Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 45 ( S2 )


__ADS_3

Dinda dan Seno sudah sampai di rumah. Seno tetap menggendong Dinda.


"Pi,kita langsung ke kamar ya." Pamit Seno.


"Iya,silahkan." Sahut papi.


Seno langsung naik ke lantai dua,ke kamar mereka. Lalu membaringkan Dinda ke tempat tidur.


"Sayang,sekali lagi terimakasih ya. Mas benar-benar bahagia!" Ucap Seno sambil mengusap wajah Dinda yang masih sedikit pucat.


"Kamu ingin makan apa,hmm?"


Makan apa ya yang susah nyarinya? Batin Dinda.


"Kalau kamu masih marah sama mas tidak apa-apa. Tapi kamu juga harus pikirin calon bayi kita. Kan kasihan kalau dia kelaparan.


"Sayang,kamu mau makan apa akan mas carikan? Dari tadi cuma makan roti."


Huuhh,sayang-sayang. "Aku mau makan mangga muda yang baru metik dari pohonnya!" Jawab Dinda.


Seno tersenyum. Akhirnya kamu mau bicara juga sama mas. Batin Seno.


"Eh tapi mangga muda itu tidak bikin kenyang,tapi bikin kamu sakit perut. Kamu kan belum makan nasi. Makan nasi dulu ya!"


"Mangga muda dulu baru nasi! Yang baru metik masih ada getahnya. Lima kilo!"


"Lima kilo?"


"Tidak mau ya sudah."


"Tapi Din,mangga muda lima kilo buat apa? Kamu tidak akan bisa habisin." Seno beralasan.


"Ya sudah tidak jadi." Dinda langsung menyelimuti seluruh tubuhnya lalu tidur menyamping.


"Yang masak pohon saja ya,mas yang petik sendiri dari pohonnya,mau?"


Dinda tidak menyahut.


"Hmm,atau kamu mau petik sendiri?"


Apaa?? Aku di suruh manjat pohon mangga maksudnya? Iiihh. Batin Dinda kesal.


"Yang muda sedikit sisanya yang masak pohon ya?"


Dinda mendongakkan kepalanya. "Kalau tidak mau ya sudah,tidak usah di paksain."


Hhh,Seno mengusap kasar wajahnya. "Mas akan cari. Mas tidak pernah terpaksa untuk kamu! Kamu itu prioritas dalam hidup mas. Kamu harus tau itu!" Ucap Seno dengan penekanan.


Dinda memajukan bibirnya. Sok banget sih. Batinnya.


"Kenapa bibirnya di majuin? Minta di cium ya?"


Apaan sih? Dinda lalu kembali tidur menyamping dengan selimut dari ujung kaki sampai leher.


"Kamu makan roti dulu ya ,dikit saja biar perutnya tidak kosong selama mas cari mangganya. Mas ambilkan.


Seno lalu keluar dari kamar. Sepuluh menit dia kembali lagi dengan membawa piring berisi empat potong roti coklat.


"Kamu makan rotinya ya. Mas pergi dulu cari mangganya." Pamit Seno. Sebelum pergi dia mencium lembut pucuk kepala Dinda. "Mas sayang kamu!" Seno segera keluar dari kamar.


"Huuhh,sayang-sayang. Lihat saja apa kamu bisa penuhi permintaanku." Gumam Dinda. "Uuhh,laper banget." Dinda lalu memakan roti yang di bawakan oleh Seno.


Beberapa menit,rotinya sudah habis. "Hmm,masih laper nih. Bibi masak apa ya?" Gumam Dinda.


Dinda lalu turun ke dapur. Dia mengendus-endus bau masakan. Tiba Dinda merasakan perutnya seperti di aduk-aduk dan muncul rasa mual. Dia lalu bergegas ke wastafel yg ada di dekat kamar mandi belakang.


"Hoek,hooeekk!" Dinda muntah berkali-kali.


"Non Dinda kenapa?" Tanya bibi yang membantu di rumah sambil memijat leher belakang Dinda.


Setelah merasa lega,Dinda membasuh mulutnya dan segera berlalu dari dapur.


"Hmm,bik. Tolong bikinin roti bakar selai nanas ya!" Pinta Dinda.

__ADS_1


"Mau berapa,non?"


"Lima potong bi,yang besar. Dinda laper." Keluhnya. "Sama jus jeruk."


Dinda segera kembali ke kamarnya lalu berbaring di tempat tidur.


Hmm,mas Seno cari mangganya kemana ya? Sebenernya tidak ada rasa ingin makan buah mangga sih. Tapi biarin deh,mau tau apa dia mau berkorban buat aku. Batin Dinda.


"Eh,tunggu. Kalau dia jadi kesal,bukannya jadi cinta sama aku malah jadi benci lagi." Gumamnya. "Nanti dia di rayu lagi sama mantannya,terus ninggalin aku deh. Nasib aku sama bayiku bagaimana?" Terjadi perdebatan dalam pikirannya membuat matanya mulai berkaca-kaca. "Masa aku jadi janda muda beranak satu?"


"Mami. . ." Jeritnya tertahan.


Setelah merasa lelah dengan pikirannya sendiri,Dinda akhirnya tertidur.


Beberapa jam,Dinda terbangun. Hhh,aku ketiduran.


Cup. Tiba-tiba ada yang mencium pipinya membuat Dinda kaget dan spontan menoleh.


"Hmm,mas?" Tanya Dinda kaget.


"Enak tidurnya? Tidur dari jam berapa tadi? Nyenyak banget." Tanya Seno.


Kok cepet banget pulangnya. Apa mangganya sudah dapat? Batin Dinda.


"Kenapa bengong? Nyariin mangganya ya? Tuh ada di depan pintu. Sengaja mas bawa langsung ke sini." Terang Seno.


"Beneran baru metik bukan beli di pasar?"


"Masa mas ke pasar?"


"Ya suruh orang mungkin."


"Buat istri dan calon anak mas,mas akan lakukan sendiri!"


"Iiiihh gombal banget sih."


"Ayo kita lihat mangga kamu." Ajak Seno.


Mereka sama-sama keluar dari kamar. Di depan pintu kamar ada 2 kardus berisi mangga muda.


"Iya bakal langsung aku habisin semua sendirian. Biar kalau ada apa-apa,mas bisa balikan lagi sama dia!" Jawab Dinda ketus lalu segera masuk kembali ke kamar,tidur menutupi semua tubuhnya.


Seno menyusulnya dari belakang. "Kok ngambek lagi? Maksud mas,di habisin di bagi-bagi sama siapa gitu. Yuk mas temani makan mangganya."


Seno duduk di sisi tempat tidur di samping Dinda lalu mengusap lembut kepalanya. "Sayang,yuk kita makan mangganya berdua." Ajak Seno.


"Tidak usah panggil aku 'sayang'. Aku benci dengernya!"


"Maunya di panggil apa? Istriku?"


Dinda mendongakkan kepalanya. "Kenapa sih masih terus pura-pura? Jangan karena aku sedang hamil ya."


"Pura-pura apa?"


"Mending kerja sana,aku mau sendiri." Usir Dinda.


"Hmm,yakin nih mau sendiri? Kalau mas maunya dekat kamu terus."


Iiihh aku tidak akan termakan rayuan kamu,mas. Batin Dinda.


"Sudah donk ngambeknya. Kamu mau apa? Mas akan lakuin!"


"Aku mau mas pergi!"


"Nanti kalau mas kangen bagaimana?" Seno memeluk Dinda dari belakang tapi Dinda langsung duduk.


"Kenapa sih mas jahat sama aku?"


"Mas jahat apa?"


"Kalau mas belum bisa terima aku,kenapa mas harus pura-pura? Mas sengaja biar aku jatuh cinta sama mas,lalu nanti mas tinggalin,iya?" Mata Dinda mulai berkaca-kaca.


"Kamu ngomong apa,sih?" Seno lalu memeluknya. "Mas memang belum yakin tentang perasaan mas sama kamu. Tapi kamu harus tau,mas sayang sama kamu. Mas mulai terbiasa ada kamu. Mas tidak bisa jauh dari kamu. Tolong beri mas waktu,beri mas kesempatan."

__ADS_1


"Percuma kalau mas masih cinta sama dia!"


"Hhh,dia memang belum bisa mas lupakan,tapi kamu selalu ada di pikiran mas! Kamu mau kan beri mas kesempatan? Mas ingin kamu jadi yang terakhir,Din!" Ucap Seno dengan penekanan.


"Aku mau mas ganti handphone! Ganti nomor kontak!"


"Iya,mas akan ganti!"


"Jangan pernah makan di kafe itu lagi!"


"Hmm,kamu kan suka banget menu makanan di sana."


"Sudah tidak suka lagi!"


"Iya,mas tidak akan makan di kafe itu lagi. Jadi kita makan siang berdua di mana,hmma?"


"Aku tidak mau makan berdua sama mas."


"Hmm,teganya. Bagaimana kalau kita keliling cari kafe yang lain? Mungkin ada yang lebih enak."


"Pastilah! Memangnya cuma makanan di kafe itu saja yang enak?"


"Hehhe,iya. Kita cari sekarang yuk,kamu kan belum makan.


"Males kemana-mana."


"Berduaan sama mas di kamar saja ya."


"Iihh males!"


"Hehee,cuma berduaan seperti ini." Mengeratkan pelukannya.


"Awas saja."


"Awas apa?"


"Tau ah!"


"Eh itu ada sepiring roti bakar,kok belum di makan?Pasti sudah dingin."


"Hhh,aku ketiduran."


"Mas bikin yang baru buat kamu ya. Itu biar mas yang makan."


"Tidak usah,aku mau makan yang itu saja." Tolak Dinda lalu hendak turun dari tempat tidur.


"Eh,biar mas yang ambilin!"


Seno lalu mengambil piring berisi roti bakar dan juga jus jeruk untuk Dinda.


"Mas suapin ya?"


Dinda mengangguk. Seno jadi tersenyum bersemangat menyuapi Dinda.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca 😍


.


.


.


.

__ADS_1


.


1108/1441


__ADS_2