
Dokter Layli masuk kedalam ruangannya. Dia duduk di kursinya lalu mempersilahkan Seno untuk duduk juga.
"Seno,silahkan duduk." Titah dokter Layli tegas.
Seno pun menurut. Dia lalu duduk di kursi yang ada di hadapan dokter Layli.
"Hmm,sekarang jelaskan sama saya,apa maksud kata-kata kamu tadi?"
"Hmm,mi. Ini tidak. . . "
"Dinda,mami tanya Seno bukan kamu!" Potong dokter Layli.
Seno menelan salivanya sambil menunduk tanpa berani menatap ke arah dokter Layli.
"Saya,hmm. Maafkan saya dokter." Ucap Seno gugup.
"Jadilah pria sejati,Seno! Katakan!"
"Hmm,begini dokter. Semalam,semalam saya mabuk." Ucap Seno.
"Hmm,lalu. . .?"
"Hmm,saya-saya tidak tau tiba-tiba saya sudah ada di mobil dinda."
Dokter Layli menoleh ke arah putrinya.
"Dinda.Dinda ketemu Seno yang sedang mabuk,mi. Dia,hmm dia di papah temannya sedang mencari taxi. Dinda,dinda berinisiatif mengantarkannya pulang ke rumah tante Asti." Terang Dinda dengan suara bergetar.
"Lalu?"
"Hmm,tiba-tiba Seno terbangun. Dia,dia muntah-muntah. Dinda lalu memarkirkan mobil di pinggir jalan,mi."
"Hmm. . . lalu?"
Seno dan Dinda sama-sama diam. Tidak ada yang berani memulai untuk bercerita kejadian selanjutnya. Hingga beberapa menit berlalu.
"Lalu?" Dokter Layli mulai tidak sabar.
"Hmm,saya. Saya minta maaf dokter." Ucap Seno.
"Apa yang kamu lakukan pada putri saya?" Tanya dokter Layli dengan suara datar dan dingin. Dia makin tidak sabar.
"Mi,dia hanya muntah-muntah di mobil Dinda."
"Mami tau kapan saat kamu bohong dan kapan saat kamu jujur,Dinda!"
Hhhh. Seno menarik nafasnya berat. "Saya- saya yang salah dokter. Saya,sudah bertindak tidak sopan pada putri dokter." Ucap Seno terbata-bata.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada putri saya?" Dokter Layli masih berusaha menahan emosinya.
"Mi. . ." Dinda makin ketakutan. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Saya pikir,saya sedang bersama istri saya." Jawab Seno lirih.
Plaakk!! Tiba-tiba dokter Layli berdiri lalu melayangkan tangannya ke pipi kiri Seno hingga Seno dan Dinda kaget. Seno langsung memegangi pipinya yang terasa panas.
"Kurang ajar kamu!" Dokter Layli emosi.
"Mi,ini,ini tidak seperti yang mami pikirkan." Terang Dinda sambil mulai terisak.
"Memangnya apa yang mami pikirkan? Kenapa kamu sampai menangis?" Teriak dokter Layli.
"Dokter,tolong maafkan saya." Ucap Seno dengan wajah memohon dan penuh penyesalan.
"Maaf? Lalu bagaimana dengan putri saya,heehh?"
"Mi,Seno tidak melakukan apa-apa sama Dinda,mi." Dinda berusaha menenangkan maminya.
"Tidak melakukan apa-apa? Memangnya apa?" Dokter Layli menatap Dinda dan Seno bergantian dengan wajah penuh emosi.
"Itu,itu salah paham,mi. Tidak seperti yang mami bayangkan."
"Hmm,tidak seperti yang mami bayangkan? Memangnya kamu pikir,apa yang mami bayangkan? Kamu pikir mami bodoh ya?"
__ADS_1
"Dokter,saya. Saya akan bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan." Ucap Seno.
"Apa? Tanggung jawab apa? Tidak ada yang perlu kamu pertanggungjawabkan sama saya!" Tolak Dinda.
"Bagus! Begitu sikap laki-laki sejati!" Ucap dokter Layli.
"Baiklah,saya akan melakukan apapun yang dokter inginkan!" Ucap Seno dengan penekanan.
"Tapi,saya tidak butuh tanggung jawab kamu!" Tolak Dinda lagi.
"Dinda? Kamu sudah di lecehkan masih saja. . ."
"Tapi mi,tidak terjadi hal itu mi. Dinda tidak kenapa-kenapa!"
"Kamu mau jadi gadis murahan,begitu?" Dokter Layli makin emosi dengan sikap putrinya.
"Dokter,apapun yang dokter inginkan. Tolong,maafkan saya."
"Huuhh,kamu bisa nya minta maaf minta maaf terus!"
"Saya akan tanggung jawab."
"Buktikan omongan kamu!"
"Mi,Seno masih punya istri. Dan Dinda tidak sampai. . ."
"Mami tidak mau tau! Mami tidak terima ya sampai kamu di lecehkan! Atau kamu mau mami lapor polisi,iya?" Ancam dokter Layli.
Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanggung jawab seperti apa yang akan di lakukan Seno. Dan maminya,entah apa yang maminya inginkan. Dinda tentu saja tidak berani membayangkannya. Kepalanya tiba-tiba jadi sakit.
"Kamu boleh pergi sekarang! Tapi ingat,urusan kita belum selesai." Ucap dokter Layli tegas.
"Hmm,baik dok. Terimakasih. Saya permisi dulu." Pamit Seno.
Seno lalu meninggalkan klinik dokter Layli dengan langkah gontai. "Ahhhhkkk!" Seno menarik rambutnya sendiri. Kenapa aku bisa sampai di tempat itu. Batinnya.
Seno pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa tau harus kemana. Hingga dia tiba di sebuah taman yang cukup sepi,dia lalu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Seno lalu turun dari mobil dan duduk di bangku yang ada di sekitar taman. Baru beberapa menit dia duduk di sana,sayup-sayup dia mendengar suara tangisan seseorang. Suara seorang gadis remaja.
Dia mengernyitkan dahinya saat melihat apa yang di pegang gadis itu. Sebuah handphone. Tapi bukan handphone yang membuat Seno kaget tapi foto yang ada di layar handphone itu yang membuat Seno kaget setengah mati.
"Cinta?" Seno berbalik menghadap gadis itu.
"Om,om Seno?" Mata Cinta membulat demi melihat siapa yang berdiri di dekatnya.
"Kamu sedang apa di sini sendirian? Kenapa kamu menangis,hmm? Sopir kamu mana?" Tanya Seno bertubi-tubi.
"Cinta,Cinta sedang ingin sendiri,om!"
Seno lalu ikut duduk di sebelah keponakannya itu. "Apa yang membuatmu menangis?"
"Hmm,Cinta tidak apa-apa kok."
"Kamu sendirian di sini sambil menangis?"
"Hmm,tadi Cinta sama teman-teman,kok."
"Om antar pulang,ayo!" Seno meraih tangan Cinta tapi buru-buru Cinta tepiskan.
"Cinta belum mau pulang!"
"Hmm,nanti bunda kamu khawatir nyariin kamu?" Harusnya sudah pulang dari tadi kan!"
"Cinta ingin sendiri,om! Om pergilah!" Usir Cinta.
"Om tidak akan kemana-mana!"
"Ya sudah kalau gitu,biar Cinta yang pergi dari sini!" Cinta bangkit dari duduknya dan hendak melangkah tapi di tahan oleh Seno.
"Om minta maaf. Mana om tau kalau kamu ada perasaan sama om. Om dan tante Fia sudah menjalin hubungan saat om masih sekolah. Tujuh tahun lalu,Cin! Sedangkan kamu,mungkin perasaan kamu sama om hanya beberapa bulan ini saja kan. Mungkin saat kamu baru menginjak sekolah menengah atas. Saat kamu melihat teman sebaya kamu sudah ada yang mempunyai pacar. . .
"Stop! Om tau apa soal perasaan Cinta!"
__ADS_1
"Hmm,"
"Cinta ikut seneng kok lihat om bahagia sama istri om dan Cinta juga sedih atas apa yang terjadi sama istri om."
"Cinta,kamu bener-bener kan? Om tidak mau merasa bersalah terus sama kamu!"
"Kenapa harus merasa bersalah,om benar kok kalau perasaan Cinta ini bukan perasaan yang sebenernya."
"Hmm,lalu kenapa kamu tadi nangis?"
"Hmm,tidak apa-apa kok!"
"Tidak apa-apa? Nangis di tempat ini sendirian?"
"Cinta,kamu di sini ternyata! Sama om-om lagi!" Tiba-tiba ada anak sebaya Cinta datang.
"Bukan urusan kamu!" Jawab Cinta ketus.
"Hmm,jadi kamu nolak aku karena om-om ini ya? Benar-benar tidak menyangka!"
"Hey,ngomong apa kamu? Saya ini omnya Cinta. Paham kamu? Dasar tidak tau sopan santun. Untung saja Cinta nolak kamu!" Seno marah-marah pada anak laki-laki itu.
"Apa? Hmm,maaf om aku tidak tau."Ucapnya menyesal.
"Cinta,ayo om antar kamu pulang! Bunda kamu pasti nyariin!" Seno meraih tangan Cinta dan membawa gadis itu ke mobilnya.
"Cinta,tunggu dulu!" Teriak anak laki-laki itu tapi Cinta dan Seno terus saja berjalan menjauh.
Sampai di mobil,Seno membukakan pintu mobil untuk Cinta. Mereka lalu segera meninggalkan tempat itu dengan tatapan sedih dari teman laki-laki Cinta.
"Jadi kamu ke taman sama teman kamu yang tadi? Om tidak suka ya kamu dekat-dekat dia!" Ucap Seno sedikit emosi.
"Cinta rame-rame ke sana,om."
"Lalu kenapa kamu bisa sendirian tadi?"
"Teman yang lain ninggalin Cinta saat anak tadi ingin bicara berdua sama Cinta."
"Hmm,teman macam apa itu?"
"Antarkan Cinta ke rumah bunda,om!"
"Kamu sudah lama tidak menginap di rumah papa kamu kan?"
"Cinta sedang tidak ingin. Cinta mau pulang ke rumah bunda!" Ucap Cinta tegas.
"Hmm,baiklah kalau mau kamu gitu. Om antar ke rumah bunda kamu." Jawab Seno.
Seno lalu melajukan mobilnya ke arah rumah Cinta. Memakan waktu lebih setengah jam,mereka akhirnya sampai. Baru saja di depan pagar,Cinta langsung membuka pintu mobil lalu segera turun.
"Terimakasih,om!" Setengah berlari,Cinta masuk ke rumahnya.
"Om benar-benar tidak mengerti kamu,Cin." Lirih Seno. "Apalagi ini ya Allah,satu masalah belum selesai muncul lagi masalah baru! Kenapa sekarang makin banyak masalah rumit." Seno lalu mengusap kasar wajahnya.
.
.
.
.
NEXT YAA
Buat reader yang masih penasaran,Jangan lupa dukung terus othor ya! Terimakasih ππ
.
.
.
.
__ADS_1
2507/0727