
Rey dan Siti langsung menoleh ke arah pintu.
"Hmm,ma maaf."
Ceklek. Pintu tertutup kembali.
"Hhh,mas lupa kunci pintu. Anak itu sekarang susah di atur." Keluh Rey.
"Susah di atur gimana,mas?" Tanya Siti.
"Hampir setiap hari dia datang ke perusahaan. Kadang dia ke ruangan mas hanya sekadar mainin handphonennya,kadang mas lihat baru dari ruangan Seno. Di suruh dari sekolah langsung pulang jawabnya iya iya saja." Terang Rey sambil menggeleng.
"Hmm,mungkinkah dia butuh uang tapi malu minta sama mas?"
"Masak jatah bulanan dari mas kurang,yank? Dia pasti dapet dari ayahnya juga." Jawab Rey. "Sepertinya bukan karena uang deh."
"Hmm,nanti aku tanyain Seno deh. Ngapain saja dia di ruangan Seno." Ucap Siti.
"Iya,yank. Kalau perlu suruh pulang."
"Iya,mas. Yasudah yuk kita makan malam,aku sudah lapar,mas!" Ajak Siti.
"Hmm,ya sudah. Tapi nanti malam ya." Bisik Rey mesra di telinga Siti membuat istrinya itu merinding.
"Iihh,mas ini." Jawab Siti sambil berlalu.
"Yank,masa suaminya di tinggal!" Rey langsung menyusul istrinya keluar kamar.
Mereka lalu turun ke bawah menuju ruang makan. Di meja makan sudah kumpul semua tinggal Seno yang masih di kamarnya.
"Paman Seno mana ya,kok lama? Adek sudah laper." Keluh si bungsu. Karena dia doyan makan akhirnya bisa cepat menambah berat badannya yang tertinggal.
"Cinta,coba kamu panggil om Seno!" Titah opa.
"A apa,Cinta?" Cinta kaget.
"Iya sayang,tolong kamu panggilkan om ya kasihan adek Putra sudah kelaparan." Titah Rey .
"Hmm,baiklah." Jawab Cinta tidak bersemangat. Lalu dia menemui pamannya di kamar. Baru saja dia mau mengetuk pintu tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara pamannya sedang berbicara dengan seseorang.
"Iya,besok aku jemput kamu di salon Bunga jam berapa?"
"Hmm,kampus AA kan setengah jam dari salon Bunga. Mas males nungguin kamu di salon lama-lama."
"Iya mas tidak akan telat jemput,besok mas jemput sebelum jam delapan."
"Iya sampai acara kamu selesai baru mas kerja lagi."
"Iya sayang. Sudah dulu ya,keluarga mas pasti sudah nungguin di meja makan sekarang,kasihan kelamaan nungguin mas."
"Iya,mas juga sayang kamu!"
Deg. . Jantung Cinta tiba-tiba berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Dia tidak jadi mengetuk kamar pamannya malah langsung kembali lagi ke meja makan.
Cinta langsung duduk tanpa bicara.
"Mana paman Seno,kak? Adek sudah lapaar!" Rengek Putra.
Tak lama Seno muncul. "Paman,lama sekali sih,adek kan laper." Gerutu Putra dengan wajah di tekuk.
"Hmm,maaf-maaf sayang." Seno menghampiri keponakannya itu lalu mencium pucuk kepalanya.
"Ya sudah ayo makan." Ajak Rey.
Mereka pun langsung makan. Putra makan dengan sangat lahap,bahkan nambah dua kali.
"Sayang,tidak boleh makan sampai kekenyangan." Nasihat oma.
Putra melirik ke arah omanya sebentar. "Putra belum kenyang,oma." Keluhnya sambil cemberut.
__ADS_1
"Hmm,ya sudah kalau belum kenyang tak apa nambah lagi." Ucap oma membuat wajah Putra kembali tersenyum.
Semua yang melihat Putra makan,hanya menggelengkan kepalanya. Badannya memang terlihat lebih besar dari teman seumurannya bahkan dari kakaknya sendiri,Putri.
Cinta makan dengan malas-malasan. Dia jadi tidak berselera makan karena terngiang-ngiang terus pembicaraan pamannya tadi.
"Cin,makanmu sedikit sekali?" Tanya Siti sambil melirik piring nasinya yang hanya terisi setengahnya saja.
"Hmm,Cinta diet ma." Jawab Cinta asal.
"Diet? Untuk apa,nak? Badan sudah langsing begini." Tanya Rey heran.
"Hmm," Gumam Cinta malas.
"Kamu sakit,nak?" Tanya Siti.
"Cinta tidak apa-apa kok ma. Hanya sedang tidak berselera makan saja." Jawab gadis itu.
"Cinta maunya makan apa nanti minta di buatkan sama bibi." Tanya oma.
"Hmm,tidak oma. Cinta hanya sedang malas makan tapi nanti kalau Cinta laper,Cinta minta bikinin sama bibi."Sahutnya.
"Hmm,ya sudah."
Setelah semua selesai makan malam,mereka akan ngobrol-ngobrol sebentar di ruang keluarga.
"Maaf,Seno ke kamar duluan,ya." Pamit Seno.
"Hmm,iya." Jawab yang lain.
Pasti mau telponan lagi.,Batin Cinta.
***
Esok paginya,Cinta bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah sholat subuh,dia langsung memakai seragam sekolahnya. Dia keluar dari kamar lalu turun ke bawah. Oma Asti sedang di dapur melihat para asisten memasak untuk sarapan keluarga.
"Cinta,masih jam berapa ini kok sudah siap?" Tanya oma heran.
"Loh kenapa? Acnya macet? Apa banyak tugas sekolah?" Tanya oma penuh perhatian. Oma tidak tau jika cucunya itu sedang 'galau'.
"Tidak kok,oma. Oma,ada yang sudah bisa di makan?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan agar omanya tidak bertanya macam-macam lagi.
"Cinta sudah lapar ya?"
"Iya oma."
"Oh iya,semalam kamu makannya dikit ya. Pantes kamu susah tidurnya. Lain kali makan yang cukup."
"Iya oma."
"Makan roti sama selai atau coklat saja,mau?" Tawar oma.
"Iya oma,Cinta mau."
"Tuh di meja makan masih ada." Tunjuk oma.
"Cinta boleh makan duluan,oma?"
"Iya sekali ini boleh karena kamu semalam makannya dikit sekali. Ya sudah makanlah." Titah oma.
Cinta segera mengambil roti dan mengolesinya dengan selai coklat. Dia hanya makan dua potong saja.
Bibi menyuguhkan segelas susu coklat hangat ke hadapan Cinta yang langsung meminumnya.
Setelah selesai,dia keluar menuju taman samping rumah.
"Seno pergi jam berapa ya? Apa aku harus bolos dulu hari ini?" Tanya Cinta dalam hati.
Sementara Siti sibuk mengurus dua buah hatinya. Dan juga mengurus suami tercintanya. Menyiapkan pakaian dan apa-apa yang mau di bawa.
__ADS_1
Setelah selesai,mereka turun bersama. Tidak ada lagi kehebohan seperti biasa karena Putra di bangunkan lebih pagi dari biasanya.
"Loh,Cinta masih di kamarnya,mas." Ucap Siti setelah mereka tiba di ruang makan.
"Cinta sudah sarapan dari tadi." Terang mama.
"Apa ma? Jadi di mana anak itu sekarang?" Tanya Rey kaget.
"Di ruang keluarga mungkin,apa nunggu di teras."Jawab mama.
"Kok kakak Cinta sarapan duluan?" Protes Putra.
"Kakak Cinta semalam susah tidur karena lapar. Semalam kakak Cinta makan malamnya kan sedikit." Terang oma agar cucunya yang lain tidak ikut-ikutan. Di rumah itu keluarga harus sarapan dan makan malam bersama agar mereka tetap menjaga kebersamaan walau mempunyai kesibukan masing-masing.
"Hmm,kakak Cinta sih kenapa makannya sedikit jadinya susah tidur kan. Lihat adek,makannya banyak. Iya kan ma?" Celoteh Putra.
"Iya sayang. Putra memang makannya pinter ya!" Puji mamanya.
"Hmm,kalau kebanyakan tidak baik kan,ma." Protes Putri."
"Tidak apa sayang. Adek Putra kecil kan susah makan makanya kurus. Sekarang makannya makin banyak,makin gembul dan makin sehat." Terang Siti.
"Hmm,iya sih ma." Ucap Putri sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah yuk kita duduk!" Ajak Rey.
"Paman Seno mana? Nanti telat lagi datangnya,adek lapeerr." Keluh Putra.
"Selamat pagi keponakan paman yang paling tampan. Kita sarapan yuk!" Seno baru saja muncul.
"Ayo,ayoo!" Putra sudah tidak sabaran.
Selesai sarapan,mereka ke ruang keluarga.
"Mas Rey,Seno nanti ke kantor siangan ya." Ucap Seno pada Rey.
"Jadi kamu hari ini?".Tanya Rey.
"Hehee,jadi mas."Jawab Seno malu-malu.
"Kenapa ke kantornya siang,dek?" Tanya Siti heran.
"Hmm,Seno ada urusan pagi ini mbak." Jawab Seno.
"Hmm,urusan apa memangnya?" Tanya Siti curiga.
"Yah urusan anak muda,mbak. Seno berangkat sekarang ya. Dah semua. Assalammualaikum." Pamit Seno buru-buru agar mbaknya tidak bertanya-tanya lagi.
"Wa alaikumsalam." Jawab semua.
Seno segera menuju ke mobilnya yang sudah terparkir di halaman. Saat melewati taman samping,dia melihat Cinta yang sedang melihat ke arahnya. Seno melambaikan tangannya lalu buru-buru naik ke mobil.
"Pasti mau jemput seseorang di salon. Apa dia sudah punya pacar? Siapa?" Gumam Cinta dengan wajah kesal sambil terus menatap mobil Seno sampai hilang di simpang jalan.
.
.
.
.
NEXT
.
.
.
__ADS_1
.
0607/1717