Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 144 ( S2 )


__ADS_3

Menjelang sore,Aaron baru tiba di kota. Dia langsung melajukan mobilnya ke rumah. Sampai di rumah,dia buru-buru memarkirkan mobilnya lalu berlarian masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju kamar abangnya,Romi. Pintu terkunci. Lalu Aaron mencari asisten rumah tangganya di dapur.


"Bi,bibi yakin tidak melihat kak Ratna pulang?" tanya Aaron masih penasaran.


Bibi menggelengkan kepalanya. "Tidak ada,den. Dari tadi tidak ada yang datang. Tanya saja sama suami bibi di depan." terangnya.


Aaron memijat-mijat dahinya. Kemana kak Ratna sekarang? Apa dia sudah tidak mau lagi kembali ke rumah ini?


"Ya sudah bi,terimakasih. Nanti kalau kak Ratna datang,kasihin kunci kamarnya,ya." ucap Aaron lalu bergegas keluar rumah,naik ke mobilnya lalu pergi ke kantor Romi.


Sampai di kantor Romi,Aaron setengah berlari agar lekas sampai ke ruangan abangnya itu.


"Bang!" seru Aaron yang langsung masuk ke ruangan Romi tanpa mengetuk lagi.


"Kamu bikin kaget abang saja! Ada apa?" tanya Romi kesal.


"Kak Ratna,bang. Di rumah tidak ada. Kemana perginya dia?"


"Mana abang tau!" ketus Romi.


"Jadi abang tidak peduli sama kak Ratna?" tanya Aaron dengan emosi.


Brraakk! Romi melempar barang-barang yang ada di atas mejanya membuat Aaron terlonjak kaget.


"Abang apa-apaan,sih?" dengusnya kesal.


"Kalau dia tidak mau lagi kembali ya sudah! Kenapa kamu membuat abang makin pusing?" teriak Romi seraya menarik kasar rambutnya.


Aaron lalu membereskan barang-barang yang berjatuhan di lantai kemudian menyusunnya lagi di atas meja.


"Kalau abang diam saja,kak Ratna tidak akan kembali,bang." ucap Aaron lembut.


"Mungkin kak Ratna menunggu abang menghubunginya. Sejak dia keguguran,abang belum pernah menghubunginya kan? Kak Ratna pasti sedih,bang. Coba kalau abang berada di posisinya bagaimana?" tambah Aaron.


"Abang hanya membuatnya susah,biarkan saja dia menikmati kebebasannya."


"Hhmm,jadi abang mau melepas kak Ratna,iya?"


Tanpa Romi sadari,ada setitik air di sudut matanya, "Kalau itu yang terbaik untuknya."


Hhhh,Aaron menarik nafasnya berat. "Kalau kalian tidak saling bicara,bagaimana kalian bisa tau keinginan masing-masing,bang? Mungkin saja kak Ratna takut menemui abang kalau bukan abang yang minta."


"Abang tidak akan mengemis cinta padanya!"


Mata Aaron membulat, "Abang? Abang cinta sama kak Ratna?" Aaron menatap abangnya lekat-lekat.


Wajah Romi memerah,dia langsung membuang muka, "Jangan sok tau,kamu!"


"Loh,tadi abang bilang sendiri,kan? Hhmm,aku antar cari kak Ratna,yuk." bujuk Aaron.


Romi mengusap sudut matanya yang terasa panas, "Kalau ternyata memang dia tidak mau lagi bagaimana?"


Aaron mengulum senyumnya, "Pasti kak Ratna mau,kok! Mau ya bang,kita cari kak Ratna sama-sama."


"Lagipula mau cari dia di mana? Masa kita muter-muter setiap sudut kota buat nyariin dia?"


"Hhmm,aku akan suruh orang. Aku juga akan terus coba menghubunginya." terang Aaron lalu mencoba kembali menghubungi Ratna.


***

__ADS_1


Hari sudah sore,Ratna terbangun dari tidurnya. "Ya Allah kok sudah sore begini ya. Pantas perutku rasanya laper banget." Ratna mengusap-usap perutnya yang terasa perih.


"Jam berapa ya sekarang. Aku belum sholat." gumamnya lalu segera mencari handphonenya di dalam tas. "Yah,mati lagi." keluhnya lalu buru?buru mengisi daya batre.


Ratna lalu ke kamar mandi. "Alhamdulillah masih sempat asar." gumamnya lalu mulai sholat.


Setelah selesai sholat,Ratna keluar dari kamarnya. Ada beberapa anak kost sedang duduk-duduk di teras.


"Hai,mbak baru ya di sini?" sapa salah satu dari mereka.


"Hai juga. Aku baru tadi siang. Tapi dulu pernah kost di sini beberapa bulan,kok." terang Ratna. Mereka lalu berkenalan.


Kebetulan ada penjual baso lewat. "Bang,baso!" teriak Ratna.


"Kalian mau beli baso?" tanya Ratna pada mereka.


Mereka semua kompak menggelengkan kepalanya.


"Loh,kenapa?"


"Kemarin kita sudah beli,mbak." jawab mereka.


"Aku traktir ya."


"Wah,beneran nih mbak. Mau donk." sahut mereka kompak. Yah siapa yang tidak tergiur makan di traktir.


Akhirnya Ratna mentraktir baso untuk orang empat. Mereka makan bersama di teras kost yang cukup luas untuk mereka duduk-duduk bersama.


"Kalian masih sekolah apa kuliah?" tanya Ratna.


"Ada yang kuliah,ada yang kerja." sahut salah satu dari mereka.


"Kerja di notaris. Deket sini."


"Hhmm,aku tidak bisa kerja notaris. Bukan keahlianku."


"Mbak lulusan apa?"


"Hanya SMU."


"Hmm,sebelumnya mbak kerja di mana?"


"Kerja jadi bodyguard,hahaa." jawab Ratna sambil tergelak.


"Aahh,mbak serius."


"Beneran kok." jawab Ratna serius.


"Wah mbak hebat donk."


"Apanya yang hebat. Biasa saja."


Mereka terus ngobrol sampai menjelang maghrib baru bubar balik ke kamar masing-masing.


Ratna segera pergi mandi lalu sholat maghrib. Setelah itu,dia memeriksa handphonenya. "Loh,masih mati rupanya." gumamnya lalu segera menghidupkan handphonenya.


Baru saja handphonenya aktip,banyak sekali pesan masuk. Kebanyakan dari Aaron yang menanyakan keberadaannya. Belum sempat Ratna membalas,handphonenya berdering. Aaron.


"Hallo. . ."

__ADS_1


"Hhmm,Alhamdulillah kabar kakak baik."


"Kakak,hmm. Kakak ada di kamar."


"Hhmm,iya. Kakak di rumah orangtua kakak."


"I-iya."


"A-apa? Ka-kapan kamu datang?"


Ratna terdiam beberapa saat. "Maaf."


"Kakak tidak mau merepotkan kamu dan abang kamu lagi."


"Kamu kan tau kenapa kakak sama bang Romi menikah. Dan alasan kita menikah sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi bang Romi tidak perlu lagi bertanggung jawab."


"Bukan kakak,tapi abang kamu yang ingin bercerai!"


"Kamu tidak perlu lagi repot-repot memaksa abang kamu. Kakak sudah cukup mengerti."


"Iya,karena kamu yang selalu paksa dia,kan?"


"Kakak. Hhmm,kakak minta maaf."


Ratna langsung memutuskan panggilan telponnya sepihak. Dia mulai terisak. Namun Aaron masih coba menghubunginya berkali-kali hingga akhirnya berhenti sendiri.


"Harusnya bang Romi yang bersikap begitu kalau memang dia merasa suami aku bukan malah adiknya." gumamnya seraya menyeka pipinya yang basah.


Ratna lalu berbaring di tempat tidur sambil termenung.


Satu jam kemudian ada yang mengetuk pintu kamarnya. Tok tok tok. . .


"Siapa sih malam-malam begini bertamu?" gumam Ratna. Dengan malas-malasan akhirnya dia bangkit dari tidurnya untuk membuka pintu.


Ceklek.


Mata Ratna seketika membulat sempurna. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri hingga dia terdiam beberapa saat.


"Ratna. . ." ucap Romi lirih.


"Bang. . ." sahut Ratna.


Romi dengan kursi rodanya berada tepat di depan pintu kamar kost Ratna dengan Aaron di belakangnya. Aaron lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa abang boleh masuk?" tanya Romi pelan seraya menatap Ratna lekat-lekat.


"Hhmmm. . ."


.


.


.


.


.


17

__ADS_1


__ADS_2