
Mereka sudah keluar dari mal. "Langsung pulang ya?" Tanya Seno.
"Aku mau foto-foto di sebelah sana ya. Ada jembatan bagus dan terlihat monumen dari sana." Pinta Dinda.
"Hhh,ya sudah ayo."
Mereka menuju tempat yang Dinda maksud dengan berjalan kaki. Lima menit lebih mereka sudah sampai.
"Foto di sebelah sini mas,biar kelihatan monumennya."
"Ya sudah kamu berdiri di situ biar mas yang foto."
"Kita foto berdua,mas." Pinta Dinda.
"Lalu siapa yang fotoin?"
"Oh iya aku tidak bawa alatnya ya."
Saat ada orang lewat,Seno meminta tolong di fotoin berdua Dinda beberapa kali. Setelahnya. . .
"Thank you." Ucap Seno.
Orang itu hanya tersenyum sambil mengangguk dan segera berlalu.
"Coba lihat,mas." Pinta Dinda antusias lalu mengambil handphone dari tangan Seno.
"Iihh kok aku jelek banget sih." Dinda cemberut.
"Mana sih yang jelek?" Seno ikut melihat.
"Hhh,biasa saja kok. Memang wajahnya begini. Masa mau berubah jadi wajahnya Madoxx." Goda Seno.
"Iihh mas ini. Iya aku memang jelek." Dinda ngambek lalu meninggalkan Seno yang masih melihat handphonenya.
"Eehh." Seno buru-buru mengejar Dinda.
Beberapa langkah,Seno menarik tangan Dinda. "Yang bilang kamu jelek itu siapa? Tau-tau ngambek."
"Ya mas kan tadi yang bilang."
"Mas kan bilang biasa saja seperti wajah kamu. Istri mas cantik,kok!" Puji Seno.
"Iihh pinter ngerayu."
"Hhmm,kalau jelek mas mana mau lah."
"Hmm,dasar."
"Sudah ah ngambeknya. Mau kemana lagi mumpung masih di luar. Kalau sudah balik ke hotel tidak bisa keluar lagi sampai besok!"
"Loh kenapa tidak bisa?"
"Kan kamu ada janji."
"Iihh mas ini,janji aku di inget terus. Ya kan malam."
"Dari sore juga tidak apa-apa kok."
"Iihh,males." Dinda berjalan lebih cepat,hingga Seno buru-buru menyusulnya.
"Mau kemana lagi?"
"Mau keliling sampai pagi,tidak usah pulang ke hotel."
"Hmm,nanti nyesel loh."
"No. . .!"
"Heheee. Mulut sama hati harus sama."
Dinda makin cemberut dan terus berjalan dengan langkah cepat.
Seno menarik tangan Dinda. "Kita mau kemana? Ada tempat foto yang bagus lagi,hmm?"
"Males foto,aku jelek."
Huuhh,begini ya kalau si anak mami ngambek. Batin Seno.
"Ya sudah kalau males kita pulang saja ke hotel. Lebih enak di hotel."
__ADS_1
"Iiihh,masih mau jalan-jalan." Protes Dinda.
"Yah jalan-jalan sambil ngambek."
"Hhh,iya iya sudah tidak ngambek lagi."
Seno lalu menggandeng Dinda berjalan menyusuri jembatan yang cukup panjang.
Saat melewati tempat yang bagus,mereka akan meminta tolong orang yang lewat untuk memfoto mereka.
Pukul lima sore,mereka pulang kembali ke hotel dengan naik taxi.
"Hhhhh." Dinda meluruskan kedua kakinya ke atas sofa.
"Capek ya?" Tanya Seno.
"Hmm,tidak kok." Jawab Dinda padahal kedua kakinya terasa pegal-pegal.
"Mandi dulu yuk,sudah sore ini. Nanti mas pijitin kakinya."
"Mau mandi sendiri." Sahut Dinda.
Seno tersenyum. "Iya mandi sendiri. Sana,kamu mandi duluan. Mas juga mau mandi. Jangan lama-lama loh."
"Iya iya." Dinda bangkit dari duduknya lalu segera ke kamar mandi.
"Huuhh,capek juga nemenin anak mami jalan-jalan." Gumam Seno.
Lima belas menit,Dinda sudah keluar dari kamar mandi lalu duduk di depan meja rias.
Melihat Dinda sudah selesai mandi,Seno langsung ke kamar mandi.
Lalu mereka sibuk dengan handphone masing-masing. "Kirimin foto yang tadi donk,mas." Pinta Dinda.
"Iya."
"Wah,aku upload ke medsos,ah." Gumam Dinda sambil tersenyum melihat hasil foto-foto mereka.
Beberapa menit kemudian dia tertawa-tawa sendiri. Hitungan menit saja sudah banyak komentar dari teman kuliahnya dan juga teman di Rumah Sakit. "Hahahaa." Dinda tertawa senang.
Ngetawain apa itu si anak mami. Gumam Seno.
Habis sholat isya bersama,Dinda berbaring di tempat tidur. Sebenarnya dia dari pulang sudah menahan pegal di kakinya,tapi dia tahan takut Seno tidak mau lagi menemaninya jalan-jalan.
Seno menghampirinya lalu ikut berbaring di tempat tidur sambil memandang langit-langit kamar. Dia pun merasakan pegal di kakinya.
Jam segini sudah mau tidur? Baguslah,moga dia lupa sama janji aku tadi. Masa aku yang mulai duluan? Mau aku taruh di mana mukaku ini? Batin Dinda.
Seno meregangkan otot-ototnya. Lalu. "Ehhmm."
Dinda menoleh. Apa tuh maksudnya? Iihh,jangan-jangan dia nagih janji aku. Duuuhhh,malunya aku. Gumam Dinda sambil mengusap kasar wajahnya.
Seno kembali berdehem sambil tetap menatap langit-langit kamar.
Dinda menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Hmm,apa boleh buat. Gumamnya lalu mengambil satu paperbag kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Mau ngapain tuh si anak mami? Ngajakin ke kamar mandi malam-malam gini? Aahh tunggu di sini saja. Gumam Seno sambil tersenyum-senyum sendiri.
Lima menit Dinda keluar dari kamar mandi. Dia sudah berganti pakaian dengan pakaian tidur yang seksi. Dia mematung beberapa detik di depan pintu kamar.
Seno yang sedang berbaring,kaget lalu segera duduk sambil menatap lekat-lekat ke arah Dinda.
"Hmm,dia pakai itu?" Gumam Seno seakan tidak percaya melihat penampilan Dinda.
Dinda merasakan jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya. Beberapa detik kemudian,Dinda berjalan menghampiri Seno. Tiba-tiba dia langsung duduk di pangkuan Seno,memegang tengkuk Seno kemudian menciumnya.
Seno yang kaget diam saja hingga beberapa detik kemudian baru membalas apa yang di lakukan Dinda.
Selanjutnya. . .
Matahari sudah mulai masuk ke sela-sela gorden,itu artinya subuhpun sudah lewat.
Dinda mengerjapkan matanya karena merasa silau.
Loh,jam berapa ini? Kok mas Seno tidak banguni aku sih. Batin Dinda.
Saat dia ingin bergerak,dia merasa ada tangan kokoh yang sedang melingkar di pinggangnya. Dinda menoleh. Ternyata suaminya masih tertidur sambil memeluknya dari belakang.
"Mas Seno juga belum bangun." Gumamnya.
__ADS_1
Dinda membalik badannya hingga menghadap ke suaminya yang masih memejamkan matanya. Dia tampan banget. Gumam Dinda lalu mencium Seno pelan. Ahh aman masih tidur tidak ketauan. Batin Dinda sambil tersenyum.
"Mas,mas,banguun. . ." Dinda mengusap-usap pipi Seno.
Seno bergerak lalu mengerjapkan matanya.
"Din?"
"Sudah siang,mas. Tuh mataharinya sudah ngintip." Ucap Dinda.
Seno langsung duduk. "Astagfirullah,kesiangan!" Serunya.
"Iyalah,habis capek jalan-jalan terus baru tidur jam satu malam,ya kesiangan."
"Hmm,yang suruh tidur jam satu malam siapa?"
"Mas donk!"
"Hmm? Kan yang mulai kamu bukan mas."
"Iiiihh,mas kan nagih terus janji aku." Protes Dinda dengan wajah memerah mengingat apa yang dia lakukan semalam. "Seperti wanita murahan saja ya aku semalam." Gumamnya merajuk.
Seno memeluknya dari belakang. "Tidak ada yang bilang kamu seperti itu!"
"Tapi,mas malah salahin aku."
Seno makin mengeratkan pelukannya. "Mas becanda! Jangan di masukin ke perut. Mas suka kok. Suka banget malah. Sering-sering saja seperti itu ya." Godanya lalu mencium pipi Dinda dari samping.
Dinda tersenyum malu tapi hatinya berbunga-bunga.
"Bangun yuk,mandi dulu!"
"Tapi mandi sendiri!"
"Hmm. . ."
"Aku lapeeer! Mau mandi cepet-cepet!"
"Hmm,iya iya. Kamu mandi,mas pesan makanan ya."
Dinda mengangguk.
"Oh iya,terimakasih ya semalam."
Wajah Dinda makin memerah.
"Sana mandi!"
"Pakaian aku mana?"
"Pakaian? Yang semalam itu pakaian ya?"
"Iiih!"
Seno lalu memakai pakaiannya dan membiarkan Dinda membawa selimut ke kamar mandi.
Dasar anak mami. Gumam Seno sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. Di tunggu komen,kritik dan sarannya. ππ
.
.
.
.
__ADS_1
0408/1111