya?"
Cinta mengangguk cepat.
"Ya sudah,papa bilang sama mama dulu. Kamu tunggu di sini ya!" Titah Rey. Cinta lalu duduk di kursi yang sedikit jauh dari panggung.
"Eeh,Cinta. Kita ketemu lagi nih." Sapa anak laki-laki bernama Dimas. Cinta hanya menoleh sesaat. Tak berapa lama,papanya datang sambil menggendong adeknya Putra.
"Adek Putra mau pulang juga ya,pa?"
"Iya,sudah ngantuk katanya." Jawab Rey.
Sambil menggendong Putra,Rey pun merangkul Cinta pergi dari sana. Dia lalu menidurkan Putra di kursi belakang sementara Cinta duduk di sebelahnya.
Tidak sampai lima menit,mereka sudah sampai di rumah Siti.
Rey segera menidurkan Putra dan Cinta pun tidur di sebelah adeknya.
"Sayang,nanti papa tinggal sebentar ya mau jemput mama sama adek Putri. Sama oma dan opa juga." Terang Rey.
"Iya pa. Cinta juga sudah ngantuk ,mau tidur."
"Papa kunci dari luar ya. Sebentar saja kok. Kamu jagain adek Putra,ya!"
Cinta mengangguk sambil matanya terpejam.
Rey segera keluar dari kamar dan menutupnya. Dia lalu segera mengunci pintu dan masuk ke dalam mobil untuk kembali ke rumah Fia.
Acara resepsi pernikahan Seno masih berlangsung meriah. Tamu yang hadir makin banyak sampai-sampai Rey kesulitan mencari keluarganya.
Akhirnya Rey masuk ke dalam rumah Fia,ternyata keluarganya sedang ngobrol di dalam rumah. Tak lama Seno dan Fia pun masuk.
"Loh kok sudah masuk?" Tanya Rey heran.
"Capek mas dari tadi tamunya tidak berhenti datang dan memberikan ucapan." Keluh Seno.
"Aahh kamu baru segitu saja sudah capek. Nanti malam lebih capek lagi!" Goda Rey yang di sambut tawa semua orang yang ada di dalam rumah. Seno senyum-senyum sementara Fia hanya menunduk malu.
"Oh iya kita pulang sekarang ya,Cinta sama Putra sudah lebih dulu pulang." Pamit Rey.
"Loh,kenapa Cinta dan Putra sudah pulang,mas?"
"Cinta kepalanya pusing dari tadi siang,makamya pas akad nikah kamu,dia tidak ikut." Terang Rey.
Cinta kepalanya pusing? Apa begitu kecewanya dia dengan pernikahanku. Maafkan om,kita bukanlah jodoh,Cin. Batin Seno.
"Ayo kita pulang pa,Putri ngantuk!" Putri pun menggelayut manja sama papanya.
"Ya sudah Seno kita pulang dulu. Met malam pertama ya. Minum jamu dulu kalau perlu!" Rey kembali menggoda adik iparnya itu lalu segera menggendong Putri.
Mereka semua lalu berpamitan pulang ke rumah Siti.
.
.
.
.
NEXT
.
.
__ADS_1
.