
Siti terbangun karena mendengar tangisan bayinya. Dia hendak turun dari kasur,tapi dia merasa tubuhnya lemah dan kepalanya pusing. Karena bayinya yang terus menangis,Siti pun memaksakan diri bangun.
Dia lalu memakai lagi dasternya yang sudah terjatuh sembarangan di lantai kasur karena ulah suaminya semalam. Hanya karena beberapa hari mereka tidak sempat melakukannya,maka suaminya itu akan memintanya hingga berkali-kali dalam satu malam saja.
Dia berjalan mendekati box bayinya lalu menggendong bayinya kemudian duduk di sisi kasur.
"Kamu lapar ya nak?" Tanya Siti pada bayinya seolah bayinya mengerti dan makin kencang suara tangisannya. Siti langsung memberikan ASI dan seketika bayinya langsung diam dan dengan begitu semangat terus meminum ASI dari mamanya. "Duuhh,kasihan kamu nak. Lapar sekali ya." Siti mengusap lembut kepala bayinya dengan penuh kasih sayang.
Selama hampir setengah jam barulah Putri melepaskan diri. Siti menggendong bayinya dengan posisi tegak agar dia tidak muntah sambil mengusap-usap punggungnya. Setelah beberapa menit,Siti menimang-nimang bayinya yang kembali tertidur.
Setelah bayinya pulas,Siti segera menidurkannya lagi di box bayi. Siti pun langsung berbaring kembali karena kepalanya semakin terasa pusing. Dia melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul tiga dini hari. "Hmm,subuh masih lama. Mending tidur lagi deh." Gumamnya.
Siti membolak balikkan badannya. Dia gelisah karena tidak juga bisa terlelap sementara kepalanya semakin terasa pusing. Dia lalu duduk bersandar di kasur sambil memijat dahinya.
Tak terasa waktu subuh tiba,Siti segera ke kamar mandi. Setelah mandi,dia sholat dan mengaji sebentar.
Karena sakit kepalanya tak juga reda,Siti lalu makan cemilan yang ada di kamar kemudian mengolesi dahi dan lehernya dengan minyak kayu putih. "Kepalaku kenapa ya kok pusingnya tidak hilang-hilang?" Gumamnya.
Siti lalu mendekati suaminya yang masih tertidur pulas. "Mas." Siti mengusap-usap bahu suaminya. "Bangun,sudah subuh ini." Ucapnya lagi.
Rey meregangkan otot-ototnya. "Hmm,yank?" Ucap Rey yang membuka matanya sebentar lalu memejamkan lagi matanya.
"Bangunlah mas,sudah subuh!" Titah Siti pada suaminya yang terlihat masih enggan untuk bangun.
"Hmm,iya yank."
***
Putri sedang di jaga bibi di ruang keluarga. Sekarang Putri tidak lagi di taruh dalam bouncher seperti biasa tapi di baringkan di kasur lantai karena bayi imut itu makin aktip bergerak.
Siti,Rey,Seno dan mama papa sedang menikmati sarapan. Siti masih sedikit merasakan pusing di kepalanya. Saat Siti hendak menyendok lauk ke dalam mulutnya tiba-tiba dia merasakan perutnya seperti mau muntah. Dia menutup mulutnya dengan tangan lalu segera meninggalkan makannya yang belum berkurang sedikitpun, berlari ke kamar mandi yang ada di dapur dan menutupnya rapat.
"Hooeeks,hoekkkss!" Siti memuntahkan isi perutnya.
Di meja makan.
"Siti kenapa Rey?" Mama menatap Siti dengan dahi berkerut.
"Ehmm,Rey tidak tau ma." Rey terlihat cemas lalu segera menyusul istrinya.
Mama menoleh ke arah papa di sebelahnya. "Pa,jangan-jangan apa yang mama khawatirkan,terjadi." Ucap mama lirih.
"Ssstt,mama jangan berpikir macam-macam!" Ucap papa.
"Papa lihat sendiri kan. Sudah beberapa hari Siti terlihat seperti sedang tidak sehat!"
"Mungkin dia kelelahan mengurus bayinya ma,Putri kan tiap malam bolak balik bangun." Papa mencoba menenangkan mama.
"Hhhh,semoga saja." Ucap mama lirih.
Di depan kamar mandi.
__ADS_1
"Yank!" Rey memanggil-manggi Siti yang masih terdengar muntah-muntah dari dalam kamar mandi.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka.
"Yank?" Rey langsung menatap dan mengusap lembut wajah istrinya. Dia terlihat sangat khawatir.
"Ehm,mas. Perutku mual sekali!" Terang Siti sambil memegangi perutnya.
"Sekarang masih,hmm?"
"Sedikit. Kepalaku juga pusing dari semalam." Keluhnya.
Rey merangkul istrinya lalu mengajaknya kembali ke meja makan.
"Kamu kenapa,Siti?" Tanya mama yang masih dengan kekhawatirannya.
Siti menoleh ke arah mama mertuanya. "Ehm,aku mual dan pusing,ma." Jawab Siti lirih.
Seno menatap mbaknya dengan wajah penuh tanda tanya tapi tidak berani bersuara.
Hhh. Mama menarik nafasnya berat. "Tuh kan pa,apa mama bilang. Mama antar kamu ke dokter Layli pagi ini juga!" Titah mama.
"Hmm,kenapa ma?" Tanya Rey seolah belum menyadarinya.
"Rey,Siti hamil!" Terang mama dengan penekanan.
Rey dan Siti saling pandang. Siti lalu menunduk sedangkan Rey mengusap wajahnya sendiri.
"Kamu makan roti saja,Siti!" Titah mama.
"Kamu juga ikut,Rey!" Titah mama lagi.
"Ehm,iya ma." Rey tidak berani menolak.
Mereka kembali melanjutkan sarapan yang tertunda.
***
Karena mendaftarnya dadakan jadi mereka masih mengantri sebentar. Setelah menunggu hampir setengah jam,nama Siti akhirnya di panggil.
"Asti?" Sapa dokter Layli dengan dahi berkerut. Rasanya baru kemarin mereka datang,hari ini sudah datang lagi. Batinnya. "Ayo silahkan duduk! "Titahnya.
Mama dan Siti pun duduk sementara Rey berdiri di samping istrinya.
"Dok,tolong periksa Siti,sepertinya dia hamil lagi." Terang mama.
"Hmm?" Dokter menatap ke arah Siti. "Ayo berbaring dulu. Kita langsung saja USG,ya!" Titahnya.
Siti menurut dan langsung berbaring di kasur. Mereka langsung menatap ke arah monitor.
"Hmm,kita lihat ya! Sepertinya janinnya sudah berumur enam minggu." Terang dokter.
__ADS_1
Hhh. Mama menghela nafas kasar,dia terlihat panik tau menantunya kembali hamil dalam waktu dekat. Begitupun Rey. Dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil terus menatap ke layar monitor yang jelas-jelas memperlihatkan janin yang berukuran masih sangat kecil. Sementara Siti langsung mengusap lembut perutnya yang masih rata.
Semua yang ada di ruangan terdiam beberapa saat dengan pandangan yang masih tertuju ke monitor.
"Janinnya sehat ya!" Dokter Layli kembali bersuara.
Setelah selesai di USG,Siti di persilahkan duduk kembali.
"Silahkan duduk lagi,mbak Siti!" Titah dokter.
Siti lalu turun dan kembali duduk.
"Saya resepkan penguat kandungan dan juga vitamin ya. Apa mual muntahnya ringan?" Tanya dokter.
"Hmm,saat ini masih ringan dok. Hanya kepala saya pusingnya tidak hilang-hilang." Terang Siti.
"Hmm,baiklah. Saya resepkan obat penghilang rasa sakit juga ya."
"Iya dokter. Terimakasih." Ucap Siti.
"Lalu bagaimana dokter?" Tanya mama yang sudah mulai bisa menguasai kepanikannya.
"Bagaimana apanya,As?"
"Siti kan baru berapa bulan melahirkan dengan caecar."
"Hmm,ya memang beresiko tapi kita akan lakukan yang terbaik ya. Usahakan kontrol dua minggu sekali. Dan jika ada keluhan langsung bawa ke sini!" Terang dokter. "Mbak Siti juga jangan stres ya. Selalu berpikiran positif. Ini adalah rezeki. Allah tau yang terbaik!" Terangnya lagi dengan tersenyum.
"Iya dokter." Jawab Siti.
"Selalu isi hati dengan kebahagiaan. Makan dan minum vitaminnya. Suaminya juga harus selalu siap siaga ya!"
"Masih boleh memberi ASI untuk Putri kan dok?" Tanya Siti.
"Tentu saja boleh!" Jawab dokter sambil menyerahkan kertas resep pada Rey.
"Hmm,baiklah dokter. Kalau begitu kita pulang dulu!" Pamit mama yang di ikuti Siti dan juga Rey.
Rey menebus obat di apotek sementara Siti dan mama menunggu di mobil.
"Kami harus jaga kondisi kamu,Siti!" Titah mama.
"Iya ma." Jawab Siti.
Tak lama Rey sudah kembali dengan membawa obat dan juga vitamin bagi Siti.
"Kita lansung pulang,ma?" Tanya Rey saat sidah meninggalkan parkiran.
"Iya langsung pulang. Kasihan Putri kalau di tinggal lama-lama!" Titah mama.
Rey pun melajukan mobilnya ke arah rumah.
__ADS_1
NEXT
1006/0040