Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 82


__ADS_3

Hari aqiqah pun tiba. Mama dan papa mengundang banyak tamu undangan. Siti terlihat grogi. Putri sudah di bawa mama ke bawah bertemu para tamu undangan.


"Kamu kenapa yank?"


"Sepertinya banyak tamu undangannya ya mas?"


"Mungkin yank,kan mama dan papa yang urus. Mas terima beres saja. Maklum yank,ini pertama kali kita mengadakan acara aqiqahan. Kakak sulung mas kan di luar negri." Terang Rey.


"Hmm,mama juga maksa sambil syukuran kesembuhan aku mas." Keluh Siti.


"Memangnya kenapa,hmm?" Tanya Rey sambil memeluk istrinya dari belakang. "Kamu makin cantik hari ini,yank! Muah!" Puji Rey lalu mencium pipi istrinya.


"Yah malu saja mas. Malu kalau jadi pusat perhatian orang." Siti beralasan.


"Loh nanti saat acara Putri,kamu juga jadi pusat perhatian yank,kamu kan mamanya Putri."


"Hmm,iya sih."


"Turun yuk,tamu sudah banyak yank!" Ajak Rey.


"Tapi penampilanku gimana,mas? Rapi kan?"


"Kan tadi mas sudah bilang kalau kamu makin cantik hari ini yank! Penampilan kamu sudah ok kok. Santai saja seperti saat empat bulanan kamu kemarin."


"Hmm,iya deh mas. Yuk kita turun sekarang!" Ajak Siti.


Mereka lalu turun ke bawah. Sudah banyak yamu yang hadir. Mama sibuk menggendong Putri yang di kerumuni tamu ibu-ibu. Mama dan papa juga mengundang anak yatim piatu dari panti asuhan jadi tamu yang datang makin banyak. Tak lupa juga mengundang orang tua Cinta,bu Ranti dan juga karyawannya.


"Cantik ya."


"Mirip papanya!"


"Iiihh lucu."


Celoteh ibu-ibu teman arisan mama. Belum lagi istri-istri dari teman kerja papa. Melihat Siti dan Rey datang,banyak yang langsung menatap pasangan suami istri itu.


"Nah,ini dia mamanya!" Ucap mama. "Dia melahirkan bayinya di saat sedang koma. Alhamdulillah masih di beri umur untuk mengurus bayinya." Terang mama pada teman-temannya.


Siti pun tersenyum lalu menyalami satu persatu teman-teman mama. Lalu dia mengambil alih menggendong Putri.


Setelah tamu di rasa sudah banyak,acara aqiqah Putri pun di mulai. Siti dan Rey mengikuti rangkaian acara demi acara di tuntun oleh mama. Putri pun tidak rewel jadi acara bisa berlangsung dengan lancar. Setelah membaca doa-doa syukur,para tamu pun di persilahkan untuk makan makanan yang telah tersedia di meja prasmanan.


"Sayang,kamu sudah lapar? Biar mas yang gendong Putri." Tanya Rey.


"Iya sih mas. Tapi mas kan lapar juga." Jawab Siti.


"Gantian kamu dulu yank,kamu kan harus memberikan ASI untuk Putri." Terang Rey.


"Ya sudah kalau gitu aku makan duluan ya,mas yang gendong Putri." Ucap Siti lalu memberikan Putri pada suaminya.


Siti lalu ikut antri di meja prasmanan yang sudah tidak terlalu ramai. Setelah mengambil makanannya,dia kembali mendekati suaminya.


"Putri kok rewel mas?" Tanya Siti saat di lihatnya Rey mulai kerepotan menggendong Putri yang hampir menangis. "Biar aku yang gendong,mas." Pinta Siti. Siti lalu menaruh piringnya di kursi lalu mengambil alih menggendong Putri.


"Yank,kamu mas suapin saja ya!" Usul Rey.


"Hmm,nanti saja mas. Tidak enak masih banyak orang." Tolak Siti.


"Yank,biar saja banyak orang. Ayo aaakk!" Rey memaksa menyuapi istrinya. Siti pun terpaksa membuka mulutnya.

__ADS_1


"Kita makan sepiring berdua ya yank? Nanti kalau kurang,mas ambil lagi." Ucap Rey.


"Iya mas." Jawab Siti.


Rey pun ikut makan di piring yang sama dengan istrinya lalu kembali menyuapi istrinya.


"Waahh,romantisnya kalian ini." Ucap salah satu istri dari kolega papa. Rey dan Siti hanya tersenyum.


Setelah selesai makan,mama dan papa membagikan bingkisan untuk anak-anak yatim piatu beserta amplopnya.


"Terimakasih pak Wibowo dan bu Asti." Ucap pengurus panti asuhan. "Semoga dede Putri selalu sehat dan jadi muslimah yang solehah!" Doanya kemudian.


"Aamiin,aamiin Allahumma aamiin!" Jawab mama dan papa.


Para tamu sudah banyak yang pulang. Di ruang keluarga masih ada Cinta dan ayah bundanya sedang bermain dengan adiknya yang baru belajar berjalan.


Rey mengajak Siti bergabung disana.


"Ke sana yuk yank? Kamu tidak akan cemburu lagi kan?" Ajak Rey sambil menatap lekat-lekat ke istrinya.


"Hmm,iya tidak akan cemburu lagi kok." Jawab Siti meyakinkan.


"Beneran yank? Atau tidak usah deh." Ucap Rey merasa kurang yakin.


"Iiih mas ini! Beneran deh tidak akan pernah cemburu lagi!" Janji Siti. "Dulu kan karena belum yakin sama perasaan mas ke aku!" Ucapnya.


"Nah gitu donk sayang! Yuk,Cinta pasti seneng bisa main sama adik-adiknya."


Mereka lalu bergabung bersama Cinta dan ayah bundanya.


"Hai mbak Cyndia." Sapa Siti dengan ramah.


"Pak Fadil." Rey pun menyapa ayahnya Cinta.


"Pak Reynand." Ucap Fadil. Mereka pun bersalaman. "Selamat ya sudah punya putri yang cantik."


"Terimakasih. Oh ya sudah makan?" Tanya Rey.


"Sudah kok,ini Cinta masih belum mau kita pulang."


"Ooh tidak apa-apa pak Fadil,sesekali main ke sini kan. Sudah lama juga."


"Hehhee iya,maklum sama-sama sibuk ya."


Sementara Rey dan Fadil asik ngobrol berdua,Siti pun berusaha mengakrabkan diri dengan bundanya Cinta.


"Faqih sudah mau jalan ya mbak? Berapa bulan usianya?" Tanya Siti.


"Hampir satu tahun,mbak Siti. Beberapa hari lagi." Jawab Cyndia.


"Waah cepet juga ya si tampan ini besarnya."


"Hehehee iya. Makin aktip dan susah di larang."


"Hehee,itu tandanya anak pinter ya Faqih."


"ASI eksklusif ya mbak,badannya montok ini mas Faqih."


"Iya mbak sampai enam bulan hanya ASI,sampai sekarang pun ASI tidak pernah susu formula." Terang Cyndia.

__ADS_1


"Waahh,bersyukur ya bisa ASI eksklusif. Putri saat lahir harus susu formula."


"Yah kan karena keadaan. Alhamdulillah sekarang hanya ASI saja ya mbak."


"Alhamdulillah karena di kasih terus lama-lama bisa keluar ASInya."


"Iya mbak kita memang harus rajin."


"Hehee iya mbak. Oh iya bu Ranti tadi cepat sekali pulangnya ya."


"Iya karena karyawannya satu tidak bisa masuk jadinya tidak bisa lama-lama di sini." Terang Cyndia.


"Oh gitu ya."


"Iya mbak." Jawab Cyndia.


"Belum mau pulang?" Tanya Fadil yang sudah berada di sebelah Cyndia.


"Loh kok sudah mau pulang?" Tanya Siti.


"Oh iya mbak Siti,kita pulang dulu ya. Ayahnya ada pekerjaan." Ucap Cyndia.


"Di sini dulu saja,Cinta masih mau di sini kan nak?" Tanya Siti.


"Hmm,iya bunda. Nanti saja pulangnya ya?" Rengek Cinta pada bundanya.


"Tapi sayang,ayah kan mau kerja." Tolak Cyndia halus.


"Hmm," Cinta cemberut.


"Iya mbak,sesekali main-main ke sini." Ucap Siti lagi.


Rey dan Fadil hanya memperhatikan saja.


Cyndia menoleh ke arah suaminya. "Mas gimana?"


"Terserah bunda saja,kalau masih mau main di sini ya tidak apa-apa." Ucap Fadil. "Ayah langsung ke kantor dari sini lebih dekat." Ucap Fadil.


"Iya mbak,ngobrol-ngobrol dulu sama mamanya Cinta,biar makin akrab. Saya juga habis ini mau ke kantor dulu." Rey ikut menimpali. Mungkin Cyndia sungkan kalau ada dia jadi lebih baik ke kantor. Batin Rey.


"Iya mbak. " Ucap Siti.


"Iya kan ma? Mau ya?" Cinta masih memaksa.


Cyndia menoleh lagi ke suaminya. Melihat suaminya menganggukkan kepala,akhirnya Cyndia pun mau untuk lebih lama di rumah Rey.


"Hmm,baiklah kalau gitu,kita main di sini dulu." Ucap Cyndia akhirnya. "Nanti kalau pulang kantor langsung jemput ke sini ya yah!" Titahnya pada Fadil,suaminya.


"Iya nanti pulang,ayah langsung jemput kesini!" Janji Fadil. "Ya sudah,ayah tinggal dulu ya. Cinta tidak boleh nakal ya nak!" Pesannya pada Cinta.


"Iya yah. Ayah hati-hati di jalan." Jawab Cinta.


"Ya sudah,mas pergi dulu ya!" Pamit Rey pada istrinya.


"Iya mas. Hati-hati di jalan!" Ucap Siti.


Siti dan Cyndia lalu mengantar suami masing-masing ke teras bersama Cinta yang terlihat antusias.


Terimakasih sudah membaca.

__ADS_1


NEXT


020621/02.40


__ADS_2