Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 88 ( S2 )


__ADS_3

Rey dan Fadil buru-buru kembali naik ke mobil. Rey langsung melajukan mobilnya ke Rumah Sakit Medika. Setengah jam mereka sampai di Rumah Sakit. Setelah memarkirkan mobilnya,mereka segera ke pusat informasi.


"Selamat siang,suster." Sapa Rey.


"Selamat siang,pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya suster.


"Saya mau tanya,apa tadi ada pasien ibu-ibu yang datang dalam keadaan tidak sadar?"


"Siapa namanya,pak?"


"Wah,kita tidak tau sus. Tapi nama cucunya Aaron." Jawab Rey.


"Oohh,keluarganya pak Aaron ya. Namanya bu Nia. Beliau sekarang ada di ruang ICU." Terang suster.


"Ruang ICU?" Tanya Rey kaget.


"Iya pak." Jawab suster.


"Baiklah terimakasih sus." Ucap Rey.


Rey dan Fadil pun pergi ke ruang ICU.


"Semoga kondisinya tidak parah." Gumam Rey.


Sampai di depan ruang ICU,Aaron tidak terlihat.


"Aaron mana ya?" Gumam Rey.


"Mungkin dia ada di dalam menemani omanya." Sahut Fadil.


Kebetulan ada seorang suster keluar dari ruang ICU,Rey buru-buru menghampirinya.


"Maaf sus,saya mau tanya. Apa ada pasien bernama bu Nia di dalam?"


"Ibu Nia? Di sini ada dua pasien bernama bu Nia." Jawab suster.


"Yang usianya sudah lanjut,sus?" Tanya Rey.


"Oohh,yang datang bersama cucunya laki-laki muda?"


"Nah iya sus."


"Ada dalam sama cucunya,tapi belum sadar."


"Hmm,kondisinya bagaimana ya sus?"


"Masih dalam masa kritis,pak. Karena usia beliau juga sudah lanjut,fisiknya lemah."Terang suster.


"Baiklah,sus. Terimakasih infonya." Ucap Rey.


"Pak Fadil,saya masuk duluan ya." Pamitnya pada Fadil.


Fadil menganggukkan kepalanya. "Oh iya,kita gantian saja." Sahut Fadil.


Rey lalu masuk ke ruang ICU setelah sebelumnya memakai pakaian khusus. Setelah bertanya di mana ruangan omanya Aaron,Rey pun masuk.


Hati Rey makin penuh penyesalan. Di depannya,seorang wanita lanjut usia tengah terbaring lemah di ranjang. Kurus dan pucat dengan banyak alat bantu yang menempel di tubuhnya. Di sebelahnya, seorang laki-laki muda sedang duduk seraya menggenggam salah satu tangan pasien.


Rey berjalan lebih mendekat. "Ehhmm."


Aaron menoleh. Alangkah kaget Aaron melihat siapa yang berdiri di belakangnya. Aaron bangkit dari duduknya tapi dia tidak mengatakan apapun.


"Hmm,bagaimana keadaan oma?" Tanya Rey mencoba mencairkan suasana. Wajah Aaron terlihat kacau seperti habis menangis.


Aaron kembali duduk. "Seperti yang anda lihat,pak." Jawab Aaron dingin.


"Saya tidak tau kalau kamu belum ajak oma kamu pergi dari rumah. Saya benar-benar minta maaf."


Aaron diam tanpa menoleh atau pun menjawab. Dia ingin marah pun percuma.

__ADS_1


"Hmm,semoga oma kamu segera sadar dan pulih kembali." Ucap Rey seraya menepuk bahu Aaron. Dia lalu keluar dari ruang ICU.


"Bagaimana kondisi omanya Aaron?" Tanya Fadil saat Rey sudah di luar.


"Ya masih tidak sadarkan diri." Jawab Rey lirih.


"Saya mau masuk dulu." Pamit Fadil yang di berikan anggukan oleh Rey.


Setelah memakai pakaian khusus,Fadil pun masuk.


"Aaron. . ." Sapa Fadil kemudian mendekati Aaron.


Aaron langsung menoleh dan terkejut untuk kedua kalinya mendapat kunjungan dari keluarga Cinta, kemudian kembali menatap omanya.


"Kamu sabar ya. Semoga oma kamu lekas sadar dan pulih kembali. Saya turut prihatin. Kalau kamu perlu apa-apa,jangan sungkan untuk bicara sama saya atau pun sama papanya Cinta." Ucap Fadil.


Melihat Aaron yang tetap diam,Fadil memilih keluar. "Saya pulang dulu,kamu jaga kesehatan,ya!" Pamit Fadil.


Di luar ruangan ICU,Rey masih menunggu.


"Sepertinya dia belum bisa kita ajak berbicara." Ucap Fadil.


"Iya. Dia pasti syok dengan kejadian ini. Hhh!" Sahut Rey.


"Sekarang kita kemana? Kantor polisi apa pulang?" Tanya Fadil.


Tiba-tiba handphone Rey berdering. Pak Santo. "Saya jawab telpon dari pak Santo dulu."


"Hallo,pak Santo."


"Apaa?"


"Di Rumah Sakit mana?"


"Baiklah,kita akan ke sana sekarang."


"Terimakasih infonya pak."


"Ada apa?" Tanya Fadil penasaran.


Hhh,Rey menarik nafasnya berat seraya menggelengkan kepalanya. "Romi kecelakaan." Jawab Rey lirih.


"Ya Allah. . ." Sahut Fadil.


"Kita ke Rumah Sakit Sahabat. Dia di larikan ke sana." Ajak Rey.


"Tapi bagaimana dengan Aaron? Apa kita beritahu sekarang?" Tanya Fadil.


"Aaron. Nanti saja kita beritahu. Kita lihat dulu kondisinya bagaimana." Jawab Rey.


Rey dan Fadil segera meninggalkan Rumah Sakit Medika menuju Rumah Sakit Sahabat.


Satu jam lebih mereka baru sampai. Ada beberapa petugas kepolisian yang berjaga di luar.


Rey dan Fadil buru-buru turun dari mobil.


"Maaf,pak Santo mana ya?" Tanya Rey pada salah satu petugas polisi.


"Pak Santo sedang di dalam."


"Oh,terimakasih." Rey dan Fadil segera masuk ie dalam. Di sana ada pak Santo yang sedang menunggu di depan ruang IGD. Tapi baru saja Rey dan Fadil sampai di depan ruang IGD,seorang dokter keluar.


"Keluarga pasien mana?" Tanya dokter yang menangani Romi.


"Saya dari kepolisian,dok." Jawab pak Santo.


"Keluarga pasien tidak ada? Saya harus segera mengambil tindakan operasi pada pasien jadi butuh persetujuan dari pihak keluarga." Terang dokter.


"Hmm,adiknya sedang menjaga omanya yang sedang koma di Rumah Sakit Medika,dok. Apa harus meminta persetujuannya langsung?" Tanya Rey.

__ADS_1


"Hmm," Dokter seperti sedang berpikir. "Tapi memang harus,ini menyangkut nyawa."


"Apa bisa menunggu?"


"Sepertinya tidak bisa menunggu. Pasian sudah kritis dan harus segera di lakukan operasi." Desak dokter.


Rey dan Fadil saling pandang. Tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi.


"Bagaimana kalau pak polisi saja yang menandatangani surat persetujuannya? Ini sangat darurat." Desak dokter lagi.


"Baiklah,saya yang akan menandatangani surat persetujuannya." Ucap pak Santo.


Pak Santo buru-buru ke bagian administrasi di ikuti oleh Rey. Setelah urusan administrasi selesai,mereka langsung kembali menemui dokter yang menangani Romi.


Tak lama kemudian,Romi segera di bawa ke ruang OK untuk di lakukan operasi.


"Bagaimana memberitahukan pada Aaron?" Ucap Rey dengan wajah bingung.


"Kita tetap harus memberitahukan kondisi abangnya secepatnya." Sahut Fadil.


"Hmm,saya akan minta nomor handphone Aaron pada Cinta." Gumam Rey kemudian segera mengambil handphonenya dari saku celana. Setelah beberapa panggilan,baru ada jawaban.


"Haloo sayang. . ."


"Papa sedang ada urusan sama ayah kamu. Papa boleh minta nomor kontak handphone Aaron?"


"Iya sayang,biar papa coba hubungi Aaron."


"Sayang,nanti kalau papa pulang baru akan papa ceritakan semua. Sekarang kirimkan nomor kontak handphone Aaron ya."


"Iya,papa akan cepat pulang."


Rey lalu memutuskan panggilan telponnya. Tak berapa lama ada pesan masuk dari Cinta. Setelah mendapatkan nomor Aaron,Rey segera menelponnya.


Beberapa kali panggilan tapi tidak juga di jawab oleh Aaron.


"Bagaimana?" Tanya Fadil


Rey menggeleng. "Tidak ada jawaban." Jawab Rey. Rey lalu mengirimkan pesan.


"Semoga Aaron cepat membaca pesannya dan menelpon balik." Gumam Rey.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


1515


__ADS_2